" /> Mahesa Jenar: March 2008 Archives

« February 2008 | Depan | April 2008 »

March 31, 2008

Dream Comin True


Setelah melewati proses jadi-gak jadi-jadi, akhirnya terbeli juga kamera digital ini:



Kamera ini bisa fokus ke wajah orang, yang jika orangnya bergerak, ada kotak fokus di layar yang mengikuti gerakannya (face detection).

Dan yang unik, bisa di-setting agar otomatis 'njepret' kalo orangnya tersenyum, meskipun tidak ditekan tombol shutter.


Spesifikasi dan gambar bisa dilihat di review Sony DSC-T70

Kapan ke Panderman lagi?


March 27, 2008

Kapur Tulis


Saat ini, kebanyakan papan tulis menggunakan whiteboard, dengan alat tulisnya adalah spidol.

Baik itu di ruang kuliah, ruang sekolah, ruang kursus, ruang presentasi, sampai di ruang belajar anak (jadi berasa udah punya anak), alat oret-oretnya menggunakan whiteboard.

Kapur tulis sudah tergeser oleh spidol, karena spidol dipandang lebih rapi, efisien, modern, dan (katanya) lebih sehat.
Sedangkan kapur tulis dipandang lebih kuno, belepotan di tangan, berdebu, dan terutama mengganggu kesehatan pernafasan.

Padahal menurut penelitian di laboratorium ITB, barusan di Trans7: Asal Usul, dibuktikan bahwa kandungan dalam kapur tulis tidak membahayakan pernafasan.
(maaf tidak bisa copy-paste siaran TV di sini)

Hanya mungkin butiran kapur tulis kadang menyebabkan sedikit rasa panas di kulit (untuk beberapa orang). Tapi karena debu kapur tulis tergolong ukuran besar, butirannya tertahan oleh filter udara pertama dalam tubuh, sehingga tidak sempat masuk ke dalam paru-paru.

Justru bahan kimia pelarut dalam spidol yang terhisap tubuh, dapat mengganggu kesehatan, karena ukurannya yang lebih kecil dan lebih berbahaya.

Jadi, sebaiknya dibudayakan kembali penggunaan kapur tulis, toh jika diperlukan, kapurnya dapat dipotong dan dilemparkan ke siswa yang ngantuk.


March 26, 2008

Taruhan

Pada sebuah kelas, Silbi dikenal sebagai siswa yang berprestasi, cerdas dan disiplin. Dia disayangi oleh semua teman-temannya, terutama lagi oleh wali kelasnya. Tidak heran kalau dirinya ditetapkan sebagai ketua kelas.

Sampai suatu ketika, wali kelas memperkenalkan siswa baru, yang katanya lebih pintar dari seluruh siswa di kelas itu. Dan memang ketika dibuktikan, siswa baru yang bernama Mada tersebut lebih cerdas dari semua siswa lain. Bahkan dengan mantap, wali kelas menetapkan Mada sebagai ketua kelas.

Silbi yang merasa diturunkan secara sepihak, menentang keputusan tersebut. Terjadilah debat panjang antara dirinya dan wali kelas, terlebih karena Silbi tidak terima kalau Mada disebut lebih cerdas darinya.

Akhirnya diambil kesepakatan untuk bertaruh:

Dengan tanpa melakukan intimidasi secara fisik, siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan dari siswa sekelas, apakah wali kelas, ataukah Silbi?

Hasil akhir dihitung nanti pada akhir tahun. Siswa yang pro ke wali kelas akan mendapatkan bonus nilai dari wali kelas. Yang pro ke Silbi, siap-siap mendapatkan hukuman nantinya.

Dan taruhan pun dilaksanakan.

Siswa kemudian terpecah menjadi beberapa jenis:

  1. Pro ke Silbi, dengan berbagai dalih, ataupun karena bujukan Silbi.
  2. Pro ke wali kelas demi bonus nilai.
  3. Pro ke wali kelas, karena takut hukuman di akhir tahun.
  4. Siswa yang berorientasi pada pelajaran, yang tidak peduli dengan taruhan itu, tidak peduli dengan bonus nilai atau hukuman. Niatnya datang ke sekolah adalah untuk belajar.
  5. Dia pro ke wali kelas, karena percaya pada keputusan wali kelas.

Dan masih ada beberapa jenis siswa yang lain.

Kalau anda sebagai siswa, mungkin anda adalah jenis #2 atau #3 ;;) 

March 12, 2008

Menulis Honocoroko


Aksara Jawa tidak jarang menjadi hal asing bahkan di masyarakat Jawa itu sendiri. Semakin sedikit aku menemui wong Jowo yang mampu menulis dan membaca aksara Jawa, beda dengan zaman masih sekolah dasar dulu, di mana aksara Jawa masuk dalam salah satu pelajaran. Saat itu, dan sampai SMU, aksara Jawa masih sering aku gunakan untuk menulis sesuatu di saat melamun.

Saat itu masih hafal luar kepala.
Sekarang sudah gak ada di kepala.

Mungkin penyebab utamanya adalah karena kurangnya keperluan aksara ini dalam keseharian.
Buat apa sih menggunakan aksara Jawa untuk baca tulis, sedangkan ada aksara yang universal, yang lebih general dan lebih mudah digunakan, yang disebut alfabet.

Namun bagaimanapun, aksara itu adalah milik masyarakat Jawa, dan seharusnya dilestarikan. Kalaupun tidak digunakan dalam keseharian, setidaknya masih mengetahui dan memahami.

Aksara Jawa sering disebut sebagai Honocoroko, yang diambil dari baris pertama bunyi dari aksara tersebut. Lengkapnya:

Ho No Co Ro Ko
Do To So Wo Lo
Po Dho Jo Yo Nyo
Mo Go Bo Tho Ngo

Menurut sejarahnya, kalimat itu memiliki muatan cerita:

Ono Coroko
Ada utusan (abdi setia)

Doto Sowolo
Saling berseteru

Podho Joyonyo
Sama-sama sakti

Mogo Bothongo
Keduanya menjadi mayat


Lebih banyak tentang sejarah aksara Jawa:
Babad Aji Saka
Wikipedia: Aksara Jawa

Dari situs itu pula aku download font Honocoroko, beserta panduan penulisannya.

Dengan font tersebut aku menuliskan kata Mahesa Jenar di header blog ini. 
Terimakasih untuk mas Teguh Budi Sayoga.

Selamat mempertahankan budaya Jawa.
 

March 8, 2008

Solar Oplosan


Kemaren pagi berangkat ke Surabaya menggunakan si Taft, dengan kondisi solar setengah kosong (atau setengah penuh? terserah deh).

Semuanya berjalan lancar, termasuk ketika melewati kemacetan Pasar Porong. Sampai setelah melewati gerbang tol Porong, mesin mendadak tersendat, berasa seperti kehabisan solar.
Dan akhirnya mesin mati dengan tenang di bahu jalan.

Kecurigaan pertama, radiator mengalami overheat, karena reservoir terlihat mendidih sampai airnya mengucur deras keluar. Aneh sih, karena selama ini sudah sering mengalami kepanasan, tapi tidak pernah sampai menyebabkan kematian.

Ok, solusinya kita dinginkan mesin untuk beberapa lama. Cukup lama sampai didatangi petugas tol. Untungnya saat petugas datang kita sudah pakai celana *lho*

Setelah dingin, perjalanan dilanjutkan, memasuki Kuto Suroboyo.

Beberapa lama berjalan dalam kota, kejadian itu berulang beberapa kali. Dan setelah cek n ricek, kita curiga mesin mengalami masuk angin (udara memasuki silinder), karena solar sempat di ambang setengah tangki, yang mana termasuk titik warning bagi mesin-mesin diesel.

Maka pada kesempatan pertama bertemu dengan SPBU, solar diisi full tank.
Namun itu tidak menyelesaikan masalah, karena di beberapa ratus meter berikutnya, mogoknya still go on.
Dan kita juga sudah capek memompa aliran solar agar udaranya keluar.

Telepon bantuan sana-sini, salah satu solusi didapatkan dari Ferdhie, yaitu kemungkinan filter solarnya tersumbat, jadi harus diganti.
Solusi ini tidak mudah, karena hari itu adalah tanggal merah, banyak bengkel tutup. Tapi untungnya ini Surabaya, ada saja bengkel yang masih buka. Dan untuk mencapai bengkel, beberapa kali mogok.

Filter solar diganti dengan yang baru, dan memang, di filter yang lama, banyak berisi air dan tanah *kok bisa?*

(pak bengkel mengganti filter solar yang penuh air)

Setelah diganti filter baru, segalanya berasa ok, sampai pada beberapa kilometer meninggalkan bengkel, mesin mati lagi.

Mesin panas: tidak. Masuk angin: tidak. Filter kotor: tidak.
Sampai menjelang gelap, kita terdampar di jalur darurat tol Pasar Kembang Surabaya.

Ide dari kakaknya Yudhi, agar mengecek solar yang keluar dari filter solar. Dan ternyata, baunya bukan bau solar, tapi minyak tanah!

Memang sih, solar bisa dioplos dengan minyak tanah, namun karena sifatnya yang berbeda, minyak tanah lebih cepat panas daripada solar, sehingga kalau didinginkan lama, minyak tanah baru mau berfungsi.

Begitulah, Surabaya - Malang ditempuh lebih dari 7 jam, karena setiap panas, mesin mengajukan time break, berhenti di pinggir jalan.

Juga, minyak tanah dapat menyebabkan lecet pada piston karena tidak bisa melumasi. Merusak mesin.

Sampai di Malang, kita coba ambil solar langsung dari tangkinya, sebanyak 1 botol aqua, dan whuaa... itu adalah minyak tanah dengan tampilan solar!


(terlalu encer, tidak berbusa, dan jelas sekali beraroma minyak tanah)


Kalau diingat-ingat, terakhir kali aku isi solar itu di... SPBU Kawi.

*black list*


March 3, 2008

Meski Baru Niat


Saat ditanya kapan menikah, banyak yang berpikir:
Nanti deh kalau sudah punya cukup uang untuk nikah. Nabung dulu.

Padahal sudah sering dikatakan "menikah membuka pintu rejeki".

Dan banyak lagi keajaiban lainnya dalam dunia nikah. Salah satunya:
Jangankan setelah menikah, sedangkan baru berniat melakukannya saja, rejeki datang sendiri untuk itu.*

Sebuah website mendadak terjual, project mandeg akhirnya kelar, bahkan dana macet setelah sekian lama, akhirnya cair juga. Alhamdulillah.

Itu adalah kisah nyata, just try it yourself ;)


*syarat dan ketentuan berlaku


Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi