Jadi Petugas KPPS
Selama ini aku paling anti dengan golput, tidak setuju dengan sikap apatis berbalut peduli yang seakan tidak dapat dibodohi. Ok, itu pilihan mereka.
Meskipun mantap akan memilih di pemilu kemaren, namun apa daya, namaku belum masuk ke DPT. Andai mengurus ke kelurahan hanya akan bisa masuk DPT untuk Pilpres nanti.
Jadi, dipaksa untuk golput.
Ndilalah, Pak RT selaku ketua KPPS 16 Sumbersari Dapil V, mengajak untuk bergabung dalam KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara). Demi tetap dapat berpartisipasi nyata pada negara, aku terima tawaran itu. Sip, inilah petugas KPPS yang golput.
Kesibukan diawali beberapa hari sebelum hari H, mulai mencari lokasi terbaik untuk TPS, mengukur, mengatur layout, dan seterusnya, sampai mendandani TPS sehingga tampil meriah seperti hendak ada hajatan sunat.
Malam menjelang hari H, semua persiapan sudah fix. Kita di lokasi sampai jam 12 malam lebih. Paginya, jam 6 pagi sudah harus ada di lokasi untuk persiapan akhir. Ya, agak ngantuk adalah fitur.
Namun ngantuk itu terpaksa sirna, karena jumlah pemilih yang sebelumnya kita perkirakan tidak sampai 50%, ternyata membludak. Dari jumlah DPT 373 orang, ditambah 2 suara dari TPS lain, sebanyak 212 orang melakukan pemilihan. Ternyata jadi 56%.
Meskipun cuma 56%, cukup bikin kewalahan, karena setiap surat suara harus ditulisi nomor TPS, nama kelurahan, nomor dapil, dan nama Ketua KPPS. Padahal 1 orang pemilih mendapatkan 4 surat suara. Dan aku yang kebagian menulisi itu, dengan dibantu oleh petugas lain yang sedang nganggur.
Pencontrengan[1] diakhiri tepat pukul 12:00 sesuai aturan yang berlaku, dan penghitungan dimulai lagi jam 13:00, setelah istirahat makan dan sholat.
Pemilu kali ini memang menyulitkan petugas KPPS, yaitu untuk mencari caleg/partai mana yang dicentang. Kalau ditemukan 1 centang, mesti mencari lagi centang yang lain, untuk meyakinkan bahwa cuma 1 partai/caleg itu saja yang dicentang. Lebih parah kalau tidak ada yang dicentang sama sekali, karena kita mesti mengulang-ulang memperhatikan surat suara. Sebab kadang centang terdapat pada logo partai yang berwarna merah, sedangkan spidolnya juga warna merah, sehingga hasil centangnya jadi samar.
Untuk 1 kotak suara DPR-RI, dibutuhkan waktu 2 jam lebih untuk penghitungan. Untuk DPD lebih cepat karena lebih sedikit pilihannya. DPRD-I dan DPRD-II lebih lama lagi, sehingga jam 10-an malam baru dapat dinyatakan penghitungan selesai. Ngantuk warisan hari kemaren semakin melanda. Beberapa rekan yang sudah tidak kuat, terkapar di kursi TPS.
Proses berikutnya yang tidak kalah melelahkan adalah membuat berita acara yang bertumpuk-tumpuk, belum lagi melayani tanda tangan para saksi. Sebagai gambaran:
- 1 berita acara paling tidak ada 10 tanda tangan.
- 1 tingkatan membutuhkan 5 berita acara, padahal ada 4 tingkatan
- ditambah setiap saksi yang hadir juga membuat 3 berita acara, paling tidak ada 10 saksi yang hadir.
Dengan kelelahan yang amat sangat, semua berita acara akhirnya bisa diselesaikan jam 1 malam. Namun ini masih belum selesai, karena masih harus membawa ke kelurahan untuk diproses. Dengan dikawal polisi, perlahan (karena ngantuk dan bawa 4 kotak berat), Taft meluncur ke kelurahan Sumbersari.
Di kelurahan sudah banyak orang dari TPS lain yang datang meramaikan. Masih banyak yang salah membuat berita acara, sehingga harus mengulangi. TPS kami juga ada kekurangan jumlah berita acara, jadi mesti bikin lagi, mabok dah. Antara sadar dan tidak kami membuat lagi, dan akhirnya lengkap sudah, jam 4 pagi lebih sedikit baru bisa pulang, dan tidur.
Berikut ini rincian hasil pemilu di TPS 16:
- Jumlah DPT: 373 + 2 suara tambahan
- Daftar hadir: 212
- DPR-RI: 205 suara sah, 7 suara tidak sah.
- DPD: 173 suara sah, 39 suara tidak sah.
- DPRD-I: 204 suara sah, 8 suara tidak sah.
- DPRD-II: 205 suara sah, 7 suara tidak sah.
- Pemenang: Partai Demokrat[2]
Aku menulis hasil itu tanpa melihat catatan, karena sudah hafal gara-gara kebanyakan membuat berita acara.
Dari proses di atas, nampaknya akan terulang lagi di Pilpres nanti. Tidak masalah, yang terpenting:
JANGAN GOLPUT!
Beberapa foto:
[1] Entah Contreng itu istilah dari mana, lha di kamus besar bahasa Indonesia tidak tersedia. Kayaknya lebih tenar istilah Centang yang jelas ada di KBBI, atau Cawang kalo di Jawa Timur/Tengah.
[2] Semua tingkatan kecuali DPD


Komentar Terbaru