" /> Mahesa Jenar: July 2008 Archives

« June 2008 | Depan | August 2008 »

July 24, 2008

Golput

Dari hasil pelaksanaan Pilgub Jatim dan Pilwali Malang kemarin, terungkap jumlah golput yang membengkak drastis, mencapai 40% (sumber: internet).

Jika dikaitkan dengan raihan suara oleh 5 pasang kandidat gubernur, yang mana tidak ada satupun kandidat yang mencapai suara 30%, maka dapat dipastikan pemenang Pilgub kali ini dimenangkan oleh Golput!

Dari pantauan ke orang-orang terdekat, dan juga (lagi-lagi) dari internet, ada beberapa faktor penyebab naiknya jumlah golput ini:

1. Kerja KPU yang belum maksimal (sosialisasi, validasi DPT, banyak warga yang tidak mendapatkan kartu pemilih, dll)
2. Semakin pintarnya (atau semakin bodohnya?) masyarakat terhadap dunia politik Indonesia. Muak dengan segala perilaku para politisi dan partai-partai.
3. Ilfil dengan para kandidat Pilgub (atau partai pengusungnya), proses kampanye yang merusak pohon, konvoi yang menjengkelkan, dll.

Kesemuanya itu dapat menyebabkan golput.

Sedangkan perilaku golput sendiri dapat berupa:

1. Tidak datang ke TPS saat pencoblosan.
2. Datang ke TPS tapi tidak mencoblos satupun.
3. Mencoblos calon, tapi dicoblos semua.
4. You name it.

Golput merupakan salah satu bentuk kekecewaan, ketidakpuasan akan dunia politik. Namun sebagai warga negara, tidak sepatutnya menjadi golput.

Bayangkan seandainya kita golput, lalu gara-gara aspirasi kita yang tidak tersalurkan, akhirnya yang terpilih adalah kandidat jahat/malas/gak kepebel/gak akseptabel, maka kita adalah bagian dari penentu terpilihnya kandidat tersebut.

Sebaiknya, usahakan mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang para kandidat, mencari yang terbaik dari (misalnya) semua yang jelek. Demi masa depan daerah/negara.

Kalaupun tetap bingung menentukan pilihan, ikuti saja pilihan mertua.

Berikut ini beberapa skrinsut pencoblosan yang tak ambil langsung. Buat para -yang ngaku- intelek, mbok ya malu melarikan diri dari tanggung jawab pencoblosan dengan bergolput.
Mereka yang sulit datang (beberapa bahkan harus dinaikkan motor sampai ke depan bilik) tetap berusaha datang, lha yang sarjana kok malah cangkruk di warung kopi.

July 17, 2008

Beralih ke Speedy

Sebagai konsekwensi pindah rumah ke perumahan PMI, maka koneksi WiFi dari GlobalNet di rumah sebelumnya harus ditinggalkan. Meskipun sebenarnya langganan di GlobalNet tersebut dapat dilanjutkan, namun dengan berbagai pertimbangan kelebihan dan kekurangan di tempat baru, akhirnya kita putuskan menggunakan: Speedy.

Ya, produk Telkom lagi.

Melalui proses registrasi sejak hari Jum'at, akhirnya Rabu malam teknisi dari Speedy, yang kebetulan masuk kategori bolodewe, datang untuk memasang seperangkat alat konek.

Malam itu juga internet langsung aktif. Dari hasil tes menggunakan SpeedTest.net, didapatkan hasil yang cukup mengesankan, lebih cepat dari koneksi WiFi sebelumnya. Yeah, semoga kecepatan ini bukan pada malam pertama saja.

Here:


Aku mengambil paket Profesional, dengan quota 3GB per bulan. We'll see apakah ini cukup, kurang, atau malah mubazir.
Pengalaman dengan koneksi WiFi sebelumnya, jatah 2GB selalu berlebih, kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang menyebabkan overquota.

Berikut ini salah satu momen yang tertangkap kamera saat pemasangan modem ADSL-nya:



kiri ke kanan: Jaylangkung si pemasang modem, aku, Phi lagi ngitung kartu nama, Henry pas nganter kartu nama.

Eh aku punya kartu nama, ada yang mau?
*mendadak berubah topik*

Ya wes, makasih buat Jay dan Henry.


July 10, 2008

Abdul Rahman

Orang Jawa mengatakan "asmo minongko jopo", yang artinya kurang lebih "nama merupakan doa". Pemberian nama kepada anak sebisa mungkin merupakan sebuah doa dan pengharapan terhadap anak tersebut.

Bagi yang menamakan anaknya dengan nama islami, biasanya menggunakan bahasa arab, yang maknanya merupakan doa itu sendiri.

Namun bagaimana jika bahasa arab yang digunakan tersebut salah kaprah?

Ambil contoh nama yang cukup populer: Abdul Rahman

Penulisan dalam bahasa arab adalah: عبدالرحمن

Sesuai aturan pembacaan, Lam Alif Ma'rifat (bacaan 'Al' pada awal kata, misalnya 'Al' pada kata 'Al Amin') dibaca berbeda tergantung huruf di belakangnya.

Secara garis besar dibagi menjadi 2, yakni:
  1. Idghaam Qomariyah, jika di belakang Lam Alif Ma'rifat adalah huruf:  ا ب ج ح خ ع غ ف ق ك م ه و ي 
  2. Idghaam Syamsiah, jika di belakangnya adalah huruf: ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن 

Untuk Idghaam Qomariyah, Lam Alif Ma'rifat dibaca jelas, misalnya: عبدالقهر
Dibaca Abdul Qohhar.
Huruf L pada Abdul didapatkan dari kata Abdu sambung dengan Al-Qohhar.

Sedangkan pada Idghaam Syamsiah, Lam Alif Ma'rifat dihilangkan, dan digabung dengan huruf sesudahnya.
Kembali ke contoh kita: عبدالرحمن
Dibaca Abdurrahman, bukan Abdul Rahman.

Kalau dibaca Abdul Rahman, dari mana huruf L-nya? sebab huruf Ro adalah termasuk Idghaam Syamsiah yang mewajibkan Lam Alif dibaca lebur dengan huruf Ro (Ro menjadi ber-tasydid).

Sama seperti di Bismillahirrahmanirrahiim, yang Lam Alif di depan Rahman dan Rahiim tidak dibaca.

Lalu, apa nama Abdul Rahman menjadi tidak sah?

Mengutip kata Shakespeare, "apalah arti sebuah nama".

Dan menurut Abdurrahman Wahid, "gitu aja kok repot"

July 9, 2008

Mengisi Waktu

Malam itu aku baru saja sampai di tempat pengajian, setelah berjalan beberapa kilometer dari pesantrenku. Di tempat ini, yang berjuluk Bumi Damai, setiap malam Selasa selalu diadakan pengajian kitab Al-Hikam oleh pengasuh pondok pesantren setempat. Peserta pengajian bukan hanya dari pesantren tersebut, namun juga dari pesantren lain, bahkan dari kota-kota lain, semisal Malang, Sidoarjo dan Mojokerto.

Aku biasanya pergi bersama teman-teman dari pesantrenku, paling tidak ada 5-6 santri yang mengikuti pengajian ini. Tapi entah pada kemana, sejak sholat Isya' tadi mereka tidak ada yang terlihat, sehingga aku putuskan untuk pergi sendiri karena pengajian diadakan sekitar jam 8 malam. Meskipun kadang juga molor karena sebelum pengajian dimulai, ada acara istighosah.

Sambil menunggu pengajian dimulai, aku mampir ke sebuah warung di luar pesantren. Segelas teh hangat sangat menggoda untuk mengusir hawa dinginnya malam. Inilah Jombang, kalau siang panasnya luar biasa, kalau malam dinginnya menusuk tulang.

Sembari menikmati teh, sekilas aku melihat penjual kacang tanah yang menggelar dagangannya tidak jauh dari tempatku duduk. Seorang bapak tua, berbaju putih kumal dengan topi bundar entah hitam entah cokelat, duduk bersandar di pagar pesantren. Setumpuk kacang tanah digelar pada lapak di depannya, diterangi sebuah lampu ublik.

Sepintas tidak ada yang aneh, namun karena sedang menganggur, aku memperhatikan saja apa yang dilakukan bapak itu.

Segenggam kacang tanah digenggam di tangan kirinya, satu persatu diambil dan dimasukkan ke dalam takaran kacang. Ketika takaran itu penuh, ditumpahkan isinya ke tumpukan kacang di depannya sehingga kosong. Sedangkan kalau kacang di tangan kirinya habis, dia mengambil lagi dari tumpukan. Begitu seterusnya.

Penasaran, aku semakin memperhatikan. Dari jarak sekitar 2 meter, terlihat mulutnya berkomat-kamit, seperti... berdzikir?

MasyaAlloh, dia menggunakan kacangnya untuk berdzikir, di kegelapan dan dingin malam, di pinggir lalu lalang orang berjalan, di bawah pagar.

Seketika itu aku merasa berdebar, malu luar biasa. Menunggu pengajian dimulai saja aku masih memanjakan diri pergi ke warung, sedangkan bapak itu, menunggu rejeki dengan menyebut namaNya.

Subhanalloh...

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi