" /> Mahesa Jenar: February 2009 Archives

« January 2009 | Depan | March 2009 »

February 27, 2009

Mengurus NPWP

npwp.jpg

Ngurusnya cepat, gak sampe 15 menit sudah jadi kartunya.

... antrinya yang 2 jam lebih.

Setelah punya KTP, sekarang punya NPWP.

Lalu diapakan nih?

Awalnya (tadi malam) mendapat informasi bahwa Sunset Policy diperpanjang hingga akhir Februari 2009 (setelah dulunya digembar-gemborkan hanya sampai akhir Desember 2008). Berhubung masih ada waktu 2 hari, aku sempatkan mencari informasi gimana sih caranya dan apa saja syaratnya mendaftar serta mendapatkan NPWP.

Setelah sowan ke Google, sempat berhenti dulu di blog Hitung Pajak. Dari situ mendapatkan banyak gambaran yang jelas mengenai bagaimana cara mendapatkan NPWP, dan sedikit (banget) alasan kenapa kita perlu NPWP.

Next, berlanjut ke e-Registration Ditjen Pajak.

Dengan modal intelejensia terbatas, mencoba mendaftar, sukses. Lalu mengajukan permohonan NPWP, isi field-field inputannya dengan penuh perasaan, dan akhirnya mendapatkan Formulir Registrasi Wajib Pajak (FRWP) dan Surat Keterangan Terdaftar Sementara (SKTS).

Kedua formulir itu aku cetak pake printer Canon iP1900 *ga penting*, masing-masing 2 lembar. Aku tandatangani, kemudian paginya aku bawa ke KPP Malang Utara (untuk kecamatan Lowokwaru), Depan RSSA agak kesana sedikit.

Begitu masuk kantor KPP antrian sudah banyak sekali. Nomor yang dipanggil baru kisaran 30-an, sedangkan aku mendapatkan nomor antrian 172! we te ef.

Sabar.

Nunggu giliran sambil browsing pake GPRS yang ternyata lemot banget. Sabar.

Setelah 2 jam (dari jam 9 sampe jam 11) menunggu, mendekati nomorku. Sampai 166, komputer yang handle antrian mendadak crash. Perlu direstart dulu. Sabar.
Untunglah program antriannya cukup canggih, saat start bisa merestore state antrian ke kondisi semula. Aman.

Tiba giliranku sempat bentrok dengan bapak bernomor antrian 173. Rupanya saat 172 dipanggil, program antrian masih belum berjalan dengan baik, sehingga tidak ada suara yang keluar, meski sudah tampil di layar. Karena dianggap aku tidak ada, dilanjutkan ke 173. Untunglah bapaknya mau ngalah. Entah kasian atau takut.

Di meja loket #1 dilayani oleh mas Haqqie (kalo gak salah ingat). Setelah memerika 2 formulir bawaanku dan fotokopi KTP-ku yang baru, kemudian mencetak sesuatu, lalu aku disuruh menunggu sekitar 10 menit, ditinggal masuk ke ruang samting. Saat dia keluar, kartu NPWP sudah jadi seperti di foto itu. Instan!

Demikian.

Pertanyaanku masih tetap belum terjawab, kapan NPWP ini berguna?
Kapan aku bayar pajak? (kalo emang harus bayar)
Berapakah itu?

Mencari informasi di internet malah jadi informasi overload. Mungkin perlu sowan dulu ke Pak RT yang pensiunan Ditjen Pajak.

February 24, 2009

Terlalu Banyak Tanya

Suatu ketika, Bani Israel mendapatkan perintah untuk berkorban sapi. Meskipun ini adalah perintah langsung dari Alloh melalui Nabi Musa as, namun dasar watak Israel yang sakarepe dewe, mereka berusaha mengulur waktu pelaksanaannya.

Mereka bertanya: "sapi umur berapa?"
Dijawab: "umur sedang"

Bertanya lagi: "yang warna apa?"
Dijawab: "kuning tua keemasan"

Tanya lagi: "yang kerjaannya ngapain aja?"
Dijawab: "yang belum pernah digunakan untuk membajak"

Demikianlah, padahal seandainya saat mendapatkan perintah itu mereka segera melaksanakan, syarat-syarat yang mereka terima tidak sedemikian ketatnya. Tapi karena kebanyakan bertanya, sapi yang dicari malah menjadi jauh lebih sulit.

Di samping itu, Israel selalu curiga pada pemberi perintah, meskipun itu melalui Nabi yang telah menyelamatkan mereka dari penindasan Fir'aun. Mereka tidak ingin perintah itu adalah olok-olok yang jika mereka jalankan akan dikira orang yang telah terpedaya. Ini salah satu bukti bahwa orang licik akan selalu curiga karena takut diliciki oleh orang lain, menganggap setiap orang adalah selicik dia.

Karenanya, kalo aku memberikan permintaan yang sudah jelas, tapi yang diminta masih tanya aja, aku bilang aja: "Israel lu"

February 12, 2009

Jadi Warga Malang

Setelah melalui proses yang berbelit, panjang, melelahkan, akhirnya legalisasi menjadi warga Malang tercapai juga:

KTP Malang

Barusan ngambil di Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Malang.

Pengurusan legalisasi ini sudah berjalan sejak tahun kemarin. Dimulai dari pengurusan surat pindah dari Demak menuju Malang, lalu dilanjut proses di Malang, diawali dari sekretaris RT, ketua RT, ketua RW, Kelurahan, lalu kantor Kependudukan dan Catatan Sipil.

Sebenarnya alur birokrasinya cukup simple dan straight, namun karena faktor tertentu, ada saja yang membuat alurnya jadi melingkar dan berbelit, serta lama.

Pengurusan ke ketua RT yang belum tentu ketemu orangnya, lalu ke ketua RW yang sama sulitnya ditemui, lalu ketidaksamaan persepsi aturan birokrasi antara RW / Kelurahan / RT, sehingga perlu bolak-balik ke ketua RT (yang belum tentu ketemu orangnya), dan juga ke ketua RW (yang sama juga, belum tentu ketemu orangnya).

Setelah lolos dari tingkatan RT/RW, menanjak ke Kelurahan sudah cukup mudah, petugasnya sangat ramah dan detail dalam menjelaskan aturannya. Hanya perlu 3 kali ke kelurahan sampai dapat tanda tangan Pak Lurah.

Sebelumnya, pengurusan KK/KTP harus ke kantor kecamatan masing-masing, namun mulai Senin kemarin, seluruh proses pengurusan itu dilimpahkan ke Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Malang. Efeknya jelas, penduduk dari berbagai kecamatan di Malang Kota berjubel di dalam satu ruangan. Hore.

Form-form aku ajukan Selasa, dan hasilnya bisa diambil hari Kamis (hari ini).

Secara dejure memang jadi warga Malang, tapi defactonya tetep wong Demak. Jadi masih belum sreg nyandang atribut Arema ^_^


February 6, 2009

Arjuna, Ekalaya, dan Mahesa Jenar

Suatu ketika, seorang guru bernama Resi Dorna sedang melatih 100 muridnya dalam ilmu memanah. Kali ini mereka berlatih memanah seekor burung yang sedang bertengger di dahan pohon. (disklaimer: saat itu mungkin belum ada papan pengumuman "dilarang memanah burung")

Saat masing-masing murid sudah meregangkan busurnya, membidik burung yang sedang asyik melamun, Resi Dorna menanyai satu persatu muridnya.

Pertanyaan kepada murid pertama: "Apa yang kamu lihat?"
Murid: "Saya melihat burung di atas pohon yang rindang, dengan pemandangan gunung di belakangnya"
Resi Dorna: "Kamu gagal. Turunkan busurmu dan pergilah dari sini"

Kepada murid kedua: "Apa yang kamu lihat?"
Murid: "Saya melihat burung yang siap menjadi burung panggang yang lezat (hungry) "
Resi Dorna: "Kamu juga gagal. Turunkan busurmu dan pergi"

Begitu seterusnya, para murid berguguran gara-gara pertanyaan sang Resi. Sampai dengan murid terakhir.

Resi Dorna: "Apa yang kamu lihat?"
Murid: "Saya melihat burung yang di lehernya tertancap panah yang saya lepaskan"
Resi Dorna: "Bagus, sekarang kamu panah burung itu"

Si murid melepaskan panahnya, lalu zlapp, burung itu terjatuh dengan panah di lehernya.

Murid tersebut adalah Arjuna, pemanah ulung nomor 1 di dunia (wayang), dan juga lelananging jagad pemanah hati wanita nomor 1 di dunia (wayang juga).

Sejak saat itu, Arjuna menjadi murid kesayangan Resi Dorna, dan berjanji tidak menerima murid panah lainnya. Hanya Arjuna yang akan dihantarkan menjadi pemanah nomor 1 di dunia (ya, wayang).

--------

Moral of the story: fokus pada tujuan, abaikan godaan lain yang akan membiaskan tujuan tersebut.

Ok, dan dongeng berlanjut:

--------

Tersebutlah seorang raja bernama Ekalaya, atau dikenal juga sebagai Palgunadi. Dia sangat mengagumi kehebatan ilmu memanah Resi Dorna. Karenanya dia tinggalkan singgasananya, lalu pergi ke tempat Dorna untuk berguru.

Namun karena Dorna telah berjanji hanya menerima murid Arjuna seorang, Ekalaya ditolaknya.

Tidak putus asa, Ekalaya mengasingkan dirinya ke hutan, tinggal di sebuah gua. Dalam gua itu dia membuat patung menyerupai Resi Dorna. Selanjutnya dia berlatih sendiri di situ, dengan ditunggui oleh patung Dorna.

Meskipun hanya patung, Ekalaya menganggapnya sebagai Dorna itu sendiri. Tiap hari dia sungkem di depannya, dan menjadi penyemangat dirinya untuk giat berlatih.

Suatu saat, di hutan tersebut terdengar anjing mengonggong. Merasa terganggu, Ekalaya tanpa melihat melepaskan panahnya dan membunuh anjing tersebut (ya ya, dongeng ini penuh dengan pembantaian binatang).

Rupanya rombongan Arjuna juga sedang memburu anjing tersebut. Dia menemukan anjing itu mati dalam keadaan tertusuk banyak panah di mulutnya, sepertinya panah itu dilepaskan dalam sekali tembakan. Itu adalah ciri-ciri ilmu panahnya Dorna. Lalu muncullah Ekalaya, mengakui dialah yang membunuh anjing malang itu, dan memperkenalkan diri sebagai muridnya Dorna.

Dari situ Arjuna segera melapor ke Dorna, protes kenapa ada orang lain yang diajarkan ilmu khusus tersebut, sedangkan Dorna sudah berjanji tidak akan menerima murid lain.

Selanjutnya Dorna mendatangi Ekalaya dalam guanya, menanyakan darimana dia mempelajari ilmu panah. Ekalaya menjawab bahwa dia diajari oleh patung Dorna di situ. Namun meskipun hanya belajar dari patung, kemampuan Ekalaya sudah sedemikian hebatnya, malah melampaui kemampuan Arjuna.

Setelah berpikir, Dorna bersedia menerima Ekalaya menjadi muridnya, dengan 1 syarat, Ekalaya harus memotong kedua ibu jarinya.

Syarat diterima, lalu Ekalaya memotong sendiri kedua ibu jarinya. plasss. Berikutnya Ekalaya disuruh pulang ke negaranya karena sudah tidak mungkin bisa memanah lagi.

Meski tidak bisa lagi memanah, namun Ekalaya merasa senang sekali akhirnya bisa menjadi murid Resi Dorna.

--------

Ceritanya masih berlanjut panjang sekali, tapi dari sini sudah dapat ditarik pesan moralnya, mengenai semangat belajar Ekalaya a.k.a Palgunadi yang tidak kenal kata menyerah. Sebuah etos belajar yang selalu mencari jalan lain setiap kali menemukan kebuntuan, meskipun jalan tersebut kadang tidak logis.

Etos belajar Ekalaya ini pernah ditiru juga oleh Mahesa Jenar. Berikut ini dongengnya... (terdengar suara orang ngorok... zzz... )

--------

Saat Mahesa Jenar bersama muridnya, Arya Salaka a.k.a Bagus Handaka, mampir ke Karang Tumaritis untuk sowan pada Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar tersesat dalam terowongan di dalam bukit. Sebenarnya dia sengaja disesatkan oleh Kebo Kanigoro, agar terjebak di dalam sebuah gua.

Dalam gua tersebut, Kebo Kanigoro membuat sebuah patung yang mirip dengan bapaknya, Ki Ageng Pengging Sepuh, yang merupakan guru Mahesa Jenar.

Ketika Mahesa Jenar sudah berada dalam gua, pintu gua diruntuhkan oleh Kebo Kanigoro supaya Mahesa Jenar terjebak di dalamnya.

Dalam keremangan gua (ada sedikit cahaya dari atas), Mahesa Jenar melihat patung tersebut seolah melihat sosok gurunya, termasuk setangkai bunga yang diselipkan di telinga patung. Meskipun akhirnya Mahesa Jenar tahu bahwa itu hanyalah sebuah patung, namun bisa menyemangati Mahesa Jenar untuk mengolah kembali jiwa raganya, yang sudah lama sekali tidak tersentuh ajaran dari guru, sejak gurunya itu meninggal.

Setelah berlatih beberapa hari dalam gua, kemampuan Mahesa Jenar meningkat pesat, lalu dengan ajian Sasra Birawa yang tenaganya berlipat ganda, dia berhasil menjebol reruntuhan pintu gua.

Bahkan saking pesatnya, Kebo Kanigoro mengatakan kemampuan Mahesa Jenar sudah melampaui kemampuan gurunya sendiri.

--------

Moral of the story: halangan dan kesulitan dalam belajar kadang malah menjadi keuntungan tersendiri dalam mencapai tujuan. Ekalaya tidak diterima jadi murid Dorna, Mahesa Jenar terjebak di dalam gua, tapi keduanya membalik keadaan keterpaksaan itu menjadi hal yang menguntungkan.

Seandainya dulu belajar komputer adalah semudah saat ini, mungkin semangat belajarku tidak sebesar saat itu. Banyak sekali yang harus dikorbankan untuk dapat belajar programming, berangkat dari asrama ke kota Jombang. Jalan kaki dari Tambakberas ke Kota adalah hal biasa.

Buku komputer juga belum banyak tersedia. Hanya punya 1 yang aku beli di Jogja, pemrograman BASIC karangan Jogiyanto HM. Sangat tebal namun habis juga karena hanya punya 1 itu yang dibolak-balik. Saat itu cuma ada Windows 3.1 WG dan MS-DOS 6.22, Google belum lahir, internet belum tersambung. Dark age banget deh pokoknya.

Kadang kala kemudahan yang tersedia, malah menurunkan semangat belajar. Nah, hal inilah yang seharusnya diubah. Kalo yang sulit saja bisa, yang mudah haruslah lebih bisa lagi.

Selamat belajar.



Note:Cerita ini adalah dongeng pengantar nyonya tidur, dan sekaligus sebagai penjawab pertanyaan dari Mas Bagas: "ekalaya karo mahesa jenar? adoh men"

February 1, 2009

Pelatihan Sholat Khusyu

Beberapa hari yang lalu, diadakan pelatihan sholat khusyu di ABM (STIE Malangkuçeçwara) Malang. Pelatihan kali ini dipimpin langsung oleh Ustadz Abu Sangkan, selain yang tiap bulan di minggu kedua dilatih oleh para trainer.

Kenapa sholat perlu dilatih? Malah sampai 2 hari, sampai menginap di kampus itu.

Bukannya sholat ya itu-itu saja? Bacaannya tetap sama sejak dari ratusan tahun yang lalu, gerakannya tidak pernah dan tidak akan pernah berubah, arah sholat dan yang dituju juga tetap sama saja.

Sholat kok dilatih.

Berikut ini adalah catatanku selama mengikuti pelatihan, aku simpulkan menjadi beberapa kesalahan penyebab kenapa khusyu sulit untuk diraih:

  • Menganggap sholat khusyu itu sulit diraih
    Banyak sekali referensi yang mengatakan bahwa sholat khusyu hanya dapat diraih oleh orang-orang tertentu saja, dan membutuhkan level agama tertentu. Dengan persepsi seperti ini, saat melakukan sholat kita sudah tidak berusaha meraih khusyu lagi. Sholat hanya menjadi 'yang penting sholat'.
    Padahal siapapun bisa meraih sholat khusyu, bahkan para pendosa sekalipun. Itu adalah hak prerogatif Alloh.

  • Tidak tau bagaimana khusyu itu sebenarnya
    Kadang kita salah membedakan mana khusyu dan mana konsentrasi.
    - Khusyu bersumber dari hati, sedangkan konsentrasi dari pikiran.
    - Konsentrasi hanya membatasi kesadaran kita pada otak saja, sedangkan khusyu pada akhirnya membawa pikiran untuk konsentrasi.

  • Salah anggapan
    - Menganggap sholat adalah demi gugurnya kewajiban.
    - Menganggap sholat diwajibkan karena Alloh butuh sholat kita.
    - Menganggap sholat untuk meraih surga.
    - Menganggap sholat sebagai penghindar dari neraka.

    Padahal sesungguhnyalah kita yang butuh sholat itu. Saking dibutuhkannya sampai diwajibkan. Dan hanya melalui sholatlah kita dapat menghadapNya, tidak ada media atau sarana lainnya. Ini adalah fasilitas super canggih yang disediakan.

  • Salah paham tentang niat
    Masih banyak yang bingung membedakan mana niat dan mana bacaan awal sholat.
    Niat bukan hanya bacaan di awal sholat, tapi melingkupi secara keseluruhan saat sholat, dari awal hingga akhir.
    Mengutip dari buku Ustadz Abu, misalnya kita diberi gelas berisi air penuh, yang goyang sedikit saja tumpah, lalu kita disuruh membawanya berjalan 100 meter. Sepanjang perjalanan itu kita harus menjaga kesadaran agar airnya tidak tumpah. Usaha menjaga kesadaran itulah namanya niat.

  • Menganggap bacaan adalah sebagai kontrol gerakan sholat
    Inilah ajaran yang kita terima secara umum sejak masa kecil. Setiap satu bacaan selesai, maka dilanjutkan dengan gerakan berikutnya. Misalnya setelah bacaan iftitah selesai, maka langsung disambung dengan rukuk, dan setelah bacaan rukuk selesai, maka disambung dengan gerakan i'tidal. Dan seterusnya.
    Tidak ada yang salah dengan hal ini.

    Namun hendaknya, setiap memulai suatu gerakan, tidak harus buru-buru melakukan bacaannya. Serta ketika bacaan sudah selesai, tidak usah buru-buru mengakhiri gerakan tersebut.
    Intinya tertibkan gerakan sholat, lakukan dengan tuma'ninah (rileks, santai).

    Bacaan berulang-ulang di setiap rukuk atau sujud, jumlahnya juga tidak harus 3 kali, boleh diucapkan berulang-ulang sebanyak apapun. Ini dilakukan untuk sugesti diri, doa. komunikasi, autoterapi, dan banyak lagi lainnya.

  • Menganggap bacaan sebagai bacaan
    Mungkin di sinilah inti dari kesalahan yang sering terjadi. Bacaan sholat yang dibaca hanya dijadikan sebagai rukun sholat, dibaca secara cepat, tanpa tau maksudnya.

    Tidak sedikit yang hafal bacaan iftirasy (duduk di antara 2 sujud), namun banyak yang tidak tau bahwa di dalamnya terkandung dialog dengan 8 doa. Kebanyakan dibaca datar saja, mengalir dari bibir/otak, bukan dari hati.

    Padahal itu seharusnya menjadi dialog. Dialog pada siapa yang disembah. Untuk tau arti tiap bacaan rasanya mudah sekali, karena sudah buanyak sekali buku yang memaparkan artinya.
    Bacalah bacaan itu dengan perlahan, resapi maknanya, ketahui maksudnya, lalu setelah diucapkan tunggu respon dariNya.

    Dan memang bacaan itu menjadi dialog, yang artinya komunikasi 2 arah, kontak langsung dengan Robbul Alamin, Tuhan pencipta segala alam.

Sholat khusyu bukanlah sholat yang lama, namun saat meraih khusyu akhirnya sholat menjadi lama, karena rasanya akan sayang sekali untuk mengakhiri sholat. Dan setiap kali selesai sholat, akan merindukan waktu sholat berikutnya. Ini bukan hal yang dibuat-buat, tapi digetarkan dari dalam hati.

Untuk meraih sholat khusyu tidak perlu menambah atau merubah cara sholat, atau dengan membayangkan hal-hal lain, media lain, dan lain sebagainya. Cukup perbaiki cara sholat.

Dalam menghadap Alloh tidak membutuhkan pengetahuan atau ketinggian ilmu, karena toh ilmu itu milik Dia. Cukup menghadap Dia dengan kebodohan dan kekotoran jiwa, lalu buka dan pasrahkan hati, niscaya Dia yang akan mengajarkan ilmuNya.

Hanya satu ilmu yang patut kita bawa untuk menghadapNya, yakni kebodohan kita. Kembali ke zero state.

Hal inilah yang perlu dilatih, terus dan terus. 2 hari saja tidaklah cukup, karena harus tetap diolah, baik sendiri maupun berjamaah.

Selamat meraih sholat khusyu.

Terimakasih kepada guruku Abu Sangkan.


Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi