KantorPos oh KantorPos
Bukan bermaksud membahas ngedropnya popularitas Kantorpos melawan teknologi komunikasi digital, sebab hal itu sudah sepatutnya terjadi :D
Aku mulai mempermasalahkan, ketika paket yang aku kirim tersebut ternyata bisa kembali lagi, dengan isi yang masih utuh (meskipun isinya jamuran), kembali ke alamatku.
Hanya bercerita mengenai paket yang baru saja sampai.
Kapan lalu, saat sedang menyebarkan undangan pernikahan, untuk relasi yang jauh kita memanfaatkan jasa Kantorpos Malang, melalui Paketpos Kilat Khusus. Jumlahnya mencapai puluhan paket.
Dari semua pengiriman tersebut, kebanyakan bisa mencapai tujuan, dilihat dari adanya respon berupa SMS dari teman-teman di kejauhan, bahwa undangan telah diterima.
Ada beberapa yang tidak memberikan respon. Entah paketnya sampai atau tidak.
Ada juga yang akhirnya aku tanyai, memberi respon bahwa belum menerima paket sama sekali, meskipun sudah 2 minggu lebih. Karena curiga, aku coba mengecek pengiriman melalui fitur Lacak Kiriman pada halaman ini:
http://www.posindonesia.co.id/
Dari hasil pelacakan paket di situ, diketahui bahwa paket yang seharusnya menuju ke Balikpapan, Kalimantan Timur, ternyata malah sampai ke Karanganyar, Bandarlampung.
Status pengiriman sudah OK, yang artinya tidak ada masalah terdeteksi oleh pihak Kantorpos, meskipun di alamat tujuan jelas-jelas tertera Kodepos. Semua dianggap beres.
Kesalahan pengiriman ini, aku menebak, karena Pak Pos yang terhormat telah salah membaca Kodepos.
Kodepos yang aku tulis adalah 76111, yang artinya ke Balikpapan.
Sedangkan paket sampainya ke Karanganyar, yang di halaman pelacakan menggunakan Kodepos 35000.
Saat aku perhatikan di resi pengiriman, biaya pengiriman paket tersebut adalah tepat 35000. Kemungkinan besar, biaya pengiriman ini dibaca dengan cepat sebagai Kodepos. Maka sampailah paket dengan nomor pengiriman 10456794286 tersebut ke Karanganyar, bukan ke Balikpapan.
Meskipun di alamat tujuan jelas tertulis kata Balikpapan.
Demikian analisanya.
Baiklah, aku anggap itu masalah kesalahan manusia. Wajar. *kalem*
Aku akhirnya kirim ulang ke teman tersebut. Dengan alamat yang sama, namun lebih lengkap beserta nomor RT / RW-nya. Dan akhirnya paketnya sampai juga.
Aku sama sekali tidak mempermasalahkan kesalahan tersebut, meskipun undangan pernikahan dan beberapa bungkus keripik khas Malang, beberapa kotak jenang apel, dan beberapa bungkus teh cap Naga, hilang entah sampai ke alamat siapa.
Sekali lagi, aku tidak mempermasalahkan kesalahan itu. Terbukti dengan tidak aku posting di blog :P
Yang aku masalahkan adalah tulisan tangan pada paket tersebut:
"Tolong no Tlp jika kirim lagi: mubajir. petugas"
Ada yang salah dengan tulisan itu? tidak, karena sebenarnya nomor telpon memang perlu dicantumkan.
Aku kesal karena tulisan tersebut malah menyalahkan kita sebagai pengirim, sedangkan kalau dilihat prosesnya, kesalahan jelas-jelas dari pihak mereka. Dari yang seharusnya ke arah utara, malah ke barat. Harusnya ke Kalimantan malah ke Sumatera.
Tidak mencatumkan nomor telpon juga tidak bisa dijadikan alasan salah pulau kan?
Mungkin mereka tidak tau bahwa kita telah tau kalau mereka tau mereka salah baca Kodepos?
Apa kata dunia.


Komentar Terbaru