Masih terlintas di kenangan, waktu aku masih kecil (1 meter-an) sering mendengarkan kaset milik pamanku, di antaranya adalah kisah tentang Mahesa Jenar dan ludruk lawakan Kartolo CS.
Selain dari kaset pamanku, juga dari berbagai acara, misalnya resepsi pernikahan, sunatan, dan dari radio AM.
Sebagai info, di daerahku kalo ada acara pernikahan atau sunatan, orang akan memasang 2 buah speaker dengan merk TOA, dipancang pada sebuah pohon bambu yang tinggi sekali, sehingga dapat terdengar di seantero desa.
Yang diperdengarkan adalah musik-musik ceria (dangdut/qasidah), pengajian (Zainuddin MZ), kethoprak dan ludruk.
Sekarang sih sudah gak ada kayak gitu, karena sudah pake 8 salon bertumpuk, yang suaranya lebih merdu meski jangkauannya tidak satu desa, dan setauku yang dimainkan cuma musik saja, gak seperti zaman aku kecil dulu.
Padahal dari acara seperti itu, aku jadi tau banyak tentang kethoprak, ludruk, pengajian, etc.
Kembali ke Kartolo, yang merupakan seorang pelawak ludruk legendaris asal Surabaya, Jawa Timur. Beliau sudah lebih dari 40 tahun hidup dalam dunia seni ludruk.
Nama Kartolo dengan suaranya yang khas, dengan banyolan yang lugu dan cerdas, hampir pasti dikenal di seluruh Jawa Timur, bahkan di daerahku di pertengahan Jawa Tengah.
Bagi yang belum tau ludruk, ludruk adalah kesenian tradisional asal Jawa Timur, menampilkan dialog/monolog yang bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. Ceritanya biasanya diambil dari kehidupan sehari-hari, dan menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda.
Berbeda dengan kethoprak dari Jawa Tengah, yang ceritanya sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu.
Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc).
Yeah, meski menggunakan bahasa Jawa Timuran, yang memiliki beberapa kosa kata berbeda dengan daerahku, toh aku bisa mengerti, yang akhirnya menambah perbendaharaan kata.
Oh ya, dulu TVRI juga sering menayangkan ludruk Kartolo ini, jadi aku sudah pernah melihat tampang para pelawaknya.
Kartolo CS terdiri dari Kartolo, Basman, Sapari, Sokran, Blonthang, Tini (istri Kartolo), tergabung dalam kesenian karawitan Sawunggaling Surabaya. Masing-masing pemain punya karakter yang unik dan khas, dan punya semacam 'tata-bahasa' sendiri. Misalnya Kartolo yang menjadi paling cerdas, sehingga sering diceritakan 'ngakali' pemain lain, Basman yang punya suara besar dan omongan nyerocos, Sapari yang sering nakal tapi malah jadi korban, etc.
Satu hal yang aku yakini, mereka semua bakat jadi Junker.
Namun formasi emas ini tidak bertahan sampai sekarang. Yang tersisa adalah Kartolo, Tini dan Sapari. Basman, Sokran dan Blonthang sudah meninggal dunia.
Sampe sekarang Kartolo dan Sapari masih sering tampil di JTV (TV-nya Jawapos). Tapi aku cuma sempat beberapa kali nonton, lha aku nonton TV saja jarang.
Meski sudah tidak lengkap, namun album rekaman kelompok itu masih bertahan sampai sekarang. Hampir tiap malam lawakan mereka disiarkan di radio. Kalo di Malang, kalo gak salah di Pro3 FM. Hmm, lupa hari dan jam siarannya.
Dulu sering dengerin sewaktu masih aktif di UKM kampus, ketawa-ketawa sambil begadang di ruang sekretariat.
Kalo aku kebetulan jalan-jalan malam, sering ketemu para SATPAM yang sedang ditemani acara ini.
Sekarang, aku cuma bisa mengumpulkan beberapa albumnya, dalam bentuk MP3:
- Blonthang Ngedukno Lemah
- Basman Poseeng
- Marlena Ketemu Jodoh
- Basman Juragan Genthong
- Thenguk-thenguk Nemu Gethuk
- Prabu Basman Crongoan
- Kuro Kandas
- Kumpeni Gulung Tikar
- Kartolo Nyetrip
- Sragi Kecemplung Kalen
- Rabine Cacing Anil
- Ratu Amen
- Genthong Mengkurep
- Endoge Welut
- Makelar Losmen (tapi cuma side A. Ada yang punya side B?)
- Branjang Kabel
- Bolah Ruwet
Bagi yang mau ngopi, atau yang mau ngasih, kontak aku ya.
Aku sudah upload beberapa albumnya di sini:
http://aryosanjaya.multiply.com/music/item/9
Menurutku ini gak termasuk pembajakan, tapi pelestarian budaya bangsa. Toh lebih baik kalo ada yang mau beli versi originalnya (kalo nemu).
*gambar dan beberapa info diambil dari:
http://suluhpratita.multiply.com/journal/item/29
Komentar Terbaru