" /> Mahesa Jenar: July 2010 Archives

« June 2010 | Depan | August 2010 »

July 22, 2010

Sulitnya Beli Tiket Pesawat

Bagi sebagian orang yang terbiasa membeli tiket pesawat, mungkin sudah tidak begitu heran dengan kesulitan yang ditemui saat booking tiket pesawat. Namun selalu ada pemula di dunia ini, jadi akan selalu ada yang bingung dengan beberapa hal terkait dengan pembelian tiket pesawat.

Dari pengalaman selama ini, berikut adalah kasus yang sering aku temui:

1. Heran, harga di Agen A 500rb tapi di Agen B adalah 600rb untuk jadwal dan pesawat yang sama

Terlepas dengan adanya markup harga oleh Agen B, namun pada kenyataannya harga pesawat adalah progresif.

Tiket pesawat dijual per kelas, dengan masing-masing kelas memiliki harga berbeda dengan jumlah seat yang telah ditentukan. Semakin tinggi kelasnya, harganya semakin mahal.

Misalnya untuk Batavia Air, tiap kelas ada 7 kursi.

Setiap kali 1 seat terjual, lama kelamaan jatah 7 kursi di kelas tersebut akan habis. Dan setelah habis, otomatis sistem akan menjual seat di kelas atasnya, yang mana harganya lebih mahal.

Nah, misalnya saat pelanggan menelpon Agen A, ketika dicek Batavia Air kelas S (misalnya) masih ada 3 seat. Kemudian pelanggan iseng bertanya ke Agen B, dan ternyata kelas S sudah habis, ganti ke kelas T dengan harga yang lebih mahal.

Hal ini secara psikologi membuat pelanggan berpikir Agen B lebih mahal dari Agen A.

Sebagai agen, kita tentu hanya bisa pasrah menerima predikat lebih mahal atau murah. Tapi bagi pelanggan yang sudah ngerti, akan maklum bahwa fluktuasi harga seperti itu adalah wajar terjadi.

2. Tadi katanya ada, sekarang kok tidak ada?

Alasannya sama dengan kasus di atas, ini hanya variasi kasus saja. Saat pelanggan mengecek harga, kemudian pulang dan berpikir, lalu saat mau booking ternyata tiket tersebut sudah tidak ada, atau berganti harga.

Hal ini menimbulkan stigma negatif pada agen yang bersangkutan. Harga kok plin-plan.

Yang kadang tidak disadari pelanggan adalah bahwa penjualan tiket diambil langsung dari maskapai yang bersangkutan. Dijual secara online, dan diperebutkan oleh seluruh agen di Indonesia. Selisih beberapa menit saja peta ketersediaan seat bisa berubah.

Untuk menyiasati hal tersebut, agen sering menyarankan pelanggan agar segera booking ketika dapat harga yang bagus. Jika tidak, resikonya adalah seat tersebut diembat oleh agen yang lain.

3. Agen A meskipun sudah mepet waktunya tapi tetap dapat yang murah

Ini lebih pada faktor keberuntungan saja.

Kadang meskipun semua kursi sudah dibooking, ada saat di mana pelanggan yang sudah booking lama sebelumnya, membatalkan pemesanan tersebut, sehingga seat yang digunakan akan dianggap kosong. Nah, saat ini terjadi, meskipun kelas-kelas mahal telah terjual, bisa saja kita mendapatkan seat pada kelas rendah dengan harga murah.

4. Agen A batas waktu bookingnya cuman beberapa jam, sedangkan Agen B ngasih batas waktu bookingnya bisa 2 hari lebih

Yang menentukan batas waktu booking adalah maskapai, bukan agen. Semakin lama jangka waktu keberangkatan, semakin lama pula batas waktu bookingnya.

Jika kita pesan tiket untuk bulan depan, batas waktu sampai booking itu dihapus oleh maskapai bisa sampai 1 minggu ke depan. Tapi jika pesan untuk beberapa hari ke depan, batas waktunya hanya dalam hitungan jam.

Agen tiket biasanya mempercepat beberapa menit/jam dari limit waktunya maskapai, untuk memberi kesempatan pelanggan membayar dulu baru issued tiket.

5. Saya biasanya bisa mengembalikan tiket dan mendapatkan lagi uang saya meskipun dipotong, kok yang ini tidak bisa

Mengembalikan tiket atau refund adalah dengan ketentuan dan syarat tertentu. Salah satunya adalah tiket tersebut bukanlah tiket promo.

Jika tiket promo, maka tidak dapat diuangkan kembali. Hal itu merupakan aturan dari maskapai, sebab refund adalah ke maskapai yang bersangkutan meskipun prosesnya lewat agen.

Mungkin masih banyak kejadian lain, tapi baru ini yang terpikirkan.

Happy traveling,

NayNay Travel & Ticket

Terminologi:

- booking: memesan tiket sampai batas waktu tertentu sebelum dibeli/dibatalkan
- seat: jumlah kursi dalam tiket pesawat
- issued: mencetak tiket yang dibooking. biasanya setelah pelanggan membayar

July 5, 2010

Pahala dan Dosa

Secara tidak sadar, kadang kita merasa ibadah yang telah kita lakukan sudah cukup untuk mendapatkan surga. Atau lebih jauh lagi, ibadah yang telah kita lakukan cukup untuk membayar dosa-dosa yang pernah terjadi.

Hal ini wajar, sebab selama ini kita selalu mendapatkan gambaran mengenai timbangan amal (Al Mizan) antara pahala dan dosa. Sejak kecil kita sudah dibekali dengan cerita, bahwa di akhirat nanti akan ada timbangan yang mengukur jumlah pahala dan dosa. Jika lebih banyak pahala maka surga, jika lebih banyak dosa maka masuk neraka.

Al Mizan memang harus diyakini ada (Al A'raaf: 8-9), dan tidak ada yang salah dengan penggambaran tersebut. Hanya saja kadang persepsi kita yang keliru menerapkannya, sehingga dampak yang terjadi adalah ketika melakukan suatu kebajikan, kita langsung membayangkan saldo pahala kita bertambah. Demikian pula saat melakukan dosa, saldo dosa ditambah.

Sejalan dengan itu, kita, yang tanpa membekali catatan diri berisi 'mutasi transaksi' pahala dan dosa, mengukur sendiri mana yang lebih banyak antara pahala dan dosa.

Mengukur diri sendiri memang harus, muhasabah diri, introspeksi. Jika benar-benar menelaah diri sendiri, pastilah didapat banyak kesalahan yang harus diperbaiki, dibandingkan membanggakan amalan yang telah dicapai.

Yang lebih parah adalah, ketika mengingat bahwa sudah lama tidak melakukan dosa, ditambah dengan sholat 5 kali sehari dikalikan jumlah hari selama hidup ke depan (padahal tidak tau kapan matinya), kadang menimbulkan pemikiran bahwa surga telah terbeli dengan ibadah tersebut.

Padahal surga bukan ditentukan oleh amalan kita, tapi 'hadiah' dari Alloh untuk hamba yang dikehendakiNya.

Seperti yang pernah diceritakan di sini, bahwa seseorang telah bangga dengan amalannya tapi tetap masuk neraka.

Kebingungan dimulai di sini, yakni ketika seseorang bertanya: "ya percuma dong kita ibadah, toh tetep aja ditentukan oleh kehendakNya"

Terinspirasi oleh ceramah Ustadz Abu Sangkan, dapat dicontohkan seperti ini:

Misalnya ada anak kecil, disuruh oleh orangtuanya untuk membersihkan rumah. Tentu orang tuanya tidak menentukan seluruh rumah harus bersih mengkilat, karena dia tau anak kecilnya tidak mungkin mampu melakukan itu.

Yang diminta oleh orang tuanya adalah anak kecil itu menjalankan perintahnya dengan patuh.

Bahkan misalnya ketika si kecil saat menyapu menyenggol gelas dan pecah, orang tua pasti akan maklum dan hanya tersenyum. (Mungkin hanya orang tua yang punya anak kecil yang bisa memahami perasaan ini)

Dan ketika tiba pemberian upah, yakin upah tersebut tidak ditentukan oleh hasil kerja si kecil, melainkan rasa senang orang tua karena anaknya mematuhinya.

Demikianlah, seandainya kita mendapatkan surga, yakin surga tersebut tidak ditentukan oleh ibadah kita, melainkan karena kepatuhan kita, sehingga mendapatkan rahmatNya berupa surga. Dan salah satu bentuk kepatuhan adalah dengan menjalankan segala perintahNya.

Mari kita berlomba menggapai rahmatNya.


Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi