« Awal Adalah Akhir | Depan | Sangkan Paraning Dumadi »

Manunggaling Kawula Gusti

Aku ini adalah diriMu
Jiwa ini adalah jiwaMu

Rindu ini adalah rinduMu
Darah ini adalah darahMu

itu katanya syair Dewa

Coba kita kembali ke Layer 0

Bagian manakah dari dirimu yang bukan dariNya?

Tapi jangan kotori Nur Ilahi dengan bejatnya nafsumu

Karna itu sucikanlah,
dan tegapkan langkah,
untuk menuju status,
Manunggaling Kawula Gusti

64 Komentar

DHANI R pada December 15, 2006 4:06 PM menulis:

TIDAK AKAN MENGENAL ALLAH SEBELUM MENGENAL DIRINYA SENDIRI, MARILAH KITA SEMUA MENGAJI DIRI AGAR KITA DAPAT MENJADI MANUSIA SEJATI DAN SAMPAI KEPADANYA

Aryo: Ya, karena pada hakekatnya, kita juga berasal dari Alloh

Balas Komentar Ini
Asep Awaludin pada March 21, 2007 2:06 PM menulis:

saya sngt se7 sekali atas komentar dhani,sesungguhnya manusia secara hakikatnya tercipta nur nabi MUHAMMAD sedangkan nur itu berasal dari ALLAH SWT sendiri.hal dpt diperkuat dari hadits nabi"ana ahmadu bilamim"itu artinya ahad,jadi jasad manusia terdpt Tuhan,untuk mengenaliNYA kita harus mengenali diri sendiri..

Balas Komentar Ini
Adit pada April 11, 2007 3:20 AM menulis:

Memang apa yg dikomentari dani adalah benar adanya.Tapi cara dan metode adalah yang terpenting.Semua tahu tentang wacana tersebut,dan yang menjadi pertanyaan apakah bisa kita melaksanakan hal tersebut..bagaimana cara mengenal diri kita...? dan apakah cukup kita hanya mengenal diri kita..?

Aryo:
Mungkin ketidakcukupan itu akan terjawab setelah kita mengenal diri kita?

Balas Komentar Ini
crow pada April 27, 2007 1:36 AM menulis:

kalo wes manunggal ya fana, hakekatnya semuanya sama , semuaanya ya satu kesatuan, ga ada baik , buruk , kaya , miskin, wali , penjahat , semua mahluk manunggal dengan gusti allah, yang beda cuma ada yang sadar kalo dirinya manunggal, ada pula yang ga sadar, hakikatnya, ya nikmati aja hidup ini selama kamu enjoy, besok kalo dah mati yo balik ke yang maha tunggal,

Balas Komentar Ini
ryanu13 pada May 7, 2007 9:15 AM menulis:

WaALLAHI Bathinul insan,al insanu Dhahirullah....bukti adanya kamu itu adalh bukti adanya AKU.

Balas Komentar Ini
grandy pada May 8, 2007 8:36 AM menulis:

Allah dekat dengan kita lebih dekat daripada urat nadi berarti allah ada dalam diri kita
Allah ada dimana-mana berarti dimana pun tempatnya pasti ada allah
Allah maha esa berarti allah hanya ada satu, tunggal
lalu bagaimanakah konteks sesungguhnya allah?untuk siapakah dia?

Balas Komentar Ini
Darwis pada June 15, 2007 8:04 PM menulis:

boleh-boleh saja untuk karya dhani itu, tapi apa nggak terlalu vulgar? bagaimana dengan mereka orang-orang awam? apa nantinya mereka malah nggak salah tafsir? kalo salah tafsir kan bisa bahaya...

Aryo:
Iya, harus ada tahapannya

Balas Komentar Ini
Mugiono Nugroho pada June 22, 2007 2:37 PM menulis:

memang benar kita harus tau ilmu hakikat, karna jika syariat tanpa hakikat itu kosong tetapi jika hanya hakikat saja tanpa syariat itu adalah cela/sombong.
mari tetap tegakkan syariat
save our aqidah

Balas Komentar Ini
hadi waseso pada August 13, 2007 7:39 AM menulis:

betul semua akan kembali kepadaNya, baik yg baik maupun yg jahat. Tp ingat proses kembalinya tidaklah sama antara yg baik dan jahat. Mnrt saya, reinkarnasi itu ada. Sy ambil referensi atas dasar kepahaman sendiri dr al-quran surat 79 ayat 1-14 (msh banyak lainnya) disitu bgmn malaikat menyabut nyawa, ada yg umurnya tepat waktu, ada yg diperpanjang ada pula yg dipendekin. Insya Alloh.

Balas Komentar Ini
Purwanto pada September 28, 2007 2:06 PM menulis:

Saya jadi tertarik dengan apa yang dipermasalahkan dari seorang syekh siti jenar. Kebenarannya seperti apa ? dari sekian banyaknya informasi yang beredar selalu saja ndak ada yang sama plek, malah jadi membingungkan...syukur2x ada keturunan syekh yang akan bicara mengenai kebenarannya

Balas Komentar Ini
Purwanto pada September 28, 2007 2:06 PM menulis:

Saya jadi tertarik dengan apa yang dipermasalahkan dari seorang syekh siti jenar. Kebenarannya seperti apa ? dari sekian banyaknya informasi yang beredar selalu saja ndak ada yang sama plek, malah jadi membingungkan...syukur2x ada keturunan syekh yang akan bicara mengenai kebenarannya

Balas Komentar Ini
tohari pada October 5, 2007 3:34 PM menulis:

alam semesta beserta isinya,langit bumi semua ciptaan Alloh,Dia menciptakan dan menyatu ke dalam 'semua makhluk',Maha Suci Alloh,hanya hati yg suci yg dapat merasakan-Nya,hanya hati yg ikhlas yg dapat mencapai ridhlonya,dunia terlalu buruk tuk d perjuangkan,tetapi indah jika dpt memetik ayat-ayat..

Balas Komentar Ini
chakrabhairawa pada October 12, 2007 9:10 AM menulis:

AKU BERKEHENDAK, AKU ADA
Aku adalah TUHAN bagi diriku, Perjalanan hidupkulah AGAMA-ku, Masa lalu adalah KITAB SUCI-ku, Leluhurkulah para NABI-ku, Caraku menjalani hidup adalah IBADAH-ku, Dimana Aku hidup itulah TANAH SUCI-ku, dan Aku beriman hanya pada KEHENDAKKU.....

Balas Komentar Ini
DANI KR pada November 7, 2007 1:10 PM menulis:

kalo anda pengen tau caranya kijab anda harus terbuka kalo anda hanya memakai akal tidak mungkin bisa, sepintar apapun manusia selama masih sebatas akal fikiran tidak mungkin menjangkauNya, anda kan percaya TUHAN YANG SATU ADA DI MANA2. Saya sama bodohnya dengan anda jadi maaf sebelumnya saya tidak ada maksud apa2 dan saya hanya saling mengisi dan tdk ingin berdebat.... mungkin lebih baik lewat email. BACALAH DIRI SENDIRI, itu pesan saya, jangan se kali2 membaca orang lain. AL qiro'anna

Balas Komentar Ini
Pulanggeni Galing Wijaya pada November 22, 2007 2:53 PM menulis:

Manunggaling kawulagusti itu adalah salah satu cara/ilmu untuk mencari jati diri aku dan sang penciptaku,..selain itu harus lebih diperdalam dan ditinggikan wawasannya bahwa makna rahasia kita sebelum ada, diciptakan ada dan setelah ada ini,pasti sang pencipta punya maksud dan kebutuhan, apa itu ? kalau kamu sudah tahu maknamu jadi ada maka kamu akan tahu maknanya jadi adanya semua ini....sebab sang penciptamu dan sang pencipta semuanya tidak pernah membatasi rasa ingin tahu rahasia kahanan gumelar tanpa batas ini selama manusia punya cita - cita bermakna baik dan belajar tanpa batas...

Balas Komentar Ini
aswar pada December 6, 2007 12:49 AM menulis:

sesungguhnya sejatinya diri kita adalah gusti allah...!!!?? "Allah Nur langit dan bumu...."(Ar-Rum 30). Yang awal dan wajib bagi setiap hamba adalah mengenal Allah dengan sebenar-benarnya mengenal..
Kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal Gusti Allah...

Balas Komentar Ini
Pramono pada December 6, 2007 3:48 PM menulis:

Allah maha meliputi segalanya; baik-buruk, mu'min-kufur, siang-malam, bumi-langit .. semua diliputiNYA. Tiada yg lepas dari kuasaNYA. Allah ada di dalam setiap kita & makhlukNYA..disetiap molekul, atom bahkan intinya, ada Allah .. sehingga logikanya, setiap makhlukpun ada didalam DIA.

Balas Komentar Ini
Pramono pada December 6, 2007 4:06 PM menulis:

Manunggaling Kawula Gusti (Tauhidul wujud), adalah bentuk totalitas penyerahan diri dari setiap makhluk (kawula) kepada tuhannya. Shg.. saat mendengar dgn telingaNYA, melihat dgn mataNYA, begitu juga setiap langkah gerak dan pikirnya adalah karenaNYA.

Balas Komentar Ini
iswahyudi pada December 31, 2007 5:49 PM menulis:

Aku Allah
kamu allah
Dia Allah
Kita Allah
Kalian Allah
Semua adalah Allah.
Inilah paham tauhid yang ditawarkan oleh Allhallaj dan Syeikh siti jenar. Paham ini sangat revolusioner. Kelompok agama pro kemapanan menghukumi sesat terhadap paham ini. Pelan2 tapi pasti ia akan menguasai dunia dan membuat perdamaian. Ketika paham ini berkuasa kiamat akan datang. Kiamat bagi para agamawan yang menggunakan agama untuk kekuasaan duniawi.

Al hallaj dan Syeikh siti jenar membuat kemasan baru untuk meneruskan misinya. Sebagai paham tauhid yang terakhir.

Balas Komentar Ini
wahyu pada January 5, 2008 10:40 PM menulis:

menurut saya Manunggaling kawula gusti artinya adalah menyatunya antara sifat manusia dengan sifat Tuhannya yang merupakan manifestasi perwujudan tunggal dari sebuah substansi kebendaan.

Balas Komentar Ini
anwar pada January 9, 2008 8:22 PM menulis:

ada empat ilmu tertinggi, tauhid,penyatuan, perjumpaan,dan perpisahan.ada yang mengerti?

Balas Komentar Ini
anwar pada January 9, 2008 8:35 PM menulis:

Ada empat ilmu tertinggi, tauhid, penyatuan, perjumpaan, perpisahan. Ada yang mengerti?. Kata-kata ini mengandung teka-teki!.

Balas Komentar Ini
Abu Syaffa pada January 14, 2008 1:10 PM menulis:

Hati-hati kawanku, jangan sampai salah menyembah walaupun anda merasa telah kasyaf...hati-hati dengan "merasa", jangan sampai terpeleset. salam.

Balas Komentar Ini
NAWAWI pada January 21, 2008 11:23 PM menulis:

ALLOH TAALA itu DZAT SIFAT ASMA AF'AL. MUHAMMAD itu Wujud Ilmu Nur Syuhud. ADAM itu Bumi api air angin. Lha saya ini Air mani madzi wadi maningkem.

Aryo:
weh, ngelu aku.

Balas Komentar Ini
Ken Wong Ateleng pada February 10, 2008 7:42 PM menulis:

Untuk dapat memahami makna manunggaling kawula gusti maka kita harus tahu sangkan paraning dumadi dan untuk memahami sangkan paraning dumadi maka kita harus mengerti dan melaksanakan hak dan kewajiban kita dan untuk mengerti tentang semua itu leburkanlah jiwa raga dan ruh kita ke dalam semesta alam ini

Aryo:
simple, tapi berat :p

Balas Komentar Ini
piyantun dusun pada February 25, 2008 5:13 AM menulis:

saya bodoh klo ad yang merasa pintar jangan lah kmu menggurui yang lain tetapi jadikan kepintaran mu untuk mengaja umat taqoruban illah..........
salam

Balas Komentar Ini
efsilon muchjin pada March 1, 2008 5:56 PM menulis:

dengan MKG ini kita dapat menyatu dgn Allah (menghadirkan Allah dalam diri kita) namun utk menghadirkan Dia kalau kita masih ada delusi tdk akan bisa

Balas Komentar Ini
aswar pada March 3, 2008 7:51 PM menulis:

punten banget... saya jadi Ngga ngerti Gusti Allah???? Apasih yang dimaksud Zat, sifat

Balas Komentar Ini
hendra pada March 17, 2008 3:28 PM menulis:

tuhan menjawab shaolat itu bukan untuk aq, zakat itu bukan untuk aq... yg aq mau... kembalikan hak milik q.

tolong jelas kan apa mksd dari kata itu ?? soalnya saya pernah mendengar ???

trmkasih

Balas Komentar Ini
mardiyanto pada March 22, 2008 11:46 AM menulis:

konsep manunggaling kawula gusti menurut saya begini' kawula disini adalah batur [ pembantu ] dan gusti adalah majikan ,jadi begini kalau kita tidak pernah berusaha utk lebih baik kita tak akan pernah jadi gusti sebaliknya gusti kalau bermalas - malasan akan jadi kawula , and than haruslah kita menyadari bahwa kita manusia mempunyai sifat kawula dan gusti semestinya kita dapat mempersatukannya untuk jelasnya marilah kita berkaca pada diri kita masing - masing
[DHELOK GITHOKE DEWE-DEWE]!!!!!

Balas Komentar Ini
noto pada March 22, 2008 8:24 PM menulis:

wah.. aku malah ndak ngerti..

Balas Komentar Ini
piyantun dusun pada March 26, 2008 1:39 AM menulis:

maaf bagi yang belum mengerti jangan dipaksakan karena sesungguhnya kadar manusia itu dan fungsinya berbeda pula tapi tetap yakin lah kamu suatu saat nanti kamu akan merasakan seperti apa yang mereka rasakan barang siapa mencari niscaya akan diketemukan amiiiiiiiiiiin

Balas Komentar Ini
Samiaji pada March 29, 2008 10:12 PM menulis:

Salam

Saya sangat bahagia karena bisa bergabung dengan saudara sejalan dan sepengertian, yang berarti tau jalan asal dan usul, mengerti akan makna hidup dan kehidupan. menjadi perekat dan semoga bisa memayu hayuning bawana. Amin.

Balas Komentar Ini
whong pada April 1, 2008 11:19 PM menulis:

Dibuat mudah saja,Manunggaling kawula gusti itu suatu kewajiban untuk dijalani sesuai dengan kekuatan kadarnya, hidayahnya bagi: "sosok manusia dewasa".
Mengapa demikian.......?
Coba direnungkan asal-usul kita ini (bagi yang udah punyak anak). Coba lihat anak kita yg masih jabang bayi, seakan ada dua sosok tua dan sosok muda.
Badan bayi.....bagaikan manusia muda yang ringkih badannya, tidak bisa berpikir, dan bahkan seakan awam tentang dunia.Coba lihat pandangan matanya yang berbeda cara pandang manusia dewasa.
Namun.... seakan ada kekuatan lainnya...yang menuntun sang jabang bayi..agar lebih beradaptasi dilingkungan dunia barunya.....orang menyebutnya naluri...

Tapi naluri itu sebenarnya adalah kekuatan tuhan sang pencipta alam yang terikut dalam sang jabang bayi (bukan Tuhan sebenarnya).

Jadi....itu yang disebut Gusti....yaitu tuannya sang jabang bayi. Disebut tuan karena lebih tua keberadaannya....dan juga sebagai penuntun dikala sang jabang bayi masih ringkih.

Disini ada istilah tua dan muda,tua itu yang kekuatan tuhan yg menuntun bayi disebut Gusti.Muda itu adalah bayi + pikiran sang bayi, yg masih muda, dan harus tunduk kepada tuannya. kalau tidak tunduk maka akan cepat mati bayi tsb. Kita sebut sebagai Kawula.....karena harus tunduk.

Nah.....manakala sang bayi beranjak baliq....pikiran akan menguasai badan bayi....kebohongan, pengingkaran...akan mulai mewarnai setiap jengkal hidupnya.....artinya mulai lupa diri.......dan tidak mengenal sang tuan yang telah melindunginya.....menjaganya......mengayominya.....

Kita melupakannya........adalah laknat yang akan didapat......

Oleh karena itu terus wajib untuk tunduk kembali kepada tuannya atas kesadaran pikirannya. Beda dengan bayi tunduk pada tuannya, karena tidak atas kesadaran pikirannya.

Untuk kembali tunduk diperlukan proses menghamba kepada tuannya (bukan Tuhan ya), melalui lelaku, entah agama, entah cara-cara yang lainnya.

Yang artinya lelaku yang menuju pengenalan diri yaitu hamba dan tuan..........

Hasilnya adalah manusia yang menjalankan : MANUNGGAL ING KAWULA GUSTI...... yaitu menyatu dalam kahanan kawula dan gustinya.

Selanjutnya akan dapat dengan mudah mengenal dat (buka fisik) Tuhan (Allah)......dijawa mengatakan Gusti Allah (beda dengan Gusti)......

Jadi hal itu, bukan pengakuan/penyatuan sebagai/dengan allah atau tuhan..........Salah besar itu.

Dan pada akhirnya akan menjalani lelaku kesucian dalam setiap jengkal kehidupannya.

Trims

Balas Komentar Ini
Bavo pada April 12, 2008 3:05 PM menulis:

Manunggaling kawulo gusti adalah merupakan puncak ngelmu kabatinan. Manungso yang sudah sampai taraf ini dalam penampilan , ucapan dan tindakannya bersumber pada kebenaran illahi, sehingga mampu mencerminkan Gusti Yang Maha Luhur. Dalam dia terlihat kemuliaan Tuhan (Gusti), tetapi dia bukan Tuhan, karena Tuhan ada dalam dia . Orang yang sudah sampai pada taraf ini hidupnya sudah melampaui pengaruh ayat-ayat kitab suci, agama , nabi apalagi hanya kekuasaan duniawi (harta, kekuasaan, kehormatan) yang dia sembah hanya Gusti Allah Pencipta Langit dan Bumi menyembah selain Dia ( ayat-ayat kitab suci, agama , nabi apalagi hanya kekuasaan duniawi (harta, kekuasaan, kehormatan)adalah menyembah berhala (kafir).

Balas Komentar Ini
Noviyanto pada April 13, 2008 11:14 AM menulis:

saya setuju dengan pendapat mas Bavo.....

Balas Komentar Ini
Cendoll pada April 19, 2008 10:46 AM menulis:

manunggaling kawula gusti, menurut saya adalh suatu ajaran yg benar...akn ttp bergantung pd tiap orang dlm mengaplikasikannya

Balas Komentar Ini
yanuar pada April 22, 2008 5:44 PM menulis:

ternyata inilah kolom yang selama ini aku cari-cari. seperti yang dikatakan syeh abdul qodir jaelani... terbanglah menuju ilmu hakikat dengan sayap kanan al quran dan sayap kiri al hadist, karena barang siapa meninggalkan syariat, maka itu adalah kebohongan dari syetan.

Balas Komentar Ini
shiro pada April 28, 2008 1:31 AM menulis:

mari kita berdoa "pada saat ini kita yakin bahwa pada kita terdapat suatu badan sukma dari tiupan ilahi, yang hanya mengenal; kebahagian dan selalu indah.
kita adalah satu kesatuan dari yang Esa maka dari itu segala apa yang kita perlukan sekarang dan seterusnya akan diberikan kepada kita"

ideal tuhan mencipta adalah manunggal dengan mahluknya, semua tergantung dari apa yang kita pikirkan dan kita harapkan, disitulah jati diri manusia.

disinilah menjadi "manusia sempurna"

Balas Komentar Ini
Abdullah pada May 13, 2008 2:53 PM menulis:

Manunggal dalam artian Apa??
Mesti tahu
Maunggal iku uwake banget
iso dengan Asma'
sifat
dzat
Manuggal dalam penyaksiannya??
atau?? apa???
Bingung kang ????
Aku wong cilek.

Aryo:
Sing wong gede kuwi SBY


Balas Komentar Ini
Anto pada May 28, 2008 7:38 PM menulis:

Dilihat dari ilmu kebahasaan, Manunggaling Kawula Gusti itu sama dengan Rasulullah. Kata "Rasulullah" itu, tergolong kata majemuk, karena terdiri dari 2 kata yang kalau pun dipisah, 2 kata tersebut masih tetap akan punya arti sendiri-sendiri yang mandiri, tidak perlu digabung dengan kata-kata lainnya. Kalau proses "penggabungan" 2 kata dalam kata majemuk kita sebut dengan "menyatukan" atau "memanunggalkan", maka Manunggaling Kawula Gusti, memang bisa kita sepadankan dengan, "penyatuan", "penggabungan", atau "pemanunggalan" dari kata "Rasul" dan kata "Allah" dalam kata majemuk "Rasulullah" yang ada pada kalimat kedua syahadat. Karena kata majemuk itu menunjuk pada "sesuatu" yang baru, dan bukan semata penggabungan dari 2 hal, maka kata "Rasulullah" juga menunjuk kepada sesuatu yang baru, yang bukan hanya rasul, juga bukan hanya Allah. Tapi, merujuk pada hasil penggabungan antara keduanya. Makanya, Rasulullah itu bukan Muhammad dan bukan pula Allah, tetapi sesuatu yang muncul, akibat dari penggabungan keduanya. Kalau Muhammad Bin Abdullah yang manusia itu juga tidak bisa disebut sebagai Allah, maka kita, yang manusia pun tidak sepatutnya menyatakan diri sebagai Allah. Apalagi, Kalau kita menyatakan bahwa Allah memanifestasikan dirinya dalam diri kita. Bagaimana mungkin, sesuatu yang Maha Besar bisa memanifestasi dalam sesuatu yang kecil dan penuh keterbatasan seperti kita. Sekali lagi, kita (manusia) bukan Allah. Allah pun tidak memanifestasikan diri-Nya dalam diri kita. Mungkin, hal yang paling logis adalah bukan Allah, dalam dzat-Nya yang bermanisfes dalam diri kita. Yang bermanifestasi dalam diri kita itu hanyalah atributnya-Nya saja.Karena hanya altribut-Nya saja, maka, sekali lagi nggak patut kita menyatakan bahwa diri kita adalah Allah.Apalagi, Nabi Muhammad pun hanya menyatakan dirinya sebagai Rasulullah saja dan bukan Allah itu sendiri.
"Hanya Allah lah yang mengetahui yang sebenarnya. Sedang kita hanya pandai memperselisihkannya saja".

Balas Komentar Ini
Wong Aneh pada May 29, 2008 10:40 PM menulis:

Kalau udah mengenal tuhan/ manunggaling kawula gusti,, pasti gak mau lagi berdebat, banyak bicara yang gak perlu tentang tuhan.. benar gak??? he.he.he..

Balas Komentar Ini
DHANI R pada June 3, 2008 8:32 AM menulis:

Sebenarnya ilmu itu terbagi tiga, pertama ilmu untuk umum yaitu ilmu yang memang harus disebarkan kepada khalayak demi mengetahui benar atau salah sesuatu, kedua ilmu yang dicari yaitu ilmu yang seseorang harus mencari karena keinginannya sendiri, seperti seorang sarjana hukum yang darus dicari yaitu ilmu hukum, dan yang ketiga yaitu ilmu yang dirahasiakaa yang berarti bahwa seseorang yang telah mengetahui benardan salah haruslah mencari ilmu yang sebernarnya sehingga apa yang telah dirahasiakan dapat terungkap dan menjadi kebaikan untuk dirinya maupun umat, manungggaling kawula gusti adalah proses untuk meraih ilmu yang dirahasiakan agar manusia dapat menjadi manusia seutuhnya, wslm

Balas Komentar Ini
DHANI R pada June 3, 2008 8:32 AM menulis:

Sebenarnya ilmu itu terbagi tiga, pertama ilmu untuk umum yaitu ilmu yang memang harus disebarkan kepada khalayak demi mengetahui benar atau salah sesuatu, kedua ilmu yang dicari yaitu ilmu yang seseorang harus mencari karena keinginannya sendiri, seperti seorang sarjana hukum yang darus dicari yaitu ilmu hukum, dan yang ketiga yaitu ilmu yang dirahasiakaa yang berarti bahwa seseorang yang telah mengetahui benardan salah haruslah mencari ilmu yang sebernarnya sehingga apa yang telah dirahasiakan dapat terungkap dan menjadi kebaikan untuk dirinya maupun umat, manungggaling kawula gusti adalah proses untuk meraih ilmu yang dirahasiakan agar manusia dapat menjadi manusia seutuhnya, wslm

Balas Komentar Ini
DHANI R pada June 3, 2008 8:42 AM menulis:

Sebenarnya ilmu itu terbagi tiga, pertama ilmu untuk umum yaitu ilmu yang memang harus disebarkan kepada khalayak demi mengetahui benar atau salah sesuatu, kedua ilmu yang dicari yaitu ilmu yang seseorang harus mencari karena keinginannya sendiri, seperti seorang sarjana hukum yang darus dicari yaitu ilmu hukum, dan yang ketiga yaitu ilmu yang dirahasiakaa yang berarti bahwa seseorang yang telah mengetahui benardan salah haruslah mencari ilmu yang sebernarnya sehingga apa yang telah dirahasiakan dapat terungkap dan menjadi kebaikan untuk dirinya maupun umat, manungggaling kawula gusti adalah proses untuk meraih ilmu yang dirahasiakan agar manusia dapat menjadi manusia seutuhnya, wslm

Balas Komentar Ini
Mbah Jogo pada June 10, 2008 11:57 AM menulis:

buat diriku yang pelupa :

Perbedaan itu Rahmat.
Perdebatan tanpa iman itu sesat.
Wacana itu ilmu.


Syariat Ilmu adalah Sarana baginya
Hakikat Ilmu untuk menjaga dirinya
Makrifat Ilmu bisa menyelamatkan Dunia dan Akhiratnya.

Tidak ada Ilmu yang salah.
Salah dan benar akan timbul karena perbedaan cara mensikapinya dan mengartikannya.
Karena salah dan benar itu milik Allah Yang Maha Tahu. sebagai pemisah dihari pembalasan.
hai sang pelupa ! renungkan.

Balas Komentar Ini
Mustafid pada June 17, 2008 1:12 PM menulis:

Hamba Manunggal dengan Tuhan?

Oleh KH. A. Nawawi Abd. Djalil*

Baru-baru ini Masyayikh, Habaib dan Syuriah PCNU se-Pasuruan Raya (Bangil, Kota dan Kabupaten Pasuruan) mengeluarkan Maklumat Bersama mengenai seruan dan upaya yang harus dilakukan dalam rangka menyelamatkan masyarakat dari penyalahgunaan pemahaman akidah wahdah al-wujud yang juga sering dikenal dengan istilah manunggaling kawula gusti. Bagaimana sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menjelaskan mengenai konsep tersebut?

Ketahuilah, mustahil Allah SWT manunggal dengan makhluk-Nya. Begitu pula mustahil Allah SWT bersemayam pada salah satu makhluk-Nya. Dua hal ini tidak bisa diterima oleh nalar sehat, baik dalam lingkup betul-betul terjadi atau hanya sekedar mungkin terjadi.

Imam al-Rāzi dalam al-Muhasshal fi Ushūl al-Dīn mengatakan: “Sebuah persoalan penting: Maha Pencipta tidak menyatu dengan yang lain. Sebab, dua hal yang menyatu, bila keduanya masih sama-sama ada maka berarti ada dua hal bukan satu. Bila keduanya sama-sama tidak ada maka tidak menyatu, tapi yang terjadi adalah hal lain. Bila salah satunya tidak ada sedang yang satunya ada maka juga tidak bisa menyatu, sebab sesuatu yang tidak ada tidak bisa menyatu dengan sesuatu yang ada.

Pakar hukum terkemuka, Abū al-Hasan al-Mawardi, dalam al-Hāwī al-Kabīr, dalam serangannya terhadap keyakinan orang-orang Nasrani yang menyatakan bahwa Allah menyatu dengan Nabi Isa, beliau berkata: Orang yang memiliki pandangan hulūl (inkarnasi Tuhan) atau ittihād (menya-tunya Tuhan-makhluk) tidak bisa disebut muslim secara syarīat, bahkan juga sudah tidak dinamakan muslim.

Tidak ada gunanya menyucikan Tuhan namun masih meyakini bahwa Tuhan bersemayam atau menyatu dengan makhluk-Nya. Klaim menyucikan Tuhan dengan cara semacam ini merupakan kekafiran. Bagaimana mungkin tauhid bisa dikatakan sah bila masih berkeyakinan bahwa Allah bersemayam pada makhluk (Isa a.s.) yang terlahir dari seorang Maryam.

Model persemayaman itu bisa berupa sifat yang bersemayam di benda. Dan, dengan demikian mereka berpandangan bahwa Tuhan berupa sifat. Bisa pula persemayaman berbentuk saling manyatunya berbagai benda. Dan, dengan demikian berarti Tuhan itu benda.

Bila Tuhan dikatakan bersemayam secara total, maka berarti Tuhan terbatas dalam sosok manusia serta berawal dan berakhir. Jika dikatakan hanya sebagian diri Tuhan saja yang bersemayam, maka berarti Tuhan itu terbagi-bagi atau menjadi unsur-unsur. Semuanya ini tidak benar dan kebohongan besar.

Al-Qādlī `Ayyādl dalam kitab al-Syifā menyatakan bahwa orang Islam sepakat menghukumi kafir para pengikut hulūl dan orang yang memiliki keyakinan bahwa Tuhan bersemayam pada seseorang seperti anggapan sebagian kaum “sufi”, kebatinan, Kristiani, dan Qarāmithah (sempalan kelompok Syiah).

Di bagian lain dalam kitab yang sama beliau juga menyatakan bahwa tidak dika-takan makrifat kepada Allah orang yang menyerupakan Allah dengan sesuatu yang lain atau menyifati bahwa Allah memiliki bentuk sebagaimana halnya orang-orang Yahudi. Begitu pula orang yang punya anggapan bahwa Allah bisa bersemayam, berpindah dan melebur dengan raga makh-luk sebagaimana ucapan orang-orang Kris-tiani.

Penjelasan al-Qādlī `Ayyādh dikutip oleh Imam an-Nawāwiy dalam Syarh Muslim.

Mengenai ayat:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masīh putera Maryam.” (QS: al-Mā’idah: 72)

Al-Baidlāwiy dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa ini adalah ucapan orang-orang keturunan Isrā’il (Ya`qūb) yang mengatakan bahwa Allah melebur pada makhluk-Nya.

Mengenai kelanjutan ayat tersebut:

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?” (QS al-Mā’I-dah: 74)

Al-Baidlawi menyatakan bahwa maksud ayat itu adalah “mengapa mereka tidak ber-taubat dengan cara berhenti dari akidah yang menyimpang itu dan memohon ampun kepada Allah dengan bertauhid yang benar dan menyucikan Allah dari “melebur” dan “bersemayam” setelah adanya pengakuan keesaan Allah dan peringatan keras dari Nabi Isa sendiri.

Syaikh `Izzuddīn ibn `Abd a-Salām dalam al-Qawā'id al-Kubrā menyatakan:

“Orang yang beranggapan bahwa Tuhan itu bersemayam pada salah satu tubuh manusia atau sesuatu yang lain maka dia adalah kafir. Sebab, dasar syarīat mentoleransi kelompok Mujassimah (paham personifikasi Tuhan) hanyalah karena kebiasaan masyarakat yang melakukan personifikasi Tuhan sebab nalar me-reka tidak menjangkau akan keberadaan sesuatu tanpa dimensi. Paham ini berbeda dengan hulūl (inkarnasi Tuhan). Paham ini tidak biasa dimiliki oleh masyarakat dan tidak terlintas dalam hati orang-orang bernalar sehat, maka tidak ada toleransi.

Mengomentari pernyataan Ibn `Abd al-Salām itu, Jalaluddīn al-Suyūthiy menga-takan:

“Maksud Ibn `Abd al-Salām adalah bahwa tidak ada khilāf (beda pendapat) tentang kafirnya aliran hulūl, sebagaimana khilāf dalam hal kafirnya aliran Mujassimah. Beliau memastikan kafirnya aliran hulūl secara ijmā` (tanpa khilāf), meskipun untuk kelompok Mujassimah masih ada khilāf.

Al-Hāfizh Abū Na`īm al-Ashbihāniy mengatakan pada bagian awal kitab al-Hilyah:

“Berikutnya, aku betul-betul memohon pertolongan kepada Allah SWT dan aku penuhi permintaan Anda untuk menulis kitab yang memuat (kisah) para tokoh-tokoh terkemuka dan imam kelompok sufi, berbagai lapisan ahli ibadah, serta tokoh yang menjadi kiblat mereka, sejak masa shahābat, tābi`īn, pasca tābi`īn dan generasi berikutnya yang memahami betul berbagai ajaran agama, hakikat, menyelami ahwāl (berbagai tingkatan yang dicapai sufi dalam pengembaraan batinnya) dan tarekat, dan para moralis dan tarekat yang benar. Juga para “penghuni taman” yang menjauhkan diri dari urusan berbau duniawi, tidak termasuk dalam kelompok yang suka bersilat lidah, melebih-lebihkan persoalan, suka mengklaim, mereka-reka, pemalas, orang-orang frustasi yang pakaian dan ucapannya berlagak ulama, tapi akidah dan perilakunya menyimpang. Hal itu penting, karena Anda telah mendengar pernyataan pedas kami dan para pakar fiqh dan atsār (pendapat para pendahulu) di berbagai wilayah dan kota perihal orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai kelompok sufi, padahal mereka adalah orang-orang fasik dan bejat, aliran Mubāshiyah dan hulūl yang kafir itu. Mencela dan mengingkari para pembohong tidaklah mengurangi kemuliaan orang-orang taat dan baik, tidak pula menurunkan ketinggian derajat orang-orang pilihan yang selalu berbuat kebajikan”.

Penulis Mi'yār al-Murīdīn berkomentar:

“Ketahuilah, sumber kekeliruan paham ittihād dan hulūl itu adalah faktor kebodohan mereka mengenai ajaran pokok (ushūl al-dīn) maupun ajaran detail agama (furū) dan kedang-kalan pengetahuan mereka. Nabi dan para ulama terdahulu memperingati agar kita waspada terhadap para ahli ibadah yang tak berilmu. Orang yang tidak memiliki ilmu lebih dahulu, maka segala perilaku dan ibadahnya tidak akan berhasil dan tidak sah.

Sahl al-Tustāriy mengatakan: “Hindarilah berteman dengan tiga macam orang: penguasa otoriter yang lalai, para pembaca Qur’an yang suka mencari muka, dan orang-orang “sufi” yang tak berilmu. Renungkan, jangan sampai terjatuh dalam kekeliruan, sebab agama ini jelas sekali”. Sahl juga berkata: “Ketahuilah, memang ada ulama menggunakan term ittihād, tapi yang dimaksud adalah hakikat tauhid. Ittihād dalam pandangan mereka itu adalah tauhid paling dalam. Tauhid adalah mengetahui Yang Maha Satu dan Maha Esa.

Hal ini yang kemudian dipahami secara salah oleh orang-orang yang tidak bisa menangkap maksud kata ittihād yang digu-nakan oleh ulama itu. Mereka meng-gunakan kata ittihād tersebut bukan pada makna yang semestinya. Akhirnya mereka sesat.

Al-Tustariy berpendapat bahwa bukti dari kebatilan paham kemanunggalan kawu-la-Gusti itu adalah bahwa menyatunya dua makhluk saja sudah tidak mungkin. Dua orang manusia tidak bisa yang satu menjadi yang lain karena esensi keduanya berbeda, sebagaimana sudah maklum. Apalagi antara manusia dan Tuhan, perbedaan esensinya jauh lebih besar (absolut). Jadi, paham ittihād itu adalah batil dan ditolak oleh syara`, nalar sehat dan budaya--berdasarkan ijma` para nabi, wali, tokoh-tokoh sufi, serta ulama dan umat Islam yang lain.

Ittihād bukanlah aliran kaum sufi. Yang meyakini ittihād hanyalah orang-orang eks-trem yang tidak memiliki cukup ilmu dan memiliki nasib yang jelek. Keyakinan me-reka itu mirip dengan orang-orang Nasrani (Kristiani) yang membuat opini batil bahwa unsur kemanusiaan Isa menyatu dengan unsur ketuhanan Allah.

Sedangkan orang-orang yang mendapat perlindungan dari Allah SWT mereka meno-lak paham ittihād dan hulūl tersebut, meskipun kata ittihād kadang mereka gunakan. Tapi yang mereka maksud dengan kata ittihād itu adalah menghapus keberadaan dirinya dan mengukuhkan keberadaan Allah SWT.

Al-Tustariy juga mengatakan bahwa kata ittihād kadang juga dipakai dalam arti sirnanya hal-hal yang tidak sesuai dan bertahannya hal-hal yang sesuai, sirnanya pengaruh duniawi dari diri dan bertahannya kerinduan terhadap urusan akhirat, musnahnya sifat-sifat tercela dan bertahannya sifat-sifat terpuji, lenyapnya keraguan dan bertahannya keyakinan, hilangnya kelalaian dan bertahannya dzikr, ingat Allah (bersambung).

* Penulis adalah Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan. Diadaptasi dari buku beliau berjudul Benteng Pertahakan Akidah (Penerbit Cipta, 2006)

Terlepas dari pandangan yang ada marilah kita bersama-sama berupaya ntuk mencoba memahami hakikat kita sebagai manusia untuk mencari kemakrifatan Tuhan. Marilah bermuhasabah...............
Perbedaan adalah rahmat!!!!!!!!!!
yang harus dijujung tinggi

Balas Komentar Ini
nDaplun pada June 25, 2008 10:53 AM menulis:

lare banyumas tumut gabung nggih? syariat, hakikat, tarikat, marifatullah nda bisa dipisahkan lho,, adanya cuma di jiwa dan hati yang luhur serta niat yang ikhlas karena Allah semata, manunggal dalam ketauhidan mungkin lebih paasss yo....

Aryo:
Hehehe, sip, setuju sekali


Balas Komentar Ini
Lukman pada July 1, 2008 9:41 PM menulis:

dear mas aryo,
dimana saya bisa dapatkan literatur atau buku ( kitab ) manunggaling kawula gusti ?

Balas Komentar Ini
Rd.Surangga Atmawijaya pada July 6, 2008 12:58 PM menulis:

Utamaning sarira puniki /
Angrawuhono jatining solat /
Sembah lawan pujine /
Jatining solat iku /
Dudu ngisa tuwin magerib /
Sembayang araneka /
Wenange puniko /
Lamun aranono solat /
Pan minangkan kekembanging solat daim /
Ingaran tata krama //
Endi inggaran sembah sejati /
Aja nembah yen tan katingalan /
Temahe kasor kulane /
Yen siro nora weruh /
Kang sinembah ing dunyo iki /
Kadi anulup kaga /
Punglune den sawur /
Manuke mangsa kenaa /
Awekasa amangeran adam sarpin /
Sembahe siyo-siyo //
Pangakbetine ingkang utami /
Nora lan waktu sasolahire /
Punika mangka sembahe /
Meneng muni piniko /
Sasolahe raganireki /
Tan simpang dadi sembah /
Tekeng wulunipun /
Tinja turas dadi sembah /
Iku ingaranan niyat kang sejati /
Puji tan papegatan /
Terjemahan :
Unggulnya diri itu mengetahui hakekat sholat / Sembah dan pujian / Solat yang sebenarnya bukan mengerjakan solat isa atau magerib / Itu namanya sembayang / apabila disebut solat / maka itu hanyalah hiasan dari solat daim/ hanyalah tata krama //
Manakah yang disebut solat sesungguhnya / janganlah menyembah kalo tidak tau yang disembah / akibatnya akan direndahkan martabat hidupmu / apabila engkau tidak mengetahui yang disembah didunia ini / engkau seperti menyupit burung / pelurunya disebar tapi tidak ada burung yang kena / akhirnya hanya menyembah adam sarpin / penyembahan yang tiada berguna //
Kebaktian yang unggul iu tidak mengenal waktu / semua tingkah lakunya itulah sembayangnya / diam, bicara, dan semua gerak-gerik badannya merupakan sembayang / hingga wudu, tinja dan kencingnya pun merupakan sembayang / itulah yang disebut niat sejati / pujian yang tak putus-putusnya //

Balas Komentar Ini
JPS soeroedjie Kepanjen pada July 8, 2008 12:37 AM menulis:

SIRRULLOH DZATULLOH SIFATILLOH WUJUDULLOH ASMA'ULLOH AF'ALULLOH Tetep langgeng tan kenane owah "Yg wajib bagi umat manusia pertama kali itu harus MA'RIFAT kpd ALLOH TA'ALA kemudian BERTAUHID Teruuuss namanya IMAN KpdNYA. Dan setelah itu baru Rukun iman yg lain kemudian rukun islamnya. JANGAN BICARA TAUHID Kalau blm MA'RIFAT sbb tanpa ma'rifat bagaimana akan bertauhid. MAN LAM YADZUQ LAM YA'RIF sopo sing durung ngrasa'no yo durung weruh. OJO KESUSU NYALAHNO LIYAN. Mugo2 sing durung weruh, diweruhno lan sing durung ngrasakno ndang diwehi iso ngrasakno AAAAAMIIIIIN.

Balas Komentar Ini
saunan pada July 23, 2008 5:02 PM menulis:

Hidup itu ber prosses,....
Syareat ~ Tarekat ~ Hakekat ~ Ma'rifat,..
Syahadat tanpa Iman ~ Sholat tanpa Tauhid ~ Wafat tanpa Ma'rifat,...
Belajar , belajar , belajar,..
Nikmati hidup ini apapun yg terjadi,..
Enjoy man , be cool,...
Always do the best,..

Balas Komentar Ini
sulis pada July 31, 2008 2:42 PM menulis:

Ketika manusia dalam menjalani hidupnya sudah bisa menyatakan bahwa segala yang dilakukannya sudah terungkapkan dalam makna ~ISI DI LUAR TANGGUNG JAWAB PERCETAKAN` maka manusia sudah kehilangan kemanusiaannya. Kehilangan kemanusiaan ini bisa menjadi dua arah yang kontroversial. Menjadai BIADAB Atau BERADAB. Biadab bila manusia tidak mengakui tanggung jawab. Beradab karena menghilangkan klaim eksistensi diri dalam segenap kehidupannya. Ikhlas hanya menjadi suruhan, hamba, wakil, utusan, dan penyampai yang amanah. Jadi Manunggaling kawulo Gusti bisa dikatakan bila manusia sudah mati. Manusia sebagai citra cetakan manifestasi Tuhan sudah tidak menyatakan eksistensi. semua BISMILLAH. MANUSIA SUDAH TIDAK MENCETAK NASIBNYA SENDIRI. Tapi nasibnya sudah diserahkan isinya kepada Sang Pencipta yang Maha KReatif membentuk karya kehidupan. MATI SAJRONING URIP. Yak`e.....wong yo isih podo ajare...

Balas Komentar Ini
MCOSHINODA pada August 12, 2008 8:35 PM menulis:

IMAM ALI BERKATAINTU ILMU ITU ADA DI MARIFATULLOH DI DALAM PENJABARAN:KALAMMULLOH,DZAT ASMA DAN SIFATNYA ITU ADALAH MANUSIA DICIPTAKAN SEBAGAI HAMBA DAN WAKILNYA DARI(MAHKLUK)SEISI ALAM INI DAN MANUSIA GAGAH DAN NALAR DALAM MENGHADAPI NAFSU YG ADA DI DALAM DIRINYA DAN TAUHIDNYA ITU DI AWAL DARI PONDASI SHADAT :NIAT,UCAPAN,PERBUATAN.YG PENTING DI PAKAI ILMUNYA."Sesungguhnya JIWA itu seperti KACA,sedangkan ILMU seperti LAMPU,dan HIKMAH ALLAH laksana MINYAKNYA.Bila LAMPU itu BERCAHAYA,maka anda HIDUP,Bila LAMPU menjadi GELAP,maka anda tergolong MATI."riwayat:SALAF"U"SHOLLEH DAN APA BILA KITA MENUJU KE "Tiadalah masa itu kecuali musim BUNGA bila musim BUNGA telah tiba maka datanglah pada ANDA suatu CAHAYA dan CAHAYA."riwayatSALAF)

Balas Komentar Ini
mualaf pada August 23, 2008 5:03 PM menulis:

sy megenal islam menemukan kata/arti/makna yg belum sy ketahui, dr seseorang yang biasanya disebut "kyai" (tidak sy sebutkan namanya) kata/arti/makna itu adalah manusia hidup hanya sekali, mati pun sekali maka dari itu maknai hidup dan mati, dengan sebenar-benarnya hidup dan mati, tlng yang tau beri penjelasan

Balas Komentar Ini
mantan kyai pada September 3, 2008 5:38 PM menulis:

wihdatul wujud???

Balas Komentar Ini
umar pada September 8, 2008 11:17 AM menulis:

Asslmkm.u saudaraku Rd.Surangga Atmawijaya.bgmankah laku yang yang harus ditempuh sesuai dengan uraian anda? kl berkenan mohon sharing lwt umar_mar78@yahoo.co.id

Balas Komentar Ini
budiono pada September 13, 2008 4:55 PM menulis:

Sholat untuk menyembah beribadah kepada_Nya bukan berarti menggerakkan anggota badan....karena sesungguhnya hati yang sholat...

Dzikir untuk menyebut nama_Nya bukan berarti menggerakkan bibir dan tangan.....karena sesungguhnya dzikir ada dalam hati....

semua apa yang Qta kerjakan tidak semestinya lewat jasmani.......gerakan2 itu hanya sebagai simbol........

sesungguhnya yang nyata dan benar adalah semua lewat hati...........

"MANUNGGALING KAWULA GUSTI"

Balas Komentar Ini
ad irawan pada September 15, 2008 4:16 PM menulis:

Ketenangan hati adalah segala-galanya.
Jadilah pahlawan bagi dirimu
Berjuang kehendak Nafsu
Kibarkan semangat jihat, membela kebenaran didalam hati
Musuhmu berada dalam dirimu
Semoga kita sekaku dilindungi olehnya
Amin…………….!!!!!!!

Balas Komentar Ini
fhyaqp pada September 16, 2008 10:59 PM menulis:

wlmauwvtbouucsbhvzthabtmdgpwid

Balas Komentar Ini
delta pada October 11, 2008 12:10 PM menulis:

Saya Orang Sunda Broo Ikut Gabung... Salam Bwat Semua Kawan Sejalan Kalo Bisa Mending Dibikin Forum Biar yang Awam Gag terlalu Bingung Bro...Aku deh yang register paling duluan..kasih kabar aja ya broo..

Balas Komentar Ini
Salik pada October 11, 2008 2:14 PM menulis:


Asal "Jakarta" kembali ke "Jakarta".........
gimana pulang ke "jakarta" tau "jakarta" jg belum...
jd tau dulu sama "jakarta"nya baru bisa pulang kampung ke "jakarta"..........
Tahapannya 1. kenal dulu ama "Jakarta"
2. akrab ama "Jakarta"
3. menyatu dg "Jakarta"

Itupun bagi orang yang ingin tau tanah kelahirannya,bagi yg ga pengen mgkn betah aja di perantauan...
Jadi yang paling pokok adalah merubah pola pikir kita tentang Tuhan,carilah dahulu pemahaman dengan memperhatikan diri dan alam semesta,dan tetapkan tujuan yg satu,sambil lihat, dengar dan rasakan pasti akan kau dapatkan sesuatu,jg terbelenggu oleh istilah/bahasa...bebaskan/merdekakan pikiran krn kebenaran hrs dibenarkan oleh diri seutuhnya bukan kata kyai/ortu/buku/kitab dll
contoh : di koran diberitakan bahwa api panas lalu kita datang ketempat adanya api tsb lalu kita menyaksikan wujud api itu setelah melihat lalu kita memegang api tsb dan terasa panasnya maka sempurnalah berita koran ttg api itu kpd diri kita ini...

semoga apa yang saya tulis ada gunanya utk yg lain,mohon kalo pendapat saya ada yg salah mohon diluruskan,krn saya masih pencari juga. Wassalam



Balas Komentar Ini
gunawan pada October 28, 2008 7:07 PM menulis:

syareat
tarekat
hakekat
marifat
marifatullah

huwallah
hu allah
allah hu

dari jasad ke muhammad
dari muhammad menuju ahmad
ahmad kembali kepada ahad
ahad adalah akhir untuk menuju ad

dzat kembali kpada dzatullah
sir kembali kpada sirullah
nur kembali kepada nurrullah

manunggaling kawulo gusti

Balas Komentar Ini
Nugraha Adi Pratama pada November 1, 2008 7:04 PM menulis:

Salam kenal Mas Aryo Sanjaya, saya tertarik dengan konsep Manunggalin Kawula Gusti ini tapi msh minim pengetahuan. Bisa minta tlg dijelaskan? email saya ngeblues@gmail.com. Terima kasih perhatiannya

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Random Ayat

Jadwal Sholat

Pencarian

Komentar Terbaru

November 2008

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30            

Kategori

Arsip

Technorati

Hitung Pasaran

Masukkan Tanggal:
(maaf sementara baru bisa format YYYY-mm-dd
misal: 2007-10-20)

Tinggalkan Pesan

Plurk

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper

Sindikasi