« Jadi Warga Malang | Depan | Mengurus NPWP »

Terlalu Banyak Tanya

Suatu ketika, Bani Israel mendapatkan perintah untuk berkorban sapi. Meskipun ini adalah perintah langsung dari Alloh melalui Nabi Musa as, namun dasar watak Israel yang sakarepe dewe, mereka berusaha mengulur waktu pelaksanaannya.

Mereka bertanya: "sapi umur berapa?"
Dijawab: "umur sedang"

Bertanya lagi: "yang warna apa?"
Dijawab: "kuning tua keemasan"

Tanya lagi: "yang kerjaannya ngapain aja?"
Dijawab: "yang belum pernah digunakan untuk membajak"

Demikianlah, padahal seandainya saat mendapatkan perintah itu mereka segera melaksanakan, syarat-syarat yang mereka terima tidak sedemikian ketatnya. Tapi karena kebanyakan bertanya, sapi yang dicari malah menjadi jauh lebih sulit.

Di samping itu, Israel selalu curiga pada pemberi perintah, meskipun itu melalui Nabi yang telah menyelamatkan mereka dari penindasan Fir'aun. Mereka tidak ingin perintah itu adalah olok-olok yang jika mereka jalankan akan dikira orang yang telah terpedaya. Ini salah satu bukti bahwa orang licik akan selalu curiga karena takut diliciki oleh orang lain, menganggap setiap orang adalah selicik dia.

Karenanya, kalo aku memberikan permintaan yang sudah jelas, tapi yang diminta masih tanya aja, aku bilang aja: "Israel lu"


Ada 21 komentar

Aryo Sanjaya pada February 24, 2009 9:34 AM membalas silent:

Arab lu

*eh*

Balas Komentar Ini
Gopril pada February 24, 2009 12:43 PM menulis:

Jangan-jangan ni komentar saya juga dicurigai neh?? Padahal saya cuman mo nanya JOWO LU ?? hahaha... =))

Balas Komentar Ini
ferdhie pada February 24, 2009 2:13 PM menulis:

malu bertanya sesat di jalan ga berlaku yah?

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 24, 2009 4:41 PM membalas ferdhie:

adalah batasan mana yang tanya demi kebaikan dan mana yang tanya karena buat mengulur waktu, atau buat mengukur kesabaran pemberi perintah ;))

Balas Komentar Ini
isdah ahmad pada February 24, 2009 7:20 PM menulis:

yahudi opo israel? bedane opo?

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 25, 2009 6:07 AM membalas isdah ahmad:

perlu dikasih link wiki? secara guru gitu loh :-"

Balas Komentar Ini
nengbiker pada February 24, 2009 9:49 PM menulis:

plurk lu..


*ga pantess*

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 25, 2009 6:20 AM membalas nengbiker:

suwe ora ngeplurk... ngeplurk ora suwe...

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 26, 2009 9:24 PM membalas kyai slamet:

doh, yang biasa kumpul kebo

*ngacir*

Balas Komentar Ini
noki pada March 2, 2009 12:17 AM membalas kyai slamet:

memang juragan kebo suka kumpul kebo

Balas Komentar Ini
suroso pada March 21, 2009 12:05 PM menulis:

ya mari kita sama2 berdoa,semoga kita tidak seperti kaum yang seperti itu
amin

Balas Komentar Ini
The Tukang pada March 31, 2009 3:25 PM menulis:

Sama dengan Ini Ya " Kalau Bisa dipersulit Kenapa Dipermudah" [-O

Balas Komentar Ini
ruslan pada April 10, 2009 8:17 AM menulis:

yeee....
emg sih kadang banyak orang yang ngeyel klo dikasi tau...
tapi klo bilang 'israel lu' saya blon berani..

wkwkwkwk...
(^^)

Balas Komentar Ini
allie pada June 11, 2009 5:52 PM menulis:

Klo ingat pelajaran bahasa Indonesia SD dulu, kayaknya ini yg dinamakan gaya bahasa (majas) SINEKDOKE, pars pro toto. Nah kebetulan yg dianggap memakai majas ini adalah Allah; bukankah cerita ttg orang Israel (yahudi) yg terus bertanya itu ada dlm surah Al Baqoroh (Sapi Betina)?.
--
Satu tim kesebelasan sepakbola Indonesia menang bertanding melawan tim MU bisa ditulis: Indonesia mengalahkan MU. Padahal di Indonesia ada pemulung, ustad, guru, bayi, mbah2, mbak2, dll yg ga ikut nendang bola.
--Nah trus gmn, apakah orang Israel/Yahudi sekarang ini harus tetep kita anggap seperti itu?
--
Klo kita mo sedikit menahan diri, sebenarnya cerita itu ada manfaatnya. Selalu bertanya adalah ciri2 ilmuwan, kecenderungan selalu bertanya "curiga"/waspada itu yg menjadikan seseorang berkembang.
--
Coba klo kita dihadapkan pada situasi yg agak mirip dengan perintah "nyari sapi" di atas. Kita disuruh nyari/nemuin pasangan hidup. Nha, ga puas to klo cuma (dberi) tahu bhw "klo kita pria, pasangannya wanita", "klo kita wanita, pasangannya pria".

Kita mesti tanya lagi, seperti apa wajahnya (cakep pa nggak), tinggi pa nggak, keturunan pendekar dari mana, sekolah di mana, kerja di mana, jujur pa tukang boong, dll..dll..dll, dan (last but not least) ...weton-nya apa?? (*** bisa diganti smiley "ngguyu kekel" ***)
--
Yuk becermin, kadang dengan uenaknya kita ngomongin sifat "buruk" orang, padahal sifat itu ada juga pada kita..bahkan bukan ga mungkin kita malah lebih "kebangeten" dari orang yg kita omongin. Mau malu sama siapa klo sama diri sendiri aja gak malu?
(*** bisa diganti smiley jingkrak2***)
--
Peace ..Peace..

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada June 12, 2009 5:44 AM membalas allie:

Hehehe, perspektif yang bagus :)

Laptop diletakkan di atas meja (padahal lap-top artinya di atas paha), jika dipandang dari sisi berbeda, yang terlihat adalah beda.

Manusia berdiri (kita anggap tidak pake pakaian) jika dilihat dari sisi berbeda, yang terlihat juga beda, terutama bagian depan dan belakang.

Untuk masalah 'majas' ini, kebetulan yang dilihat adalah sisi 'keterlaluan yang menyiratkan keengganan'. Sedangkan sisi yang njenengan paparkan ada di sisi sebelahnya.

Tapi pada intinya saya setuju mengenai bercermin itu. Intinya adalah tidak menggeneralisir masalah. Jelek di satu orang, dengan hal yang sama di orang lain belum tentu jelek juga.


Balas Komentar Ini
samali pada December 15, 2011 7:43 AM menulis:

samali: Bani Isral juga patut dipuji dengan banyak tanya menunjukkan mereka kritis selektif terhadap suatu permaslahan yang dihadapi bukan kah seseorang memjadi cerdas apabila sering menggunakan akal sehat? ini sisi positif BANI israil, kurang adil dan bijak jika kita hanya melihat sisi negatif dari suatuumat.Bani Isral tidak menunukkan penentangan (balela) tapi justru semangatdan hati-hati dalam menjalankan perintah Allah mereka khawatir jangan-jangan kami salah dalam melaksanaka penyembelehan justru itu mereka bertanya

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada December 15, 2011 9:22 AM membalas samali:

Ada perbedaan mendasar antara "bertanya terus" dengan niatan agar mendapat pemahaman sempurna,
dengan niatan untuk mengulur waktu dengan harapan tugas tersebut dibatalkan.

Sebagai manusia tentu sulit bagi kita untuk membedakannya. Tapi bagi Tuhan itu bukan hal yang tidak mungkin.

Dan cerita di atas berdasarkan apa kata Tuhan(ku), di Surah Al-Baqoroh.

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi