" /> Mahesa Jenar: March 2007 Archives

« February 2007 | Depan | April 2007 »

March 27, 2007

Wajah Miskin

Sebutan wajah miskin diberikan padaku oleh Penyu beberapa waktu yang lalu. Sialan for you X(

Meskipun berwajah miskin tapi kan berhati kaya. *menghibur diri*

Btw, ini bukan kali pertama hal itu terjadi, dalam bentuk dan keadaan yang berbeda, oleh orang yang berbeda. Saking saja si Penyu yang syaraf sungkannya entah kemana, jadi berani menyebut istilah itu dengan vulgar.

Meskipun bukan dalam bentuk ungkapan, kadang juga berbentuk sikap dan interaksi dari mereka, yang menunjukkan bahwa aku dianggap miskin.

Wait, bukan berarti aku ndak miskin lho, course I am, aku belum punya rumah, mobil dan tambang minyak. Tapi bukan itu poinnya. Intinya adalah betapa masih banyak orang di negeri ini yang menilai orang lain dari wajah dan penampilan.

Ada argumen: tentu saja kita melihat apa yang nampak, sebab itulah yang terlihat pertama kali.

Ya, setuju.

Tapi hendaknya itu tidak dijadikan patokan. Ada faktor kesetaraan dan hak asasi dalam menampilkan diri, sesuai kemauan dan kemampuan.

Iya, kalo pakaian aku bisa menyesuaikan diri. Tapi gimana dengan wajah?

Sewaktu datang ke toko komputer aku punya sedikit pengalaman tentang hal ini. Toko ini termasuk elit, dengan barang dagangan semua dari eropa, dan memiliki toko online yang sudah ternama. Aku termasuk pelanggannya, mulai dari mouse, headphone, USB hub, bluetooth, infrared, flashdisk, etc, aku beli dari situ, satu merk. (hanya sayang dulu aku pernah kontak lewat email, balasan dari customer-servicenya ditulis dengan model abegeh).

Saat itu aku datang ke toko offlinenya, mencari flashdisk. Karena ingin punya 1 yang awet, aku cari yang besar sekalian. 1 GB cukuplah, dengan gambaran harga di pikiranku sekitar 400 - 500 ribu. Bagiku lebih baik mahal asal berkualitas, karena digunakan untuk hal yang sensitif.

Ketika aku minta diambilkan yang 1 GB, pelayan lalu menyerahkan flashdisk itu sambil bilang harganya 250 ribu.

Karena di toko ini hanya menjual merk mahal dan berkualitas, harga segitu membuatku perlu meyakinkan apakah ini termasuk yang berkualitas, sebab harganya jauh di bawah perkiraanku. Lalu aku baca spec-nya. Bener 1 GB, merknya pun sama seperti barang yang lain.

Tapi saat aku membaca spec-nya, pelayan mengatakan: maaf, itu yang paling murah.

*lha* 

Spontan aku ingin menjawab: saya mau cari yang lebih mahal.

Tapi sudahlah. Aku beli yang itu saja. 

Sederhana memang, tapi arah perkiraan seperti itu bukanlah attitude yang baik, terutama untuk pelanggan yang sensitif seperti aku ;))

Pak erte perlu memperhatikan attitude pelayannya nih :D

Kejadian lain yang serupa tapi tak sama juga sering terjadi. Bahkan yang ekstrim, di mall Ciputra Semarang aku pernah dianggap sebagai copet yang lagi mengikuti mangsanya.

Padahal lagi ngantar ibu belanja.

Duh, kenangan sial. 

Nasib.

March 25, 2007

Testimonial Tentang Rokok

Ini bukan soal pro-kontra tentang rokok, karena aku yakin debat seperti itu akan mbulet dan ujungnya sudah kelihatan sejak dini.

Para perokok mania punya banyak alasan untuk tidak berhenti merokok. Entah itu alasan jujur atau hanya dibuat-buat. Berbagai dalih dapat mereka angkat dalam menanggapi statemen anti-rokok.

Misalnya ada fakta bahwa 16 persen kematian adalah disebabkan karena rokok, tapi bagi mereka hal ini dibalik, justru 84 persen mati karena tidak merokok. Hayah.

Makanya diskusi bisa jadi percuma. 

Ini hanya soal pengalamanku dalam hal berhenti merokok.

Tidak ingat kapan tepatnya, tapi sudah hampir 1 tahun aku tidak merokok sama sekali. Sejak sekitar bulan Mei 2006 gitu deh.

Sebelumnya aku hanya perokok pasif, merokok kalo dikasih rokok :D

Bukan, aku beli sendiri kok. Bukankah merokok dapat menyebabkan kanker, sedangkan kalo merokok beli ya tidak menyebabkan kanker ;)) 

Awalnya aku berhenti karena lagi merasa tidak enak badan. 1 minggu kemudian tetap tidak merokok, berlanjut ke 2 minggu, lalu 1 bulan.

Karena merasa nyaman dengan tidak merokok, keterusan sampai sekarang. Dan tidak pernah ada keinginan untuk mencobanya kembali. Sayang kan kalo merusak rekor yang telah panjang ini.

Tentu saja godaan, tantangan dan ejekan datang bertubi-tubi, tapi para kaum perokok itu tidak bisa menggapaiku [-(

Yeah, meski asbak dan puntung rokok mereka masih sering berceceran di kamarku *sigh*

Secara signifikan, aku merasakan perubahan pada fisik. Berat badang naik, tubuh yang sebelumnya kering sekarang jadi montok *halah*

Kalo soal makan banyak, itu sudah sejak aku SMP, tapi tidak membawa efek gemuk. Tapi begitu berhenti merokok, perkembangan fisik jadi pesat sekali, hanya dalam 1 tahun. 

Sebagai gambaran, ini foto di tahun sebelumnya, berat badan di bawah 60kg:

Sunatan

dan ini di tahun 2007, berat badan di atas 70kg:

 

Cuman close-up saja, biar gak terlalu narsis ;))

March 21, 2007

Tuntas Tak Bersisa

Kalo anda pertama kali makan bersama saya, tidak usah heran karena saya akan menghabiskan seluruh makanan di piring saya, tanpa sebutir nasipun yang terlewatkan.

Ya, tidak ada yang perlu diherankan, karena itu memang hal yang sangat wajar ;))

Namun ada berbagai macam tanggapan yang saya terima, perihal kebiasaan saya itu. Dan yang paling sering adalah mengira saya sangat kelaparan, sehingga menawari saya untuk menambah makanan lagi.

Bukan, itu bukan karena saya masih lapar. Andai nasinya ditambah, mungkin juga akan saya habiskan sampai tuntas. Sampai si botak ini memberikan sebutan pada saya sebagai manusia usus 16 jari. Apa-apaan.

Kebiasaan itu saya dapatkan sejak masih kecil, karena didikan orang tua, bahwa nasi yang tersisa itu akan menangis. Jadinya mesti dihabiskan. Namanya juga anak kecil, ya manut saja.

Dari tetangga dapat cerita bahwa nasi yang tersisa akan menuntut nanti di akhirat. Entahlah.

Dan dari pengalaman hidup, memunculkan rasa sayang yang teramat sangat, untuk menyisakan nasi untuk terbuang. Apalagi mengingat perjuangan orang untuk mendapatkannya.

Apakah itu berarti saya tidak pernah menyisa kalo makan?

Tidak juga. Kadang saya menyisa, kalo dalam kondisi tidak memungkinkan, misalnya sakit, terburu-buru, lupa, ketiduran *halah*

Hanya saja, sering saya lihat banyak rekan yang dengan ringannya menyisakan makanan di piring. Memang bukan dalam jumlah banyak (sekitar 20-50 butir), tapi kan masih bisa dituntaskan. Selain memang tuntas, bukankah akan tampil lebih rapi, elegan, dan menyenangkan untuk dilihat? (testimonial beberapa teman :D )

Kuncinya, ambil dan gunakan nasi dengan bijak. 

March 14, 2007

Tabiat Saling Tunjuk

Salah satu isi materi ceramahku (huekkk... ceramah :-& ) pada saat menyambut maba (mahasiswa baru) di kampusku adalah mengenai kerjasama dan kepedulian.

Dalam kesempatan itu aku mengangkat satu cerita:

Pada sebuah kapal dengan banyak penumpang, ada seorang penumpang pria yang tercebur ke laut. Para penumpang lain yang melihatnya tentu saja histeris, berteriak minta tolong. Ada yang lari kesana-kemari sambil ngasih tau bahwa ada penumpang yang tercebur, dan yang lainnya berdiri di pinggir kapal, sambil menunjuk-nunjuk ke arah pria di laut yang sedang megap-megap di air dingin. Tapi ya cuma gitu aja aksi para penumpang, sampai si pria tadi akhirnya tenggelam, dan di-shutdown oleh yang Kuasa. Siapa yang salah?

Cerita di atas juga aku gunakan sebagai pembenar, bahwa panitia berhak menghukum satu kelas (kelompok) sekaligus, meski hanya ada satu peserta saja yang melanggar aturan.
(yeah, tergantung jenis pelanggarannya tentu saja).

Misalnya hari itu peserta disuruh membawa sapu ijuk dan botol kosong, bukan berarti seluruh peserta harus membawanya dari rumah masing-masing.
Bagi yang rumahnya dekat dengan toko sapu, bisa membeli beberapa sekaligus, untuk kemudian dibagi pada peserta lain yang rumahnya jauh dari toko sapu.
Inilah gunanya kerjasama.

Lalu jika ada peserta yang memang tidak bisa membelinya, peserta lain mbok ya mau berbagi pada yang ndak mampu. Ndak usah merasa bahwa karena dia yang membelinya maka cuma dia yang boleh menggunakannya.
Di sini yang dinamakan kepedulian.

Kalo misalnya ada kelompok yang gagal menerapkan aturan di atas, seluruh peserta di kelompok tadi kena hukuman. Nyanyi di depan kelompok lain.

(catatan: aturan itu dijelaskan setelah acara selesai)

Tidak adil bagi yang sudah mentati aturan? kena hukuman gara-gara orang lain yang tidak mampu mengikuti aturan?

Bisa jadi anda menganggap seperti itu.

Tapi bayangkan saat anda kelaparan, kedinginan, rumah anda hancur tertimbun tanah, anak anda yang sulung entah di mana, yang bungsu menggigil kelaparan dengan selimut basah, sedangkan orang lain dalam negara yang sama sedang melihat berita tentang kecamatan anda melalui televisi, sambil makan pop-mie hangat di atas kursi empuk, melihat nomor rekening BCA sumbangan bencana alam yang tertulis di news-ticker hanya sebagai pengganggu, karena memotong berita yang sedang dia baca tentang musibah bencana itu.

Seperti cuplikan lirik Iwan Fals:

Aku dengar jeritan dari sini… aku dengar Aku dengar tangismu dari sini… aku dengar Namun aku hanya bisa mendengar

March 13, 2007

Ganti Zodiak Nih

Bagi sebagian orang, zodiak adalah hal yang sakral, penting dan nyata. Sedangkan bagi sebagian yang lain, zodiak hanyalah barang mainan, untuk senang-senang dan sebagai pelengkap bacaan di tabloid atau majalah.

Whatever-lah, tapi bagi aku hal tersebut adalah masalah sugesti. Meskipun hanya segelas teh, bisa men-sugesti seseorang untuk berani menyatakan cinta. *halah, out-of-topic*

Mungkin topik ini sudah basbang *lirik Engkoh* bahwa zodiak yang dulunya dikenal hanya berjumlah 12, sekarang memiliki 13 zodiak.

Hal ini bukan penambahan atau perubahan, tapi pembenaran.

Zodiak yang baru (dikenal) adalah Ophiuchus, yang disebut sebagai zodiak ke-13. Padahal tidak, karena sejak awal zodiak ini ada pada posisi ke-10, tergantung mengikuti sistem yang mana, Zodiak Tropikal atau Zodiak Sideral.

Zodiak yang selama ini banyak digunakan adalah Zodiak Tropikal, yang hanya memiliki 12 zodiak dengan panjang masanya sama semua, dan Aries sebagai zodiak awal.

Perbedaan masa waktu bisa digambarkan sebagai berikut:

realsolar.gif

Yang luar adalah yang baru, sedangkan yang dalam adalah yang banyak digunakan selama ini.

Dengan adanya kesepakatan baru ini, waktu zodiak yang pernah digunakan telah berbeda. Silakan merujuk pada tabel di bawah:

Zodiak Sekarang Sebelumnya
Pisces 12-Mar to the 18-Apr 19-Feb to the 20-Mar
Aries 19-Apr to the 13-May 21-Mar to the 19-Apr
Taurus 14-May to the 19-Jun 20-Apr to the 20-May
Gemini 20-Jun to the 20-Jul 21-May to the 20-Jun
Cancer 21-Jul to the 9-Aug 21-Jun to the 22-Jul
Leo 10-Aug to the 15-Sep 23-Jul to the 22-Aug
Virgo 16-Sep to the 30-Oct 23-Aug to the 22-Sep
Libra 31-Oct to the 22-Nov 23-Sep to the 22-Oct
Scorpius 23-Nov to the 29-Nov 23-Oct to the 21-Nov
Ophiuchus 30-Nov to the 17-Dec      
Sagittarius 18-Dec to the 18-Jan 22-Nov to the 21-Dec
Capricornus 19-Jan to the 15-Feb 22-Dec to the 19-Jan
Aquarius 16-Feb to the 11-Mar 20-Jan to the 18-Feb

Lha kalo tanggalnya sejak dulu salah, lalu hasil ramalannya gimana? apakah salah juga? Ya tentu saja, lha wong percaya dengan ramalan saja sudah salah.

Masih mending aku, karena zodiakku tidak berubah, baik dengan sistem baru atau yang lama. Aku tetap Taurus, yang kalo menurut zodiak berarti aku orangnya kuat, menarik dan tangguh. *lho, kok aku jadi percaya juga?*

Data diambil dari: Real Solar Zodiak

March 8, 2007

Udan Angin

Note: baca dengan logat presenter JTV

Malang saiki lagi katerak udan angin. Wes pirang-pirang dino iki, saben wayah isuk sore bengi, angin campur gerimis ngguyur kuto Malang. Sak suwene aku ndek Malang sepuluh taun iki, lagi iki ngerasakno udan angin sing bantere koyok mengkene.

Masio dudu udan banyu, nanging udan angin iki termasuk mbayani. Uwit-uwit iso rubuh nibani uwong ndek dalan. Malah ndek daerah Gondanglegi ono uwong matek ketiban uwit, mergo wong kuwi mau ngiyup ndek ngisore. Jare penduduk sekitar, wong kuwi matek lan ndase pecah.

Pemkot lan Pemkab Malang kudu sering ngerazia uwit-uwit sing wes tuwek, sing wes wayahe dirubuhne. Wong teko PLN lan Telkom kudu sering mreteli pang-pang uwit sing wis dowo, supoyo ora nyampluk kabel-kabel ndek cedake.

---

Bagi yang terbiasa nonton JTV, terutama pada segmen Pojok Kampung, tentu tidak asing dengan berita berbahasa Jawa seperti di atas.

JTV mengklaim itu sebagai berita berbahasa Surabaya, dan merupakan ciri khas orang Surabaya. Hal itu memang benar, karena bagi masyarakat di luar Surabaya, terutama Jawa Tengah dan sekitarnya, pemilihan bahasa yang digunakan adalah terlalu kasar.

Salah satu alasannya adalah meluaskan cakupan pemirsanya, agar semakin banyak kalangan yang dapat menerima beritanya.
Tapi kalangan mana lagi?

Sebagai info, semasa aku kecil (20 tahun yang lalu), desaku di ujung peradaban yang terpencil, belum ada listrik, telpon, apalagi access broadband, siaran berita TVRI semuanya berbahasa Indonesia. Dan saat itu menurutku beritanya dapat tersampaikan dengan baik.
Apalagi sekarang, Surabaya lagi.

Saya pribadi salut dengan gebrakan tersebut, kreatif, dan peduli pada budaya bangsa. Memunculkan kata-kata lama yang sudah tidak pernah terdengar lagi, misalnya bronpit (sepeda motor), montor muluk (pesawat terbang), etc.
Namun seharusnya tidak usah memaksakan diri, dengan alasan menunjukkan Surabaya apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Meskipun di kehidupan sehari-hari di Surabaya, penggunaan kata 'mati' tentu lebih biasa dan lumrah daripada kata 'matek'. 'Sirah' lebih bagus daripada 'endas', dsb.

Jadi, ini bahasa khas Surabaya atau khas Terminal Bungurasih?

March 3, 2007

Warga Baru

mac.jpg

Semoga membawa berkah

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi