Pagi ini aku bangun agak kesiangan, sudah hampir jam 8. Tadi pagi setelah sholat Shubuh memang aku berniat menambah tidur sedikit lagi, karena merasa masih capek setelah perjalanan jauh. Mungkin karena saking lamanya tidak tidur di kamarku yang nyaman ini, jadinya kebablasan. Kesiangan.
Keluar dari kamar disambut oleh sepi, entah pada kemana orang rumah.
Semalam sempat bertemu dengan Bapak, ketika baru saja aku turun dari ojek di depan rumah. Itu artinya Bapak sedang tidak bertugas keluar kota.
Kalo adik-adikku mungkin sekolah. Eh, tapi ini kan hari Minggu. Hmm.
Dari jendela depan kamarku yang menghadap ke jalanan, terlihat tidak ada sama sekali yang melintas. Padahal jalan terbesar di desaku itu adalah jalan utama, yang meskipun tidak seramai lalu lintas kota, tapi tidak biasanya sesepi itu.
Diawali dengan menguap, aku berjalan gontai menuju meja makan, mungkin ada rejeki di sana. Tudung aku buka, dan segelas susu kesukaanku sudah tersedia. Ah, Ibu belum juga lupa kegemaran anaknya.
Susu putih pada gelas yang sama sejak aku masih SMP, sejak termakan omongan guruku yang menekankan pentingnya susu, hingga kini ketika aku sudah hampir menjadi sarjana. Gelas hadiah, yang aku dapatkan dari sabun colek bergambar sayap ketika membelikannya untuk Ibu. Sampai sekarang gelas bumbung (istilah di desaku) itu masih terawat dengan baik. Tidak ada bintik-bintik hitam seperti gelas di kantin kampus.
Saat akan mengambil gelas susu, ada yang muncul dari pintu dapur. Ternyata Ibu.
"Jangan dulu diminum, itu baru Ibu bikin, masih panas."
Aku hanya nyengir, dan menutup kembali tudung di atas meja.
"Pada kemana, Bu?"
"Hari ini ada pembagian jatah bantuan di balai desa, semua pada kesana, Bapakmu juga," Ibu menjelaskan sambil membetulkan posisi kerudungnya.
"Ibu tadi sudah dari sana, tapi lupa matikan sanyo, terus bikin susu buat kamu."
"Emangnya Ibu datang ke sana ngapain?" Aku gak yakin kalo keluargaku juga mendapatkan jatah BLT, setelah Pak SBY tidak kuat menahan laju himpitan beban BBM pada APBN.
Ibu berjalan ke depan televisi, meraih tas di atasnya, mencari-cari sesuatu di dalamnya, "Ya kan disuruh Pakdemu. Nama Ibu sudah dicatatkan di sana."
"Tapi kan kita gak termasuk warga miskin, Bu," jawabku dengan ringan, walaupun keinginanku membeli handphone belum juga mereka kabulkan. Pakde itu kakaknya Ibu, yang menjadi kepala desa.
"Nama Ibu sudah ditulis di daftar penerima, berarti disetujui para pamong desa." Ibu mengeluarkan sekumpulan kunci, dan berusaha mengambil salah satunya. "Kalo tidak Ibu terima, nanti pasti diberikan ke saudaranya pamong yang lain."
Ibu menghampiriku sambil menyerahkan kunci pintu rumah.
"Sudahlah, lagian Bapakmu ikut jadi pengawas ketertiban pembagian, jadi anggap ini sebagai imbalan."
Aku tidak berminat mendebat Ibu.
"Lauknya ada di lemari. Ibu pergi dulu."
Setelah Ibu berlalu dari pintu depan, aku masih tidak habis pikir keluargaku ikut menerima dana BLT.
Ah, sudahlah, mungkin memang keluargaku termasuk jajaran keluarga miskin di desa ini. Aku menghibur diri.
Daripada kesepian, aku berjalan ke belakang rumah, di mana ada sungai besar, tempatku melamun di pinggirnya. Sebuah dipan bambu hasil karyaku bersama Bapak masih setia menungguku di sana. Biasanya tempat itu menjadi tempat nongkrong bersama para pemuda desa. Namun kali ini sepi.
Tidak beberapa lama duduk di situ, aku lihat Wak Tukiman melintas di depanku, sambil memanggul cangkul.
"Kemana, Wak?" basa-basiku, jelas-jelas dia mau ke sawah.
"Ke sawah, Ton," tanpa berhenti dia menjawab.
"Gak ikut pembagian dana bantuan, Wak?"
"Walah, Uwak masih mampu kok. Lagian nama Uwak tidak terdaftar."
Deg.
Aku tahu dengan jelas tingkat ekonomi Wak Tukiman. Meskipun memiliki sawah sendiri, namun kondisinya tidak dapat dikatakan berkecukupan. Sering Bapak menggunakan jasa Wak ini untuk membantu di sawah, atau sekedar memperbaiki rumah.
Tapi kenapa pamong desa tidak memasukkan namanya dalam daftar penerima dana BLT?
Tentu saja cerita di atas hanyalah fiktif belaka, meskipun kisah sejenis itu memang banyak terjadi di desaku.
BLT yang nilainya belum tentu mampu mengcover kebutuhan warga sejak kenaikan BBM yang belum naik, seringkali tidak sampai ke tangan yang seharusnya.
Belum lagi jika dana itu malah sebagian -besar- mengalir ke tempat lain, yang sengaja 'diamankan' oleh aparat desa dengan alasan untuk 'kas' desa.
Mari kita[1] awasi penyaluran BLT di desa masing-masing[2].
[1] bagi yang dari desa
[2] bagi yang pulang
Komentar Terbaru