" /> Mahesa Jenar: December 2007 Archives

« November 2007 | Depan | January 2008 »

December 30, 2007

Hidup di Seni, Mati di Seni

Kalimat seperti itu mudah diucapkan, namun tidak semua orang dapat mengimplementasikannya.

Tetapi seorang seniman yang juga seorang profesor, juga dalang, juga pelukis, juga pejabat, juga pendekar, duta budaya, telah berhasil dengan suksesnya membuktikan sendiri kalimat yang pernah diucapkannya tersebut.

Prof. Dr. Drs. Budi Udjianto, MPA, meninggal dunia saat melakukan pentas wayang, menjadi dalang dalam peluncuran buku karyanya, "Banjaran Kadiri", di Balaikota Kediri, Sabtu 29 Desember 2007, sekitar jam 23:00.

Meninggal dunia tepat di hari ulang tahun pernikahan ke-32, dan bertepatan dengan hari lahir (weton) cucu kesayangannya, Arva.

Berita selengkapnya

~~~

Saat saya mendapatkan berita meninggalnya beliau, jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Saya dan lima rekan yang lain (yang kok kebetulan sedang berkumpul), yakni Yudhi, Aris, Eko Heri, Irfan dan Slamet, langsung berangkat dari Malang menuju Kediri.

Hanya beberapa jam kami di Kediri, menyempatkan melihat pak Budi, bertemu istrinya, dan anak bungsunya yang juga rekan kami di SCeN, Bondhan Rio P.

Banyak sekali kenangan yang kami dapatkan bersama pak Budi, saat beliau masih tinggal di kota Malang, sebelum menjalani masa pensiun di kota Kediri.

Sebagai seniman sejati, rumahnya dihiasi banyak sekali benda seni. Alat musik, lukisan karya beliau, perlengkapan tari, dan sejumlah perangkat upacara kesenian lainnya.

Pada rumah tersebut, pintunya selalu terbuka untuk kami, yang terbiasa datang kapan saja, jam berapa saja. Bermalam sampai berhari-hari, ikut makan, mandi, memancing ke laut, dan lain sebagainya. Menemani beliau nonton tivi, dengan selingan dongeng dan nasihat terselubung, ada banyak sekali hal yang dapat kami jadikan pelajaran.

Tidak terhitung entah berapa kali kami 'terpaksa' menjadi penunggu rumahnya, saat beliau sekeluarga meninggalkan rumah untuk beberapa hari.
Bahkan hari raya Idul Fitri tahun 1999, ketika saya 'terjebak' tidak dapat pulang ke Sulawesi karena ketinggalan kapal, saya menginap di rumah beliau, yang kosong karena beliau sekeluarga sedang lebaran ke Kediri.

Dan masih banyak kenangan bersama beliau, yang tidak mungkin dapat diceritakan di sini.

Namun satu hal yang pasti, belum ada satupun 'balasan' yang dapat kami berikan kepada beliau, sampai kepergiannya yang mendadak.

Selamat jalan pak profesor, semoga segala amalan diterima olehNya, dan menjadi penerang serta pelindung di alam sana.
Semoga semangat dan kecintaan anda pada seni, dapat tumbuh dan berkembang di penerus bangsa ini.

Aamiin.


December 28, 2007

Kebiasaan Menutup Jalan

Siang ini, saat mentari tak punya nyali menampakkan diri, dan jam di tangan yang tanpa henti meneriakkan aku bakal terlambat ngantor lagi, aku menyusuri jalanan senti demi senti.

Entah cuma di kota Malang, atau mungkin juga di kota lain, yang punya kebiasaan menutup jalan secara sepihak dengan dalih 'acara warga'
Warga memang mempunyai hak atas jalan di wilayahnya, tapi pengguna yang membayar pajak melalui STNK juga punya hak untuk melintasi jalan tersebut.

  • Saat musim nikah (setahun bisa beberapa kali), jalanan ditutup untuk acara resepsi.
  • Saat musim 17 agustusan, jalanan ditutup untuk acara lomba atau penyerahan hadiah (setahun sekali, tapi menutup banyak jalur)
  • Saat tidak musim apa-apa, jalanan ditutup untuk kegiatan yang kok ada saja.

Bagi pengguna jalan yang tempat tinggalnya berada di sudut kota seperti aku, sangat repot kalau ada penutupan jalan, karena harus jalan memutar, mencari jalur lain.

Jika musim 'acara warga' berlangsung, bukan cuma 1 jalan saja yang ditutup, tapi beberapa jalan sekaligus. Hasilnya, aku pernah hampir 1 jam berputar-putar mencari jalan pulang menuju Joyogrand, yang biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja. Permasalahan bisa lebih parah, seandainya pengguna jalan tidak tahu jalur alternatif. Semisal ke Joyogrand, paling tidak, ada 3 jalan alternatif.
  • Yang biasa dilalui orang adalah jalur utama (lewat Merjosari).
  • Jalur lainnya adalah lewat ITP (Tlogomas), namun jalannya sempit,
  • dan lewat atas, perumahan Graha Dewata, tapi terlalu jauh berputarnya, melewati kampus UMM III

Lha bagi yang tidak tahu jalur alternatif, kan repot banget jadinya. Apalagi selama ini, penutupan jalan tidak menyertakan arah alternatifnya. Pokoknya di tengah jalan ditutup dengan bangkau, kayu atau drum, serta papan dengan tulisan kapur, 'ada acara warga'.

Permasalahan lain, meskipun pengguna jalan tahu jalur alternatif, tetapi pengalihan traffic mendadak melewati jalur sempit yang jarang dilewati, mengakibatkan dampak yang mudah diduga: macet

Berikut ini gambaran kemacetan yang dapat aku tangkap tadi siang:


Berduka tidak lantas dijadikan alasan menghabiskan jalan kan? Seandainya lebih merapat, tidak akan menghabiskan separuh jalan seperti itu.
Saat pelesir di Bali, ada acara pengusungan jenazah seperti itu. Di jalan yang lebarnya relatif sama, di keramaian yang sama, tapi tidak sampai menyebabkan kemacetan. Foto:



Contoh kemacetan yang ditimbulkan di jalan sempit:


Jangankan mobil, sepeda motor saja ikut macet :(

December 27, 2007

Resolusi 2008

ATI Radeon X1600:

Displays:
Color LCD:
  Display Type:    LCD
  Resolution:    1440 x 900
  Depth:    32-bit Color
  Built-In:    Yes
  Core Image:    Hardware Accelerated
  Main Display:    Yes
  Mirror:    Off
  Online:    Yes
  Quartz Extreme:    Supported
Display Connector:
  Status:    No display connected



*kaburr*

December 20, 2007

Teori Relativitas

Ini mungkin ada hubungan dengan teori relativitasnya Einstein atau Galilean, tapi mungkin juga tidak :p *gak jelas*

Salah satu analogi teori relativitas yang dulu sering aku dengar adalah: duduk 1 jam menunggu kuliah selesai terasa lama sekali, tapi duduk 1 jam di cafe bersama gebetan baru terasa singkat sekali.

Yang aku perhatikan, teori seperti itu mirip dengan masalah keuanganku. Saat awal bulan memiliki uang 1 juta di kantong, membeli barang seharga 50 ribu terasa murah.
Namun saat tongpes di akhir bulan, hanya ada uang 10 ribu, harga 50 ribu terasa mahal sekali.

Dari situ bisa muncul dampak buruk:
  1. Tidak dapat menilai harga barang secara obyektif
    Beli nasi goreng seharga 10 ribu terasa murah saja, kalo saat itu sedang bawa uang banyak, tanpa melihat apa yang didapat dari nasi goreng 10 ribu di perempatan PBI itu.
    Dulu aku sering heran kalo sedang belanja dengan Bapak, yang menawar harga habis-habisan kalo harganya masih dirasa mahal. Misalnya beli baju, Bapak tau berapa seharusnya harga baju itu, dan selama belum cocok ya tidak dibeli. Saat itu aku pikir, harga segitu cukup kecil bagi Bapak, kok ndak dibeli saja sih.
    Berikutnya baru aku sadar bahwa pola pikirku yang salah.
  2. Boros
    Tentu saja, dari poin #1 efeknya adalah boros. Selama di saldo ada sejumlah uang, dan pegang ATM, bawaannya pingin belanja something yang sebenarnya belum dibutuhkan. Malah kadang aku pikir, uangku lebih awet kalo dipinjamkan. *maaf ini bukan penawaran, tapi dari beberapa kejadian memang seperti itu*
  3. Tidak bisa menabung
    Efek dari poin #2, tidak perlu dibahas.
Pola pikir relatif seperti itu memang bisa merugikan. Karena itu ada baiknya dikembangkan pola pikir kebalikannya, yakni teori absolut (ada gak ya? ngarang to the max). Saat membeli barang, pandanglah harga barang secara obyektif, tidak perduli berapapun uang di kantong.

Duduk 1 jam entah itu kuliah ataupun kencan, ya dihitung sama, toh sama-sama bisa menimbulkan DVT.

Korupsi berapapun jumlahnya tetaplah korupsi, dan yang terkait harus ada hukuman meski dia seorang capres sekalipun :-"

December 18, 2007

Pelukan Surga

Gadis itu merapikan jilbabnya yang tersingkap, yang berkibar tertiup angin dari arah haluan kapal. Berdiri bersandar di pagar besi pinggiran dek, sambil menyaksikan kapal Rinjani yang ditumpanginya perlahan merapat pada pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Sudah menjadi kebiasaan tak tertulis bagi sebagian besar penumpang, untuk berdiri berderet di pinggir dek sebelum kapal bersandar di pelabuhan. Tak terkecuali buat si gadis, yang meski sudah kesekian kalinya menumpang besi raksasa terapung itu, tetap saja dia menikmati saat-saat kapal berlabuh. Serasa ada momen penyatuan dirinya dengan tanah Jawa, tempatnya dilahirkan, setelah berpisah lama di pulau orang, hampir satu tahun.

Sambil memeluk ransel kecil dia menempelkan tubuh mungilnya pada pagar, supaya tidak terserempet orang-orang yang berseliweran di belakangnya. Perlombaan turun dari kapal selalu menjadi hal yang dihindarinya, terutama karena tubuhnya yang mudah terhimpit di antara tubuh-tubuh lain yang lebih besar. Menunggu jalur turun menjadi sepi, sambil melamun, tentu lebih nyaman bagi dirinya.

Apalagi saat ini kebahagiaan sedang menelusup di dalam hatinya. Dalam lamunan, dia bisa meresapi setiap sisi kebahagiaan itu, bersyukur atas kemudahan yang telah diberikanNya.

Pekerjaan baru yang dia dapatkan enam bulan yang lalu, telah menaikkan saldo tabungannya dengan nyata. Jika di pekerjaan sebelumnya, di kota yang sama, saldonya selalu kembali ke posisi semula di akhir bulan, namun di pekerjaan sekarang ini dia mendapatkan jauh lebih banyak pemasukan, di perkerjaan yang lebih layak baginya. Doa di setiap ibadahnya selama ini akhirnya terjawab.

Dia harus berterimakasih pada teman barunya yang dikenalnya di warnet itu, yang turut andil memasukkan dia ke kantornya sekarang ini. Jika sebelumnya dia bekerja sebagai tukang catat barang di gudang sebuah toko mainan, kini bekerja sebagai editor berita di sebuah LSM. Tempat kerjanya kini lebih nyaman dan ber-AC. Jenis pekerjaan yang lebih teratur, meja kursi sendiri, dan meski beban kerjanya ringan, namun karena karyawan di kantor itu masih asing dengan yang namanya internet, posisinya seakan-akan penting. Beruntunglah dia pernah belajar banyak sewaktu di laboratorium komputer di kampusnya dulu, tempat dia menyandang gelar sarjana komputer.

Dilihatnya tangga turun kapal sudah mulai sepi, hanya sesekali saja orang melintasi tangga itu. Sebelum tangganya digunakan untuk jalur orang naik ke kapal, bergegas dia menuju tangga turun di dek yang sama. Sambil berjalan menuruni tangga, dia memasukkan handphone SonyEricsson T610 ke dalam saku jaketnya. HP yang sedari tadi digenggamnya, untuk mengabari teman-teman kampungnya bahwa dia sudah sampai Surabaya, 2 jam lagi sampai Probolinggo.

Kebanggaan baginya mampu membeli HP berwarna itu, dibandingkan sewaktu dia berangkat setahun yang lalu, yang masih berkutat dengan HP monokrom bututnya. Meski saat itu gajinya cukup untuk membeli HP yang lebih mahal, tapi selalu habis di akhir bulan untuk dikirimkan ke rekening tabungan adiknya, untuk digunakan bersama ibunya, yang sejak bapaknya meninggal 3 tahun lalu, ibunya mengalami gangguan kesehatan. Gejala stroke, begitu kata dokter. Selain tidak boleh terlalu capek, kondisi kejiwaan ibunya harus terjaga tetap stabil. Padahal ibunya harus menghidupi dia dengan dua adiknya.

Demi membantu ibunya itulah, dia menerima tawaran temannya yang tinggal di Ujung Pandang. Hanya berbekal nekat, dia akhirnya diterima di sebuah toko mainan anak-anak yang cukup besar di sana. Meski tidak sesuai dengan kuliahnya, tapi lebih baik ada penghasilan daripada menganggur sama sekali. Dia mampu menopang ekonomi keluarganya, meskipun masih saja tersendat. Sebagai anak sulung, bahkan kini dia sudah menjadi penyangga ekonomi keluarga.

Teriakan para makelar taksi, ojek dan travel yang berjejer di pintu keluar, menyadarkannya dari lamunan. Sambil mendekap tas dan merapatkan jaketnya, takut kecopetan, dia menerobos kerumunan para makelar. Dia akan naik biskota ke terminal Bungurasih, jadi tidak memerlukan tawaran-tawaran itu.

Setelah sukses keluar dari kerumunan, sekali lagi dia memeriksa dompet dan HP-nya di saku kanan jaketnya, masih ada. Begitu juga di saku kiri, tempat dia menyimpan HP buat adik lelakinya, yang sudah sejak lama mengidamkan sebuah HP. Kelas 3 SMA tanpa HP adalah hal aneh untuk anak zaman sekarang.
Di samping itu, agar dia dapat berkirim kabar dengan cepat pada keluarganya, tanpa harus melalui HP tetangganya.

Selain HP untuk adiknya, di dalam tasnya tersimpan kalkulator ilmiah untuk adik ceweknya yang masih sekolah dasar, serta frame kacamata baru untuk ibunya. Dan tentu saja satu amplop tebal berisi lembaran uang pink, hasil dari penghematan besar-besaran yang dia lakukan.

Setelah semua dirasa lengkap, dengan mata berbinar dan semangat kebahagiaan, dia berjalan cepat menyusuri keramaian orang untuk menuju terminal Ujung, tempat mangkalnya biskota yang jaraknya tidak lebih 200 meter dari pelabuhan.

Sesampainya di terminal, tidak nampak satupun bis di situ, hanya para pekerja yang sedang kepanasan sibuk bekerja membangun terminal. Rupanya terminal sedang direnovasi. Seandainya dia tidak buru-buru, mungkin dia melihat papan pengumuman besar di depan pelabuhan tadi.

Seakan mengerti kebingungannya, seorang penjual minuman di dekatnya menyapa, “mau naik DAMRI ya mbak?”

Gadis itu menoleh, dan mengangguk, “iya pak”

“Terminal lagi diperbaiki mbak, bisnya mangkal di dekat alun-alun Prapat Kurung situ. Kesananya naik becak saja mbak, jauh”

Belum lagi dia menjawab, sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya, “ayo mbak tak antarkan, dekat situ, lima ribu saja wes”, tukang ojek dengan logat Madura.

Dia tidak tahu di mana Prapat Kurung itu, tapi dia ingin segera sampai di terminal, dan uang lima ribu rupiah tidak begitu masalah baginya, saat ini.

“ya wes mas”, jawabnya, mengangguk ke penjual minuman, lalu naik di belakang tukang ojek.

Segera Astrea Grand itu bergerak cepat di jalan lurus yang lebar dengan aspal mulus, saat itu terkesan sepi, dengan tembok putih yang tinggi di sisi kiri jalan, membatasi jalanan dengan pelabuhan angkutan barang.

Jarak ke Prapat Kurung hanya sekitar 500 meter dari terminal Ujung.

Namun baru sampai di 300 meter, laju sepeda motor berhenti dengan benturan. Sebuah truk tronton hijau yang keluar dari pelabuhan barang, menghadang mendadak dengan moncongnya dari sisi kiri. Tukang ojek terlempar hingga beberapa meter ke depan, sedangkan sepeda motor dan penumpangnya masih tersangkut di bawah truk, yang juga terseret beberapa meter sebelum truk berhasil berhenti dengan sempurna.

Tukang ojek tertatih bangun, sedangkan penumpangnya bersimbah darah tak bergerak.

(Aryo Sanjaya, Durensawit, Jaktim, 16 Desember 2007)

December 13, 2007

Assholihatu Lissholihin

Sudah beberapa lama aku menggunakan judul itu sebagai status di Yahoo! Messenger, di GTalk, di signature email, maupun di shoutout-nya Friendster. Hasilnya..., banyak sekali yang penasaran dengan artinya. Hehehe.

Karena cukup merepotkan menjawab satu per satu *ehm, kayak apa aja* maka aku tuliskan penjelasannya di sini saja, semoga bisa memperjelas apa yang belum jelas.

Assholihatu Lissholihina, "wanita sholehah adalah untuk laki-laki sholeh juga"

Tidak pernah dengar?

Mosok sih? kurang gaul kale :D

Sebenarnya aku tidak yakin dengan struktur kalimat arabnya yang sebenarnya, maklum, ilmu Nahwu dan Shorof-ku dapat nilai D.
Kalimat itu sendiri aku rangkai dari komentar oleh Vonk di Istri Sholehah, dan aku gabung dengan beberapa pengertian yang aku dapatkan sebelumnya.

Tentu saja banyak yang tidak setuju dan tidak sepaham dengan 'konsep' itu. Beberapa komentar yang masuk:

  • "Kalo wanita sholehah hanya untuk pria sholeh, tidak adil dong karena tidak ada pemerataan"
  • "Tidak setuju! sama saja mengatakan wanita cantik hanya untuk pria ganteng"
  • "Kalo suaminya maling gimana, apakah istrinya termasuk maling juga?"
  • ...
Dan banyak lagi komentar nyeleneh dan gak nyambung lainnya, hihihi.

Ok, namanya saja buah pikiran manusia, jika berangkat dari landasan yang berbeda, persepsi yang berbeda, kemungkinan besar kesimpulannya juga berbeda.

Kalau buat aku, pengertian yang aku ambil adalah: "jadikan dirimu sholeh terlebih dahulu, sebelum ngotot berusaha untuk mendapatkan wanita sholehah"

Makanya aku bahas di sini, selain untuk share, juga sebagai usaha untuk mendapatkan masukan dari dunia luas :)

Dalam Al-Quran juga ada mirip seperti itu, meski tidak sama persis:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُوْلَئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)" (An-Nur: 26)

 

December 11, 2007

Driver Tales

Sebagai sopir carteran jarak jauh, trayek Malang - Surabaya - Demak - Jogja PP, ada beberapa hal yang dapat aku pelajari dalam perjalanan, misalnya etika dan aturan yang tidak tertulis di dalam kehidupan di atas roda itu.

Berikut ini adalah ringkasan yang dapat aku catat:

A. Jika sedang berada di belakang mobil lain dan dia memberikan tanda berupa:

  • Lampu Sein Kiri Berkedip:
    1. mau berbelok kiri (udah pada tau tanda ini)
    2. mau berhenti (cukup banyak yang tau)
    3. silakan salip gue (jarang yang tau)
  • Lampu Sein Kanan Berkedip:
    1. mau belok kanan (ya, banyak yang tau)
    2. jangan salip gue, ada samting wrong dari depan. lu nyalip gua ga nanggung.
  • Kedua Lampu Sein Berkedip:
    1. sedang dalam suatu rombongan (konvoi)
    2. akan terpaksa berhenti, ganti ban atau ganti sopir. 

B. Jika akan berpapasan dengan mobil lain, kemudian dia member tanda:

  • Lampu Beam (jarak jauh) dinyalakan:
    1. lampu beam kita masih nyala dan menyilaukan dia. mohon dimatikan.
    2. cuma buat ngecek kondisi di belakang kita, biasanya malam hari dan belakang kita gelap gulita.
    3. buat menyapa, mungkin kita dikira sodaranya.
    4. dia pamer lampunya lebih terang. mungkin baru pasang sorenya.
  • Sopir memberi gerakan tangan berputar:
    1. jalan buntu, balik saja
    2. ada razia polisi di depan :p 

C. Lain-lain

  • Perjalanan malam hari
    Jika lebih senang bergumul dengan kendaraan berat (truck, tronton, longvehicle, dsb) dibandingkan bergumul dengan sepeda motor, becak, angkot, dokar, penyeberang jalan, kambing, etc, sebaiknya merencanakan berjalan di malam hari.
    Aku tipe sopir yang grogi menghadapi sepeda motor, entah itu mendahului atau berpapasan, kuatir mereka belok atau pindah jalur secara mendadak *trauma*. Berbeda dengan mas ini yang main libas saja berhadapan dengan roda dua.
    Kendaraan berat biasanya ramai di atas jam 10 malam, terutama di jalur pantura. Mereka berat, tapi teratur dan lebih disiplin. Lebih mudah disalipnya. Sekali salip (mendahului) bisa langsung 10 truck. Wuzz Wuzz.

  • Tronton / truck besar dengan lampu kuning menyala berputar-putar
    Biasanya dinyalakan oleh kendaraan berat dengan muatan berat dan berjalan dengan berat (maksa biar berima, harusnya sih 'berjalan dengan pelan').
    Kendaraan jenis ini bisa dikatakan bonus, karena mudah disalip, dan kalau berpapasan mudah dihindari. Gerakannya predictable (karena lambat). Tapi lampu kuning berkedip itu bukannya tanpa maksud. Dia paling wegah ngerem.

  • Truck dan kendaraan berat lain biasanya menyisakan ruang di sebelah kiri untuk dapat dilewati kendaraan yang lebih kecil. Ini adalah jalur aman, tidak usah kuatir dia akan mendadak pindah ke jalur kiri. Hanya saja perlu hati-hati kalo ada halangan di depan, atau ada becak mendadak nyelonong dari gang.

  • Jika sebuah kendaraan panjang (bis, tronton, truck gandeng) di depan kita sedang menyalip kendaraan lain di depannya, kita aman untuk ikut 'nunut' di belakangnya, karena sebelum dia dapat meluruskan posisinya dengan baik, ada cukup ruang bagi mobil kita di belakang kendaraan tersebut, sehingga kita terlindungi dari mobil dari arah depan (kalau ada). Tentu saja ini berlaku jika mobil kita jenisnya pendek, semisal Kijang, Panther, Taft, dsb.

  • Merokok dapat menghilangkan lelah mata dengan cepat. Terutama dari godaan AC. Euh, tapi tidak merokok jelas lebih sehat *kampanye terselubung*

  • Jika mengantuk karena lelah menyetir (bukan karena 2 hari begadang), tidur pulas selama 15 menit sudah lebih dari cukup untuk menyegarkan badan kembali.

  • SPBU adalah tempat aman dan nyaman untuk istirahat, pipis, makan, ngecek kendaraan, etc. Tidak usah sungkan meskipun tidak membeli bahan bakar di situ. Para petugasnya biasanya maklum (atau cuek) dengan banyaknya kendaraan numpang pipis dowang. Hanya sukarela aja mengisi kotak sumbangan di depan kamar mandinya.

Sementara itu dulu, masih banyak pelajaran lain jika bercita-cita menjadi sopir teladan.


December 4, 2007

Formalitas Ruwet

Dua bulan yang lalu, tepatnya Rabu, 19 September 2007, aku dimintai tolong membuatkan software SMS autorespon oleh sebuah perusahaan rokok terkenal di kota Malang.

Kondisi saat itu adalah kebutuhan mereka sangat mendesak, karena proyek itu sudah diprogram sejak lama tapi belum selesai juga, sedangkan dalam waktu dekat harus segera berfungsi.

Sore, sepulang kantor aku ke sana, dan sekitar jam 9 malam program sudah siap pakai. Divisi IT perusahaan tersebut selamat, sebab kemoloran sebelumnya sempat menggeser salah satu orang IT ke posisi yang lebih rendah, yang akhirnya keluar dari perusahaan itu.

Aku bisa cepet selesai karena sudah memiliki librarynya, jadi tinggal menyesuaikan dengan kasusnya saja.

Keluar dari pabrik itu, aku diajak temenku untuk makan malam. Dalam perjalanan ke warung, dia bertanya prosesnya. Aku ceritakan apa adanya.

Lha ternyata dia malah menyalahkan aku, mestinya programnya jangan dulu diselesaikan tanpa ada uang muka, at least, jangan dikomplitkan.


Ya, programnya benar-benar selesai, padahal aku belum mendapatkan sepeserpun. Aku pikir, besok kan sudah mau dipakai, mosok dibuat belum selesai? Apalagi besoknya para petinggi perusahaan itu akan mencobanya.

Besoknya, aku disuruh bikin surat penawaran software, buat pengajuan dari Divisi IT ke Divisi Financial. Ok, aku bikin, dan besoknya aku menyempatkan diri mampir ke pabrik tersebut, yang mana kalo dari kantorku harus melewati kemacetan parah karena ada pembangunan flyover di Blimbing.

Satu minggu kemudian, penawarannya salah, harusnya harganya tidak segitu, tapi dilebihkan agar nantinya terlihat ada proses tawar menawar. Ok, aku bikin, dan mengantarkan surat itu lagi melewati kemacetan.

Beberapa hari kemudian, disuruh membuat surat penagihan. Hmm... ok, aku bikinkan, dan melewati kemacetan itu lagi.

Beberapa hari kemudian, tagihan salah, karena harus mencantumkan pajak dan NPWP. Duhh... ok, aku tambahkan PPN 10%, dan melewati kemacetan itu lagi.

Dan entah berapa kali lagi aku harus mondar-mandir ke perusahaan itu untuk mengantarkan lembaran kertas.

Dan akhirnya minggu kemarin, ada yang kurang, faktur pajak harus disertakan dalam surat penagihan.

Sampai sini aku sudah males banget. Itu niat mau bayar atau tidak sih?

Memang aku tidak pernah menghadapi proyek resmi semacam ini, NPWP dan nama CV itu saja pinjam dari teman kuliah.

Tapi mestinya dikembalikan ke awalnya, yang butuh proyek ini adalah mereka. Kalo dulu mereka mendapatkan program buatanku itu secara informal, kenapa sekarang aku yang diruwetkan dengan formalitas?

Seandainya tidak menyayangkan pengeluaran waktu, tenaga, solar, kertas, tinta, etc, aku sudah berniat membatalkan proyek ini, dan programku dihapuskan dari penggunaan mereka selama ini.

Sialan.

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi