" /> Mahesa Jenar: December 2010 Archives

« November 2010 | Depan | January 2011 »

December 22, 2010

Protokol Janjian

*posting iseng lagi*

Saat dua orang atau lebih memiliki janji untuk bertemu di suatu tempat, berikut ini adalah protokol yang sering digunakan oleh masyarakat sekitar kita:


Protokol A: Berangkat sesuai jam perjanjian

Jika janji untuk bertemu jam 10, maka jam 10 itulah baru berangkat ke tempat pertemuan.

Kelebihan:

  • Lebih banyak waktu untuk bersantai
  • Tidak perlu menghitung jarak waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan

Kekurangan:

  • Jika jarak tempuh masing-masing peserta berbeda, maka peserta yang sampai lebih dulu harus menunggu sampai semua peserta tiba



Protokol B: Berangkat sejak jam perjanjian, dikurangi jarak tempuh

Istilahnya adalah tepat waktu.

Kelebihan:

  • Peserta akan tiba di waktu yang dijanjikan

Kekurangan:

  • Harus dapat menghitung jarak tempuh, sehingga dapat menentukan jam berangkat
  • Dapat terjadi pergeseran waktu tiba, jika di tengah jalan ada kendala, macet, dsb.

Protokol C: Tiba di tempat tujuan sebelum jam perjanjian

Berangkatnya jauh-jauh sebelum waktu yang dijanjikan, bahkan setelah dikurangi waktu tempuh.

Kelebihan:

  • Banyak waktu yang dapat digunakan untuk persiapan sebelum pertemuan
  • Ada kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar
  • Jika diperlukan, dapat menyiapkan jebakan untuk peserta lainnya

Kekurangan:

  • Waktu yang tersedia bisa terlalu banyak, bahkan untuk ukuran minum 1 gelas kopi


Protokol manapun yang dipilih tidak masalah, selama masing-masing peserta menggunakan protokol yang sama. Kendala baru muncul jika terdapat perbedaan protokol, misalnya yang satu menggunakan protokol C, dan satunya memakai protokol A.

Biasanya generasi disiplin lebih memilih protokol C, sedangkan yang sok sibuk akan memilih protokol A. Kebanyakan yang digunakan adalah protokol B, meskipun agak cenderung ke protokol A.

Untuk urusan yang krusial, misalnya wawancara, atau meeting dengan client, sangat disarankan menggunakan protokol C.

Demikian.


**Dedicated untuk seseorang yang selalu datang 1 jam setelah waktu yang dijanjikan


December 10, 2010

Sajadah Lebar

Jika diperhatikan, akhir-akhir ini pengguna sajadah lebar semakin banyak beredar di masjid, terutama saat jumatan. Dengan desain dan kualitas sajadah mulai dari yang biasa sampai yang diinjak saja rasanya sayang.

Memuliakan dan menghormati saat-saat menghadapNya memang sangat dianjurkan, namun asal tidak menimbulkan dampak yang seharusnya tidak perlu ada.

Salah satu dampak nyata dari munculnya sajadah lebar adalah shof sholat yang menjadi renggang. Jamaah di sebelahnya, yang bersajadah kecil, atau tidak bersajadah, akan sungkan menginjak sajadah lebar yang terkesan mahal tersebut.

Apalagi jika ada jamaah yang bersajadah lebar, saling berdampingan. Tambah renggang.

Ada baiknya bagi yang bersajadah lebar mempersilakan jamaah yang ada di sebelahnya untuk tidak sungkan ikut menginjak sajadah miliknya, agar tercapai rapatnya shof.

Karena shof itu terdiri dari barisan jamaah, bukan barisan sajadah.

Salah satu syarat kesempurnaan sholat berjamaah adalah lurus dan rapatnya shof. Bahkan saya dapat wejangan pada sebuah pengajian, bahwa kekhusukan sholat dapat tersalurkan melalui tubuh jamaah yang bersentuhan.

Seandainya repot jika harus mempersilakan jamaah di sebelahnya untuk ikut masuk ke sajadah, alangkah baiknya jika tidak usah membawa sajadah yang lebar. Cukup dipergunakan di rumah saja.

Saya masih ingat ketika kecil, waktu masih ikut pengajian di dekat rumah, oleh guru mengaji kami dianjurkan untuk tidak menggunakan sajadah saat sholat berjamaah di masjid. Bahkan bagi yang membawa, mending sajadah dibuat sebagai sorban daripada jadi sajadah.

Sampai saat ini saya masih mempergunakan sajadah, hanya untuk jaga-jaga jika situasi membutuhkan. Jika tidak dibutuhkan, sajadah saya lipat dan letakkan di bawah, tidak saya pasang.

Berusaha menggapai kesempurnaan sholat, memaksimalkan kedekatan kita denganNya :)


December 8, 2010

Sabar

Definisi sabar mungkin sudah banyak beredar di masyarakat, baik yang subyektif maupun yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Di sini saya hanya menuliskan apa yang menjadi uneg-uneg mengenai pengertian sabar. Ini adalah pendapat pribadi saya, dengan keilmuan yang dangkal, sehingga sangat mungkin untuk disangkal.

Menurutku: sabar adalah bertahan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang _seharusnya_ dilakukan, bukan berdasarkan apa yang ingin dilakukan, walaupun kondisi saat itu mempengaruhi dia untuk melakukan hal yang salah.

Kata _seharusnya_ di atas adalah variabel sekali, tergantung kebenaran yang diyakini oleh seseorang. Meskipun kata "benar" adalah relatif dan bisa mengacu pada hal yang berbeda, namun kebenaran yang diyakini, tentulah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa pengertian yang sudah memasyarakat:

Sabar Adalah Diam

Ketika si A yang yakin tidak bersalah, dituduh dan ditampar oleh B namun A diam saja, bukan berarti A adalah orang yang sabar. Bisa jadi dia orang yang lemah.

Seharusnya A melakukan sesuatu untuk menjaga situasi tetap pada jalurnya yang benar. Jika dituduh ya harus menjelaskan, ajak untuk mendiskusikan masalah. Jika tetap mau dipukul ya menghindar, atau tangkis, atau menjauh kalau tidak berani. Yang jelas jangan diam saja.

Solusi pada contoh di atas mungkin idealis sekali, karena kondisi di kenyataan bisa berbeda. Namun intinya adalah jangan sampai menyalahartikan kata sabar dengan lemah. Proses di lapangan bisa bervariasi untuk mewujudkannya.

Kebalikannya, ketika dituduh kemudian A ganti memukuli B karena menuduh sembarangan, jelas itu juga bukan tindakan sabar, karena menurutkan hawa nafsu, bukan berdasarkan kebenaran yang diyakini.

Contoh lain:

Saat petani mengetahui tanamannya diserbu hama, maka tindakan sabarnya adalah dengan menyemprot hama tersebut dengan obat antihama, bukan berdiam diri.

Sabarnya murid adalah dengan telaten mengikuti setiap matapelajaran yang diajarkan kepadanya, suka maupun tidak, karena itu adalah konsekwensi dari pendidikan yang dijalaninya.

Sabarnya pegawai adalah menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya dengan penuh tanggung jawab.

Dan lain sebagainya.

Kembali ke definisi utama: sabar adalah bertahan melakukan yang seharusnya dilakukan.

Sabar Ada Batasnya

Sabar adalah melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, sehingga hal tersebut hendaknya tidak dihentikan. Jadi, sabar itu tidak ada batasnya.

Jika ada batasnya, maka ketika batas itu telah tiba, kita akhirnya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Jelas hal tersebut adalah salah.

Sabar Selalu Dikaitkan Dengan Musibah

Penggunaan kata sabar biasanya dihubungkan dengan sesuatu yang menyedihkan, berat untuk diterima, dan lain sebagainya.

Padahal tindakan "bertahan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan" tidak boleh dihentikan. Harus selalu dilakukan.

Saat mendapatkan harta berlimpah, ketika tidak sabar, besar kemungkinan harta tersebut tidak dipergunakan secara tepat dan terarah sehingga memiliki manfaat lebih, bukan sekedar dihamburkan.

Ketika terpilih menjadi kepala desa, jarang sekali (atau tidak ada?) orang yang memberikan ucapan "yang sabar ya". Padahal pesan itu sangat penting. Jangan sampai menjadi kepala desa kemudian terpengaruhi untuk melakukan sesuatu, yang mungkin saja benar menurut aturan, tapi tidak dibernarkan secara etika.

Kesimpulannya, bersabarlah selalu.


Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi