April 16, 2007

Jalur Horor

Hari Minggu kemaren aku ngantar Phi ke Blitar. Dia harus menjemput pembantunya di Blitar, untuk kemudian berdua mereka ke Jakarta naik kereta Gajayana.

Dari Malang kita berangkat pagi menjelang siang. Sebelumnya aku ganti oli mesin Tiger-ku yang sudah nyaris expired. Sialnya oli yang aku cari tidak ada, terpaksa pake oli merk lain. Membayangkan perjalanan yang berat nih.

Dan benar saja, motorku gak bisa gesit. Bisa kenceng sih, tapi agak lama ngangkatnya.
Bahkan di daerah Wlingi, kalah laju sama Megapro, huh.
(Hmm, kalo pas itu sih faktor rider, soalnya cuaca gerimis, jalanan licin *trauma* )

Dalam perjalanan berangkat, semuanya baik-baik saja. Jalanan normal, tidak begitu ramai, tidak jadi hujan.

Sorenya, setelah menunggu kereta berangkat, aku mesti kembali ke Malang sendirian. Saat itu menjelang malam, jam 6-an.

Perjalanan keluar dari kota Blitar enjoy aja. Melewati daerah-daerah kecil (Garum, Wlingi, Nglegok, etc *summon Nunuz buat ngelengkapi*).
Sempat dicegat polisi dan diperiksa plat nomorku, lalu dilepas lagi. Nampaknya mereka lagi mencegat seseorang dengan motor Tiger juga.

Masalah mulai muncul ketika hampir keluar dari kabupaten Blitar, mendekati bendungan Karangkates, sekitar jam 7-an.

Lanjutkan membaca "Jalur Horor" »

April 10, 2007

Journey Ke Demak

Dalam rangka takziah meninggalnya Bapak (Senin, 2 April 2007), beberapa rekan datang dari Malang ke kampung halamanku di Demak. Mereka adalah: Yudhi (Yuyun), Aris (Wimar), Ferdhie (Ndoweh/Maru), Darmadi, Mahmudi, Irfan (Pithes), Huda, Anton (Bunali), Aprida (Phi) dan Trias (Ias).

Mereka datang hari Jum'at sore.

Sabtu pagi, Ferdhie, Darmadi, Mahmudi dan Huda kembali lebih dulu ke Malang, sedangkan sisanya berikut saya menyusul esok harinya.

Saat berangkat dari Malang sebelumnya tidak banyak hambatan, karena rutenya tidak melewati Lumpur Lapindo (rute Malang > Jombang > Tuban > Demak). Tapi dikarenakan pada saat berangkat ke Demak saya naik sepeda ke Surabaya, maka rute pulangnya dipaksa untuk melewati Surabaya dulu untuk ambil sepeda, yang pada akhirnya harus melewati area Lumpur Lapindo untuk ke Malang.

Aku diturunkan di Surabaya bersama Phi untuk meneruskan perjalanan dengan tiger, sedangkan sisanya tetap pake mobil.

Yeah, sepeda motor tidak begitu terhambat melewati genangan lumpur, cuman kecipratan sedikit, sedangkan mobil harus mencari jalan memutar entah lewat mana. 

Dengan penuh perjuangan dan menghindari penggunaan Joki di Porong, akhirnya mereka bisa melewati hambatan Lumpur Lapindo. 

Dari jam 10:30 AM berangkat dari Demak, jam 24:00 PM baru nyampe di Joyogrand, Malang.

Bukan lama karena macet di Porong, tapi karena kita sering berhenti dan foto-foto di beberapa tempat di Pantura, terutama mampir ke rumah Yusni di Gresik untuk makan seafood. Thanks Yus.

Foto-foto perjalanan masih belum diupload, baru 3 ini saja:

Terimakasih untuk semuanya. 

Dan untuk siapapun anda, saya mohonkan doa untuk bapak saya di alam sana. 

March 27, 2007

Wajah Miskin

Sebutan wajah miskin diberikan padaku oleh Penyu beberapa waktu yang lalu. Sialan for you X(

Meskipun berwajah miskin tapi kan berhati kaya. *menghibur diri*

Btw, ini bukan kali pertama hal itu terjadi, dalam bentuk dan keadaan yang berbeda, oleh orang yang berbeda. Saking saja si Penyu yang syaraf sungkannya entah kemana, jadi berani menyebut istilah itu dengan vulgar.

Meskipun bukan dalam bentuk ungkapan, kadang juga berbentuk sikap dan interaksi dari mereka, yang menunjukkan bahwa aku dianggap miskin.

Wait, bukan berarti aku ndak miskin lho, course I am, aku belum punya rumah, mobil dan tambang minyak. Tapi bukan itu poinnya. Intinya adalah betapa masih banyak orang di negeri ini yang menilai orang lain dari wajah dan penampilan.

Ada argumen: tentu saja kita melihat apa yang nampak, sebab itulah yang terlihat pertama kali.

Ya, setuju.

Tapi hendaknya itu tidak dijadikan patokan. Ada faktor kesetaraan dan hak asasi dalam menampilkan diri, sesuai kemauan dan kemampuan.

Lanjutkan membaca "Wajah Miskin" »

March 25, 2007

Testimonial Tentang Rokok

Ini bukan soal pro-kontra tentang rokok, karena aku yakin debat seperti itu akan mbulet dan ujungnya sudah kelihatan sejak dini.

Para perokok mania punya banyak alasan untuk tidak berhenti merokok. Entah itu alasan jujur atau hanya dibuat-buat. Berbagai dalih dapat mereka angkat dalam menanggapi statemen anti-rokok.

Misalnya ada fakta bahwa 16 persen kematian adalah disebabkan karena rokok, tapi bagi mereka hal ini dibalik, justru 84 persen mati karena tidak merokok. Hayah.

Makanya diskusi bisa jadi percuma. 

Ini hanya soal pengalamanku dalam hal berhenti merokok.

Tidak ingat kapan tepatnya, tapi sudah hampir 1 tahun aku tidak merokok sama sekali. Sejak sekitar bulan Mei 2006 gitu deh.

Sebelumnya aku hanya perokok pasif, merokok kalo dikasih rokok :D

Bukan, aku beli sendiri kok. Bukankah merokok dapat menyebabkan kanker, sedangkan kalo merokok beli ya tidak menyebabkan kanker ;)) 

Awalnya aku berhenti karena lagi merasa tidak enak badan. 1 minggu kemudian tetap tidak merokok, berlanjut ke 2 minggu, lalu 1 bulan.

Karena merasa nyaman dengan tidak merokok, keterusan sampai sekarang. Dan tidak pernah ada keinginan untuk mencobanya kembali. Sayang kan kalo merusak rekor yang telah panjang ini.

Tentu saja godaan, tantangan dan ejekan datang bertubi-tubi, tapi para kaum perokok itu tidak bisa menggapaiku [-(

Yeah, meski asbak dan puntung rokok mereka masih sering berceceran di kamarku *sigh*

Secara signifikan, aku merasakan perubahan pada fisik. Berat badang naik, tubuh yang sebelumnya kering sekarang jadi montok *halah*

Kalo soal makan banyak, itu sudah sejak aku SMP, tapi tidak membawa efek gemuk. Tapi begitu berhenti merokok, perkembangan fisik jadi pesat sekali, hanya dalam 1 tahun. 

Sebagai gambaran, ini foto di tahun sebelumnya, berat badan di bawah 60kg:

Sunatan

dan ini di tahun 2007, berat badan di atas 70kg:

 

Cuman close-up saja, biar gak terlalu narsis ;))

March 21, 2007

Tuntas Tak Bersisa

Kalo anda pertama kali makan bersama saya, tidak usah heran karena saya akan menghabiskan seluruh makanan di piring saya, tanpa sebutir nasipun yang terlewatkan.

Ya, tidak ada yang perlu diherankan, karena itu memang hal yang sangat wajar ;))

Namun ada berbagai macam tanggapan yang saya terima, perihal kebiasaan saya itu. Dan yang paling sering adalah mengira saya sangat kelaparan, sehingga menawari saya untuk menambah makanan lagi.

Bukan, itu bukan karena saya masih lapar. Andai nasinya ditambah, mungkin juga akan saya habiskan sampai tuntas. Sampai si botak ini memberikan sebutan pada saya sebagai manusia usus 16 jari. Apa-apaan.

Kebiasaan itu saya dapatkan sejak masih kecil, karena didikan orang tua, bahwa nasi yang tersisa itu akan menangis. Jadinya mesti dihabiskan. Namanya juga anak kecil, ya manut saja.

Dari tetangga dapat cerita bahwa nasi yang tersisa akan menuntut nanti di akhirat. Entahlah.

Dan dari pengalaman hidup, memunculkan rasa sayang yang teramat sangat, untuk menyisakan nasi untuk terbuang. Apalagi mengingat perjuangan orang untuk mendapatkannya.

Apakah itu berarti saya tidak pernah menyisa kalo makan?

Tidak juga. Kadang saya menyisa, kalo dalam kondisi tidak memungkinkan, misalnya sakit, terburu-buru, lupa, ketiduran *halah*

Hanya saja, sering saya lihat banyak rekan yang dengan ringannya menyisakan makanan di piring. Memang bukan dalam jumlah banyak (sekitar 20-50 butir), tapi kan masih bisa dituntaskan. Selain memang tuntas, bukankah akan tampil lebih rapi, elegan, dan menyenangkan untuk dilihat? (testimonial beberapa teman :D )

Kuncinya, ambil dan gunakan nasi dengan bijak. 

Halaman: « 34 35 36 37 38 39 40 [41] 42 43 44 45 46 47 48 ... 88 »

[depan]

Pencarian

Komentar Terbaru

January 2026

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi