" /> Mahesa Jenar: February 2011 Archives

« January 2011 | Depan | May 2011 »

February 27, 2011

Kriwikan Dadi Grojokan

Kriwikan dalam bahasa Jawa artinya aliran air yang kecil, sedangkan Grojokan adalah aliran yang besar dan deras.

Penggunaan istilah Kriwikan Dadi Grojokan biasanya untuk menggambarkan keadaan yang berubah drastis, berawal dari hal kecil namun berimbas besar. Misalnya dari pertengkaran anak kecil yang sedang bermain, berimbas pada perkelahian antar keluarga.

Jika anda penikmat sejati ludruk Kartolo CS, tentu pernah mendengarkan salah satu lakon dengan judul Kriwikan Dadi Grojokan ini :D

Dalam catatan saya, beberapa kali mengalami hal yang sesuai dengan istilah tersebut. Yang sering terjadi adalah dalam hal gojlokan (ejekan) di dunia maya, baik itu via chatting maupun email.

Meskipun sebelumnya terbiasa bertegur sapa dengan akrab, namun saat mulai masuk ke saling ejek, masing-masing bertahan untuk tidak mau kalah dalam ejekan. Dan memang, akhirnya salah satu kalah, keluar dan putus hubungan untuk selamanya (paling tidak ya sampai saat ini).

Beberapa poin yang dapat dibahas:

  1. Konteks komunikasi yang dilakukan adalah bercanda, harusnya semua pembahasan tetap pada landasan tersebut. Jika memang sudah merambah pada hal sensitif, segera hentikan. Ganti topik pembicaraan ke hal lain.
    Masalahnya adalah ketika salah satu menganggap pembahasan masih di dalam jalur, sedangkan satunya sudah merasa keluar jalur tetapi nekat meneruskan, hasilnya adalah kalah secara mental dan drop, komunikasi menjadi tidak sehat lagi.
    Lebih parah kalau keduanya sama-sama yakin sudah keluar jalur tapi nekat meneruskan.
  2. Memiliki target untuk memenangkan adu argumen adalah kesalahan fatal dalam saling ejek. Harusnya fokus utama adalah saling melempar informasi untuk memperkaya komunikasi, terlepas dari siapa yang menang atau kalah.
    Jika ada argumen teman yang salah, berikan informasi kesalahannya di mana, dan benarnya bagaimana, tanpa embel-embel jumawa merasa menang.
    Sebaliknya pihak yang diberikan informasi juga jangan resist karena menolak disalahkan yang membuat dia merasa kalah. Jika informasi yang disampaikan benar, kenapa ditolak?
  3. Terbiasa menang dalam adu argumen juga membawa dampak mental ketika suatu saat dia kalah. Ketika dalam lingkungannya dia adalah yang paling jago debat, dan saat berhadapan dengan teman yang dianggapnya sepele, dia memaksa diri harus menang.
Beberapa teman yang mengalami fenomena ini, kebanyakan adalah yang terbiasa menang dalam adu argumen di lingkungannya, yang argumennya selalu dibenarkan. Namun kebetulan saat adu argumen di sini mungkin dia merasa tidak seperti biasanya.

Padahal perasaan tersebut tidak seharusnya terjadi.

Jika memang pembahasan sudah tidak mungkin menemukan titik temu, sebaiknya disudahi, bukan malah menyerang orangnya (ad hominem), membahas di luar topik, dan lebih parah lagi adalah memutuskan komunikasi. Salah besar.

Kebenaran tidak cuma satu, karena relatif pada keyakinan dan pemahaman seseorang. Ini yang harus disepakati sebelumnya. Jika memang tidak bisa sepakat dengan satu pendapat, ya silakan menggunakan pendapat masing-masing, namun tetap mengisolasi pembahasan hanya pada topik tersebut, tidak melebar sampai pada pemutusan komunikasi.

Pendapat yang tidak berhasil anda sampaikan kepada pihak lain, tidak mengubah kebenaran pendapat anda menjadi salah kan?

Intinya adalah pada fokus masalah, sehingga tidak menyebabkan Kriwikan Dadi Grojokan.


February 5, 2011

Pentingnya ASI

Pentingnya ASI untuk bayi sudah tidak perlu diragukan lagi, banyak pendapat yang mendukung hal tersebut, baik secara ilmiah maupun secara agama. Silakan googling mengenai hal ini.

Namun herannya, dalam praktek di lapangan jumlah yang menerapkan penggunaan ASI masih relatif sedikit, terutama ASI ekslusif selama 6 bulan. Dengan berbagai alasan, mencoba mencari pembenar untuk menggunakan susu formula.

Kurangnya informasi kepada pasutri menyebabkan mereka menerima "bisikan" yang diterima dari luar seperti dari nenek si bayi, budhe, tetangga, dan bahkan suster/perawat di tempat bersalin.

Peran pemerintah sebagai fasilitator untuk penyampai informasi ini, masih kalah cepat dibandingkan dengan gerilya produsen susu formula melalui para perawat di rumah sakit atau klinik bersalin.

Secara default mereka akan memberi susu formula kepada bayi yang baru lahir, sampai pihak keluarga berhasil mencegahnya. Itupun kalau pihak keluarga tau (memergoki) _dan_ mau (nekat) mencegahnya. Saya harus sedikit bersitegang dengan pihak rumah sakit karena dipaksa membeli susu formula yang terlanjur diberi nama sang anak, padahal sebelumnya saya yang harus marah karena ada bekas susu formula di mulut anak saya tanpa sepengetahuan pihak keluarga.

Pemegang peranan yang paling penting dalam hal ini adalah suami dan istri, yang harus ekstra hati-hati dan bekerja sama dalam menghadang pengaruh dari luar.

Sekali lagi, alasan ilmiah dan agama mengenai pentingnya ASI dan ASI ekslusif dapat anda cari di google, di sini saya hanya menuliskan apa yang menjadi keuntungan dengan ASI:

  1. Murah. Sure, gak perlu beli. Gratis. Bayangkan harga susu formula 4 box perbulan. Kita tidak berniat pelit terhadap anak, tapi ASI yang gratis lebih bagus kualitasnya dibanding susu formula yang berusaha menyerupai ASI.
  2. Sehat. Untuk kondisi umum, bukan kondisi tertentu yang jarang terjadi.
  3. Ringkas. Mau jalan-jalan? tinggal bawa popok. Gak perlu bawa botol susu dan air panas.
  4. Tersedia kapan saja, gak seperti susu formula yang bisa kehabisan.
  5. Suhunya terjaga, tidak terlalu panas atau terlalu dingin.
  6. Jumlahnya selalu pas, tidak ada istilah bayi kekenyangan ASI.
  7. Kalaupun harus diawetkan, ASI dapat bertahan hingga 3 sampai 6 bulan dalam freezer.
  8. Tidak menyebabkan hipertensi atau kegemukan.
  9. Mencegah timbulnya kanker payudara.
  10. Sebagai kontrasepsi alami bagi si ibu.
  11. Mendekatkan dan memberi rasa nyaman buat si bayi.
  12. dll

Perbandingan secara head-to-head, ASI jelas lebih unggul dibandingkan susu formula. Namun bahkan untuk keluarga berpendidikan sekalipun, kadang masih condong memilih sufor untuk bayinya. Dari hasil survei, alasan mereka antara lain:

  1. ASI ibu keluarnya sedikit, sehingga kasihan melihat bayinya kelaparan
    ASI ini keluar sesuai dengan kebutuhan (silakan cari artikelnya), semakin banyak dihisap, semakin banyak keluarnya. Semakin tidak dihisap, semakin sedikit keluarnya.
    Ketika ASI keluar sedikit kemudian bayi diberi sufor, lengkaplah, ASI semakin sedikit keluarnya.
  2. Repot karena si ibu bekerja.
    Banyak cara agar bayi bisa mendapatkan ASI yang diawetkan. Jika mau mencari informasinya, pasti ada cara tersebut. Istri dulu selama mengikuti senam hamil, mendapat informasi cara mengawetkan ASI ini.
    Yang penting adalah kemauan memberi ASI.
  3. Hal-hal lain yang dijadikan alasan adalah kejadian yang dialami ibu lain, yang belum tentu terjadi pada ibu yang bersangkutan, misalnya ASI gak keluar, dsb.

Mengulang poin terakhir di atas, yang terpenting adalah kemauan orang tua memberikan IMD (inisiasi menyusui dini), ASI ekslusif, dan ASI selama 2 tahun.

Usia 2 tahun adalah termasuk golden age buat anak. Kenapa kita tidak memberikan yang terbaik untuknya?

Referensi:

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi