" /> Mahesa Jenar: April 2007 Archives

« March 2007 | Depan | May 2007 »

April 27, 2007

Perhitungan Event

Adalah sebuah kontroversi, mengenai upacara selamatan meninggalnya seseorang, mulai dari seminggu pertama, 40 hari, 100 hari, sependak (setahun), pendak pindho (2 tahun) dan 1000 harinya.

Keruwetan dan mendekati syirik adalah hal yang paling sering dilontarkan mengenai diadakannya selamatan di hari-hari tertentu itu. Terlebih lagi, tidak ada ajaran seperti itu dalam Islam, meskipun yang digunakan adalah bacaan-bacaan Islami.

Apalagi jika dalam pelaksanaannya, ditambahkan hal-hal yang tidak logis, semisal menyisihkan makanan untuk yang sudah meninggal.

Tentu saja hal tersebut amat-sangat di luar nalar. Yang meninggal hanya dapat didoakan, tidak lebih daripada itu. 

Namun dari sebagian yang masih melaksanakan selamatan, tidak seluruhnya berbuat demikian.

Pada event tersebut dimanfaatkan sebagai momen mengenang mendiang, mendoakan dan menghargai apa-apa yang telah ditinggalkannya. Bukan berarti di luar event itu tidak mendoakan mendiang, namun dalam event tersebut lebih ditekankan dan dilaksanakan secara bersama-sama.

Bukan melestarikan tradisi, tapi memanfaatkan tradisi.

Dari yang terjadi, tidak ada yang bertentangan dengan syariat, dan yang pasti lebih banyak manfaatnya daripada mudhorotnya.

========= 

Ok, di luar dari kontroversi itu, saat di Demak aku sempat menyusun script kecil, untuk melakukan perhitungan hari-hari di atas berdasarkan meninggalnya seseorang.

Perhitungan event ini biasanya dilakukan oleh orang sepuh, yang memang tugasnya menghitung weton, hari, etc. Dan program ini sudah aku cocokkan dengan hasil perhitungan orang sepuh itu, kebanyakan hasilnya selalu sama. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk beda, karena adanya perbedaan skala waktu.

Sebagai info, penanggalan yang digunakan adalah tanggal Jawa yang berdasarkan pada pergerakan bulan, sama dengan penanggalan Hijriyah, kemudian aku gabungkan dengan penanggalan Masehi.

Berikut ini adalah programnya, silakan dicoba:

Masukkan Tanggal Meninggal:
(format tanggal harus yyyy-mm-dd, misalnya 2007-04-02 = 2 April 2007)

 

 

 

Script dapat didownload di sini: hitunghari.zip 

April 25, 2007

Pendukung Mesin Pencari

SEO (Search Engine Optimization) adalah kegiatan yang berusaha menempatkan suatu website ke dalam posisi terbaik di hasil pencarian mesin pencari (search engine = SE) semisal Google, Yahoo, MSN, etc. Biasanya pelaku SEO adalah seorang webmaster, atau yang akhirnya menjadi webmaster karena SEO.

Sama halnya seperti loyer, kegiatan SEO juga 'kadang' menghalalkan segala cara untuk mencapai target. Maka kalau di dunia lawyer ada istilah Black Lawyer, di dunia SEO juga ada istilah Black Hat SEO.

Pada prinsipnya kegiatan SEO ini adalah hal yang bagus, bahkan wajib diperhitungkan oleh webmaster. Bagaimana cara mendapatkan posisi yang bagus di SE, tentu saja agar websitenya lebih sering ditemukan, diklik, dan pada akhirnya ramai dikunjungi.

Namun dalam prakteknya, banyak aktifitas SEO yang menyalahi aturan dari SE. Beberapa di antaranya:

  • Cloaking, membuat beberapa versi halaman website. Ada yang untuk search engine, ada yang untuk manusia. Jika website dibaca oleh crawler dari SE, content website dibuat semenarik mungkin, padahal kalau dibuka isinya kadang tidak berhubungan sama sekali.
  • Link Farm, membuat sekumpulan website yang kemudian saling me-link satu dengan yang lain, sehingga nampaknya website tersebut di-link oleh banyak website lain. Perlu diketahui bahwa semakin banyak website di-link (inlink), maka posisi website tersebut akan semaik baik di hasil SE. Tapi kalau menggunakan teknik ini kemudian diketahui oleh Google, maka seluruh groupnya akan dihapus dari SE.
  • Keyword Stuffing, menuliskan keyword sebanyak-banyaknya, yang tidak berhubungan dengan website itu sendiri. Atau menuliskan teks dengan warna yang sama dengan warna background, sehingga tidak terbaca oleh pengunjug, namun tetap diindex oleh SE. Hal ini yang sering membuat seorang pengguna SE menjadi kesasar.

Kegiatan SEO bahkan sudah menjadi usaha yang tetap, membantu suatu perusahaan dalam memperbaiki posisi website di hasil pencarian. Di Indonesia sendiri ada komunitas yang aktifitasnya berkisar mengenai hal ini, yaitu MasterSEO.

Menurutku ini adalah hal yang positif, karena untuk melakukan SEO diperlukan teknik dan pengalaman, sehingga kalau dibentuk menjadi komunitas, akan lebih mudah berbagi pengetahuan dalam SEO. 

Aku sendiri pernah mempelajari SEO, namun bukan dengan tujuan mendapatkan posisi terbaik di SE (meski dampaknya memang seperti itu). SE akan menempatkan website yang bagus ke posisi terbaik, maka dengan mengikuti aturan SEO, websiteku juga menjadi lebih bagus, dalam hal validasi Meta Keyword, Meta Description, Outbound/Inbound Links, Images, Heading, dan lain-lainnya.

Dari situ, websiteku sering menjadi nomor satu. Misalnya SMS dari PC.

Jadi kegiatan SEO menurutku tidak sesulit apa yang sering ditanyakan orang. Cukup buat website yang teratur, rapi, memiliki konten yang dibutuhkan orang, ramai dikunjungi kembali, berbagi link dengan website lain (yang natural, bukan dipaksakan), maka otomatis ranking di mesin pencari akan bagus.

Silakan baca Panduan bagi Webmaster

Namun jika menggunakan cara 'kiri', ini hal yang tidak baik. Perusahaan BMW Jerman pernah terkena getahnya karena menggunakan layanan ini. Data BMW sempat dihilangkan dari hasil pencarian Google.

Pertanyaan selanjutnya, kalau sudah ramai dikunjungi, tapi website yang dituju tidak ada isi yang menarik, lalu buat apa?

Apa ndak malu sendiri?

Kalau isinya bagus, berkualitas dan bermanfaat, bukankah otomatis akan ramai dikunjungi? 

Menurutku ini yang mendasari ketidaksamaan persepsi mengenai aktifitas SEO.

Semoga kegiatan ngadutrafik 2007 yang diselenggarakan oleh MasterSEO dapat diambil manfaatnya. Bukan malah menambah jumlah spammer dan junker baru, yang tidak tahu malu melakukan spamming ke email saudaranya setanah air, tidak punya malu memberikan komentar sampah ke blog atau bukutamu website orang lain, hanya demi menyebarkan link webnya.  

Referensi: SEO Menurut Google 

April 23, 2007

Checkpoint

Bukan sebagai target, hanya salah satu checkpoint kalo dalam istilah game.

Atau sebagai titik aman kalo dalam istilah Who Wants to Be a Millionaire

Spesifikasi:

  • Daihatsu Taft GT 4x4 1990 2.765cc 

 

Informasi selamatan ;))

 

April 16, 2007

Budi

Sebuah cerita fiksi:

---

Dalam sebuah kampung di pinggiran kota besar, tinggalah seorang pemuda bernama Budi (bukan nama sebenarnya, nama sebenarnya sih Toni).

Budi adalah perantau, sama dengan hampir seluruh warga kampung situ. Mereka semua memiliki pekerjaan yang beragam, mulai dari tukang becak, tukang ojeg, penjual bakso, pemulung, dsb, dan memiliki tingkat ekonomi bawah dari kalangan bawah. Budi sendiri bekerja di bengkel tetangganya. Penghasilan hanya habis untuk kebutuhan hidup.

Meski hidup dalam kondisi yang serba terbatas, namun warga kampung memiliki kekompakan yang tinggi, rukun dan saling membantu kalau ada yang mendapatkan kesulitan. Dan suasana itu sudah sejak lama terjalin.

Sampai pada suatu saat, kampung mereka mendapatkan bantuan pinjaman modal dari pemerintah, lewat kelurahan setempat. Modalnya tidak terlalu besar, namun cukup untuk memulai usaha baru, atau mengembangkan usaha mereka sekarang, dan yang terpenting adalah modal tersebut dapat dikembalikan tanpa bunga, dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Hampir semua warga mengambil pinjaman itu, termasuk si Budi.

Kebanyakan dari warga beralih ke usaha dagang, apalagi daerah mereka dekat pada suatu lokasi wisata. Sedangkan yang lainnya tetap bertahan dengan usaha masing-masing, dengan tambahan modal untuk meningkatkan usaha.

Kecuali si Budi. Dia masih bingung mau diapakan modal itu.

Celakanya, teman-teman si Budi di bengkel tempatnya bekerja, sering mengajaknya jalan-jalan ke kota, tentu saja dengan sedikit mengambil jatah modal Budi. Sedikit sih memang.

Dari pemuda lugu yang jarang merambah kota, Budi mulai senang dengan kehidupan kota. Hampir setiap hari minggu dia ke kota.

Tetangga dan warga kampung sudah mulai kuatir, bagaimana kalau Budi tidak dapat mengembalikan modal sampai waktu yang telah ditentukan, sedangkan belum ada usaha apapun yang dikerjakan Budi.

Rekan dekat Budi sudah berulang kali memberi nasehat, dan mengingatkan Budi agar mengurangi kegiatannya jalan-jalan di kota. Tapi respon dari Budi kadang menyakitkan, dan cenderung tidak mau dinasehati.
Dengan respon seperti itu, banyak rekannya yang kapok mengingatkan. Bahkan yang paling parah, dia keluar dari pekerjaannya di bengkel, dan dengan bebas semakin sering ke kota, merambah kehidupan malam.

Sementara warga lain giat bekerja, dia sering pulang pagi dengan tampang habis foya-foya. 

Akhirnya hukuman datang. Budi kena penyakit kelamin.

Sisa uangnya hanya dapat digunakan untuk berobat. Itupun tidak cukup. Sehari-hari dia hanya diam di rumah, tidak bekerja, meresapi penyakitnya seorang diri.

Para tetangga yang simpati kadang masih datang membawakan makanan dan juga obat. Tapi entah karena malu atau apa, Budi bahkan tidak pernah bicara atau mengatakan terimakasih pada mereka. Lama-kelamaan para tetangga juga malas mengurusi si bandel ini. Kasihan tapi menjengkelkan.

Saat waktu pengembalian modal tiba, Budi tidak punya apapun untuk dikembalikan. Hanya rumah, yang hampir tidak berarti untuk dijual. Dan dia harus pindah ke tempat lain entah di mana.

Warga yang sebenarnya masih ada kasihan, tidak mau merepotkan diri, malas berurusan dengan Budi yang perangainya berubah. Biar tau rasa, mungkin itu pikiran warga. 

---

Moral of the story:

  • memang berat memaafkan orang yang maunya enak sendiri
  • memang sulit menjadi penolong yang murni menolong, tanpa imbalan senyum atau terimakasih
*dedicated to someone

Jalur Horor

Hari Minggu kemaren aku ngantar Phi ke Blitar. Dia harus menjemput pembantunya di Blitar, untuk kemudian berdua mereka ke Jakarta naik kereta Gajayana.

Dari Malang kita berangkat pagi menjelang siang. Sebelumnya aku ganti oli mesin Tiger-ku yang sudah nyaris expired. Sialnya oli yang aku cari tidak ada, terpaksa pake oli merk lain. Membayangkan perjalanan yang berat nih.

Dan benar saja, motorku gak bisa gesit. Bisa kenceng sih, tapi agak lama ngangkatnya.
Bahkan di daerah Wlingi, kalah laju sama Megapro, huh.
(Hmm, kalo pas itu sih faktor rider, soalnya cuaca gerimis, jalanan licin *trauma* )

Dalam perjalanan berangkat, semuanya baik-baik saja. Jalanan normal, tidak begitu ramai, tidak jadi hujan.

Sorenya, setelah menunggu kereta berangkat, aku mesti kembali ke Malang sendirian. Saat itu menjelang malam, jam 6-an.

Perjalanan keluar dari kota Blitar enjoy aja. Melewati daerah-daerah kecil (Garum, Wlingi, Nglegok, etc *summon Nunuz buat ngelengkapi*).
Sempat dicegat polisi dan diperiksa plat nomorku, lalu dilepas lagi. Nampaknya mereka lagi mencegat seseorang dengan motor Tiger juga.

Masalah mulai muncul ketika hampir keluar dari kabupaten Blitar, mendekati bendungan Karangkates, sekitar jam 7-an.

Jalanan hutan naik turun, belok kiri-kanan, panjang (nyaris 1 KM), sepi dan GELAP.

Ini yang aku herankan. Sesaat belum mencapai area situ, masih banyak kendaraan (bis, truk, kijang, motor) lalu lalang. Tapi menjelang aku masuk hutan, lha kok mendadak sepi.

Aku mencoba berjalan perlahan, sambil menunggu kalo-kalo ada kendaraan lain yang melintas. Namun ndak ada yang nongol juga. Justru kalo aku diam di situ malah bahaya. Akhirnya aku teruskan saja. 

Ya, aku biasa jalan jauh pake motor, siang maupun malam. Tapi saat melewati jalur itu, terasa banget horornya. Jalanan gelap, pohon rindang dan berkabut.

Beberapa hal yang aku kuatirkan:

  • Kasus seperti di Gondanglegi Malang, ada orang yang memasang kawat melintang di tengah jalan, dengan ketinggian sejajar leher orang yang sedang naik motor. Bayangkan kalo leher kecantol kawat. Sudah memakan beberapa korban, bahkan polisi ada yang kena.
  • Ada juga seperti di Tirtoyudo Malang, di jalan menikung, pengendara motor dilempar bambu runcing. Iya kalo Kesatria Baja Hitam yang gak tembus peluru.
  • Lalu seperti di Turen Malang, dimana ada 1 atau 2 orang yang pura-pura terkapar di pinggir jalan, dengan motor tergeletak di sampingnya. Ini dilema, karena kalo menolongnya bisa beresiko kena jebakan komplotan itu, sedangkan kalo diabaikan, apa ya tega kalo ternyata mereka memang kecelakaan beneran.

Hmm, kok contohnya Malang selatan semua? :D
Iya, saat dulu aku dinas di PLN Gondanglegi, dan sering pulang malam. Alhamdulillah ndak pernah ketemu hal itu, hanya dapat beritanya saja.

Namun selain kekuatiran di atas, yang lebih mencekam saat di Blitar ini adalah kalo ada yang tiba-tiba membonceng aku :p

Atau dicegat oleh mahluk melayang, atau loncat-locat. wedew.

Kalo sesama manusia aku mungkin masih ada keberanian. Gini-gini aku pemakai sabuk hitam.
(merk DC)

Tapi untuk mahluk halus, aku pasti keder duluan deh.

Yang aku sayangkan, kok jalan horor gitu ndak dipasangi penerangan? Ada cuman 1 di awal sekali, dan satu di dekat pemukiman warga, itu juga nampaknya lampu swadaya warga. Di tempat ini juga aku berhenti, pura-pura berhenti ngecek lampu, padahal nunggu kendaraan lain lewat. Masih agak jauh untuk sampai ke bendungan.

Di situ juga aku dilihatin anak kecil yang berdiri di bawah pohon bambu. 

April 10, 2007

Journey Ke Demak

Dalam rangka takziah meninggalnya Bapak (Senin, 2 April 2007), beberapa rekan datang dari Malang ke kampung halamanku di Demak. Mereka adalah: Yudhi (Yuyun), Aris (Wimar), Ferdhie (Ndoweh/Maru), Darmadi, Mahmudi, Irfan (Pithes), Huda, Anton (Bunali), Aprida (Phi) dan Trias (Ias).

Mereka datang hari Jum'at sore.

Sabtu pagi, Ferdhie, Darmadi, Mahmudi dan Huda kembali lebih dulu ke Malang, sedangkan sisanya berikut saya menyusul esok harinya.

Saat berangkat dari Malang sebelumnya tidak banyak hambatan, karena rutenya tidak melewati Lumpur Lapindo (rute Malang > Jombang > Tuban > Demak). Tapi dikarenakan pada saat berangkat ke Demak saya naik sepeda ke Surabaya, maka rute pulangnya dipaksa untuk melewati Surabaya dulu untuk ambil sepeda, yang pada akhirnya harus melewati area Lumpur Lapindo untuk ke Malang.

Aku diturunkan di Surabaya bersama Phi untuk meneruskan perjalanan dengan tiger, sedangkan sisanya tetap pake mobil.

Yeah, sepeda motor tidak begitu terhambat melewati genangan lumpur, cuman kecipratan sedikit, sedangkan mobil harus mencari jalan memutar entah lewat mana. 

Dengan penuh perjuangan dan menghindari penggunaan Joki di Porong, akhirnya mereka bisa melewati hambatan Lumpur Lapindo. 

Dari jam 10:30 AM berangkat dari Demak, jam 24:00 PM baru nyampe di Joyogrand, Malang.

Bukan lama karena macet di Porong, tapi karena kita sering berhenti dan foto-foto di beberapa tempat di Pantura, terutama mampir ke rumah Yusni di Gresik untuk makan seafood. Thanks Yus.

Foto-foto perjalanan masih belum diupload, baru 3 ini saja:

Terimakasih untuk semuanya. 

Dan untuk siapapun anda, saya mohonkan doa untuk bapak saya di alam sana. 

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi