Tentang Ngidam
Sudah lama aku mempunyai pendapat tentang ngidam ini, namun baru kali ini merasa 'berhak' untuk membahasnya.
Ngidam memang tidak selalu berupa makanan, karena bisa berupa keinginan terhadap sesuatu atau melakukan suatu hal. Tapi demi kesamaan fokus, kita anggap ngidam adalah keinginan terhadap makanan tertentu.
Dengan berbagai definisi, anggapan dan kepercayaaan yang berbeda-beda di masyarakat, aku coba menyimpulkannya menjadi beberapa kelompok:
1. Ngidam adalah keinginan dari si bayi
Sebagai mahluk yang bersiap hadir di muka bumi, si bayi sedang iseng ingin mencicipi makanan tertentu di dunia ini. Lalu lewat kontak dengan ibunya, dia menyampaikan makanan apa yang hendak dimakan.
Dari makanan yang diinginkan, dapat dijadikan tanda-tanda jenis kelamin/sifat jabang bayi nantinya.
Berangkat dari situ muncul pendapat lanjutan bahwa kalau ngidam tidak dituruti, bakal menyebabkan bayinya nanti ngileran.
Lebih kejam lagi, kalau belum dituruti maka jabang bayi akan ogah untuk keluar saat waktunya lahir nanti. Harah.
2. Ngidam adalah kesempatan bermanja buat si ibu
Membayangkan bakal membawa beban di perutnya selama 9 bulan, lalu melewati proses menyakitkan di penghujung kehamilan, si ibu tidak mau penderitaan itu dialami sendirian olehnya. Untuk itu si ibu ingin mendapatkan 'service' berupa 'mbok yao dituruti keinginanku yang satu ini'.
Dan karena kesannya si Ayah tidak ikut merasakan sakit, maka harus rela dibebani tugas mencari apa-apa yang sedang sulit dicari.
Atau minimal mencari solusi lain kalau yang diingini ternyata mustahil didapatkan.
3. Ngidam adalah reaksi alami
Karena tubuh ibu hamil banyak menghasilkan zat xxx (silakan googling sendiri), maka ada ketidaknyamanan rasa di mulut si ibu. Oleh karenanya si ibu ingin memakan makanan yang dirasa mampu mengatasi ketidaknyamanan tersebut. Baik itu yang berasa pedas, kecut, atau makanan yang dianggapnya dapat mengatasi suasana itu.
Dan mungkin masih banyak kelompok definisi yang lain.
Bagi aku, meskipun itu ngidam atau tidak, selama memang keinginan istri dan wajar untuk dituruti, maka aku usahakan menurutinya. Jadi si ibu gak usah mengatasnamakan keinginan bayi kalo memang keinginan itu datang dari ibunya.
Tidak usah mengaitkan dengan mitos atau anggapan-anggapan yang bisa menjadikan salah kaprah, baik secara kesehatan maupun secara norma agama.
Pendidikan anak dimulai sejak sedini mungkin kan :)

Komentar Terbaru