« Daun Jarak | Depan | 'Ismat »

Pro Kontra Imunisasi

Mungkin pro dan kontra ini sudah berlangsung lama, namun baru kali ini aku coba concern about it *mbuh opo artine* karena waktu mengharuskan demikian.

Dari beberapa rekan yang rupanya anti imunisasi, dengan berbagai argumen menentang adanya imunisasi, mulai menyatakan bahwa vaksin terdiri dari unsur haram (ibab), lalu adanya pendholiman pada anak, juga adanya alternatif yang lebih sehat dari imunisasi, yakni madu.

Sebagai orang tua yang ingin hal terbaik untuk anaknya, hal ini harus dicermati dengan bijak. Segala kemampuan dikerahkan.

Melalui googling, semakin terkuak betapa pro dan kontra ini berlawanan dengan telak. Argumen, kisah, kepercayaan, keyakinan, dan bermacam istilah medis yang belum pernah terdengar sebelumnya, berseliweran menghiasi pro dan kontra ini.

Masih ragu, akhirnya bertanya ke ahlinya: para dokter.

Kebetulan dekat dengan salah satu dokter seniornya Malang, Dr. Koentjahja, Sp.P, yang langsung responsif begitu aku ajak diskusi perihal masalah ini. Menurut beliau imunisasi tetap penting. Kalaupun ada masalah itu adalah kasus minor dan tidak bisa dijadikan sandaran keamanan imunisasi.

Dokter Dipo lebih membahas halal dan haramnya. Menurut beliau, tinggalkan hal yang meragukan, termasuk beberapa (bukan semua) imunisasi yang diketahui haram.

BananaTalk memaparkan perihal amannya imunisasi dan ketersediaan alternatif imunisasi yang halal.

Kemudian dari hasil riset sana-sini, akhirnya dapat ditarik kesimpulan: Imunisasi tetap harus diberikan, terutama yang wajib.

Alasan:

  1. Tidak semua vaksin mengandung zat haram, terutama yang produk Indonesia. Untuk 1 jenis vaksin tersedia versi halalnya. Namun meski demikian, imunisasi termasuk bentuk darurat yang mana termasuk kategori boleh selama belum ada gantinya.
  2. Pengertian dholim pada anak justru lebih aman jika dibandingkan dengan mengabaikan penjagaan kesehatan anak. Pemberian vaksin memang menyebabkan demam 1-2 hari (ada pula yang dapat dipilih mana yang bikin demam dan yang tidak), karena memang itu tujuannya, yakni agar antibodi bekerja. Tanpa imunisasi memang anak tidak mengalami demam, namun untuk ke depannya akan jauh lebih berbahaya.
  3. Kasus 'malfunction' imunisasi memang pernah terjadi, namun hal tersebut adalah kasuistis. Selain berusaha, jangan abaikan doa.

Vaksin imunisasi memang tidak mencegah penyakit 100%. Katakanlah 50%. Tapi tanpa imunisasi malah akan jadi 0%.

Ada hasil riset yang lain?



Ada 42 komentar

Investasi pada June 26, 2009 8:04 PM menulis:

good info
kalo menurut saya imunisasi harus di berikan , untuk anak jangan coba coba, salam kenal

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada June 27, 2009 12:03 PM membalas Investasi :

+1 pro

Balas Komentar Ini
eko didik pada June 27, 2009 11:57 AM menulis:

Saya lebih kasihan anak kalau tidak diberikan imunisasi, mas. Itu hak anak kita.

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada June 27, 2009 12:03 PM membalas eko didik:

+1 pro

Balas Komentar Ini
aida pada June 28, 2009 9:33 AM menulis:

q ngefans bgt dg karya posting anda,coz dpt menambah beberapa pengetauanq...low imunisasi menurut q sangat pentig karena ltu dpt membr kekebalan tubuh dan dpt membntu menyerang berbagai kuman yang masuk lewat mekanan peranya seperti leukosit(sel darah putih)& itu bisa mnjg tubuh qt jauh lebih sehat &baik

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada June 30, 2009 3:14 PM membalas aida:

+1 Pro

mana nih kok gak mengisi URL blognya?

Balas Komentar Ini
Gopril pada June 28, 2009 5:21 PM menulis:

Madu...madu...madu...hidup MADU !!! :)>- Kalau jaman dulu ada Madu dan Racun, saya pilih Madu dan Doa, jangan lupa berusaha ! :D/ Hidup Imung eh Imun... (imung kan detektif di majalah HAI dulu hehehe...) :D

Balas Komentar Ini
dianwhin pada June 30, 2009 2:39 AM menulis:

hai aro sanjaya mampir ke blog dong... saling berkunjung entar kusiapkan kopi

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada June 30, 2009 3:11 PM membalas dianwhin:

+0 Pro

+1 Kopi

Balas Komentar Ini
Sarimin pada June 30, 2009 4:05 AM menulis:

Mmm...Imunisasi? +10 pro, empat imunisasi dasar yang wajib dilakukan yaitu BCG, Polio, DPT, dan Campak.

Na,..Om Aryo iki keto'e durung oleh Imunisasi Polio! ;))

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada June 30, 2009 2:47 PM membalas Sarimin:

+1 Pro

Balas Komentar Ini
Sarimin pada June 30, 2009 4:05 AM menulis:

Mmm...Imunisasi? +10 pro, empat imunisasi dasar yang wajib dilakukan yaitu BCG, Polio, DPT, dan Campak.

Na,..Om Aryo iki keto'e durung oleh Imunisasi Polio! ;))

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada June 30, 2009 3:02 PM membalas Sarimin:

kok dobel-dobel toh kirime.

tetep dihitung 1 vote.

*keplaki sarimin*

Balas Komentar Ini
Sarimin pada July 1, 2009 8:56 AM membalas Aryo Sanjaya:

na ta pencet kirim gak langsung metu :( dadi yo pencet kim maneh../* ampun */

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 1, 2009 11:33 AM membalas Sarimin:

lha iku isek ngecek, meyakinkan iki sarimin geek opo sarimin gaek >:)

Balas Komentar Ini
Aan pada July 9, 2009 2:23 PM menulis:

Ya imunisasilah pak.... dholim? kan obat imun macem2 untuk satu fungsi yg sama... mahal dikit asal anak gak pake demam ya ok lah ;)
sejauh ini aku selalu concern dan nanya ke dokter: "obat ini ada efek samping? sy minta yang paling minim efek sampingnya kalo ada yg tanpa efek samping."

kalo bisa dan ada rejeki lebih, ikutkan paket imunisasi tambahan. Anak nomor satu pak! ibunya nomor 4 ;))

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 27, 2009 12:08 PM membalas Aan:

+1 Pro

Weh, jangan-jangan ibunya nomor 4-10? Urut berdasarkan abjad nama :-"

Balas Komentar Ini
Kyai slamet pada July 18, 2009 12:40 AM menulis:

Imunisasi bukan amunisi

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 18, 2009 12:00 PM membalas Kyai slamet:

Jagoanmu nggae imunisasi gak om?

Balas Komentar Ini
aLe pada July 18, 2009 1:46 PM menulis:

wew,
baru tau adaprodan kontra,
tp memang lebih baik diberi dari pada tidak sama sekali :)

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 18, 2009 2:28 PM membalas aLe:

kayaknya belum ada yang kontra nih ;))

Balas Komentar Ini
tri pada July 26, 2009 2:42 PM menulis:

NO IMUNISASI.Itulah penjajahan kapitalisme untk negara berkembang.Knp yg URGENT ga da gaungnya..ex.ASI EKSKLUSIF,kalo qt ga ngotot psti dksih susu formula(kapitalis, manfaat??korban iklan),ato ibuny yg ga mau nyusui??(banyk skali),rawat gabung murah??.POLA HIDUP SEHAT,olahraga no,sayur buah jarang,fast food yes.Ya..itulah ibu2 skarg males masak drmh,d dukung bapakny kali....AWAS,Kanker ada d makanan olahan+tempatny.TIDAK SELALU MINUM OBAT saat sakit ringan.Alhmdulilah 3 anakku ga da yg imunisasi.Kekebalan yg bagus adlh dr diri kita sendiri.Yg pasti dr HERBA dan bukan KIMIA.SUNNAH Nabi dragukan??Nabi sakit??Hampir tidak pernah.Manfaat imunisasi 50%??Knp seorang dokter hrs menerapi anakny stlh dpt imunisasi d sekolah??Knp bnyk dokter yg milih2 imunisasi untk anakny??

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 26, 2009 2:54 PM membalas tri:

Nah, akhirnya ada 1 yang kontra ;;)

Sip, tri!

Balas Komentar Ini
tri pada July 27, 2009 8:26 AM menulis:

Sorry posting lagi. Mgk bsa ditanyakan, anak dr.Koentjahja dan dr.Dipo diimunisasi lengkap ga??

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 27, 2009 11:46 AM membalas tri:

Lek kamu ndak keliwatan mbaca, di atas itu sudah aku sebutkan kalo dokter Dipo juga pilih-pilih imunisasi.

Lek dokter Koen, aku gak sempat nanya soal itu, karena dilihat dari jawaban beliau, tersirat bahwa semuanya aman.

Nanti lek ketemu tak kasih tau log chatting dengan beliau.

Balas Komentar Ini
dianwhin pada July 27, 2009 9:49 AM menulis:

Anak kok coba coba? Pro imunisasi. Juga pro Tukeran Link. Yuk tukeran. Salam kenal

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 27, 2009 12:09 PM membalas dianwhin:

+1 Pro

Balas Komentar Ini
dianwhin pada July 27, 2009 9:51 AM menulis:

Ayo tukeran link Bro

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada July 27, 2009 12:10 PM membalas dianwhin:

Sudah lama aku gak membangun link nih ;))

Balas Komentar Ini
diah pada November 2, 2009 10:11 PM menulis:

saya baru melahirkan 6 hari yang lalu, saat ini saya masih sangat ragu untuk mengimunisasi anak saya. ibu saya sangat merekomendasikan agar anak saya diberi imunisasi karena berdasar pengalaman beliau dengan 5 anaknya, saya adalah anak pertama dan lahir prematur sekitar 8 bulan dan tidak diimunisasi..menurutnya waktu kecil saya sering sakit2an yang membuatnya cemas, dan hal tersebut tidak terjadi pada adik2 saya karena mereka teratur di beri imunisasi...namun disamping fakta tersebut saya mempunyai teori lain saya lahir dengan berat badan kurang dari 2.5 kg dan prematur -8 bulan- dan hanya diberi ASI tanpa tambahan lainnya sedang adik saya semua lahir cukup bulan dan diatas 2.5 kg.. setelah kami dewasa hal yang paling mencolok adalah, saya adalah anak yang paling sehat diantara kami semua, saya bisa bilang daya tahan tubuh saya sangat kuat dibanding adik2 saya yang sangat gampang drop kesehatannya....dan menurut saya karena saya mengembangkan antibodi saya secara alami tanpa dibuat2 dengan imunisasi..pertanyaannya apakah imunisasi jalan satu2nya untuk mendapatkan imunitas yang baik bagi bayi? ataukah ada alternatif lain yang lebih alami..

Balas Komentar Ini
yudyud pada June 19, 2010 11:19 PM menulis:

yoi,, stju bgt. Halal dan haram kan klo dilihat dari segi agama, namun jika dari segi kesehatan memang penting ya harus diberikan..

Balas Komentar Ini
norman hqm pada August 3, 2010 6:20 PM menulis:

Bismillah,,qita merujuk pada kehidupan dimasa Rosululloh,bukan jahiliah,yg hanya ikut sana ikut sini,akhirnya berhala yg disembah,,kalo sekarang banyak muslim gaya hidupnya sama kaya nasoroh,kebarat2an,padahal diajarkan,bagaimana kita harus menyelisihi mereka..!!! wallohua'lam,,kalo saya,,imunisasi = memasukkan VIRUS dalam tubuh anak,,

Balas Komentar Ini
Prass pada January 28, 2011 2:50 PM membalas norman hqm:

Di zaman Rosul penyakit belum macam-macam... tapi lihat sekarang... Jadi jangan bandingkan dengan zaman rosul... Seandainya Rosulullah hidup pada zaman ini, pasti beliau menganjurkan untuk imunisasi... lagi pula belum ada penelitian yang membuktikan tentang bahaya imuisasi (yang ada hanya berdasarkan prasangka)... Bijaklah dalam menanggapi perubahan zaman... Gunakan akal sehat yang telah diberikan Allah untuk berfikir bijak...
Apakah yang tidak ada dalam Quran dan As-Sunnah yang tersurat akan kita tolak? Al-Quran itu bukan hanya yang tersurat, tapi juga ada ayat yang tersirat... Bacalah... "Jika seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah, niscaya tidak akan cukup"...
Jangan-jangan nanti Anda menolak listrik karena telah menewaskan orang, kendaraan bermotor karena menabrak teman Anda... Lalu Anda mengganti dengan lentera sebagai penerang dan unta alat transportasi Anda seperti pada zaman Rasul...
Wallahualam...

Balas Komentar Ini
normanhqm pada January 25, 2012 12:01 AM membalas Prass:

Bismillah,
Pak Press ato Bu Press ,qt tak mau dbat macem2 ,tp mau mluruskan lg ,sampeyan menjawab ,''...seandainya Rosululloh hidup pd zaman ini ,pasti beliau menganjurkan imunisasi...'' ,garis bwahi pak/bu kata ''pasti'' ,kata2 itu hanya milik Alloh untuk ketetapan-Nya ,tp jika sampeyan mengandai untk kbaikan,kalo bgitu ,andai Rosululloh hidap d zaman skarang ,maka Rosululloh ikut dlm tradisi yasinan yg saat ini diikuti oleh bnyak jamaah ,,udah tau ,kalo emang baik menurut Rosul ,beliau sudah menganjurkan pada para sahabatnya ,ingat jg ,''segala amalan yg tdak dcontohkan oleh beliau ,maka amalan tersebut TERTOLAK'' ,sia2 toh ??? Tp kalo semua bertolak belakang dg Sunnahnya ,maka madu dan habbatussaudah yg dpake d jman Rosul ,tdaklah manfaat d zaman ini, ,beda halnya dg bentuk kmudahan2an lainnya ,tumpangan berupa unta bukanlah sunnah yg d ajarkan Rosul, barangkali ,kalo Rosululloh hdup d zaman skarang ,kmana2 da'wah pake pesawat ,mobil yg nyaman (bukan mewah kya orang2 d DPR). Sudahlahlah kang,pak,mas,mbak ato siapa aja press itu ,jngan mngamalkan amalan menurut logika ,tp kmbalilah pd ajaran Al Qur'an n As Sunnah. ,mari qt perdalam islam qt lbih dekat ,
www.rumaysho.com
Wallohu'alam ...

Balas Komentar Ini
kamaru pada June 19, 2011 1:10 PM membalas norman hqm:

مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ « لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ ». قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ « مَا لِنَخْلِكُمْ ». قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ « أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ ».

Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam melalui beberapa orang yang sedang melakukan penyerbukan kurma, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kalaulah kalian tidak melakukan hal yang demikian maka hasilnya akan baik”. (Para sahabat mengikuti perkataan beliau) kemudian hasil kurmnya jelek. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melalui mereka lagi dan berktanya, “Mana kurma kalian?” mereka mengatakan, “Engkau katakan demikian dan demikian (agar tidak menyerbukan kurma)”[5]. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kalian lebih paham berilmu tentang urusan dunia kalian”[6]. ;)

Balas Komentar Ini
Dewi Cinta pada December 2, 2011 10:13 AM menulis:

Saya malah masih nyari referensi yang valid tentang ini. Tapi semua berbahasa Inggris ya?

Balas Komentar Ini
shinta cahyadi pada January 19, 2012 8:52 AM menulis:

anakq dah imun lengkap termasuk BCG,DPT kombo tp knp masih kena TBC Paru

Balas Komentar Ini
normanhqm pada January 24, 2012 11:55 PM membalas shinta cahyadi:

Nah lhoo..??! Ada yg vaksin tp msh ada yg kna pnyakit ? Gmana toh pak dokter kui, salah vaksin yo ??,,,coba tnya sama mr sanjaya ,yg rosulnya Dr Dipo kui..hehe..

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 25, 2012 9:48 AM membalas normanhqm:

Komentar anda menunjukkan betapa anda sama sekali tidak memahami arti vaksinasi, jadi percuma saya menjawabnya, istilahnya: ngomong sama tembok.

Saran saya, pahami Islam bukan hanya sebagai agama. Islam itu jalan hidup. Dan dalam Al-Qur'an berulang kali disebutkan keutamaan orang yang berilmu. Ilmu didapat dari belajar dan mencari tau, bukan sok tau.

Vonis anda yang mengatakan Dokter Dipo adalah Rosul saya juga keterlaluan, saya tidak pernah mengatakan demikian, dan mungkin anda tidak memahami arti kata Rosul. Yang nampak hanya keculunan anda dalam berdiskusi.

Demikian.

Balas Komentar Ini
Normanhqm pada January 24, 2012 11:39 PM menulis:

Pak Press ato Bu Press ,qt tak mau dbat macem2 ,tp mau mluruskan lg ,anda menjawab ,''...seandainya Rosululloh hidup pd zaman ini ,pasti beliau menganjurkan imunisasi...'' ,garis bwahi pak/bu kata ''pasti'' ,kata2 itu hanya milik Alloh untuk ketetapan-Nya ,tp jika anda mengandai untk kbaikan,kalo bgitu ,andai Rosululloh hidap d zaman skarang ,maka Rosululloh ikut dlm tradisi yasinan yg saat ini diikuti oleh bnyak jamaah ,,udah tau ,kalo emang baik menurut Rosul ,beliau sudah menganjurkan pada para sahabatnya ,ingat jg ,''segala amalan yg tdak dcontohkan oleh beliau ,maka amalan tersebut TERTOLAK'' ,sia2 toh ??? Tp kalo semua bertolak belakang dg Sunnahnya ,maka madu dan habbatussaudah yg dpake d jman Rosul ,tdaklah manfaat d zaman ini, ,beda halnya dg bentuk kmudahan2an lainnya ,tumpangan berupa unta bukanlah sunnah yg d ajarkan Rosul, barangkali ,kalo Rosululloh hdup d zaman skarang ,kmana2 da'wah pake pesawat ,mobil yg nyaman (bukan mewah kya orang2 d DPR). Sudahlahlah kang,pak,mas,mbak ato siapa aja press itu ,jngan mngamalkan amalan menurut logika ,tp kmbalilah pd ajaran Al Qur'an n As Sunnah. ,mari qt perdalam islam qt lbih dekat ,
www.rumaysho.com

Balas Komentar Ini
desy pada March 12, 2012 3:05 PM menulis:

Bu diah@ apa ke empat adik2nya sewaktu kecil(bayi) diberi ASI eks semua tdk???

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi