Wajah Miskin
Sebutan wajah miskin diberikan padaku oleh Penyu beberapa waktu yang lalu. Sialan for you X(
Meskipun berwajah miskin tapi kan berhati kaya. *menghibur diri*
Btw, ini bukan kali pertama hal itu terjadi, dalam bentuk dan keadaan yang berbeda, oleh orang yang berbeda. Saking saja si Penyu yang syaraf sungkannya entah kemana, jadi berani menyebut istilah itu dengan vulgar.
Meskipun bukan dalam bentuk ungkapan, kadang juga berbentuk sikap dan interaksi dari mereka, yang menunjukkan bahwa aku dianggap miskin.
Wait, bukan berarti aku ndak miskin lho, course I am, aku belum punya rumah, mobil dan tambang minyak. Tapi bukan itu poinnya. Intinya adalah betapa masih banyak orang di negeri ini yang menilai orang lain dari wajah dan penampilan.
Ada argumen: tentu saja kita melihat apa yang nampak, sebab itulah yang terlihat pertama kali.
Ya, setuju.
Tapi hendaknya itu tidak dijadikan patokan. Ada faktor kesetaraan dan hak asasi dalam menampilkan diri, sesuai kemauan dan kemampuan.
Iya, kalo pakaian aku bisa menyesuaikan diri. Tapi gimana dengan wajah?
Sewaktu datang ke toko komputer aku punya sedikit pengalaman tentang hal ini. Toko ini termasuk elit, dengan barang dagangan semua dari eropa, dan memiliki toko online yang sudah ternama. Aku termasuk pelanggannya, mulai dari mouse, headphone, USB hub, bluetooth, infrared, flashdisk, etc, aku beli dari situ, satu merk. (hanya sayang dulu aku pernah kontak lewat email, balasan dari customer-servicenya ditulis dengan model abegeh).
Saat itu aku datang ke toko offlinenya, mencari flashdisk. Karena ingin punya 1 yang awet, aku cari yang besar sekalian. 1 GB cukuplah, dengan gambaran harga di pikiranku sekitar 400 - 500 ribu. Bagiku lebih baik mahal asal berkualitas, karena digunakan untuk hal yang sensitif.
Ketika aku minta diambilkan yang 1 GB, pelayan lalu menyerahkan flashdisk itu sambil bilang harganya 250 ribu.
Karena di toko ini hanya menjual merk mahal dan berkualitas, harga segitu membuatku perlu meyakinkan apakah ini termasuk yang berkualitas, sebab harganya jauh di bawah perkiraanku. Lalu aku baca spec-nya. Bener 1 GB, merknya pun sama seperti barang yang lain.
Tapi saat aku membaca spec-nya, pelayan mengatakan: maaf, itu yang paling murah.
*lha*
Spontan aku ingin menjawab: saya mau cari yang lebih mahal.
Tapi sudahlah. Aku beli yang itu saja.
Sederhana memang, tapi arah perkiraan seperti itu bukanlah attitude yang baik, terutama untuk pelanggan yang sensitif seperti aku ;))
Pak erte perlu memperhatikan attitude pelayannya nih :D
Kejadian lain yang serupa tapi tak sama juga sering terjadi. Bahkan yang ekstrim, di mall Ciputra Semarang aku pernah dianggap sebagai copet yang lagi mengikuti mangsanya.
Padahal lagi ngantar ibu belanja.
Duh, kenangan sial.
Nasib.



Komentar Terbaru