« Terimakasih | Depan | Mengisi Waktu »

Bulan Madu

Zaman dahulu kala, setiap selesai berlangsungnya acara pernikahan, biasanya pengantin bersama rombongan akan pergi mengunjungi sanak famili yang tidak dapat hadir di pernikahan tersebut.
Namun tradisi turun temurun itu kini bergeser menjadi kesempatan berwisata bagi pasangan pengantin yang baru menikah, dan menjadi momen awal untuk dikenang.

Asal kata Honeymoon menurut suatu sumber adalah "bulan yang manis", dalam artian bulan pertama dalam pernikahan adalah yang paling manis.

Aku kurang setuju dengan arti itu, karena secara tidak langsung mengatakan bulan-bulan selanjutnya, tahun-tahun berikutnya adalah 'kalah' manis dibanding bulan pertama.

Menurutku hanya untuk euforia saja, maka wisata dilakukan di bulan pertama, atau bulan kedua, ketiga atau terserah.

Kebalikannya, secara tradisi Jawa, biasanya 40 hari pertama setelah pernikahan pasangan pengantin dilarang pergi jauh-jauh dari rumah, dengan berbagai argumentasi. 
Salah satu cerita rakyat yang terkait dengan ini adalah asal mula terjadinya air terjun Coban Rondo di Batu, yang terjadi gara-gara pengantin bepergian jauh sebelum 40 hari.
Silakan baca cerita lengkapnya di sini.

Namun yang aku yakini, pelarangan bepergian itu lebih pada 'ngeman' (apa ya bahasa Indonesianya?) pasangan yang baru saja menikah.

Seperti beli sepedamotor baru, pagi dicuci sore diserbeti dan malam diselimuti. Toh seandainya diperlakukan seperti biasa, tidak ada masalah.

Alhamdulillah, kemarin kami baru pulang dari rangkaian acara tour yang disebut bulan madu tersebut. Oleh paket yang diambil, kami menginap 4 hari 3 malam di Maya Ubud.

Cerita lengkap selain tidak boleh juga tidak mungkin dapat diceritakan semuanya di sini, hanya foto saja yang mungkin dapat kami hadirkan di gallery Picasa :D 





Ada 22 komentar

iRene pada June 25, 2008 2:09 PM menulis:

Duhhh mesranya jd ngiri hihihi :P

Aryo:
Iren kapan? ;))


Balas Komentar Ini
nengbiker pada June 25, 2008 4:03 PM menulis:

oooohh.. delay kemaren tu dari siniiiihhh....

*OLEH OLEH BOOOO!!!*

Aryo:
hyukkkk...


Balas Komentar Ini
vnz pada June 25, 2008 6:13 PM menulis:

We'ik, kaget aku, tak kiro mlebu album Picasaku...


Awas lek ra nggawakne oleh2

Aryo:
Lha iku, tak gawakne oleh-oleh foto ;))


Balas Komentar Ini
M Fahmi Aulia pada June 25, 2008 6:14 PM menulis:

ah, ini mah poto studio ya? :p

Aryo:
ah, jaman engkoh dulu emang belum ada bulan madu ya? :-"


Balas Komentar Ini
bazz pada June 25, 2008 9:59 PM menulis:

wew! akhirnya bisa kirim email lg nih ;).

Aryo: chatting ae rit >:)

Balas Komentar Ini
sluman slumun slamet pada June 25, 2008 11:06 PM menulis:

ngapain aja, teringat status YM-mu tempoh hari
:D

Aryo:
bawa flesdisk ke sini kalo mau ngopi rekamannya :-"


Balas Komentar Ini
Jauhari pada June 26, 2008 12:05 PM menulis:

Intinya apa sih?

BENCAH DUREN? ngapain ke UBUD ke NGANTANG aja banyak

*kabur*

Aryo:
ngantang sih peteng kiwo tengen. ndek ubud kan padang, jadi bagus untuk direkam kamera video, hihihi


Balas Komentar Ini
Edi pada June 26, 2008 3:18 PM menulis:

Boyok-e pedot opo ora kiro2 arek iki ????? :D

Aryo:
Opo gunane boyok cadangan ;))


Balas Komentar Ini
arhan pada June 26, 2008 6:46 PM menulis:

beuh, 5 tahun lg posting kayak gini ah :D

Balas Komentar Ini
Sarimin pada June 27, 2008 1:44 AM menulis:

Weuw...mesra'ne,

Balas Komentar Ini
caressa pada June 27, 2008 10:27 AM menulis:

segera menyusullll......

*eh

Balas Komentar Ini
ferdhie pada June 28, 2008 1:25 AM menulis:

wah milih maya ubud ... adem ;))

Balas Komentar Ini
Petani Internet pada June 29, 2008 12:01 AM menulis:

Wah ikut donk.....
Gimana caranya bisa seperti itu.
Berdua terus.....

Salam deh sukses selalu

sumintar.com

Balas Komentar Ini
pudakonline pada June 29, 2008 8:47 AM menulis:

sebelum berangkat pake jamu nggak?

Balas Komentar Ini
Ari Iswaji pada July 5, 2008 8:34 PM menulis:

Mas Aryo Sanjaya, salam kenal. Tertarik dg uraian ttg Sadulur Papat,mohon informasi lebih rinci.
FYI, saya adalah cucu dari seorang yg sangat tau ttg ilmu kejawen ini, nama kakek saya Bapak Rakim (para kadang menyebut beliau Begawan Mintosroyo).Tapi saat saya besar, beliau sudah meninggal, jadi kehilangan jejak ilmu. Ada banyak dokumen termasuk rekaman beliau saat "caos dhahar" dll, tapi saya belum gamblang.Saya tinggal di kota Malang.

Thanks
Ari Iswaji
aiswaji@mde.ae

Balas Komentar Ini
tjahaju pada July 6, 2008 4:44 PM menulis:

yipiii... hai newlywedds.. whats up!
apa udah ada tanda2 aku dapet ponakan =P

Balas Komentar Ini
SJ pada July 7, 2008 8:57 PM menulis:

weits... mantep bener pemandangannya... selamat masuk jebakan batman... muahaha

Balas Komentar Ini
Anik pada July 11, 2008 8:30 PM menulis:

kalo bisa maunya tiap bulan honeymoon terus, bisa ga yach? jangan cuma diawal aja maniznya lalu tapi terus dan teruz....

Aryo:
hehehe, iyah, hanimun forever


Balas Komentar Ini
aLe pada July 11, 2008 9:25 PM menulis:

Weleh,
ngiler thok aku ^^

Aryo:
*sodorin tisu buat ngelap ilernya ale*


Balas Komentar Ini
boo pada July 15, 2008 1:17 AM menulis:

wah, parjo mimik sampeyan ya (baca: wine), ayo junub *cetar-cetar*

Balas Komentar Ini
jaylangkung pada July 17, 2008 2:36 PM menulis:

lho kok gitu thok sih om poto hani mun nya??

kata nya orang-orang hani mun itu.....

*tuing-tuing*

hwehehhehehhehehe

Balas Komentar Ini
Ari Iswaji pada November 15, 2008 5:50 AM menulis:

Investasi Saham

Starting date of writing: 07th November 2008
By: Ari Iswaji, Dubai U.A.E

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menuliskan sesuatu tentang Pasar Saham. Yang akan saya bahas adalah pasar saham di Indonesia dimana penulis melibatkan diri secara langsung investasi ini. Pada awal bergabung pada bulan Agustus 2005, bertepatan pada saat market crash. Waktu itu saya berpendapat bahwa investasi di pasar saham sangatlah mudah. Di hari pertama gabung pun, sudah dapat untung lumayan.
Ternyata memang saat itu adalah posisi bottom dari market.
Waktu terus berlalu, sayapun terus mengamati pergerakan market. Dengan berjalannya waktu, pengalamanpun bertambah. Jual dan beli terus saya lakukan. Ternyata saya menyadari bahwa frekuensi jual beli sebenarnya tidak perlu dilakukan. Dengan kalkulasi, kalau saja saham yang saya beli pertama kali masih saya tahan, keuntungan besar / maksimum pun bisa saya dapat.

Kesalahan demi kesalahan saya temui. Tapi insyaállah saya tidak mengenal menyerah. Perlu diketahui bahwa saya adalah “99% Technicalyst”. Belajar tentang charting adalah makanan sehari-hari. Itupun otodidak saya lakukan. Sudah ribuan kombinasi chart telah saya coba. Sekali ada kelemahan pada implementasi chart, saat itu juga chart dirubah. Bagi saya, ini merupakan addict. Tapi itulah konsekuensi kalau tetap ingin maju dan mengalahkan market. Metastock adalah segalanya bagi seorang technicalyst.

Dengan bertambahnya waktu penulis menyadari bahwa investasi di pasar saham adalah sesuatu yang complicated. Sesuatu yang tidak mudah, karena banyak sekali parameter yang harus diketahui, diamati dan dipelajari. Beberapa contoh antara lain, kondisi ekonomi Indonesia, kondisi ekonomi dunia khususnya Amerika, laporan keuangan perusahaan/emiten, rumor-rumor yang beredar, corporate action emiten, harga minyak, currency rate, cuaca/bencana di dunia atau perang, central bank’s interest rate, harga komoditi, harus mengenal karakter dari emiten, dan masih banyak lagi. Semuanya mempengaruhi market.


Kenapa Memilih Investasi Saham

ADA APA DENGAN SAHAM? (Sukses Anda Harus Anda yg Menentukan)

Alasan dan keuntungan investasi saham:

o Tidak perlu tempat usaha.
 Bebas biaya sewa atau beli tempat usaha.
 Bebas dari kewajiban bayar biaya listrik, air, telepon tiap bulan.
 Bebas dari urusan Ijin Usaha.
 Bebas beban harus ada yg menjaga tempat usaha.
 Bebas resiko bahaya kebakaran.
 Bebas biaya maintenance gedung & asesoris-nya

o Tidak butuh karyawan, dan bebas dari urusan tetek-bengeknya.
 Tidak menggaji karyawan.
 Goodbye THR karyawan.
 Bebas dari urusan karyawan yg sakit, ijin, bolos, yg suka ngebon ataupun yg nyolongan (urusan antar manusia memang ruwet dan makan ati)

o Free of akuntansi ataupun urusan stock dan items labeling yg njelimet, sering terjadi juga human error dalam urusan menghitung jumlah barang dan atau harga barang.
Perlu juga beli program akuntansi khusus utk urusan itu, harganya selangit bleh.

• Bebas biaya pembelian sarana penunjang utk berdagang, misalnya etalase, perangkat komputer, bar code reader, cashier machine, display selves, trolley,
Maintenance IT system yg lagi in trouble perlu biaya yg tidak kecil.

o Tidak kuatir dg naik-turunnya harga barang.
Dolar mau naik selangit ataupun terjun ke jurang, emangnya gue pikirin.

o Bebas dari urusan kadaluarsa barang.
 Secara rutin harus check satu persatu, kalau kadaluarsa…dibuang (yg pasti rugi) atau ditukarkan ke distributornya (tambah kerjaan aja).

o Tak perlu ditungguin seharian.
 Waktu bisa digunakan sebaik-baiknya utk keluarga dan urusan yg lain.

o Tidak repot-repot belanja barang.
 Hemat biaya transportasi.
 Hemat waktu dan tenaga.

o Bebas dari segala macam pajak.

o Tidak kuatir dimaling, nggak ada barangnya sih….

o Tidak butuh kendaraan utk kegiatan usaha, bensin mahal lagi…belum sopirnya.

o Bebas dari urusan utang-piutang pembeli, bebas dari dikemplang orang. Kalau harus nagih utang….puyeng deh kepala.

o Bebas dari persaingan usaha yg tidak sehat. Banyak juga lho yg main guna-guna (katanya). Bener2 tidak berguna.

o Liquiditas, uang bisa sewaktu-waktu dicairkan kalau lagi butuh. Bisa double account lagi…

o Menghindari kerugian dari pengaruh inflasi. (pengaruh dari BI rate, FED rate, gonjang-ganjing Dollar vs Rupiah, The World Crude Oil Price, etc.)

o Prestige.
 Tidak bekerja utk orang lain dan tdk tergantung orang lain, kita menentukan sendiri segalanya (sebagai manager,secretary, account, analyst, director, executor). Boleh rajin, boleh juga malas. Sak-karepmu pokok-e.
 Bikin hidup lebih hidup tapi tetap low profile. Time is money. Uang bekerja utk kita.
 Sepanjang masa tak mengenal pensiun, utk semua golongan tak mengenal strata.Ilmu bisa ditularkan ke anak, istri, menantu, mertua atau anggota keluarga yg lain.
Tidak perlu keahlian khusus atau sekolah yg tinggi2, semua bisa kompromi. Nothing to worry about their future.
 Mobilitas sangat tinggi, kita bisa jalankan dari manapun diujung dunia ini. Kita bebas2 aja kalau mau pindah rumah kemana aja tanpa bingung
meninggalkan tempat usaha yg sudah dirintis bertahun2 misalnya.
 Tidak menyolok dimata orang yg bisa bikin sirik tetangga, kayak pengangguran tapi berkantong tebal. Kita bangkrut ataupun sukses…dijamin kagak ada yg tau deh.
 Free resiko malu kalau barang dagangan kita tdk laku.
 Hari sabtu dan minggu betul-betul nyantai lho….nggak ada trading sih.


Petunjuk Umum Berinvestasi Saham

Berinvestasi dalam saham perlu memperhatikan saat kapan bisa masuk market dan kapan kita harus keluar dan menghindar dari market. Pasar saham seperti halnya petani dan sawahnya. Petani harus tahu betul saat yang tepat untuk bercocok tanam.
Menjelang musim hujan adalah saat yang pas mulai menanam benih. Apa yang terjadi kalau petani mulai menanam benih saat kemarau akan tiba, sudah bisa dipastikan akan gagal. Kalau mau menghasilkan, biasanya petani mengalihkan jenis tanamannya, yaitu palawija yang tidak memerlukan banyak air.
Itulah pentingnya management waktu. Saham pun demikian, ada musimnya. Uptrend, downtrend ataupun flat. Nah, yang harus kita tahu adalah menentukan musim-musim tersebut. Dengan mengenal technical analysis kita akan terbiasa dengan membaca grafik yang bisa memberikan gambaran trending/musim tersebut.
Kalau petani biasa dengan mengalihkan tanaman padi ke tanaman palawija, maka switching investasi bisa kita lakukan.
Berdasar pengalaman, saat terbentuk uptrend kita beli saham. Dan ketika downtrend mulai terbentuk, keluar menjauhi pasar saham dan cash belikan mata uang dollar.
Hubungan antara mata uang dollar dengan pasar saham sangat erat dan biasanya berbanding terbalik. Apabila rupiah menguat, saham akan uptrend. Dan bila dollar menguat, market saham akan downtrend.


Kesabaran

Yang sangat diperlukan dalam investasi saham adalah KESABARAN. Sabar dalam segala hal dan sabar terhadap segala kemungkinan yang akan dihadapi. Tanpa adanya kesabaran itu, investor saham bisa mengalami hal yang fatal dalam hidupnya. Inti dari kesabaran dalam berinvestasi:

- Pertama adalah Kesabaran Beli yaitu menunggu waktu market terus turun, sampai
ada indikasi akan naik, baru kemudian beli.
- Kedua adalah Kesabaran Jual yaitu menunggu naik, jangan buru-buru jual sampai
ada indikasi akan turun.

Kesabaran yang lain adalah kita harus sabar saat apa yang kita sudah beli kemudian harganya turun. Ingat bahwa naik dan turun adalah biasa dalam dunia persahaman. Untuk naik perlu penurunan, dan untuk turun perlu kenaikan. Kalau saja sudah sangat terlambat untuk cut loss, konsekuensinya kita harus sabar menunggu market untuk recovery.


Bahaya Marjin

Marjin adalah keleluasaan penggunaan dana tambahan dari sekuritas bagi seorang investor yang besarnya biasanya 150% dari pokok investasi. Jadi misalnya dana investasi kita 1 M, maka limit kita belanja adalah 2,5 M. Lebih mengena bila marjin kita sebut dengan dana hutang dari sekuritas. Marjin merupakan sesuatu keuntungan merangkap juga sesuatu yang membahayakan. Karena penggunaannya dibatasi tenggat waktu, misalnya 10, 20 atau 40 hari. Kalau sudah jatuh tempo, kita mau tidak mau harus bayar kembali utang kita itu. Pada prakteknya, ada yang untung ada pula yang buntung. Perlu skill yang sangat tinggi menggunakan dana ini. Penulis merekomendasikan jangan sekali-kali menggunakan dana ini kalau tidak yakin. Kebetulan sudah ada beberapa korban yang juga penulis sangat dekat dengan mereka. Uang mereka habis dalam sekejap. Padahal dimata saya mereka cukup mumpuni di bidang persahaman. Bahkan terdengar berita, salah satu dari mereka harus jual rumah dan mobilnya untuk melunasi utang marjin ini.
Menurut peninjauan saya, dana marjin hanya bisa digunakan saat market uptrend saja.

Market Rumors & Analysis dari Sekuritas

Investasi saham melibatkan banyak sekali pihak yang terdiri dari berbagai kalangan. Ada yang bersifat retail investor (perorangan), investor lembaga keuangan, perusahaan asuransi, lembaga dana pensiun, perbankan, investor asing, maupun dari instansi negara. Semua kalangan investor tersebut hanya punya satu tujuan akhir yang sama, yaitu meraup keuntungan. Nah bagaimana mereka bisa untung? Logikanya kalau untung semua adalah tidak mungkin. Sebab seperti kita ketahui bersama bahwa di pasar saham keuntungan akan di dapat kalau ada yang rugi.
Atas pengertian itulah semua investor berusaha sekuat tenaga bagaimana mendapat untung besar dari market. Segala upaya akan dilakukan. Lembaga-lembaga besar yang sangat berpengalaman di bidang investasi saham tentu juga akan mempergunakan dana besarnya untuk research. Analisa-analisa tentang emiten tertentu akan mereka publikasikan. Rumor-rumor pasar dengan menggunakan berbagai media massa juga tidak ketinggalan. Dalam menciptakan rumor atau mengeluarkan research itulah yang perlu kita tinjau lebih jauh. Kalau sebuah research untuk konsumsi umum, akankah publikasi itu fair? Atau hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Karena yang namanya research boleh-boleh saja salah. Atau memang sengaja dibuat salah, yang akhirnya malah public misguidance.
Berdasar pengalaman juga, sering target price yang mereka rekomendasikan tidak benar. Justru rekomendasi itu mereka gunakan untuk take action againts the market. Misalnya kalau mereka akan belanja, rumor/analisa jelek bermunculan dengan demikian mereka bisa belanja dengan harga murah.
Begitu juga apabila mereka akan berjualan, target price dan rumor yang baik-baik akan muncul. Orang pada beli barang, mereka jualan harga tinggi. Untuk itulah kita sebaiknya berhati-hati terhadap rumor dan analisa. Tidak semuanya bagus dan bisa dipercaya.
Sekali lagi fundamental diri kita sendiri harus kuat agar tidak mudah diombang-ambingkan pasar.


Dow Jones Kiblatnya Pasar Saham

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam possisi emerging market sekarang ini, ketergantungan kondisi ekonomi suatu bangsa tidak lepas dari pengaruh kondisi ekonomi bangsa lain. Terutama bangsa besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Kondisi ini dikarenakan saling terkaitnya aktivitas perdagangan antara negara satu dengan lainnya. Kalau ada hambatan/gangguan ekonomi di negara besar, yang lain juga akan terganggu. Amerika adalah negara berkapitalisasi sangat besar dan masyarakatnya termasuk sangat konsumtif bahkan tertinggi di dunia. Apabila ada suatu masalah ekonomi di sana, efek domino akan terjadi.
Daya beli menurun dan mereka akan mengurangi atau bahkan stop impor. Kemudian negara exporter tidak bisa menjual barangnya. Produsen pun mengurangi karyawan karena barangnya tidak laku, pengangguran meningkat
Demikian seterusnya.
Jadi adalah wajar ketika di Amerika terjadi krisis ekonomi, negara lain juga terkena efeknya. Dow Jones adalah indeks harga saham gabungan utama Amerika. Indikasi kuat atau lemahnya ekonomi USA bisa terlihat dari sepak terjangnya.
Terbukti juga bahwa Jepang, Eropa dan juga negara-negara di belahan benua lainnya sangat mencermati pergerakan Dow Jones ini. Arah dari indeks di dunia selalu mengikuti indeks punya Amrik ini.
Maka dari itu, jika kita berinvestasi saham jangan pernah melupakan kemana arah indeks Dow Jones bergerak. BEI (Bursa Efek Indonesia) pun selalu sama arahnya. Agar tidak ketinggalan, juga penting mempertimbangkan berita-berita ekonomi dari USA.


Charting

Charting atau cara membaca grafik sangat penting dalam menentukan pembelian saham. Grafik juga menunjukkan history dari perusahaan tersebut. Dengan mudah kita bisa tahu harga tertinggi atau harga terendah yang pernah dicapai dan kapan terjadinya. Teknik membaca grafik ini perlu waktu untuk kita bisa terbiasa. Rekomendasi saya adalah bacalah grafik berdasar time frame “ Weekly ” dan “ Monthly “. Untuk daily, terlalu kasar dan tidak mudah diikuti. Filosofinya begini, kalau kita berada di atas gunung, kita tidak akan tahu mana puncaknya. Tapi kalau gunung itu kita lihat dari jauh, akan kelihatan nyata mana puncak mana lembah. Daily hanya bisa dilihat untuk referensi. Untuk eksekusi jual atau beli, gunakan mingguan dan bulanan.
Perlu diketahui, dalam implementasi charting setiap individu punya taktik atau cara yang sangat berbeda. Yang penting grafik itu confortable, user friendly dan dengan tingkat kesalahan yang minim. Kehandalan sebuah grafik perlu diuji.
Kelemahan harus dihilangkan dan upgrade / ganti bila perlu. Karena dengan kesalahan satu garis saja akibatnya bisa fatal, uang kita melayang.
Dalam membuat sebuah chart, berdasar pengalaman memerlukan waktu yang sangat panjang. Saya sendiri membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun dengan frekuensi riset yang padat. Itupun masih memerlukan adjustment sana sini. Paling tidak, kita berusaha agar chart bisa membantu kita berinvestasi, bukan malah menjerumuskan. Intinya jangan menyerah dengan garis-garis itu. Untuk seorang pemula, sangat baik apabila melakukan riset grafik dengan cara latihan saja tanpa menggunakan uang / investasi langsung. Ini sangat aman karena tidak ada resiko uang yang hilang.
Ya, seperti bermain monopoli saja.


Pemilihan Saham

Memilih saham untuk investasi, sebaiknya pilihlah saham yang fundamentalnya benar-benar kuat. Dalam dunia saham, para investor saham mengenal beberapa analisa sebagai alat untuk memilih saham yang tepat, antara lain secara teknikal dan secara fundamental. Para teknikalis menggunakan tool berupa grafik-grafik dan fundamentalis menggunakan perhitungan angka-angka laporan keuangan perusahaan bersangkutan. Adalah baik sekali apabila seorang investor saham tahu tentang keduanya. Namun dalam prakteknya adalah tidak mudah. Cukup menyita waktu untuk harus tahu dan mengamati keduanya. Saya berpikir bagaimana caranya kita cukup belajar satu saja dari tools itu. Background kita juga sangat menentukan.
Yang awam seperti saya, tidak mudah menganalisa hitungan-hitungan lapkeu perusahaan.
Juga yang tidak membuat saya tertarik dengan fundamental analisis adalah bahwa banyak pula perusahaan yang memberikan lapkeu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Angka-angka yang fantastis bisa pula mereka bikin hanya untuk membuat pemegang saham senang. Yang jadi persoalan adalah kita sebagai retail investor mana tahu dengan semua itu. Maka dari itu penulis lebih tertarik dengan Teknikal Analisis. Karena menurut saya, grafik-grafik dihasilkan dari harga yang sesungguhnya ada di pasar. Grafik tidak akan menipu. Sebagai cara untuk memenuhi manajemen prioritas, saya tidak ingin konsentrasi terbagi-bagi. Dengan kata lain, cari mudahnya sajalah. Kalau dengan analisa teknikal dirasa cukup, tidak perlu lagi ribet dengan analisa fundamental. Tapi pemikiran begini tidak sepenuhnya benar.
Tanpa melihat fundamental suatu perusahaan, kita bisa tergelincir dalam kerugian. Nah bagaimana mensiasati ini? Caranya, kita tetap berdasarkan analisa teknikal, tapi hanya beli saham perusahaan yang sudah dikenal orang benar-benar kuat dan likuid.
Bisa juga katakanlah hanya beli saham Blue Chips atau saham plat merah yg bagus yang merupakan market mover. Dan hindari saham gorengan yang sangat beresiko. Dengan demikian kita bisa abaikan analisa fundamentalnya dan bisa berkonsentrasi pada analisa teknikal.

Blunder on The Market

Berdasar pengalaman pribadi, ada beberapa kesalahan yang terkadang bisa berakibat fatal:
- Terlalu confident
- Tidak displin terhadap aturan yang sudah dia bikin sendiri
- Running Trade Syndrome
- Tidak confident dan mengikuti apa kata orang lain. Abaikan analisa-analisa dari pihak lain.
- Menggunakan dana rumah tangga atau dana marjin dari sekuritas.
- Greedy, terlalu awal untuk masuk, atau telat untuk keluar.
- Adanya keyakinan Anti Cut Loss, dalam equity market cut loss juga sangat diperlukan. Exit strategy harus punya.
- Harus adanya system dan guidance, tanpa itu do not invest.
- Daily trade yang membingungkan sekaligus membahayakan. Keuntungan tidak akan didapat dari fluktuasi harga day trading
- Pemilihan emiten yang salah, saham gorengan yang risky.


Jangan Menaruh Telur di Dalam Satu Keranjang

Itulah kata-kata uzur yang sering kita dengar di dalam komunitas perekonomian atau dunia investasi. Menurut saya kata-kata itu mengandung arti yang sangat dalam dan sangat perlu kita bisa tepat mengartikannya. Menurut banyak pendapat, kalau investasi di pasar saham sebaiknya tidak membeli satu atau dua macam saham saja, kalau bisa lebih banyak dari itu. Dan pemilihan saham juga dalam sektor bisnis yang berbeda-beda. Katakanlah kita punya enam saham, satu di bidang perkebunan, yang lain di perbankan, pertambangan, property, industri retail dan lain-lain.
Menurut saya, pemahaman seperti itu kuranglah tepat. Karena walaupun berada dalam sektor bisnis yang berbeda, tapi wadahnya adalah sama, yaitu pasar saham, yang berarti masih dalam keranjang yang sama. Coba kita lihat histori dari pasar, kalau indeks jatuh karena adanya indeks mover / perusahaan besar yang harganya jatuh, saham yang lain pasti mengikuti apapun itu sektornya. Kalau terjadi market crash, semua harga saham akan jatuh. Jadi terbukti bahwa pasar saham adalah satu keranjang.
Kalau mau keranjang yang lain, investasilah di luar pasar saham.

Bagi saya yang terpenting adalah bagaimana cara kita untuk tahu kapan keranjang yang kita miliki itu akan jatuh, sehingga sebelum jatuh dan telur-telur pecah, kita sudah bisa memindahkan ke keranjang yang lain yang juga memungkinkan telur kita akan bertambah di keranjang yang lain tersebut, atau bahkan menetaskan anak ayam.
Arti yang lebih kongkrit, Switching Methode from equity to currency.


Saham dan Dua Perasaan

Tuhan menciptakan alam semesta berpasang-pasangan. Lelaki dan perempuan, baik-buruk, susah-senang, jauh-dekat, banyak-sedikit, kaya-miskin, tua-muda, mahal-murah, kiri-kanan, muka-belakang, atas-bawah dan masih banyak lagi.
Sebagai investor di pasar saham, aktivitas keseharian juga tidak lepas dari hal seperti itu. Dua perasaan yang selalu menghinggapi para pialang saham ialah perasaan sedih dan gembira. Gembira saat harga sahamnya naik, dan sedih apabila harga sahamnya anjlok.
Ada di antara mereka yang senang hatinya di tengah yang lain yang pada susah.
Ataupun sebaliknya ada yang susah padahal yang lainnya pada gembira. Di pasar saham lah tercermin sesungguhnya kehidupan manusia. Masing-masing berusaha survive tak peduli yang lain. Berbagai macam karakter manusia bisa kita lihat di sini.
Persoalannya adalah bisakah kita berada di posisi yang senang terus?
Paling tidak kita berusaha ke arah itu.
Kenapa orang bisa susah pada saat harga saham pada turun? Jawabnya adalah karena dia merugi, harga sahamnya turun. Dan pertanyaan yang lain, kenapa orang bisa senang atau gembira pada saat harga saham pada naik ? Ya, karena harga sahamnya naik, keuntungan besar di depan mata.

Yang menarik, kenapa orang bisa susah saat harga saham pada naik? Karena dia tidak bisa lagi beli saham di harga murah, sebab dia sudah tak punya cash yang tersisa lagi alias sahamnya masih kecantol.
Yang menarik kedua, kenapa orang bisa gembira pada saat market crash ? Karena dia punya banyak cash / peluru untuk siap ditembakkan untuk beli saham super murah. Malahan dia mengharap harga saham semakin dalam jatuhnya. Semakin dalam semakin bagus bagi dia, harga super discount.

Nah bagaimanakah cara untuk bisa mendapatkan “Dua Gembira” pada dua kondisi market uptrend ataupun downtrend?
Dan bagaimana agar jangan sampai mendapatkan “Dua Susah”?
Bisa didapatkan hanya dengan cara berdisiplin tinggi terhadap aturan main yang sudah dibikin dan tetap sabar. Ingat dengan kebangkrutan Jesse Livermore dari jutaan dollarnya karena dia tidak berdisiplin terhadap aturan dia sendiri, dengan mendengarkan nasehat orang lain yang malah menyebabkan kerugian bertambah besar.

Fears and Greedy (ketakutan yang berlebihan dan sifat rakus) adalah halangan dalam berinvestasi. Lihat contoh kasus berikut ini:

Fears:
- Sudah ada signal untuk masuk, tapi takut masuk sehingga telat masuk dan mendapat
harga sudah tinggi.
- Harga naik, belum ada signal keluar, tapi takut masuk sehingga tidak masuk-masuk.
- Harga naik, belum ada signal keluar, tapi terburu-buru keluar duluan sehingga harga
pencapaian tidak maksimal.

Greedy:
- Sudah ada signal untuk keluar, tapi ingin untung tambah, sehingga telat keluar.
- Belum ada signal masuk, dikira harga sudah murah & terburu-buru masuk sehingga
beli masih di harga tinggi. Hati-hati dengan “Bull Trap”.
- Sudah tak ada cash, pakai marjin, kena margin call / forced sell ingin untung malah
buntung jadinya.


Educate Your Self

Untuk menjadi investor yang sukses tentu saja tidaklah mudah. Perlu pengalaman yang banyak, perlu pengorbanan yang tidak kecil, pahit getir pun sering menghampiri kita. Apalagi sebagai investor yang otodidak, perjalanan berliku harus kita tempuh walaupun terkadang tidak mengenakkan. Jatuh bangun, jatuh lagi dan bangun lagi adalah biasa. Anggap saja pengalaman adalah guru yang sangat berharga. Dan itu memang betul. Tanpa pengalaman, kita adalah nol. Sudah menjadi hal yang umum, pendatang baru dalam dunia saham kebanyakan mempunyai kesamaan perasaan bahwa berinvestasi di saham adalah mudah. Dia akan mengatakan lain apabila sudah banyak makan asam garam di dunia saham. Dengan berjalannya waktu, pengalaman kita pun bertambah. Belum sempat memainkan pasar, kita dipermainkan pasar terlebih dahulu. Untuk bisa memainkan pasar itulah yang pasti ada ilmunya. Oleh karena itu kita sebagai pribadi harus banyak menimba ilmu kepada yang sudah lebih senior. Keep low profile dan banyak membaca sebagai tambahan referensi buat kita untuk melangkah lebih maju. Banyak sekali buku-buku bagus yang bisa memberikan kita wawasan baru. Selain juga kita harus mengembangkan diri dengan cara tidak gampang menyerah. Terus dalami dan seriusi apa yang kita percayai baik bagi kita.
Inovasi-inovasi dalam charting pun perlu kita lakukan. Sampai kita benar-benar menemukan kondisi yang pas yang membuat kita lebih confident. Jangan sampai kita terjerat “Bull Trap” karena keterbatasan pengetahuan kita mengenai charting.
Kenali juga karakter masing-masing emiten. Cari emiten yang mudah kita pahami pergerakannya. Juga yang seringkali memberikan deviden bagi pemegang sahamnya.
Kita sebaiknya mengenal istilah-istilah dalam dunia saham. Ini akan membantu memudahkan kita apabila ada berita-berita penting di media massa atau bila kita sedang membaca sebuah artikel tentang saham. Sehingga kita bisa cepat tanggap dan segera melakukan tindakan yang perlu apabila berhubungan dengan saham yang kita punyai.
Great Depression 2008

Resesi ekonomi besar-besaran terjadi sepanjang tahun 2008. Pemicu awal resesi dunia ini terjadi sejak kredit macet Subprime Mortgage di Amerika Serikat. Subprime Mortgage adalah kredit perumahan rakyat di USA yang sangat dipermudah oleh pemerintah setempat untuk mendapatkannya. Jutaan rumah diperoleh dengan cara kredit. Kesalahan utamanya adalah pemberian kredit itu tanpa menghiraukan kemampuan masing-masing individu untuk mencicil kredit. Masyarakat kelas bawah yang gajinya tidak memenuhi syarat pun diberikan kredit. Akibatnya, saat ada masalah masyarakat tidak mampu lagi mencicil karena berbagai alasan, foreclosue atau penyitaan rumah diberlakukan. Ada jutaan kasus seperti ini terjadi. Sehingga kredit macet ini berkembang kemana-mana. Pihak bank pemberi pinjaman akhirnya kolaps and berujung kebangkrutan. Lambat laun masalah di sector keuangan ini merembet ke masalah lain yang menambah rumitnya masalah. Banyaknya pengangguran menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Ditambah lagi saat itu harga minyak yang sangat tinggi mendekati 150 dollar per barrel.
Angka inflasi tinggi. Produsen di semua sector mengalami masalah. Karena supply dan demand yang tak seimbang, akhirnya perusahaan banyak yang melakukan PHK masal. Juga banyak perusahaan yang tutup karena mengalami kesulitan keuangan dan kredit. Bank-bank pun kesulitan dana. Arus barang export dan import otomatis kena efek negatifnya. Hali ini yang mengakibatkan arus perdagangan antar negara pun sangat terganggu. Negara lain mengalami hal yang sama akibat efek domino, cash flow dan juga terjadi PHK masal. Masalah ini seperti virus yang menjalar dengan cepat kemana-mana. Indeks gabungan di seluruh dunia terjun bebas. Para petinggi ekonomi dunia seperti kehilangan akal harus bagaimana mengatasi krisis ini.
Hal-hal yang terjadi:
- Saat masalah suprime mortgage muncul ke permukaan, harga minyak naik tak terkendali sampai mendekati 150 dollar per barrel.
- Harga-harga merangkak naik, banyak negara naikkan harga minyaknya. Indonesia menaikkan premium dari Rp. 4.500 menjadi Rp. 6.000 per liter.
- Inflasi tinggi, indeks gabungan terjun bebas.
- Cash flow perusahaan terganggu, banyak PHK masal.
- Harga saham terus turun tanpa ada yang tahu bottomnya.
- Bank-bank central pada menyuntikkan dana untuk bail-out, tapi seperti menggarami lautan, tidak ada efeknya.
- Banyak perusahaan yang tutup / bankrupt, terutama perusahaan finance USA.
- Setelah daya beli masyarakat menurun, harga komoditi seperti minyak turun (dari 148 dpb ke 54 dpb) dan metal juga anjlok karena tidak ada demand.
- Harga property pun jatuh, banyak yang menghindari atau membatalkan beli property. Juga bank pemberi kredit untuk property mengetatkan kreditnya.
- Pembangunan infrastructure macet.
- Bank-bank sentral memotong interest rate dengan significant, supaya tetap ada aliran kredit dan perdagangan.
- Rupiah anjlok versus US dollar. Rupiah seperti susah dikontrol, jatuh dari harga 9.000-an sampai sekitar 12.000 per dollar.
- Sangat riskan bagi perusahaan dalam negeri yang mempunyai hutang dalam US dollar, karena hutangnya jadi berlipat.
- Dollar menguat versus mata uang di dunia, akibatnya demand terhadap komoditi (minyak, metal, dll) semakin pun turun, karena pembelian dengan US dollar semakin menjadi beban.
- Demand terhadap kebutuhan yang lain ikut turun tajam, seperti pembelian mobil, electronic items, computer, perhiasan, dll.
- Banyak perusahaan mengurangi target, mengurangi produksi atau bahkan tutup untuk sementara.
- Jarang ada berita M&A (Merger & Accuisition) antar perusahaan.
- Sampai-sampai pada pemilu di USA 04 Nov.08, pertama kalinya Barrack Obama, warga kulit hitam memenangi pemilu, karena president incumbent George Bush dianggap gagal mengatasi masalah ekonomi.
- Untuk mengamankan pasar saham dari gejolak, BEI merubah Auto Rejection dari yang semula simetris 35% menjadi simetris 10%, dan kemudian dirubah lagi menjadi asimetris bawah 10% dan atas 20%. Langkah ini cukup efektif.
- Banyak emiten yang mengalami auto reject bawah berturut-turut. Tak peduli lagi dengan laporan keuangan atau keuntungan perusahaan, semua panik.
- Short Selling menjadi sesuatu yang haram di berbagai belahan dunia, yang dianggap menjadi penyebab runtuhnya pasar saham.
- Untuk menjaga rupiah, BI mengetatkan aturan pembelian US dollar. Maksimum pembelian individu dalam sebulan adalah USD 100.000. Itupun harus memberikan alasan yang jelas kepada pihak bank dan dengan menunjukkan NPWP.
- Indeks Dow Jones fluktuatif dan sangat volatile seperti kehilangan arah. Dalam sehari pedagangan bisa turun ke teritori negative minus 300 point tapi kemudian naik lagi ke teritori positif 575 point (13-Nov.08). Bahkan juga sering terjadi sebaliknya.


Wisdoms

 Patience is virtue, kesabaran adalah suatu yang bijak.
 Tidak ada saham yang bagus atau saham yang jelek, yang ada ialah saham yang uptrend dan saham yang downtrend.
 Kehidupan bukanlah jalan untuk menemukan jatidiri, tapi untuk menciptakan jatidiri.
 Kebanyakan orang tidak begitu senang apabila diberitahu bahwa sekarang adalah “Bull Market” atau sekarang adalah “Bear Market”. Yang mereka ingin tahu adalah saham mana yang layak dibeli atau saham mana yang layak dijual.
Mereka inginkan sesuatu yang sia-sia, tidak mau bekerja, berpikirpun tidak.
 Investasi tanpa adanya riset, ibarat orang main kartu tanpa melihat kartu-kartunya.
 Lakukan semua kesalahanmu saat masih muda. Kecil kesalahan di hari kemudian.

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

April 2011

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi