« TV Tidak Lagi Menarik | Depan | Asmaul Husna »

Mensyukuri Nikmat

Sewaktu mengikuti pengajian tingkat RT, sang ustadz menceritakan sebuah kisah yang nampaknya diambil dari sebuah Hadits. Berikut ini kisahnya yang ditulis ulang sedekat mungkin dengan inti kisahnya.

Diceritakan tentang seorang ahli ibadah, yang demi menjaga ibadahnya dia mengasingkan diri ke sebuah bukit, sepi, sendiri. Di sana dia khususkan hidupnya hanya untuk beribadah selama 500 tahun.

Saat perhitungan amal di yaumul hisab, dia dengan bangga dan yakin bahwa dia akan masuk surga karena amalannya yang sangat wah. Dia berkata, "Ya Alloh, masukkan aku ke surga karena aku telah beribadah kepadamu selama 500 tahun"

Alloh berfirman kepada malaikat: "Wahai malaikat, masukkan orang ini ke neraka"

Si ahli ibadah terkejut, dan memprotes: "Bagaimana mungkin ya Alloh, aku telah mengkhususkan hidupku untuk beribadah, tidak pernah sekalipun aku berbuat maksiat, tidak sekalipun aku memakan makanan haram selain buah-buahan yang tersedia di bukit, tetapi kenapa Engkau masukkan aku ke dalam neraka?"

"Wahai malaikat, ambil satu biji mata orang itu", perintah Alloh, "dan timbanglah dengan amalan 500 tahunnya. Manakah yang lebih berat antara pahala ibadahnya dibandingkan dengan nikmat mata yang Aku berikan?"

Dan ternyata lebih berat nikmat satu biji mata.

Ahli ibadah bisa menjalankan ibadahnya di puncak bukit itu karena mendapat nikmat mata. Belum lagi nikmat pendengaran, nikmat pernafasan, nikmat jantung, dan banyak lagi yang takkan mungkin terhitung.

Kita takkan bisa hidup tanpa bernafas beberapa menit saja. Namun seberapa sering kita mensyukuri nikmat itu?

Apakah sebanding segala nikmat itu dengan amal ibadah yang kita lakukan?
Apalagi jika kita jarang beribadah.


Ada 28 komentar

ferdhie pada January 3, 2009 11:59 PM menulis:

Jadi.. semua orang akan masuk neraka?

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 4, 2009 6:25 AM membalas ferdhie:

ya temtu tidak dong kang. masuk surga itu ganjaran atas perbuatan manusia, namun jangan lupa bahwa bisa terlaksananya ibadah itu adalah juga karena rahmat dari Alloh.

ini yang sering dilupakan, sehingga merasa cukup bahwa dengan ibadahnya dia memastikan diri akan masuk surga, mampu negosiasi dengan Tuhan, mengesampingkan nikmat-nikmat Alloh yang telah diberikan. padahal dalam kisah itu, ketika ditimbang segala amalannya dengan satu nikmat saja, bobotnya tidak sebanding.

jika diringkas, masuk surga itu karena rahmat Alloh, bukan karena ibadah kita.

Balas Komentar Ini
Sarimin pada January 6, 2009 1:45 AM membalas ferdhie:

Huih...itu masih 1 biji mata orang yang beribadah selama 500 tahun #-o dengan nikmat mata...,na kalo nikmat K**** punya Miyabi? ;)) neraka!! neraka!! neraka!! =))

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 6, 2009 6:49 AM membalas Sarimin:

yang punya Miyabi k**** itu apa Min? Koper? Kolak?

Balas Komentar Ini
isdah ahmad pada January 4, 2009 3:17 AM menulis:

koq tega seeh langsung dimasukin neraka? padahalkan orang baek

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 4, 2009 6:30 AM membalas isdah ahmad:

baik saja tidak cukup bung, musti pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan

Balas Komentar Ini
kie2 pada January 4, 2009 3:34 PM menulis:

ceritanya bagus banget ... ternyata ibadah yang banyak gak cukup untuk masuk syurga,tapi mensyukuri nikmat juga salah satu hal penting :)

Balas Komentar Ini
didats pada January 5, 2009 1:06 AM menulis:

sms-ku teka ora cak?

*gag nyambung*

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 5, 2009 10:32 AM membalas didats:

gak tuh. yang simpati aku matikan hapenya :D ke mentari aja deh

Balas Komentar Ini
anton ashardi pada January 5, 2009 11:36 AM menulis:

Selama 500 tahun!?
Jangan2 itu Adam Monroe ato juga moyangnya Claire Bennet (O_o)'

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 5, 2009 12:19 PM membalas anton ashardi:

Adam Monroe kalah sama Hiro Nakamura, jadi ndak mungkin sampe beribadah 500 tahun di atas bukit :p

Emang jaman jadul dulu usia manusia nyampe 500 tahun lebih. Contohnya Nabi Nuh yang usianya mencapai 950 tahun.

Balas Komentar Ini
Bagas pada January 5, 2009 5:58 PM menulis:

Aku kok sik gak mudeng yo?

*Garuk-garuk kepala sambil cicipi MSG*

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 5, 2009 7:11 PM membalas Bagas:

Awas, MSG banyak mengandung bekicot :-"

Balas Komentar Ini
kyai slamet pada January 6, 2009 8:18 PM menulis:

saya mensyukuri nikamt Allah berupa rejeki sehingga bisa langganan internet dengan ngeblog dan ngeplurk.

Balas Komentar Ini
AgusNaim pada January 21, 2009 8:54 AM membalas kyai slamet:

Alhamdulillah... Matur suwun Kanjeng Gusti,kawulo tasek saged ngeblog kalian blajar ngeplurk.
Alhamdulillah

Balas Komentar Ini
evrion pada January 17, 2009 11:32 PM menulis:

makasih mas mas aro...

mas telah mengingatkan saya ke jalan yang benar..
dulu waktu rajin2nya ngaji kesurau saya juga pernah dengar cerita itu.
menurut saya kesimpulannya
kita nggak boleh sombong dan takabur ya mas.
terima kasih kembali mas aryo..

Balas Komentar Ini
danic pada January 19, 2009 12:03 PM menulis:

semua wallahuallam..

Balas Komentar Ini
winawang pada January 28, 2009 10:52 AM menulis:

ternyata sedemikian dahsyatnya rasa syukur..
harus lebih mensyukuri rahmat lagi nih..

Balas Komentar Ini
Rizkeyboard pada February 23, 2009 3:55 PM menulis:

kebayang kan jadinya kalo orang ga pernah bersyukur
maunya minta aja, tapi ga pernah bersyukur
balasannya neraka

Balas Komentar Ini
kimangir pada March 2, 2009 10:34 PM menulis:

crita diatas itu,sebenarnya ada kelanjutannya.
Manungso itu masuk surga bukan mentang2 karena amal ibadahnya. tetapi dia bisa masuk surga karena mendapatkan rohmate Gusti Alloh.dapat welas asihe Gusti Alloh.
artinya ,karena sifat kasih sayangnya Allah ,kita2 ini bisa masuk surga.
kalau kita cermati cerita diatas, bahwa "dia" yg ahli ibadah tsb.sebelum dia menyadari adanya rahmat Allah,dia sombong dg apa yg dia lakoni, seakan2 ibadahnya itulah yg bisa mengantarkannya ke sorga. dia tdk menyadari bahwa saktemene menungso iku nggak iso opo2.
Dia iso opo2 , kita bisa apa2 karena kita diberi kekuatan oleh sang Kholiq,
jangankan bekerja, jangankan menulis,
kalo kita sdh tdk di beri kekuatan oleh Nya, artinya nyawa kita kalo sdh dimabil olehNya.
jangankan beribadah, jangankan mengangkat gelas..?
mengerdipkan mata saja kita tidak akan mampu...
bagaimana....?

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada March 2, 2009 10:40 PM membalas kimangir:

Nice point :)

Iya, di situ inti dari postingan ini. Makasih tanggapannya ;;)

Balas Komentar Ini
mangir pada March 2, 2009 10:47 PM menulis:

crita diatas itu,sebenarnya ada kelanjutannya.
Manungso itu masuk surga bukan mentang2 karena amal ibadahnya. tetapi dia bisa masuk surga karena mendapatkan rohmate Gusti Alloh.dapat welas asihe Gusti Alloh.
artinya ,karena sifat kasih sayangnya Allah ,kita2 ini bisa masuk surga.
kalau kita cermati cerita diatas, bahwa "dia" yg ahli ibadah tsb.sebelum dia menyadari adanya rahmat Allah,dia sombong dg apa yg dia lakoni, seakan2 ibadahnya itulah yg bisa mengantarkannya ke sorga. dia tdk menyadari bahwa saktemene menungso iku nggak iso opo2.
Dia iso opo2 , kita bisa apa2 karena kita diberi kekuatan oleh sang Kholiq,
jangankan bekerja, jangankan menulis,
kalo kita sdh tdk di beri kekuatan oleh Nya, artinya nyawa kita kalo sdh dimabil olehNya.
jangankan beribadah, jangankan mengangkat gelas..?
mengerdipkan mata saja kita tidak akan mampu...
bagaimana....?

Balas Komentar Ini
Laresolo pada March 22, 2009 1:52 AM menulis:

Iya...ya nyang sebiji iti nikmat.....ditambah mata waow , mata uang , mata pencaharian dan mata kaki.
bisa ngeNet dimana saja.

Balas Komentar Ini
lina pada March 31, 2009 2:57 PM menulis:

cerita diatas bagus mas, jadi apapun bentuk nya nikmat yang telah kita dapat rasa syukur itu harus selalu kita panjatkan agar elalu mendapat ridho nya amin.

Balas Komentar Ini
Yusky pada June 20, 2009 7:39 PM menulis:

Cerita tsb sangat menarik & bs diambil pelajaran,supaya hidup didunia yang fana ini kita hrs bs menjaga antara hubungan dg Allah & hubungan dg sesama manusia, sehingga tercipta balance mewujudkan kehidupan yang hakiki, ibadah kpd sang Kholik Oke & sosialisasi dg sesama juga Oke. Jangan lupa niat ikhlas & semata2 mencari ridlo Allah hrs terasah & terutamakan dg baik. Wallahu a'lam bis-showab.

Balas Komentar Ini
Yusky pada June 20, 2009 8:04 PM menulis:

Cerita tsb sangat menarik & bs diambil pelajaran,supaya hidup didunia yang fana ini kita hrs bs menjaga antara hubungan dg Allah & hubungan dg sesama manusia, sehingga tercipta balance mewujudkan kehidupan yang hakiki, ibadah kpd sang Kholik Oke & sosialisasi dg sesama juga Oke. Jangan lupa niat ikhlas & semata2 mencari ridlo Allah hrs terasah & terutamakan dg baik. Wallahu a'lam bis-showab.

Balas Komentar Ini
AM pada May 31, 2010 3:44 AM menulis:

Assalamualikum, umur sy 19thn sy orgnya pmalu, sy tdk percy diri dgn tbuh sy ini bahkan sy jarang keluar rumah krna tdk pd ini, sy ini takut keluar rumah dan tdk pnah bersosialisasi dgn orang sekitar krn takut dikomentari orng2 disekeliling sy, sy mau tnya apakah yg sy lakukn ini termsuk kufur nikmat kpd Allah swt? Dan bgmn solusinya agr sy berani keluar rumah?

Balas Komentar Ini
AM pada May 31, 2010 3:45 AM menulis:

Assalamualikum, umur sy 19thn sy orgnya pmalu, sy tdk percy diri dgn tbuh sy ini bahkan sy jarang keluar rumah krna tdk pd ini, sy ini takut keluar rumah dan tdk pnah bersosialisasi dgn orang sekitar krn takut dikomentari orng2 disekeliling sy, sy mau tnya apakah yg sy lakukn ini termsuk kufur nikmat kpd Allah swt? Dan bgmn solusinya agr sy berani keluar rumah?

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi