« Naite: HP Imut Nan Kaya Fitur | Depan | Ada Yang Salah Di Negeri Ini »

Sunan Kalijaga dan Gus Dur

Dari sekian banyak para Wali yang dikenal di Tanah Jawa, mungkin Sunan Kalijaga adalah yang paling masyhur. Selain karena beliau adalah Wali asli dari Tanah Jawa (Tuban), kemasyhuran tersebut tidak lepas dari kedekatan beliau dengan rakyat jelata. Sunan Kalijaga tidak membuat sekat tersendiri berupa pesantren atau sejenisnya seperti Sunan yang lain. Bagi beliau, hamparan kehidupan ini adalah pesantren, dan masyarakat adalah santri yang harus dibimbing.

Di samping itu, beliau membidangi (dalam lembaga Walisongo) hal yang digemari masyarakat Jawa saat itu, yakni dunia mistis.

Banyak peninggalan beliau yang masih lekat dengan dunia mistis, misalnya Wayang Kulit, Kidung Purwajati, Gamelan, dan seterusnya, yang masih hidup di masyarakat Jawa hingga kini. Juga beberapa 'lagu' tenar semacam lagu Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.

Sebagai orang Demak, tempat beliau akhirnya bersemayam, banyak sekali aku dengar cerita mengenai beliau, baik yang dapat dipertanggungjawabkan maupun yang nganeh-nganehi, bahkan ada yang meyakini bahwa sampai saat ini Sunan Kalijaga masih sugeng, tentunya dalam alam berbeda, dan masih sering menemui orang yang ingin ditemuinya.

Kisah mengenai Sunan Kalijaga sudah sedemikian terkenal, jadi kesannya akan 'nguyahi segoro' (mubazir) kalo aku juga bercerita kisah beliau di sini :)

Hanya mengungkit betapa besar jasa beliau, meski hanya ditilik dari warisan yang beliau tinggalkan tersebut di atas. Belum lagi mengenai peran penyebaran dan penjagaan yang beliau lakukan terhadap dakwah Islam saat itu.

Dan betapa luas pergaulan beliau. Memiliki murid mulai dari Raja Pajang hingga orang Samin macam Saridin (Syeh Jangkung), dan orang kaya raya seperti Sunan Pandanaran.

Namun demikian Sunan Kalijaga tetap tampil bersahaja dan sederhana. Berkelana tanpa menumpuk kekayaan.

Menurut Babad Tanah Jawa (hasil googling sih), nama-nama Sunan Kalijaga antara lain adalah Syeh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

Menilik pada nama terakhir di atas, mengingatkan aku pada Presiden ke-4 kita yang baru saja mangkat, Abdurrahman Wahid a.k.a Gus Dur. Rasanya Gus Dur memiliki kemiripan pola (dalam logikaku) dengan Sunan Kalijaga, baik dalam peran dan jasa, maupun pembawaan.

Gus Dur memiliki andil besar dalam peletakan dasar demokrasi di negara ini, yang demikian tercengkeram oleh Orde Baru.

Penampilan yang sederhana, Gus Dur bisa masuk ke semua kalangan bahkan ke yang saling berseteru, dan Gus Dur diyakini oleh beberapa kalangan sebagai Wali.

Ok, aku juga tidak ingin menulis banyak tentang Gus Dur, dengan keterbatasan ilmu yang aku miliki, meskipun dulu kita menimba ilmu di pesantren yang sama.

Aku tidak ingin ikut-ikutan terjebak seperti media massa yang oportunis, yang membelokkan opini publik sehingga menampakkan kesan yang salah terhadap Gus Dur. Beberapa teman dekatku sering komentar miring tentang beliau bahkan di depanku, tanpa tau bahwa aku adalah pengagumnya.

Namun kebenaran sejati tidak akan tertutupi oleh kebenaran lainnya. Tidak untuk selamanya.

Selamat jalan Gus Dur, maaf aku tidak jadi menyambutmu kemarin.

*diposting untuk merespon postingan panjang ini.



Ada 21 komentar

Sarimin pada January 7, 2010 3:12 AM menulis:

... enak hubungane karo band wali gak mas?

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 8, 2010 12:59 PM membalas Sarimin:

awakmu iki secara gak langsung ngaku sebagai ABG yoh, kok tau-taunya band anak muda.

Balas Komentar Ini
choi pada January 8, 2010 7:02 AM menulis:

gusdur adalah persiden pertama d dunia yg cacat,tapi dgn demikian dia sebenarnya tida cacat melainkan yg terbaik

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 8, 2010 1:01 PM membalas choi:

dan ahli di banyak bidang penting

sayang dunia politik begitu kejam, menghalalkan segala cara termasuk merusak citra seseorang.

semoga pemerintah segera merehabilitasi nama baik Gus Dur.

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 8, 2010 1:02 PM membalas anton ashardi:

Jaringan Internet Lokal?

hihihi

Balas Komentar Ini
Tamar Kiyai Haji Maksom pada January 8, 2010 4:51 PM menulis:

Sudah ditakdirkan Allah pemerintahannya tidak beryahan lama..

Balas Komentar Ini
tri kumajaya pada January 8, 2010 5:26 PM menulis:

negara ancur tanpa sesosok sunan kalijaga and gusdur

Balas Komentar Ini
galuh pada January 9, 2010 6:51 PM menulis:

cocok!!! Pisan iki aku mathuk karo sampeyan, cak!

Balas Komentar Ini
galuh pada January 9, 2010 6:52 PM menulis:

cocok!!! Pisan iki aku mathuk karo sampeyan, cak!

Balas Komentar Ini
allie pada January 15, 2010 6:13 PM menulis:

emang nyleneh Gus Dur itu, Mas. Pernah didoain spy mata bliau sembuh di hadapan para Jemaah nasrani.. itu pendetanya org luar negeri yg gondrong yg srg di TV bsama suster yg berkacamata yg "tausyiah"-nya berapi-api. Sy prnah nonton VCD-nya sktr taon 2004. Lah..

Balas Komentar Ini
kang ipul pada January 18, 2010 1:59 PM menulis:

kalo saya pribadi mengatakan gusdur itu wali ke sepuluh di antara wali songo tanah jawa. Sulit negeri ini mencari sosok dan figur seperti Gus Dur sebagai guru bangsa yang dekat dengan golongan minoritas, mempunyai akses dan diterima di semua kalangan. Saat ini yang dapat kita lakukan, yaitu meneladani jerih payah beliau dalam meletakkan dasar-dasar demokrasi negeri ini.

Balas Komentar Ini
jendenk pada January 21, 2010 4:08 PM menulis:

Ngaturi sugeng om admin ,asalamualaikum,,,,sip,pokoe maju tak gentar membela yang benar,,,

Balas Komentar Ini
elangjayanegara pada January 22, 2010 7:31 AM menulis:

kabeh ribut masalah century..tuding-tudingan...sing ora ono digawe ono..sing ono digawe ora ono...hmmmm wis wayahe....

Balas Komentar Ini
samsu wong solo no makassar pada January 25, 2010 10:30 AM menulis:


mathuk banget mas.......
biasane
roso kelangan naliko barang wis ilang
ora rumongso duwe naliko barang disanding.
sampeyan kabeh lagi mudeng to?
(betapa sulitnya mencari figur dan guru????
salam,
samsu

Balas Komentar Ini
The Greatest Gifts pada January 27, 2010 9:12 AM menulis:

semangatnya dan hal2 baik lainnya perlu terus disebarkan dan dijadikan modal untuk membentuk generasi Indonesia baru...
www.the-greatest-gifts.blogspot.com

Balas Komentar Ini
Zawa pada January 28, 2010 2:39 PM menulis:

Sebentar lagi sampean juga jadi wali mas, wali murid :p

Balas Komentar Ini
allie pada January 29, 2010 8:14 AM menulis:

Mohon maaf...karena saya bukan pengagum Gus Dur.. Satu bulan sebelum impeachment itu, di atas dak t4 kos, saya melihat ada meteor (bintang jatuh) yang sangat terang..dan saya spontan berseru.."Ya Allah turunkan Gus Dur Ya Allah.."
Sebagai budayawan, he was perfect, tp sbg negarawan? Sebagai kepala negara? Sama sekali tidak!!!
Saya memang ngefans Gus Dur tp hanya sisi beliau sbg budayawan.
Nah..sodara2 ini apakah ngefans Gus Dur di segala bidang? hehehe.. Ingat loh yaa..nobody's perfect. Mentang2 suka, lalu menutup mata thd sgala kesalahan bukanlah hal sportif. Sebaliknya, mentang2 ga suka trus menjelek-jelekkan dlm segala sisi..itu jg ga sportif.
Sy suka guyonan Gus Dur, saya suka komentar beliau dlm buku jadul "Mati ketawa Cara Rusia" yg saya baca wkt SD. Tp saya tak suka gaya beliau sbg kepala negara dan sebagai kyai. Di benak saya skrg akan sy abadikan sosok beliau sebagai budayawan saja. Selamat jalan budayawanku..

Balas Komentar Ini
miftach19 pada February 9, 2010 7:48 AM menulis:

Baru-baru ini ada polemik unik (walau tidak begitu menarik) di antaranya: Gus Dur dipersimpangan antara gelar pahlawan atau wali (Wah..wah, jangan-jangan malah cuma di persimpangan..). Bahkan ada wacana baru yang mentahbiskan Gus Dur jadi Wali Ke-10! Wow..

Di sini bukan hendak menyorot panjang lebar tentang "pahlawan" lagi pula tambah gak begitu penting.
Namun tema ini lebih menyorot masalah "WALI".

Menurut agama Islam yang mulia, wali tergolong menjadi dua: Wali Allah dan Wali Syaitan. Dan yang menjadi pembahasan di sini tentu adalah wali yang baik/ Wali Allah.

Menurut Aqidah Islam wali adalah orang-orang yang mendapatkan kemulian dari Allah disebabkan Iman dan ketaqwaan mereka. Kadang-kadang Allah memberika suatu 'Karamah' (tanda-tanda kemuliaan) pada orang tersebut. Namun hal ini tidaklah harus, dan bukan menjadi prasyarat wali. Di samping itu karamah itu anugerah Ilahi dan bukan sesuatu yang dipelajari (lelakon/ ritual tertentu untuk mendapatkannya), bukan pula wali Allah itu tandanya adalah sakti, bisa menghilang, mengubah batu jadi emas, memindahkan batu besar dengan kekuatan sediri, berjalan di atas air, suka aneh-aneh!! Begitulah yang disangka wali oleh sebagian orang primitif. Jika hal itu yang terjadi maka besar kemungkinan "wali" tersebut adalah walinya Syaitan untuk menyesatkan manusia. Waspadalah!

Lantas bagimanakah kriteria wali itu? Cukuplah Al Quran yang mulia yang akan menjelaskan.
Lihatlah Al Quran Surat ke-10 (Yunus) ayat 62-63:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa."

Jadi melihat ayat ini saja, jelas bagi kita tentang kriteria "Wali" yaitu: Iman dan selalu Bertaqwa.
Dan dengan demikian bukan wewenang manusia untuk menentukan seseorang itu wali dan bukan wali. Apalagi menentukan/ membatasi jumlah wali, misalnya menjadi "Walisongo" kemudian diusulkan lagi "Wali Sepuluh". Kalau yang dimaksud adalah walikota, wali murid, maka tidak menjadi masalah ada "dewan wali" seperti itu. Tapi jika yang dimaksud adalah wali Allah, oran-gorang mulia, maka siapa pun berhak menjadi golongan mereka: Orang yang beriman dan selalu bertaqwa.

Bagaimana mungkin manusia hendak membatasi calon penghuni syurga dengan 9, 10, 11,,? Wah, Bisa jadi Anda telah kehilangan jatah "kursi" tersebut., Na'uudzubillah.

Dan tentu saja meskipun ia Wali Allah, tidak harus punya keanehan-keanehan, punya kesaktian, dan lain-lain, apalagi jelas nampak kesesatan padanya dalam masalh agama dan keyakinan! Justru itu semua besar kemungkinan adalah wali syaitan untuk menipu dan menyesatkan manusia. Bukankah Allah telah berfirman:
"Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu" (QS Al-Baqarah ayat 208)

Juga "andaikata" orang tertentu adalah benar wali Allah, maka tetap saja tidak boleh kuburannya diagung-agungkan, tanah kuburnya menjadi rebutan untuk diminta berkahnya, seperti kebiasaan orang-orang yang salah didikan. Apa bedanya dengan orang-orang yang memperebutkan kotoran Kyai Slamet (nama Kerbau di keraton Surakarta) yang juga untuk mengharap berkahnya!? Jika yang terjadi demikian nyatalah bahwa syaitan berhasil menipu manusia, dan menusia tertipu itu tetap saja mengaggap benar amalan sesat tersebut!

Maka sekali lagi waspadalah wahai orang-orang yang diberi akal dan fikiran sehat...
Kembalilah ke jalan yang benar, kembalilah kepada Allah, sembahan yang benar, pencipta dan pemilik seluruh alam, sehingga tidak layak disekutukan, disandingkan dengan sesuatu apa pun, baik itu dengan malaikat, nabi, wali, orang shalih, dan lain-lain, apalagi kerbau!!!

Nah jika Wali Allah saja tetaplah mereka itu adalah makhluk yang tidak layak dielu-elukan dan disanjung berlebihan, baik saat hidup maupun setelah matinya, apalagi wali syaitan.....!!!

Segala puji bagi Allah yang karena dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Saya memohon ampun kepada Allah.

Balas Komentar Ini
kyai jambulwanen pada February 19, 2010 9:35 AM menulis:

sudahlah saudaraku, berhentilah berselisih sesuatu yang gak penting, masih banyak kok yang perlu kita kerjakan dan kita selesaikan, daripada rebutan balung tanpa sumsum............

Balas Komentar Ini
moggi norsatya pada March 2, 2010 9:38 AM menulis:

Gus Dur memang adalah cucu dr Sunan Kalijaga, nasab beliau bin KH Abdul Wahid Hasyim bin KH Hasyim Asy'ari bin KH Asy'ari bin Abu Sarwan bin Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Pangeran Samhud Baghdad bin Pangeran Benawa bin Sultan Hadiwijaya / Jaka Tingkir bribukan Nyi Ageng Pengging / Ratu Mandoko binti Sunan Kalijaga

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

March 2010

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31      

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper

Sindikasi