« Beralih ke Speedy | Depan | Penipuan Berkedok Kecelakaan »

Golput

Dari hasil pelaksanaan Pilgub Jatim dan Pilwali Malang kemarin, terungkap jumlah golput yang membengkak drastis, mencapai 40% (sumber: internet).

Jika dikaitkan dengan raihan suara oleh 5 pasang kandidat gubernur, yang mana tidak ada satupun kandidat yang mencapai suara 30%, maka dapat dipastikan pemenang Pilgub kali ini dimenangkan oleh Golput!

Dari pantauan ke orang-orang terdekat, dan juga (lagi-lagi) dari internet, ada beberapa faktor penyebab naiknya jumlah golput ini:

1. Kerja KPU yang belum maksimal (sosialisasi, validasi DPT, banyak warga yang tidak mendapatkan kartu pemilih, dll)
2. Semakin pintarnya (atau semakin bodohnya?) masyarakat terhadap dunia politik Indonesia. Muak dengan segala perilaku para politisi dan partai-partai.
3. Ilfil dengan para kandidat Pilgub (atau partai pengusungnya), proses kampanye yang merusak pohon, konvoi yang menjengkelkan, dll.

Kesemuanya itu dapat menyebabkan golput.

Sedangkan perilaku golput sendiri dapat berupa:

1. Tidak datang ke TPS saat pencoblosan.
2. Datang ke TPS tapi tidak mencoblos satupun.
3. Mencoblos calon, tapi dicoblos semua.
4. You name it.

Golput merupakan salah satu bentuk kekecewaan, ketidakpuasan akan dunia politik. Namun sebagai warga negara, tidak sepatutnya menjadi golput.

Bayangkan seandainya kita golput, lalu gara-gara aspirasi kita yang tidak tersalurkan, akhirnya yang terpilih adalah kandidat jahat/malas/gak kepebel/gak akseptabel, maka kita adalah bagian dari penentu terpilihnya kandidat tersebut.

Sebaiknya, usahakan mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang para kandidat, mencari yang terbaik dari (misalnya) semua yang jelek. Demi masa depan daerah/negara.

Kalaupun tetap bingung menentukan pilihan, ikuti saja pilihan mertua.

Berikut ini beberapa skrinsut pencoblosan yang tak ambil langsung. Buat para -yang ngaku- intelek, mbok ya malu melarikan diri dari tanggung jawab pencoblosan dengan bergolput.
Mereka yang sulit datang (beberapa bahkan harus dinaikkan motor sampai ke depan bilik) tetap berusaha datang, lha yang sarjana kok malah cangkruk di warung kopi.


Ada 30 komentar

idiluam pada July 24, 2008 3:17 PM menulis:

Salah satu orang yang tidak punya pendirian, 'ngekor' orang melulu

Aryo: siapa bilang itu solusi buat aku?
itu kan solusi terakhir buat yang bludrek ndak bisa milih sendiri.
*tendang-tendang mengajer* >:)

Balas Komentar Ini
anton ashardi pada July 24, 2008 10:10 PM menulis:

"Kalaupun tetap bingung menentukan pilihan, ikuti saja pilihan mertua."

lha kalo tahun lalu situ kalo bingung piye kang? :D

Aryo:
lha kebetulan untuk urusan ini aku ndak pernah bingung kok ;))


Balas Komentar Ini
Bagas pada July 24, 2008 10:53 PM menulis:

Lebih tidak memilih daripada salah pilih :P


Masyarakat sudah apatis dengan para birokrat, milih siapapun sepertinya juga tidak ada perubahan, hidup tetep susah.
*wingi tas cangkruk karo wong kampung mburi*

Aryo: lebih baik bersikap dan bertanggung jawab dari pada lari dari tanggung jawab.
*here we go*

Balas Komentar Ini
Diah pada July 25, 2008 9:57 AM menulis:

Biar kalah ..tetap nrimo...yg pasti jadi warga negara yang baik ,biar yg terpilih bukan pilihan kita..kta do'akan semoga yang terpilih bisa membawa dan mengubah keadaan ang lebih baik :D

Aryo:
aamiin [-O


Balas Komentar Ini
gopril pada July 25, 2008 11:09 AM menulis:

Anggap saja dikasih pilihan baju 5 (tapi pada bolong semua).... akhirnya memilih gak pake baju ! hiks, hiks, saya salah satunya... untung masih pake kaos oblong !!!

Aryo:
pake celana gak? :-?


Balas Komentar Ini
sluman slumun slamet pada July 25, 2008 1:56 PM menulis:

saya gak golput!
sumpah!

Aryo:
iya iya, anda kan golongan hitam
*kaburr*


Balas Komentar Ini
isdah ahmad pada July 26, 2008 8:37 AM menulis:

malu dunk golput, sejarah sampai pemilu model seperti ini penuh dengan keringat dan darah!

Balas Komentar Ini
nengbiker pada July 26, 2008 10:01 AM menulis:

neng pilih nomer 6

Balas Komentar Ini
warix pada July 26, 2008 10:30 AM menulis:

Mangkane ojo golongan putih.. golongan hitam ae.. ;))

Balas Komentar Ini
mantan kyai pada July 26, 2008 11:30 AM menulis:

hidup golput :D

Balas Komentar Ini
tjahaju pada July 26, 2008 12:09 PM menulis:

kebanyakan opini yang berkembang di masyarakat... nyoblos ga nyoblos sama aja.. nyoblos siapa pun sama aja juga.. terserah wes.. toh hidup juga gini-gini aja...
keknya pemilu putaran kedua, orang juga semakin males meluangkan waktu ke TPS... anggota KPPS juga musti ekstra ikhlas, dana pelaksanaan aja dah gede, KPPS dapet brapa ya? secara kemaren aja dipotong 15%.

Balas Komentar Ini
Jauhari pada July 27, 2008 10:51 AM menulis:

Nikmatnya hari ini....

Balas Komentar Ini
rlyna pada July 27, 2008 11:48 AM menulis:

saia ga nyoblos karna lagi di luar kota ^^

Balas Komentar Ini
noki pada July 27, 2008 12:46 PM menulis:

golput ga golput pengambilan keputusan tetap melakukan voting, masak para pemimpin negara ga pernah dapat pelajaran ppkn/pmp apa ga lulus barang kali ya

Balas Komentar Ini
jokonet pada August 1, 2008 4:34 PM menulis:

Sudahlah semua kan ada solusinya...
Untuk mengakomodasi rekan-rekan yang males ke TPS KPU sedang mengodok pemilu online. jadi tinggal klik dari rumah..., beres khan...?

*???*

Balas Komentar Ini
Adam Sundana WeBlog pada August 2, 2008 10:55 AM menulis:

memilih pemimpin pertanggung jawabannya bukan cuma di sini lho :)

Aryo: again,

    tidak memilih
adalah juga sebuah sikap, yang juga bisa mempengaruhi hasil pemilihan. so, bukannya tanpa pertanggungjawaban. hanya saja bisa melarikan diri dengan mengatakan: "kan aku tidak memilih"

Balas Komentar Ini
jenny oetomo pada August 5, 2008 5:01 PM menulis:

Wah ternyata masih banyak yang ngak memberikan aspirasinya ya? Semakin runyam aja urusannya , salam

Balas Komentar Ini
LieZMaya pada August 8, 2008 2:43 PM menulis:

kebetulan, periode ini adalah pemilihan pertama saya sebagai warga negara indonesia yang sudah mempunyai hak pilih huahaha.
pasti milih donk, daripada ntar nyesel...masalah dapet siapa yang menang yah whateverlah, yang penting "No Golput" :))

Balas Komentar Ini
ranzbebek pada August 11, 2008 11:16 AM menulis:

================================================
so, bukannya tanpa pertanggungjawaban. hanya saja bisa melarikan diri dengan mengatakan: "kan aku tidak memilih"
================================================

kalo begitu, kita juga bisa mengatakan : apa yg terjadi saat ini adalah akibat pilihan mereka dulu !!!

sama saja toh ...??
padahal bebek tidak bermaksud melarikan diri dengan cara golput..
dan betul, buat bebek, golput adalah salah satu sikap protes ..
tapi tidak selamanya, bebek akan ikut memilih jika sudah ada revolusi hukum & koruptor di hukum mati ...
lagi pula, bebek berani bertanggung jawab atas pilihan golput.. (emang harus bertanggung jawab apa sih ..?? he.. he.. :-S )
jangan pada serius om & tante .. ini yg ngomong bebek.. jangan ditanggapi ...

Balas Komentar Ini
Andi Eko pada August 11, 2008 2:00 PM menulis:

Kok ditempatku gak serame itu ya .. apa termasuk yang 40% golput yah ?

Balas Komentar Ini
Yana pada September 3, 2008 12:46 PM menulis:

Waktu pemilu gubernur DKI kemarin saya golput krn nama saya (plus orang serumahku) ga terdaftar jd pemilih, pdhl KTP dan kartu keluarga lengkap. Udah kyk orang buangan aja. Pak RT-nya diprotes ga mempan, malah bilang dia dpt data dari kelurahan.

Gmn sih, lha kalo di kelurahan ga ada data saya, gmn bisa saya dpt KTP? Lagian dari lahir saya ada di Jakarta, semua dokumen kependudukan diurus di Jakarta, gimana bisa data saya ga ada di kelurahan?

Ah, emang dasar RT-nya dan kelurahan aja yg males ngedata. [-(

Balas Komentar Ini
dianfatur pada December 31, 2008 9:29 AM menulis:

Politik hanyalah salah satu cara untuk mencari makan, jadi apapun komentar orang, saya tetap golput. :-h

Balas Komentar Ini
Roni pada January 14, 2009 4:43 AM menulis:

Fatwa Politik :
1. Banyak partai beranggotakan politisi busuk. Semakin busuk jadinya bila mereka berkuasa. Bila anda percaya hal ini, HARAM hukumnya memilih/mencoblos.
2. Banyak politisi mengumbar ayat suci saat kampanye padahal setelah berkuasa sama busuknya dengan politisi pertama. Jika anda percaya maka HARAM hukumnya memilih/mencoblos.
3. Diantara para politisi ada juga yang masih memiliki idealisme tapi dikhawatirkan akan mengalami pembusukan pula saat berkuasa. Bila anda percaya, MAKRUH hukumnya memilih.
4. Ada segelintir politisi yang betul-betul ikhlas, integritasnya tidak diragukan. Saat berkuasa tidak silau dengan gemerlapnya harta dan jabatan. Kalau memang ada dan anda percaya SUNAH hukumnya memilih.
Diantara pilihan diatas, dimana posisi anda? Simpel bukan? Dan bandingkan fatwa MUI. yang justru menghukum wajib untuk memilih/mencoblos.

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 14, 2009 6:42 AM membalas Roni:

Baiklah, itu kalo dari sisi 'fatwa untuk tidak memilih'.

Aku malah tidak tau isi fatwa MUI, namun kalo dilihat dari sisi kebalikannya, 'fatwa untuk memilih':

1. Jika kita tidak memilih, maka jumlah suara untuk orang yang HARAM dipilih akan menang 1. seandainya kita ikut memilih yang tidak HARAM, maka mengurangi kemungkinan terpilihnya yang HARAM itu tadi.

Simple juga bukan? Cuman 1 lagi.

Balas Komentar Ini
redaksi pada January 24, 2009 2:26 PM menulis:

MAKSUD TERSELUBUNG CALON LEGISLATIF

Pesta demokrasi 2009, pestanya calon legislatif merebut simpati rakyat. Calon legislatif berlomba merebut garis terdepan berjanji memperbaharui kehidupan.

Namun, tatkala pesta itu usai dan mereka terpilih, anggota dewan mulai menampakkan kekakuannya. Tujuan utama mendapatkan kekayaan sebesar-besarnya melekat benar dalam saraf ingatan anggota dewan.

"Tiada hari tanpa korupsi " slogan wajib bagi mereka. Hidup tanpa korupsi bagaikan sayur tanpa garam atau dengan kata lain hidup tiada mengenal korupsi sama dengan mati di dalam hidup, itulah prinsip mereka. Mumpung jadi anggota dewan.

Setelah itu,

Aku hanya bisa diam!! diam!! diam!!

Membawa semua penyesalan, menuju alam baka.

Balas Komentar Ini
johan pada February 26, 2009 8:56 PM menulis:

golput ntuh menandakan ada kejenuhan politik di INdonesia namun para penguasa(dzalim) melihat sebagai penjahat demokrasi wuuhhh...ngebingungin

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 26, 2009 9:26 PM membalas johan:

karena mereka memandang dengan parameter kepentingan mereka sendiri. merekalah yang penjahat.

Balas Komentar Ini
si putih pada April 3, 2009 8:38 AM menulis:

GOLPUT...Asoy lagi....Haram?...setau g yg keluar dari mulut tuh yg haram...contohnye janji2 yg mendeklarasikan sebuah partainya bersih...Bodoh yg nilai orang luar...gak punya pendirian...maksud loh...lu buktiin kalo parti yg ngaku bersih itu menang dilampu merah gak ada lagi orang meminta-minta...kasian deh

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada April 3, 2009 8:50 AM membalas si putih:

Pointnya bukan halal haram, bukan mana yang bersih atau tidak, tapi seberapa peran kamu dalam partisipasi perbaikan negeri ini?
Apa Golput membawa perbaikan?
Tidak! Itu tingkat terendah dalam aksi, yakni: pasrah, nyerah, dan tak sanggup berbuat apa-apa.
Mana yang lebih kasian? Merasa punya ilmu tapi tidak berarti apa-apa.

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi