" /> Mahesa Jenar: May 2015 Archives

« November 2014 | Depan | June 2015 »

May 24, 2015

Perumpamaan Adzan Dengan Telepon

Phone Ring
Sebagai panggilan untuk sholat, jika diumpamakan dengan kring pada panggilan telepon, kira-kira seperti ini reaksi sebagian dari kita terhadap adzan:

1. Kring pertama: "Allahu Akbar Allahu Akbar"

Di layar hati muncul "Incoming call from Allah"

Bagi yang sedari tadi menunggu panggilan itu, atau yang memang menganggap bahwa itu panggilan sangat penting, akan bergegas memenuhi panggilan itu.

Sedangkan bagi yang lainnya masih tenang-tenang saja.

2. Kring kedua: "Allahu Akbar Allahu Akbar"

Mereka yang di kring pertama tadi tidak begitu mendengar, di kring kedua ini mungkin akhirnya sadar dan bereaksi untuk bergegas.

Sisanya tetap tenang, mungkin nama pemanggilnya di layar hati tidak dikenali, mungkin kontak Allah di phonebook belum tersimpan sehingga yang muncul adalah Unknown Number.

3. Kring ketiga: "Asyhadu allaa ilaaha illallah"

Kring ketiga ini mengingatkan siapa yang sedang memanggil. Nama-Nya tercantum dalam syahadat yang dulu pernah terucap.

Sebagian akhirnya ingat. Sebagian lagi masih lupa, atau mungkin sedang loading contact dari phonebook.

4. Kring keempat: "Asyhadu allaa ilaaha illallah"

Bagi yang loading contactnya sudah selesai, dan dapat mengenali siapa yang memanggil, segera bangkit bergegas memenuhi panggilan ini.

Sebagian yang lain mungkin broken contact, karena lama tidak diload sehingga datanya jamuran, makanya tetap muncul Unknown Number.

5. Kring kelima: "Asyhadu anna Muhammadur Rasulullah"

Bantuan untuk mengingatkan siapa yang sedang memanggil. Dengan mengingat manusia mulia ini siapa tau pendengarnya segera ingat kembali.

Sebagian mungkin teringat dengan harapan syafaat beliau, dan bergegas melakukan kewajiban seperti yang beliau contohkan.
Yang lain masih belum ngeh juga.

6. Kring keenam: "Asyhadu anna Muhammadur Rasulullah"

Diingatkan kembali dengan ikrar syahadat. Kecil kemungkinan kalau masih lupa siapa yang memanggil.
Atau mungkin sudah tau pemanggilnya, tapi belum paham dipanggil ini kira-kira untuk apa sih.

7. Kring ketujuh: "Hayya 'alash shalaahh"

"Owalah, dipanggil untuk sholat toh". Sebagian orang segera paham dan berangkat.
Sebagian lagi masih kurang mendengarkan, mungkin karena pas itu ada motor lewat.

8. Kring kedelapan: "Hayya 'alash shalaahh"

Penjelas undangan diulangi lagi, supaya yang tadi kurang mendengar sekarang paham, kemudian segera bergegas memenuhi panggilan.

Yang lain masih sibuk.

"Iya, sudah tau siapa yang memanggil dan untuk apa dipanggil. Tapi nanti saja lah, masih ribet nih, bisa kacau kalau ditinggalkan"

9. Kring kesembilan: "Hayya 'alal falaaahh"

"Apa? Disuruh datang supaya bahagia?
Ini yang memanggil kan yang membuat langit dan bumi seisinya. Baiklah, Dia yang bilang lho, dan gak mungkin Dia bohong"

Bagi sebagian yang memiliki iman akan segera bergegas karena keruwetan dia dijanjikan akan diganti dengan kebahagiaan oleh yang memanggil.

Yang lain masih percaya dengan kemampuan diri sendiri, jadi tawaran kebahagiaan dari yang memanggil buat nanti saja. "Semangat, man"

10. Kring kesepuluh: "Hayya 'alal falaaahh"

"Jaah, masih saja ditawari itu. 'ngeyel' banget sih yang manggil"

*lalu pada sibuk meneruskan pekerjaan*

11. Kring kesebelas: "Allahu Akbar Allahu Akbar"

"Iya, tau"
*mulai berharap agar adzan segera selesai*

12. Kring keduabelas: "Laa ilaaha illallah"

*bersyukur karena akhirnya adzan yang berisik itu berlalu*

Lalu di layar hati muncul tulisan "1 missed call from Allah"

------------------
Disclaimer: Ini hanya ilustrasi, bukan tafsir ataupun arti adzan. Setiap orang bisa memiliki proses dan reaksi berbeda terhadap adzan. Bisa juga adzan itu "direject" sejak kring pertama.
------------------

Itu baru ilustrasi 1 panggilan. Bagaimana ketika 1 hari ada 5 kali panggilan? Sudah berapa hari terlewatkan?
Ada berapa banyak total misscall dalam hatimu?

Ingat, Iblis 1 kali menolak disuruh menyembah Adam, dia dikeluarkan dari Surga dan divonis neraka.

Kita berapa kali menolak disuruh menyembah Allah langsung (bukan menyembah Adam, lho)? Kira-kira apa hukumannya ya?

Entah, bisa jadi iblis tidak perlu lagi menggoda kita, sebab menurut Hadits, meskipun kita berbuat baik dan tidak berbuat dosa lainnya tapi jika sholatnya jeblok maka seluruh amalan ikut jeblok.

Coba buka menu Recent Calls dalam history panggilan hati Anda. Jika dalam smartphone ada missed call dari Jokowi kita kelabakan dan berusaha menelepon balik, bagaimana jika ada rentetan missed call dari pembuat langit dan bumi dan seisinya?


* sumber gambar: http://lifehacker.com/5878635/change-how-long-your-phone-rings-before-sending-calls-to-voicemail


May 16, 2015

Remote Control

Remote control, sesuai artinya, remote=jarak jauh, control=pengendalian, berarti pengendalian jarak jauh.

Mungkin maknanya kurang pas, karena ketika disebutkan kata "remote control" yang terbayang adalah remote televisi. Sedangkan televisinya ada di depan mata, tidak jauh kok.

Namun coba Anda menonton televisi tanpa remote control, maka Anda akan merasakan betapa jauhnya televisi dari jangkauan Anda, saat akan memindahkan tayangan ke channel-channel yang lain.

Baiklah, cukup membahas tentang arti remote control. Berikutnya tentang penemuan remote control. 
Remote control ditemukan oleh anak saya, kemarin di kasur. Mungkin ikut terbawa ke kamar sewaktu berangkat tidur. 

Oke, cukup bercandanya, karena saya khawatir dianggap sedang meremote emosi Anda.

Ya, kadang tanpa sadar kita menyerahkan remote control emosi kita kepada orang lain, padahal kenal saja tidak.

Misalnya saat malam minggu, sudah dandan cantik dan ganteng, bersama keluarga berencana makan malam di restoran terkenal. Berangkat dengan riang dan penuh canda tawa. Namun semua berubah saat negara api, dengan melalui pelayan restoran tersebut, meremote keluarga kita.

Karena pelayan yang judes dengan bibir monyongnya, berhasil memindahkan channel emosi istri ke tayangan BadMoodTV, sehingga menyulut status sang suami ke level reaktif. Anak-anak ikut berpindah channel ke BeteTV karena acara yang ditayangkan kemudian adalah Berpacu Dalam Emosi.

Hanya gara-gara remote control diserahkan ke bibir pelayan itu tadi.

Baiklah, kita tinggalkan keluarga yang sedang menikmati tayangan tadi, yang seharusnya mengabaikan saja sinyal bibir monyong pelayannya. 

Ke ranah yang lebih luas dan lebih sensitif, terkait dengan remote control terhadap suatu negara, terutama negara kita tercinta.

Seringkali kita sebagai rakyat sangat predictable, seakan tinggal ditekan tombol remote nomor tertentu kita akan bereaksi sesuai keinginan yang pegang remote. 

Diajak menonton acara cicak vs buaya ayo, diajak menayangkan seleb on sale oke saja, diajak melihat tayangan preman melawan pendekar sipit iya juga. 

Sepertinya atmosfer kita sudah connected dengan program pengendali milik pihak tertentu, sehingga kita tidak memiliki opsi lain selain yang sudah diinstall di masyarakat kita. 

Tidak ada masalah dengan tayangan-tayangan sejenis di atas, harus malah, untuk kita saksikan dan awasi. 

Sayangnya, begitu mendekati akhir acara maka ada saja yang menekan tombol remote supaya pindah ke tayangan lain, menyembunyikan hasil akhir yang bisa jadi tidak sama dengan apa yang sebelumnya kita perkirakan. 

Bagaimana nasib cicak sekarang? Kenapa di akhir skenario cicak dipaksa kalah padahal cicak sudah mempersiapkan serangan balik? 

Bagaimana kabar calon Kapolri yang batal dan masuk lewat pintu Wakapolri dan tinggal nunggu selangkah lagi? 

Itu semua karena keburu tayangan dipindah, dan kita ikut melupakannya demi mengikuti tayangan yang baru. 

Sebenarnya kita bisa ikut berpindah tayangan tanpa melupakan tayangan sebelumnya, asal tidak terlalu lebay pada tayangan yang baru. Proporsional dan jangan mudah termakan isu dari agen-agen milik program remote control. Sehingga sesuai dengan kapasitas masing-masing kita akan mampu melihat lebih banyak tayangan acara di negara kita. 

Dengan begitu kita tidak lagi predictable, meski tombol remote dipencet-pencet oleh yang berkepentingan untuk mengontrol masyarakat kita. 

May 9, 2015

Half Truth

Half truth, secara harfiah berarti kebenaran separuh, tetapi hakikatnya lebih dekat kepada setengah bohong daripada setengah jujur. Dan justru lebih berbahaya dibandingkan langsung berbohong, karena jika diteliti memang tidak berbohong namun dampaknya sama saja dengan berbohong. Si "pembohong" ini merasa aman dari hukum dan syariat maka lebih bersemangat. 

Half truth memang tidak bohong,  ada kebenaran di dalamnya. Atau memang benar semua, tetapi ada yang tidak disampaikan, sehingga menimbulkan bias bagi penerima informasinya. Dan itu disengaja.

Mereka yang cenderung menelan apa saja yang lewat, atau istilah jaman sekarang adalah tidak berpikir kritis, sangat mudah terkena jabakan half truth ini. 

Contoh half truth yang fenomenal adalah ketika Nabi Ibrahim ditanya oleh kaumnya siapa  yang menghancurkan tuhan mereka (Al-Anbiya 62-63)

Secara tata bahasa dan body language Nabi Ibrahim tidak berbohong, namun kesan yang ditimbulkan adalah patung besarlah yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Dari jawaban half truth ini, meskipun Nabi Ibrahim adalah bapaknya para Nabi, tapi tidak bersedia memberikan syafaat di akhirat kelak. Gara-gara pernah melakukan half truth. 


Sayangnya, half truth justru banyak dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang membawa bendera "agama". Karena bagi yang sudah memiliki branding sebagai pengusung kebaikan, menggunakan domain berlabel islam, dan (harusnya) terpercaya, merasa lebih aman bermain half truth daripada jujur apa adanya. Juga tidak mau berbohong karena terlalu frontal, menyebabkan tidak lagi dipercaya dan juga bohong termasuk dosa besar. 

Karena Indonesia masyarakatnya ramah dan tidak suka suudzon, males mikir dan mudah melupakan, maka menjadi ladang segar bagi pencari keuntungan dengan memanfaatkan keluguan masyarakat kita. 

Hari ini menyebabkan kekacauan dengan berita half truth, minggu depan sudah dilupakan dan kembali dijadikan rujukan orang. 

Lemparkan umpan, dan biarkan masyarakat memaknai sendiri sesuai kepentingan yang digulirkan. Biarkan itu menjadi bibit yang menggerakkan opini masyarakat dari dalam. 

Dan lagi-lagi kita terjatuh di lubang yang sama: menjadi pembenci, pengumpat, dan pelanggar aturan-aturan Allah karena terpengaruh alunan half truth. 

Tabayyun, waspada, pergunakan akal pikiran yang diamanahkan kepada setiap dari kita. Jangan korbankan akhirat kita demi mengikuti kepentingan sesaat para pencari keuntungan dunia yang mengatasnamakan islam dalam bentuk politik dan ekonomi sesat. 

Jangan pula ikut larut dengan mereka yang gagah perkasa berani memberi nafkah kepada anak istrinya dari rejeki hasil menebar fitnah yang dibungkus half truth, meski di belakangnya berkibar bendera dakwah. 

Semoga Allah melindungi kita. Aamiin. 


Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi