« Ghibah | Depan | Sulitnya Beli Tiket Pesawat »

Pahala dan Dosa

Secara tidak sadar, kadang kita merasa ibadah yang telah kita lakukan sudah cukup untuk mendapatkan surga. Atau lebih jauh lagi, ibadah yang telah kita lakukan cukup untuk membayar dosa-dosa yang pernah terjadi.

Hal ini wajar, sebab selama ini kita selalu mendapatkan gambaran mengenai timbangan amal (Al Mizan) antara pahala dan dosa. Sejak kecil kita sudah dibekali dengan cerita, bahwa di akhirat nanti akan ada timbangan yang mengukur jumlah pahala dan dosa. Jika lebih banyak pahala maka surga, jika lebih banyak dosa maka masuk neraka.

Al Mizan memang harus diyakini ada (Al A'raaf: 8-9), dan tidak ada yang salah dengan penggambaran tersebut. Hanya saja kadang persepsi kita yang keliru menerapkannya, sehingga dampak yang terjadi adalah ketika melakukan suatu kebajikan, kita langsung membayangkan saldo pahala kita bertambah. Demikian pula saat melakukan dosa, saldo dosa ditambah.

Sejalan dengan itu, kita, yang tanpa membekali catatan diri berisi 'mutasi transaksi' pahala dan dosa, mengukur sendiri mana yang lebih banyak antara pahala dan dosa.

Mengukur diri sendiri memang harus, muhasabah diri, introspeksi. Jika benar-benar menelaah diri sendiri, pastilah didapat banyak kesalahan yang harus diperbaiki, dibandingkan membanggakan amalan yang telah dicapai.

Yang lebih parah adalah, ketika mengingat bahwa sudah lama tidak melakukan dosa, ditambah dengan sholat 5 kali sehari dikalikan jumlah hari selama hidup ke depan (padahal tidak tau kapan matinya), kadang menimbulkan pemikiran bahwa surga telah terbeli dengan ibadah tersebut.

Padahal surga bukan ditentukan oleh amalan kita, tapi 'hadiah' dari Alloh untuk hamba yang dikehendakiNya.

Seperti yang pernah diceritakan di sini, bahwa seseorang telah bangga dengan amalannya tapi tetap masuk neraka.

Kebingungan dimulai di sini, yakni ketika seseorang bertanya: "ya percuma dong kita ibadah, toh tetep aja ditentukan oleh kehendakNya"

Terinspirasi oleh ceramah Ustadz Abu Sangkan, dapat dicontohkan seperti ini:

Misalnya ada anak kecil, disuruh oleh orangtuanya untuk membersihkan rumah. Tentu orang tuanya tidak menentukan seluruh rumah harus bersih mengkilat, karena dia tau anak kecilnya tidak mungkin mampu melakukan itu.

Yang diminta oleh orang tuanya adalah anak kecil itu menjalankan perintahnya dengan patuh.

Bahkan misalnya ketika si kecil saat menyapu menyenggol gelas dan pecah, orang tua pasti akan maklum dan hanya tersenyum. (Mungkin hanya orang tua yang punya anak kecil yang bisa memahami perasaan ini)

Dan ketika tiba pemberian upah, yakin upah tersebut tidak ditentukan oleh hasil kerja si kecil, melainkan rasa senang orang tua karena anaknya mematuhinya.

Demikianlah, seandainya kita mendapatkan surga, yakin surga tersebut tidak ditentukan oleh ibadah kita, melainkan karena kepatuhan kita, sehingga mendapatkan rahmatNya berupa surga. Dan salah satu bentuk kepatuhan adalah dengan menjalankan segala perintahNya.

Mari kita berlomba menggapai rahmatNya.



Ada 11 komentar

budies pada July 6, 2010 8:05 AM menulis:

setuju, sebuah pencerahan yang bermanfaat

Balas Komentar Ini
yudie pada July 14, 2010 4:20 PM menulis:

tulisanya bagus cuma klo boleh usul bahasany sederhana saja supaya lebih meyakinkn..

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 14, 2010 4:22 PM membalas yudie:

nah itu, sedang belajar untuk bisa menulis sederhana :)

Balas Komentar Ini
Adoen pada July 26, 2010 12:18 AM menulis:

Begitu ya ?, wew..masih ada peluang neh

Balas Komentar Ini
murashi pada August 13, 2010 2:14 PM menulis:

betul sekali tapi yang perlu ditekankan disini arti dari ibadah itu sendiri. ibadah asal katanyakan dari abdi, atau mengabdi sama saja dengan mematuhi.
kita sebagai hamba dan Allah sebagai Raja, sudah sepantasnya kita menuruti apa yang diperintahkan.

Balas Komentar Ini
about adsense pada October 5, 2010 6:28 PM menulis:

Sekarang qta memang harus menyadari dan mulai menghitung berapa banyak amal dan dosa yang telah qta perbuat....

Balas Komentar Ini
HIDAYAT pada May 23, 2011 1:54 PM membalas about adsense:

Agar Dosa itu bisa inpas dengan Pahala Setiap hari menjalankan sholat. Sholat ada 3 Macam 1 Sholat wajib dan sholat sunah 2 Dzikir 45,000 Dziki Sahadat Tauhid 3 Puasa Wajib dan Puasa Senin Kamis dan Puasa sunah lainnya

Balas Komentar Ini
demit pada October 6, 2010 10:58 AM menulis:

makasi pencerahan....

"kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" Maryam 33.

Balas Komentar Ini
Denirm pada October 9, 2010 9:03 PM menulis:

Mkch..jd tambah wawasan.perasaan aq jarang2 bikin dosa.he he he

Balas Komentar Ini
aji syach pada August 19, 2011 7:51 PM menulis:

andaikata setelah ibadah seumur hidup kemudian mati & Alloh Swt menghendaki masuk neraka, kira-kira kita nerima enggak ya? :D

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada August 19, 2011 7:58 PM membalas aji syach:

Ya lihat entar kang, di neraka nanti satu kamar sama artis hollywood apa ndak. *dijitak*

Tapi tuhan kan bergelar Maha Adil ;)

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi