Penipuan Online - Mahesa Jenar

| No Comments
Belakangan ini semakin marak korban penipuan online. 

Oke, konteks kita saat ini bukan mereka yang tertipu oleh foto wajah yang dipalsu oleh kamera jahat kemudian diposting ke sosmed.

Atau status palsu yang mengaku single padahal dobel, bahkan triple, untuk menipu para jomblo galau.

Bukan juga tentang janji palsu yang selalu menipu mereka yang bekerja di PT Mencari Cinta Sejati.

Yang kita bahas ini adalah tentang penipuan (dengan) transaksi palsu. Yaitu jual-beli yang tidak seperti yang diharapkan pembelinya.

Para korban penipuan online sekarang ini tidak lagi dimonopoli ibu-ibu tua yang gagal paham. Atau orang-orang pinggiran yang mungkin masih gagap teknologi.

Tidak. Seringkali korban penipuan online justru sarjana yang hidup di kota.

Mengenal Nomor Penerbangan - Mahesa Jenar

| 1 Comment
Banyak masyarakat yang masih bingung dengan istilah Nomor Penerbangan, atau Flight Id, dari sebuah pesawat. Sebagian mengira bahwa nomor penerbangan melekat pada pesawat tersebut, yang terbang kemana-mana dengan nomor penerbangan itu.

Seperti kasus jatuhnya JT610 milik maskapai Lion Air, dikira bahwa JT610 adalah pengenal pesawat. Padahal JT610 adalah nomor penerbangan. Sedangkan pengenal pesawat yang jatuh tersebut adalah PK-LQP.

Nomor penerbangan selalu berubah-ubah antar rute, meskipun masih dengan pesawat yang sama. Dan besoknya nomor penerbangan yang sama bisa jadi digunakan oleh pesawat yang berbeda.

Contohnya, pesawat Citilink dari bandara Halim menuju bandara Malang menggunakan nomor penerbangan QG160. Ketika pesawat tersebut terbang kembali ke Jakarta dia menggunakan nomor penerbangan QG161.

Besoknya, dengan pesawat berbeda dan jalur yang sama maka nomor penerbangan yang digunakan juga sama, QG160 dan QG161 itu lagi.

Pertanyaan selanjutnya, apakah saat ini nomor penerbangan JT610 masih ada?
Iya, masih ada. Silakan mencoba terbang dengan jalur itu jika ingin merasakan sensasinya.

Pegang Kendali - Mahesa Jenar

| No Comments

Beberapa hal yang terpikirkan selama memperhatikan seorang ibu menyusui bayinya (hmmm, sounds wrong?):


1. Setelah makan, seorang ibu tidak perlu (tepatnya tidak mampu) melakukan apapun untuk mengubah makanannya tadi menjadi ASI. Si ibu tinggal makan lalu meyakini itu nanti sebagian akan menjadi ASI, gitu aja.


2. Bayi yang sedang dalam gendongan ibunya, posisi mulutnya tepat berhadapan dengan pu**ting susu ibunya. Pas dengan posisi lengan ibunya.

Dual mode: begitu juga dengan posisi saat menyusui sambil tiduran.

Kok bisa pas gitu ya desainnya? Gak perlu modifikasi apa-apa lagi.


3. Meskipun bayi baru beberapa jam lahir di dunia, belum pernah mempergunakan mulutnya, tanpa baca tutorial atau quick start, tetapi mulut bayi bisa melakukan gerakan menyedot ASI secara berulang-ulang. Bayangkan kalo si ibu harus mengajarinya dulu.

Gerakan ini tidak mudah lho, silakan dicoba kalo tidak percaya.


4. ASI meskipun warnanya putih gitu aja, tapi itu hanyalah bentuk paketnya saja. Ketika ASI sudah di-unpack dalam perut bayi maka informasi makanan yang terkandung di dalamnya juga dikeluarkan. 

Seandainya si ibu sebelumnya makan sayuran, meskipun ASI berwarna putih, feses bayi ikutan berwarna hijau.

Entah teknik kompresi macam apa yang digunakan ASI.


5. ASI yang diminum kemudian mencukupi kebutuhan nutrisi bayi. Dan dari situ bayi akan tumbuh. Tanpa ibunya melakukan apa-apa supaya bayinya tambah tinggi (atau panjang?), menumbuhkan giginya, melebatkan rambutnya, menguatkan otot-ototnya.

Apa peran orang tua di situ? Gak ada. Semua terjadi secara otomatis.


Ada yang mengatakan itu sebagai proses alami yang wajar.

Ada yang meyakini itu sebagai keajaiban.

Sebagian lagi meyakini semuanya sebagai kuasa Allah.


Yang dibahas ini baru (sebagian kecil) soal ASI, ternyata banyak yang di luar kendali manusia. Padahal masih buanyak organ tubuh lain yang juga di luar kendali kita.


Lalu manusia dengan pongahnya ingin pegang kendali kehidupannya?


Are you kidding me, kid?



Mau Jadi Bangsa Apa - Mahesa Jenar

| No Comments

Tuhan sengaja menciptakan manusia menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (ref. Al-Hujurat:13)

Artinya manusia, karena sebagai yang diciptakan, tidak dapat memilih ingin dilahirkan sebagai bangsa apa dan suku mana. Lahir ya ceprot keluar dari rahim ibunya, tidak tersedia baginya pilihan pintu lain, yang kemudian menjadi awal penentu kebangsaan dan suku dia.

Namun setelah dewasa, dia memiliki pilihan untuk menjalani hidup sebagai bangsa atau suku lain. Kalau dia mau.

Misalnya orang Jawa yang memiliki kekaguman lebih terhadap bangsa Arab, sah saja dia mengubah namanya menjadi kearaban, berbicara dengan diselipi bahasa Arab, dan makan minum sebagaimana makanan orang Arab.

Entah itu didasari atas alasan agamanya, atau hanya sekadar nostalgia pernah kerja di sana, atau karena cuma pingin saja. Dia berhak untuk itu semua, entah itu hak tinggi atau hak yang rendah saja.

Sekarang ini banyak meme beredar yang menggambarkan Gus Dur/Cak Emha/Bung Karno/KH Musthofa Bisri/dll yang mengkritik orang Islam hilang jawanya karena kearaban. Meskipun belum tentu para beliau tersebut yang berbicara seperti itu, namun apa yang disampaikan tersebut sebenarnya tidak salah juga.

Secara pribadi saya yakin para beliau tidak bermaksud menentang kearaban para penduduk lokal, tapi lebih pada menjawab pendapat golongan tertentu.
Karena banyak orang yang terlalu fanatik pada suatu bentuk tertentu sehingga mendorong orang lain untuk berubah ke bentuk yang dimaksud. Demi menjawab dorongan itulah maka jadilah meme-meme tersebut.

Namun ketika jawaban para beliau itu kemudian terlalu dipaksakan ke semua orang, akhirnya mereka yang ingin mengekspresikan diri menjadi bangsa lain jadi ikut terkena dampaknya.
Padahal, jadilah apa yang kamu inginkan, selama tidak melanggar syariat dan aturan. Kalau memang cinta Arab ya monggo saja.

Lalu siapa yang akan mempertahankan budaya dan kekhasan Jawa kalau semua dibiarkan menjadi bangsa lain?
Ya terserah siapa saja yang mau. Kalau tidak mau ngapain dipaksa juga kan?

Biarlah yang mau-mau saja yang tetap menjadi Jawa, seperti saya.

LGBT - Mahesa Jenar

| 2 Comments
Cukup lama saya meredam pendapat tentang fenomena LGBT ini. Bukan karena apa-apa, hanya kepingin saja. 
Bayangkan, kecenderungan "menyimpang" ini sudah ada jauh sebelum kamu ada. Kamu bahkan buyutnya buyut kamu pun mengalami peradaban dengan kelakuan ini.

Lalu apakah sekelumit pendapat ini akan mengubah keadaan itu? Tentu saja tidak. Tapi kita tidak akan pernah tau kan, bahkan setetes embun pun dapat menyelamatkan middle earth saat embun itu jatuh di mulut Aragorn yang sedang pingsan.

Pendapat saya tentang LGBT: menyukai sesama jenis bukanlah perbuatan menyimpang. Memang benar apa kata para pakar psikologi.

Jangankan ke sesama manusia, bahkan seseorang bisa saja jatuh cinta ke karakter anime. Ada juga yang terangsang dengan motor Yamaha YZR-M1, atau yang tidak dapat tidur karena memikirkan keseksian ROM MIUI 6. Sah saja.

Jadi jika secara ilmu psikologi dikatakan bahwa cowok suka sama cowok itu normal, ya memang.

Indonesia Beda - Mahesa Jenar

| No Comments
Mengikuti pendapat teman-teman yang prihatin dengan kondisi bangsa saat ini, yang mudah sekali diadu domba, dan menjadi ladang yang nyaman untuk bermain takfir-takfiran. Puncak kekhawatiran mereka adalah Indonesia akan berubah menjadi Suriah berikutnya.

Namun menurutku Indonesia berbeda dari bangsa lain, karena kita adalah bangsa yang unik.

Pernikahan Sesama Jenis - Mahesa Jenar

| 1 Comment

cacing-tanah.png
"Cinta nomor satu, jenis kelamin nomor dua", adalah candaan rekan-rekan di kampus dulu ketika ada teman sesama cowok bergandengan tangan. Dan dengan sahnya legalisasi pernikahan sesama jenis di Amerika, seakan melihat gurauan dulu itu kini menjadi kenyataan.

Memang keputusan seperti itu sudah berlaku di beberapa negara lain, misalnya Belanda dan Denmark, hanya saja karena ini Amerika, gemanya menjadi berbeda. Karena Amerika sebagai negara kiblat hedonisme, maka bagi para penyembah nafsu di negeri kita seakan mendapat backup dan pembenaran untuk bersuara lantang tentang kesetaraan hak pernikahan sesama jenis. Lagi-lagi hak asasi manusia menjadi landasannya.

LGBT (Lesbi, Gay, Bisex, dan Transgender) adalah penyakit. Umumnya yang namanya penyakit memang tidak diminta, tapi tidak berarti boleh bertindak sesuai kehendak sendiri. Bagi yang waras harusnya mengasihi dan merangkul yang sakit itu agar menuju kesembuhan, bukan malah membuatnya permanen.

Phone Ring
Sebagai panggilan untuk sholat, jika diumpamakan dengan kring pada panggilan telepon, kira-kira seperti ini reaksi sebagian dari kita terhadap adzan:

1. Kring pertama: "Allahu Akbar Allahu Akbar"

Di layar hati muncul "Incoming call from Allah"

Bagi yang sedari tadi menunggu panggilan itu, atau yang memang menganggap bahwa itu panggilan sangat penting, akan bergegas memenuhi panggilan itu.

Sedangkan bagi yang lainnya masih tenang-tenang saja.

2. Kring kedua: "Allahu Akbar Allahu Akbar"

Mereka yang di kring pertama tadi tidak begitu mendengar, di kring kedua ini mungkin akhirnya sadar dan bereaksi untuk bergegas.

Sisanya tetap tenang, mungkin nama pemanggilnya di layar hati tidak dikenali, mungkin kontak Allah di phonebook belum tersimpan sehingga yang muncul adalah Unknown Number.

Remote Control - Mahesa Jenar

| No Comments
Remote control, sesuai artinya, remote=jarak jauh, control=pengendalian, berarti pengendalian jarak jauh.

Mungkin maknanya kurang pas, karena ketika disebutkan kata "remote control" yang terbayang adalah remote televisi. Sedangkan televisinya ada di depan mata, tidak jauh kok.

Namun coba Anda menonton televisi tanpa remote control, maka Anda akan merasakan betapa jauhnya televisi dari jangkauan Anda, saat akan memindahkan tayangan ke channel-channel yang lain.

Half Truth - Mahesa Jenar

Half truth, secara harfiah berarti kebenaran separuh, tetapi hakikatnya lebih dekat kepada setengah bohong daripada setengah jujur. Dan justru lebih berbahaya dibandingkan langsung berbohong, karena jika diteliti memang tidak berbohong namun dampaknya sama saja dengan berbohong. Si "pembohong" ini merasa aman dari hukum dan syariat maka lebih bersemangat. 

Half truth memang tidak bohong,  ada kebenaran di dalamnya. Atau memang benar semua, tetapi ada yang tidak disampaikan, sehingga menimbulkan bias bagi penerima informasinya. Dan itu disengaja.

Mereka yang cenderung menelan apa saja yang lewat, atau istilah jaman sekarang adalah tidak berpikir kritis, sangat mudah terkena jabakan half truth ini. 

Contoh half truth yang fenomenal adalah ketika Nabi Ibrahim ditanya oleh kaumnya siapa  yang menghancurkan tuhan mereka (Al-Anbiya 62-63)

Secara tata bahasa dan body language Nabi Ibrahim tidak berbohong, namun kesan yang ditimbulkan adalah patung besarlah yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Dari jawaban half truth ini, meskipun Nabi Ibrahim adalah bapaknya para Nabi, tapi tidak bersedia memberikan syafaat di akhirat kelak. Gara-gara pernah melakukan half truth. 


Recent Comments

  • gempr: benderanya! read more
  • Kukuh Jimi Sasongko: Saya mau bertanya! Sebenarnya makam / petilasan asli Ronggo Tohjoyo read more
  • Rizqi K : Saya ada keturuan Panembahan Senopati dr Istri ke-2 RR. Ayu read more
  • aji: Assalamuallaikum..sekedap bade mampir matur nuwun anggenipun panjenengan sampun kerso ambebagi read more
  • Pusaka: Jika anda kebetulan memiliki atau mengetahui salah satu benda istimewa read more
  • eko: Mas apakah benar kalau weton berjumlah 26 kalau udah nikah read more
  • fenny: Mas aryo,aku mau nanya donk,aku sama calon suami aku jumlah read more
  • RINTO BUDI SANTOSA: mohon petunjuknya, setelah di download ko filenya tidak bisa dibaca...(tidak read more
  • chopper nova: Bukannya orang landoh jatimulyo kec. Wedarijaksa tidak boleh berhubungan bisnis read more
  • vina: Mas aryo, saya mau tanya. Hari lahirku selasa pahing dan read more