« Sabar | Depan | Protokol Janjian »

Sajadah Lebar

Jika diperhatikan, akhir-akhir ini pengguna sajadah lebar semakin banyak beredar di masjid, terutama saat jumatan. Dengan desain dan kualitas sajadah mulai dari yang biasa sampai yang diinjak saja rasanya sayang.

Memuliakan dan menghormati saat-saat menghadapNya memang sangat dianjurkan, namun asal tidak menimbulkan dampak yang seharusnya tidak perlu ada.

Salah satu dampak nyata dari munculnya sajadah lebar adalah shof sholat yang menjadi renggang. Jamaah di sebelahnya, yang bersajadah kecil, atau tidak bersajadah, akan sungkan menginjak sajadah lebar yang terkesan mahal tersebut.

Apalagi jika ada jamaah yang bersajadah lebar, saling berdampingan. Tambah renggang.

Ada baiknya bagi yang bersajadah lebar mempersilakan jamaah yang ada di sebelahnya untuk tidak sungkan ikut menginjak sajadah miliknya, agar tercapai rapatnya shof.

Karena shof itu terdiri dari barisan jamaah, bukan barisan sajadah.

Salah satu syarat kesempurnaan sholat berjamaah adalah lurus dan rapatnya shof. Bahkan saya dapat wejangan pada sebuah pengajian, bahwa kekhusukan sholat dapat tersalurkan melalui tubuh jamaah yang bersentuhan.

Seandainya repot jika harus mempersilakan jamaah di sebelahnya untuk ikut masuk ke sajadah, alangkah baiknya jika tidak usah membawa sajadah yang lebar. Cukup dipergunakan di rumah saja.

Saya masih ingat ketika kecil, waktu masih ikut pengajian di dekat rumah, oleh guru mengaji kami dianjurkan untuk tidak menggunakan sajadah saat sholat berjamaah di masjid. Bahkan bagi yang membawa, mending sajadah dibuat sebagai sorban daripada jadi sajadah.

Sampai saat ini saya masih mempergunakan sajadah, hanya untuk jaga-jaga jika situasi membutuhkan. Jika tidak dibutuhkan, sajadah saya lipat dan letakkan di bawah, tidak saya pasang.

Berusaha menggapai kesempurnaan sholat, memaksimalkan kedekatan kita denganNya :)



Ada 13 komentar

Budi Sy. pada December 11, 2010 11:24 AM menulis:

setuju, pak. kata guru saya, shaf yang baik itu jika sampai bersinggungan pundak jamaahnya. saya sendiri kalo bawa sajadah saya lipat saja hanya untuk alas wajah atau saya bentangkan ke samping jika jamaah di sebelah tidak bawa sajadah....

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada December 16, 2010 8:09 AM membalas Budi Sy.:

Membentangkan ke jamaah sebelah juga bagus pak, sholat juga melatih kita dalam interaksi sosial :)

Balas Komentar Ini
Sam Ardi pada December 15, 2010 10:04 AM menulis:

shau shufufakum fa inna taswiyatafishufufi kamaamishsholaaah *keplak Aryo*

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada December 16, 2010 8:05 AM membalas Sam Ardi:

*pasang portal di depan blog*

Balas Komentar Ini
yumna pada December 21, 2010 3:47 PM menulis:

sepakat..hrs DHEMPET

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada December 25, 2010 1:48 PM membalas yumna:

Jangan lupa bakar-bakar ikan di akhir tahun masehi ini

Balas Komentar Ini
mbah jiwo pada December 21, 2010 6:19 PM menulis:

aku setuju, kalau dah tau di masjid ada karpet ngga usah mbawa sajadah...kedekatan fisik membuat hati semakin dekat...

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada December 25, 2010 2:07 PM membalas mbah jiwo:

Tapi sajadah di masjid gak boleh dibawa pulang lho kek :)

Balas Komentar Ini
allie pada December 25, 2010 10:27 AM menulis:

Rapat shaf tp jgn ampe dhempetan, cos malah ga khusyuk. Istilah "rapatkan barisan" itu simbolis, sama halnya dg istilah pagar betis.
Saya sendiri terus terang malah risih jika sholat berjamaah dg shaf yg sampai bersentuhan seperti itu. Karena ruang yg saya butuhkan utk duduk tasyahud nanti lebih lebar drpd ruang utk saya berdiri, saya pasti "mengokupasi" bodi anggota jamaah sebelah saya nanti saat tasyahud (atau sebaliknya). Sholat Jamaah, penekanannya pada habluminannas (sifat jamaah-nya), hampir ga ada hubungannya dg khusyuk dan habluminallah.. karena sholat munfarid-pun Dia ridhoi..
Bgmana mau khusyuk jika hrs selalu pasang telinga utk merespon tiap aba2 dr imam? mendengar suara bacaan anggota jamaah sebelah yg bahkan lbh jelas drpd suara imam? Atau di saat suara "amiiin" dari jamaah berbeda nada dasar dg suara "waladhaliin" dari imam?
:-D
sori dowi banget komen-e

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada December 25, 2010 1:45 PM membalas allie:

Hehe, yang saya tangkap dari komentar sampean adalah perihal jamaah dan khusyuk, bukan berjamaah itu sendiri.

Terus terang (juga) saya masih ada missing link di sini, kombinasi antara berjamaah dan khusyuk. Jika dilihat dari 'ajaran' sholat khusyuknya ustadz Abu Sangkan, dimana kita betul-betul menghayati sholat mulai bacaan sampai gerakan, digabung dengan kita harus mengikuti imam, ada semacam kontradiksi.

Namun problem tersebut saya pahami sebagai kekurangan saya untuk dapat khusyuk dalam segala situasi, baik itu dempet atau renggang, baik itu sepi maupun ramai, gerakan dan bacaan imam bikin dahi mengkerut apa tidak. dan seterusnya, harusnya tetap dapat khusyuk.

Meskipun sholat sendiri juga sah, namun ada penekanan di berjamaah, mungkin ini yang belum sepenuhnya saya pahami kenapa. Menurut saya sih, habluminannas yang baik pada dasarnya juga termasuk habluminalloh :)

Mengenai kerapatan dapat menyalurkan khusyuk saya juga belum tau dasarnya, hanya sebuah statemen dari ustadz saat pengajian. Harapannya ada yang memberi penjelasan lebih lanjut dengan saya letakkan di tulisan ini.

Monggo kalo mau share lebih lanjut mas :)

Balas Komentar Ini
Johar Manik pada February 22, 2011 3:05 PM menulis:

Salam... .
Ane ga pernah pake sajadah,karena ga punya dan ga pengen make, rasanya sangat unik menyentuhkan muka di berbagai permukaan bumi... .
CMIIW: sajadah tidak dikenal dalam shalat... .

Balas Komentar Ini
Ihsan Faisal pada June 10, 2011 6:32 AM membalas Johar Manik:

+1

sy juga lebih suka sholat menyentuh bumi..

Balas Komentar Ini
surya pada May 13, 2012 10:19 PM menulis:

=D>

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi