" /> Mahesa Jenar: August 2008 Archives

« July 2008 | Depan | September 2008 »

August 22, 2008

Tanggal Hari Ini

Widget yang lain.

Mungkin efek dari kena vertigo, jadi mesti sering-sering refreshing otak. Salah satunya dengan iseng membuat widget seperti ini: Tanggal Hari Ini.

Sebenarnya widget ini duplikasi dari widget Random Ayat, hanya saja di sini tanpa Autorefresh.

Cara penggunaan:

Versi teks (javascript):

<script type="text/javascript" src="http://www.mahesajenar.com/scripts/hijriah.php">
</script>


Versi image (PNG):
(untuk blog di wordpress.com)

<img src="http://www.mahesajenar.com/scripts/hijriah.php?type=img" />


Parameter:

Untuk versi teks dan image, bisa ditambahkan parameter tz untuk menentukan TimeZone yang ingin ditampilkan.

Misalnya ingin menampilkan waktu Indonesia bagian timur (GMT+9), bisa dipanggil dengan:

<script type="text/javascript" src="http://www.mahesajenar.com/scripts/hijriah.php?tz=9">
</script>

atau:

<img src="http://www.mahesajenar.com/scripts/hijriah.php?type=img&tz=9" />

Jika tz tidak dicantumkan, maka dianggap TimeZone=7, yakni waktu Indonesia bagian barat.

Selanjutnya khusus untuk versi image, dapat digunakan beberapa parameter formatting warna.

Contoh image:



Tag-nya adalah:

<img
src="http://www.mahesajenar.com/scripts/hijriah.php?tz=7
&type=img
&text=000000
&bg=aaccee
&border=0000ff"
/>

(digabung dalam 1 baris)

text = warna teks dalam hexa
bg = warna background dalam hexa
border = warna pinggiran dalam hexa

Nilai hexa merupakan kode warna. Untuk mengetahui warna dan kodenya, silakan berkunjung ke color picker ini.

3 parameter warna di atas dapat diutak-atik untuk menyesuaikan dengan tampilan blog masing-masing. Namun berdasarkan hasil log dari para pengguna Random Ayat versi image, hampir semuanya menggunakan format apa adanya, copy paste dari contoh di sini. Jadi tidak ada modifikasi tampilan.

Whateverlah, yang penting gangguan vertigo sudah mereda.

*bersiap tidur*


August 21, 2008

Kena Vertigo



// var w = window.parent.window;
if( w && w.App )
w.setTimeout( 'App.bootstrapIframe();', 1 );
// ]]>


August 19, 2008

Ande-Ande Lumut

Ini hanya parodi dari sebuah tembang jawa legendaris yang dibawakan oleh Waldjinah, Ande-ande lumut.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang akeh kiaine... partai ijo iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo dereng purun. Adoh Ibu, kulo mboten mudun.
Senajan kiai, mboten rukun kaleh sedulur.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang gede massa-ne... partai abang iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo dereng purun. Adoh Ibu, kulo mboten mudun.
Senajan gede, mboten remen kaleh capres-e.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang ganteng ketum-e ... partai biru iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo dereng purun. Adoh Ibu, kulo mboten mudun.
Senajan ganteng, ketum-e kathah ngiklan-e.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang tuwo umur-e... partai kuning iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo inggih purun. Duh Ibu, kulo badhe mudun.
Senajan tuwo, kuning niku lambang makmur.


Untuk lagu versi aslinya, silakan dengar/download di Multiply.


August 14, 2008

Berkibarlah Benderaku

Mari lupakan dulu idealisme bahwa nasionalisme harusnya ada setiap saat, bukan cuma saat peringatan proklamasi, atau saat kejuaraan antar negara saja.
Mari kita nikmati saja kegembiraan ultah bangsa ini bersama seluruh lapisan masyarakat.
Hmm... itu juga terlalu ideal sih, karena nampaknya banyak yang sedang tidak berbahagia dalam menyambut ultah ini, atau sedang berbahagia namun tidak menyadari adanya ultah kemerdekaan.

Zaman aku kecil dulu, terasa sekali kegembiraan, kebanggaan, antusiasme dalam memperingati 17 Agustus. Gempitanya terasa 2 minggu sebelum sampai sesudahnya. Hati bergetar saat mendengar lagu 17 Agustus 45.

Sebagai gambaran antusiasme, untuk membeli selembar bendera, tetanggaku sampai berhutang ke tetangganya. Lha buat makan saja sudah susah.

Di waktu yang lain, tetangga yang lain, bendera beserta tiangnya dicabut oleh perangkat desa kemudian dilemparkan ke dalam rumah, karena benderanya sudah terlalu lusuh.

Kibaran merah putih memang hanya simbol, namun demi simbol itu mereka berusaha memberikannya sebaik mungkin.

Itu mereka. Bagaimana dengan kita?

Kemarin bersama Phi keliling Dinoyo, mencari tiang bendera. Dapat sih, tapi sulit membawanya karena tidak muat di Taft. Pintu belakang tidak dapat ditutup, sehingga Phi terpaksa duduk di belakang sambil memegangi pintu. Sepanjang perjalanan berusaha agar tiang bendera tidak mengenai pengguna jalan yang lain, atau terkena polisi tidur.

Akhirnya...



Berkibarlah benderaku,
Dirgahayu Indonesiaku.


August 11, 2008

Penipuan Berkedok Kecelakaan

Siang itu aku sedang berada di kampus, tepatnya di ruang UKM SCeN, sedang klik-klik gambar-gambar chika diagram instalasi jaringan. Mendadak HP bergetar, dengan nama pemanggil adalah "Emak".

"Ha...", sapaku tertahan, suara riuh di seberang sana.

"Har, adekmu tabrakan... Gun..., ditabrak karo taksi... sikile putung... kowe ndek endi iki... bla bla bla..." (gak perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan gak perlu dialog lengkap, soalnya sudah lupa kalimat lengkapnya).

Intinya ibuku mendapatkan kabar bahwa adikku mengalami kecelakaan di Jogja, dan sedang dirawat di rumah sakit. Si penelepon mengatakan harus segera dilakukan operasi untuk menolong jiwanya, dan membutuhkan sejumlah uang sebagai uang muka.

HP Gun tidak dapat dihubungi, dan tidak ada famili/kenalan di Jogja.

Segera aku tancap gas, tanpa persiapan apapun dari Malang aku meluncur ke Jogja.

Ibu yang sedang kalut (Bapak sedang di luar kota), segera menyuruh pegawainya ke BRI untuk mengirim sejumlah uang sesuai permintaan si penelepon. Mintanya 20 juta, tapi ibuku sanggup 15 juta dulu.

Beruntung, atas bantuan teman Bapak di kepolisian, segera dilakukan pengecekan ke seluruh pos polisi di Jogja, mencari informasi tentang kecelakaan yang dilaporkan. Juga dicek ke beberapa UGD di sana. Hasilnya nihil.

Secepatnya dikirim orang untuk menyusul yang sedang ke bank tadi, agar membatalkan proses pengiriman uang.
Ndilalah, tinggal 1 juta lagi penghitungan selesai dilakukan, pengiriman berhasil dibatalkan.

Rupanya itu modus penipuan.

HP Gun masih belum dapat dihubungi. Sedangkan aku kelelahan nyetir nonstop sendirian, ngantuk, lapar, plus kesasar di Solo.

Akhirnya dengan perjuangan sok tau yang amat sangat seperti biasanya, sampai juga aku di kontrakan Gun di Jogja. Tapi saat itu dia sudah berhasil ditelpon oleh orang rumah.

Rupanya HP dia sengaja dimatikan, atas perintah telpon gelap dari Jakarta (kode area 021), mengaku sebagai intel yang sedang menyelidiki kasus narkoba. Kalau tidak mau mematikan HP dalam 1 hari itu, dianggap mengganggu proses penyelidikan.

Pertanyaannya:
Darimana komplotan penipu itu tau nomor, kondisi dan posisi Gun?

Jawabannya:
Beberapa waktu sebelumnya, Bapak menerima telpon -yang ngakunya- dari Telkom. Menawarkan potongan harga 50% bagi pelanggan yang memiliki anak masih sekolah/kuliah. Untuk proses verifikasi, si orang tadi meminta nomor anak yang masih sekolah untuk 'interview'.
Diberikanlah nomor Gun.

Demikianlah.

Masih ada kisah lainnya yang mirip. Silakan tidur bagi yang sudah mengantuk dengan dongeng ini ;))

Sahabatku, Mina, yang tinggal di Pasuruan, juga pernah mengalami hal yang serupa. Keluarganya di Pasuruan mendapat kabar bahwa adik Mina, sebut saja namanya Mawar (nama aslinya Emil), yang sedang kuliah di Malang mengalami kecelakaan, dan harus segera dioperasi di UGD.

Orang tuanya yang tergolong kaya raya (punya kolam renang di rumahnya, -parameter ngawur-), kontan kalang kabut dan berusaha menuruti kemauan si penelepon.

Beruntung, di sini Mina punya banyak sahabat. Waktu itu si Yuyun alias Yudhi, atas permintaan Mina mengecek langsung ke kampus Emil... eh, Mawar.

Yuyun harus berbesar hati memberikan nasehat kepada ibundanya Mina, untuk jangan dulu melakukan transfer uang, meskipun selalu dibalas dengan 'nasehat keras' seorang ibu yang sedang kalut anak bungsunya kecelakaan di tempat jauh.

Meskipun sebelumnya Yuyun tidak tau rupa si Mawar, namun cerita diakhiri dengan si Mawar menelepon sendiri ke ibunya. Uang belum jadi dikirim. Selamat.

Itulah sekelumit cerita tentang kejahatan yang memanfaatkan perasaan was-was seorang ibu akan keselamatan anaknya yang jauh di rantau.

Bangsat tenan kok.

Dan bangsat itu kemarin berhasil mereguk dana segar 19 juta rupiah, hasil penipuan dengan modus yang sama. Seorang ibu di Malang, dikabari anaknya yang kuliah di Bandung mengalami kecelakaan, dan berhasil mentransfer uangnya. Berita lengkapnya di Radar Malang.

Dan kita masih di sini hanya untuk mendengarkan cerita-cerita itu terjadi dan terjadi.

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi