" /> Mahesa Jenar: November 2008 Archives

« October 2008 | Depan | December 2008 »

November 29, 2008

Sengketa


Salah satu kisah yang terkenal tentang Nabi Sulaiman adalah menyelesaikan sengketa 2 ibu-ibu yang memperebutkan 1 bayi.

Nabi Sulaiman menginvestigasi keduanya dengan cara berpura-pura akan membelah bayi tersebut menjadi 2, untuk dibagikan ke kedua ibu tersebut.

Ibu pertama keberatan dengan keputusan tersebut. Dia memutuskan rela tidak mendapatkan si bayi, daripada melihat bayinya terbelah dua.

Ibu kedua dengan senang hati menerima keputusan itu. Tidak peduli meski bayi terbelah 2.

Nabi Sulaiman akhirnya memutuskan bahwa bayi tersebut adalah milik ibu pertama.

Selesai.


Seandainya Nabi Sulaiman masih ada, mungkin taktik di atas tidak dapat diterapkan di Indonesia saat ini. Jika Nabi Sulaiman mengancam akan membelah bayi menjadi 2, mungkin kedua pihak akan setuju.

Kedua pihak rela meskipun yang diperebutkan mengalami sengsara.


November 26, 2008

Memilih Nama

Memilih nama untuk anak adalah perkara mudah namun sulit. Meskipun nama tersebut bisa kita rename setiap saat, namun betapa repotnya kalo tiap ganti nama anak kita harus menelepon teman-temannya: "hei, namaku ganti lagi, tolong update phonebook kamu ya"

Belum lagi efek legalitas, nama sebagai identitas di KTP, catatan sipil, Ijazah, nota hutang, keanggotaan di klub bilyard, dsb, yang pasti menjadi urusan panjang kalo ganti nama.

Intinya: mudah memilih tapi harus untuk selamanya.

Aku dulu sering berpikir. kenapa wanita hamil kok sampai memakan waktu 9 bulan 10 hari? Kalau Tuhan ingin efisien, bukankah bisa 1 hari saja. Jadi kemarin positif hamil, besoknya sudah melahirkan.

Salah satu jawabannya (menurutku) adalah agar orang tua punya waktu untuk mempersiapkan segalanya sebelum kelahiran si bayi, yang salah satunya adalah mempersiapkan nama untuk anaknya.

Di masyarakat, ada pandangan bahwa mempersiapkan nama anak adalah hal tabu, karena dirasa mendahului takdir. Tetapi bagiku tidaklah demikian. Tidak ada maksud mendahului takdir atau memastikan yang belum pasti, namun lebih pada memanfaatkan waktu yang tersedia. Sebagaimana mempersiapkan dana, rencana, dan hal-hal yang membutuhkan pemikiran lainnya. Jangan sampai saat kelahiran anak baru kelabakan dengan banyak hal.

Dan di antara 9 bulan inilah perburuan nama dilakukan.

Berikut ini adalah catatan yang aku gunakan dalam menentukan nama:

1. Nama adalah doa

Asmo minongko jopo, kata orang Jawa, yang artinya kurang lebih "nama merupakan doa".

Nama identik dengan panggilan. Alangkah indahnya jika setiap kali dipanggil, saat itu juga sekaligus didoakan. Karena mayoritas bangsa ini adalah muslim, dan muslim identik berdoa dengan bahasa arab, maka kategori memberikan nama yang mengandung doa ini cenderung menggunakan bahasa arab.
Meskipun seharusnya tidaklah demikian. Doa dalam bahasa jawa juga ok, bahasa mandarin, jepang, inggris, yunani, san sekerta, juga dipersilakan. Asal tau arti dan maksudnya.

2. Kesamaan lafadz dan tulisan

Ini penting agar tidak terjadi kesalahan penulisan, atau bertanya berulang-ulang karena namanya punya banyak bentuk. Nama Rahmad misalnya, berpotensi untuk mengalami variasi: Rahmat, Rakhmat, Rakhmad, dst. Yeni -> Yenny, yenni, yeny.

Pilihan huruf sederhana harus dipertimbangkan di sini.

3. Unik dan mengena

Unik itu bagus, sehingga jika terbersit namanya, langsung terbersit orangnya. Tidak harus memilah-milah dulu di otak karena banyak wajah dengan nama yang sama. Nama Aryo Sanjaya (meskipun hanya samaran) sampai sejauh ini belum ada yang menyamai di dunia ini. Acuannya dari Google Search.

Namun unik saja tidak cukup kalo tidak mengena, yaitu keserasian nama dan orangnya.
Hmm... mau memberikan contoh tapi kuatir tidak etis :)

Dari nama sebisa mungkin sudah bisa tergambar karakter orangnya, jenis kelamin, dsb. Di sini tantangan bagi orang tuanya dalam memberikan nama.

4. Memiliki panjang ideal

Tidak terlalu pendek sebagaimana umumnya nama Jawa. Tidak terlalu panjang sehingga merepotkan saat menulis nama.

Sebagai catatan, nama panjang juga dapat merepotkan saat akad nikah, kasihan mempelai pria kalo harus mengulang-ulang ijab qobul karena kehabisan nafas saat menyebut nama calon istrinya, atau tersedak, atau belibet, atau lupa, dst.

5. Sulit dimanipulasi

Ini kiddies banget sih, dan sulit dihindari. Nama Aryo diubah jadi Parjo, nama Bondhan diganti Bondet, nama Bagas diubah jadi Bagasi. dst. Tidak penting banget sih. Skip saja.



Ada pertimbangan lainnya?


November 21, 2008

Hal-hal Yang Mengganggu Programmer


Berikut ini hanya catatan kecil, yang mungkin lebih bisa dirasakan oleh mereka sesama programmer, terutama programmer yang menjadi amunisi sebuah perusahaan. Bukan yang freelancer atau yang berdiri sendiri.


1. Kebanyakan Interupsi

Saat sedang coding, penggunaan kedua otak kanan dan otak kiri benar-benar dioptimalkan. Berimajinasi dan berlogika.
Sejak awal coding banyak hal yang diingat, disimpan, direncanakan, dikira-kira, disiasati, menyusun secara dinamis flowchart program di otak (selain yang di kertas, kalau ada).
Seandainya di tengah proses coding ada interupsi dari menejer, bos, pacar, teman sebelah meja, bakso lewat, whatever, yang membutuhkan menghandle hal lain, maka nanti saat memulai coding programmer harus mulai menyusun lagi dan mengingat-ingat apa yang tadi telah tersusun. Repot.

Hal ini yang jarang diketahui oleh pihak lain. Kebanyakan menganggap coding itu seperti tukang bangunan yang menyusun batu bata (meskipun aku belum pernah jadi tukang batu), yang bisa dilanjutkan kapan saja dengan mudah. Mereka dengan mudah mengatakan 'pak, bisa kesini sebentar?', menyuruh melakukan hal yang lain, dan berharap saat kembali ke meja kita dapat kembali ke state yang tadi. Angel bos.


2. Rencana tidak Terencana

Develop program memang harus dinamis, mampu mengakomodasi perubahan kebutuhan. Namun jika perubahan sangat mendasar dilakukan saat finishing, bisa-bisa merombak banyak hal, bahkan membuat apa yang telah dikerjakan sebelumnya menjadi sia-sia.
Ya, itu adalah masalah bagaimana menyusun struktur program yang baik sehingga mudah untuk diubah-ubah.
Namun yang dibahas adalah betapa jika si menejer tidak merancang kebutuhannya dengan baik, dan menganggap bahwa perubahan itu mudah dilakukan, serta merasa tidak apa-apa kalau pekerjaan sebelumnya menjadi terbuang sia-sia.


3. Menejer tidak memahami dunia coding

Ya ya, menejer tugasnya adalah memenej proses, tidak harus berhadapan atau memahami hal teknis.
Namun jika menejer blank tentang dunia programming, ada kalanya mengeluarkan perintah untuk mengerjakan sesuatu yang mendekati mustahil. Bisa sih bisa, tapi kadang gak worth dengan hasil yang didapat. Saat mengerjakan hal yang kita tau aneh kayak gitu, perasaan biasanya tertekan. Huh.


Sebenernya masih ada hal-hal yang lain, namun harus memberi kesempatan yang lain untuk mengungkapkannya.


November 19, 2008

'Jalan Tol' Itu Kini Gratis

Kasus rebutan hak antara Pemkot Malang dan pihak Unibraw atas kepemilikan jalan tembus yang membelah area kampus Unibraw memang belum tuntas, namun ada satu hal yang sudah terlihat: pungutan 'retribusi' Rp 2.000 setiap kali lewat jalan tersebut sudah ditiadakan[1].

Jalan tembus tersebut memang strategis untuk dilewati menuju Jl. Veteran dari Jl. Soekarno Hatta, atau sebaliknya.

Saat ini jika pengendara akan bergerak antara 2 titik tersebut terdapat dua alternatif: lewat Dinoyo atau lewat Bethek. Keduanya adalah jalan memutar sehingga jaraknya beda jauh. Ditambah lagi 2 titik tersebut adalah 'jalur wajib' yang selalu ramai dilintasi pengguna jalan, kemacetan nyaris setiap saat terjadi di jalur itu.

Sebagai gambaran perbandingan kedua jalur, berikut ini capturan dari Google Earth, dari jembatan Soekarno Hatta menuju perempatan ITN:


Jalur 1

Jalur 1, memutar lewat Dinoyo: panjang 2.638 meter


Jalur 2

Jalur 2, memutar lewat Bethek: panjang 2.686 meter


Jalur 3

Jalur 3, menembus kampus: panjang 844 meter

Terlepas dari siapa pemilik jalan tersebut, mbok yao pastikan gimana baiknya. Bukan nanggung kayak sekarang ini.

Kalo memang untuk umum, buat agar kenyamanan dunia kampus tidak terganggu oleh traffic yang melintas. Dan gak usah bayar kalo lewat situ :)

Kalo memang bukan untuk jalan umum, pastikan yang boleh lewat situ hanya civitas kampus saja. Kalo dibiarkan, ya sama saja dengan jadi jalan umum. Lalu gimana cara memastikan yang lewat itu orang luar yang cuma mau lewat saja atau warga kampus? Ya itu silakan dipikirkan :)


[1] gak yakin, hanya kemarin pagi ketika aku lewat situ[2] sudah gak bayar
[2] nganter adik ke gedung UKM Unibraw

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi