" /> Mahesa Jenar: October 2006 Archives

« September 2006 | Depan | November 2006 »

October 30, 2006

Kembali Dari Mudik

Hehehe, telat tayang ;))

Perjalanan kembali dari mudik sama seperti yang dulu-dulu, selalu lebih panjang karena mampir-mampir dulu ke beberapa tempat.

Dari Demak aku berangkat jam setengah 9 pagi, menuju ke rumahnya Yuyun di Kediri. Melewati jalan yang sama dengan yang aku lewati sewaktu mudik. Melewati Nganjuk dan mampir sebentar ke rumah Dwi di Tulungagung.

Saat hampir keluar dari Tulungagung sempat bertemu pengendara Tiger dari IMTY (Ikatan Motor Tiger Yogyakarta), dengan pelat nomor AB. Tapi saat aku jejeri dia lalu aku klakson, eh dianya cuek aja. Cape deh. Mungkin sibuk dengan cewek di boncengannya.
Akhirnya dari Tulungagung sampai masuk kota Kediri kita salip-salipan, tapi bukan ngebut. Setiap aku pelan dia lalu nyalip aku, berikutnya aku salip dia. Ketika sudah di dalam kota, dia ngilang entah ke mana.

Sampai Kediri sudah malam, jam setengah tujuh, aku putuskan menginap di rumahnya Yuyun dulu.

Besoknya setelah sholat Jum'at, aku bersama Yuyun menuju ke Mojokerto, pake sepeda motor masing-masing. Perjalanan sekitar 1 jam setengah, yang menurutku sangat cepat. Selain karena jalanan yang masih sepi, juga karena jalan antara Jombang dan Mojokerto sudah mulus. Gak seperti tahun 1992 - 2000an, yang selalu dibangun karena pasti rusak, yang selalu macet, penuh batu dan debu.

Di Mojokerto kita ke rumah Sony, cangkrukan sampai jam 9-an malam.

Perjalanan pulang ke Malang dipenuhi rasa capek dan kantuk. Ketika keluar dari daerah Mojosari aku sempat nyerempet kucing yang nyebrang jalan sembarangan. Untung dia masih sempat berlari keluar jalan.

Istirahat sebentar di SPBU sewaktu Yuyun ngisi bensin di daerah Pandaan. Jam 11-an kita sudah masuk ke kota Malang.

Kita mampir sebentar di warung gorengan di TT77, minum Es Soda Gembira. Karena saking ngantuknya aku malah sempat memecahkan sebuah lepek.

Terakhir, pulang dan tidur. 

October 23, 2006

Perjalanan Mudik

Berangkat mudik sebenarnya direncanakan jam 7 pagi. Tapi saat kita sedang makan sahur bersama, si Wamir nyeletuk "gimana kalo berangkatnya setelah sahur saja?". Ya, ide bagus. Selain karena jalanan yang masih sepi, juga akan menghemat waktu, dibandingkan jika harus tidur lagi setelah shubuh.

Aku berbenah dengan cepat, masukkan 2 baju + 4 kaos + 2 celana + laptop + etc ke tas ransel, dan setelah shubuh, kita bertiga mulai berangkat. Aku dibonceng si Wamir pakai motorku, dan Yuyun naik motornya sendiri. Sekitar jam 4 lebih seperempat kita sudah keluar perumahan Joyogrand.

Jalanan yang lengang memang melancarkan perjalanan, tapi kewaspadaan justru harus lebih meningkat. Terbukti, setelah melewati terminal Landungsari, memasuki daerah Pendem, ada sepeda motor yang tiba-tiba keluar dari sebuah gang, beberapa meter di depan kita, dan langsung nyebrang jalan. Kita yang sedang melaju kencang, tentu saja kelabakan dengan kejutan itu. Terutama si Yuyun yang ada di posisi depan, nyaris saja. Untung dia lahir di sepeda motor, jadi bisa menguasai laju motornya, dan bisa melewati si orang ngawur itu.
Mungkin orang itu masih ngantuk.

Berangkat pagi juga berarti harus siap menjadi pembuka jalan. Saat melewati kawasan Pujon dan Ngantang, jalanan masih ditutupi embun pagi, yang membuat jalanan basah dan kayaknya licin. Terutana karena jalanan yang mirip huruf S, kadang-kadang huruf Z, atau kadang juga mirip angka 8. Ngeri juga dibonceng sama Wamir di jalan itu. Setiap dia miringkan sepeda untuk belok di tikungan tajam, otomatis aku menyeimbangkan diri, berlawanan dengan arah miringnya. Ini hal yang berbahaya sebenarnya, seharusnya aku ikut saja arah gerakannya. Tapi namanya juga takut, jadi refrek aja.

Rute yang aku rancang sebelumnya, dari Kandangan harusnya menuju Ngoro. Tapi karena harus mengantar si Wamir dulu ke Nganjuk, aku ikut aja rute yang dia pilih. Dari Kandangan menuju Pare aku masih tau jalannya, tapi selepas itu aku sudah tidak mengenali lagi. Lewat jalanan kecil, bahkan sampai nyebrang sungai besar (Brantas?), yang jembatannya cuma berupa 2 gedek (anyaman bambu), yang di tengahnya dikaitkan pada sebuah perahu. Jembatan yang kreatif dan tidak stabil.

Rupanya rute itu sangat singkat. Beberapa saat setelah nyebrang sungai tadi, kita sudah masuk daerah Nganjuk. Kalo gak salah nama daerahnya Ronggot.

Sampai daerah situ, Yuyun memisahkan diri menuju Kediri. Aku sama Wimar meneruskan jalan menuju kota Nganjuk.

Jam setengah 7 kita sudah sampai rumahnya Wimar. Jadi Malang Nganjuk ditempuh cuma dalam 2 jam lebih sedikit. Padahal seharusnya 3 jam lebih.

Setelah istirahat sebentar dan ngobrol dengan bapak ibunya Wimar, aku diantar Wimar sampai perempatan lampu merah terakhir menuju Madiun. Heran, Nganjuk rupanya lebih maju ketimbang Demak, hihihi.

Sebelum sampai di luar kota Nganjuk, ada kecelakaan sepeda motor, yang nampaknya baru saja terjadi. Ketika aku melewatinya, orang yang tabrakan masih tergeletak (pingsan?), motornya berantakan, dan seorang wanita (istrinya?) nangis di sebelahnya.

Sekilas aku lihat ada darah mengalir dari dalam helm si pria itu.

Aku tidak berencana untuk berhenti dan ikut menolong, karena sudah cukup banyak orang yang berhamburan datang ke situ. Juga aku lihat dari kejauhan ada polisi yang sedang jaga.

Mentalitas masyarakat kita, suka berhenti (atau jalan melambat) untuk sekedar melihat orang yang sedang kecelakaan. Padahal tidak ada yang diperbuatnya, malah justru menghambat arus lalu lintas pengguna jalan yang lain.

Beberapa saat kemudian aku sudah melewati alas (hutan) Caruban, yang di antara para sopir, terkenal sebagai hutan angker. Tapi bukan angker oleh demit atau sebangsanya, melainkan oleh polisi.

Jalanan yang lurus panjang, belokannya tidak begitu banyak dan tidak terlalu menikung, hanya beberapa kali saja naik turun. Polisi memasang garis putih bersambung di tengah jalan, tanda kendaraan tidak boleh melewatinya.
Tapi kadang ada saja sopir yang tergoda untuk melewatinya, misalnya untuk menyalip kendaraan lain. Dan setibanya di pinggiran kota Caruban, siap-siap saja dicegat sama bapak polisi. Aku sudah pernah kena kok ^_^

Di sepanjang jalan alas Caruban juga ada hal yang berbeda. Kanan kiri jalan banyak sekali penjual es kelamud (kelapa muda / degan ijo). Entah apa hubungannya antara mudik dan kelapa muda.

Dari Caruban lalu menuju Ngawi, dan kemudian sampai di Sragen, Jawa Tengah sekitar jam setengah 10. Jadi Nganjuk Sragen sekitar 2 jam setengah.

Sragen

Perjalanan panjang ternyata membuat kecepatan 100 kph tidak begitu terasa. Padahal biasanya sampai kecepatan 80 kph saja aku sudah miris.

Rute berikutnya aku mengalami kebingungan. Memang dulu aku pernah nyopir dari Sragen menuju Purwodadi, tapi saat itu malam hari, dan ada guidenya. Yang aku tau, dari Sragen harusnya menuju utara. Karena aku tidak tau dari mana harus belok ke utara, maka ketika melewati perempatan besar, dan pada pelang jalan ada tulisan Purwodadi menunjuk ke arah utara, aku ambil jalan itu.

Perjalanan yang dulu aku lewati memang melewati jalan perbukitan, dan kali ini juga seperti itu. Tapi nampaknya ada yang beda, karena jalannya lebih curam.

Sepanjang jalan perbukitan itu mirip sirkuit MotoGP di Laguna Secca. Jalanan naik turun, dan dalam saat yang sama juga belok kiri dan kanan. Benar-benar mirip jalan di sirkuit, karena tidak ada rambu-rambu dan juga pembatas jalan.

Bedanya, jalan di perbukitan ini, kalau kita ndelosor, maka jatuhnya ke dalam jurang.

Keluar dari wilayah perbukitan, aku masuk ke kabupaten Grobogan, yang aku tidak tau di mana tepatnya itu, karena seingatku dulu aku tidak melewatinya. Dulu begitu keluar dari bukit langsung masuk Purwodadi.

Yeah, berbekal bakat sok tau, dan beberapa kali nanya ke orang di pinggir jalan, maka setelah melewati jalanan panas, panjang dan rusak, akhirnya aku sampai di kota Purwodadi. Rupanya aku terlalu cepat mengambil arah ke utara dari Sragen tadi, sehingga aku tembus ke daerah timur Purwodadi.

Sampai di Purwodadi aku sudah mengenali medan, dan jam 12 lebih 5 menit aku sudah memasuki jalanan off-road menuju desaku.

Alhamdulillah, aku diberi keselamatan dan perlindungan sepanjang perjalanan mudik ini.

October 20, 2006

Persiapan Mudik

Rencana mudik, hari Minggu tanggal 22 ini, karena kantor hari Sabtu masih masuk.

Berbeda dengan mudik sebelumnya, kali ini aku berencana membawa sepeda motorku. Yeah, single touring.

Persiapannya, cukup memastikan kondisi si tiger untuk perjalanan jauh. Kalau untuk persiapan mental dan fisik, aku rasa sudah cukup. Ini sudah kesekian kalinya aku pulang kampung menggunakan sepeda motor, rasanya memang lebih exciting.

Untuk yang mudik tahun kemarin, si tiger dalam perbaikan di Kediri, jadi tidak bisa ikut mudik.

Dan setelah mengalami masa rehabilitasi di AHASS MKP, dia nampaknya sudah siap untuk menelusuri jalan panjang.

Jarak antara rumahku di Demak dan tempat tinggalku di Malang, secara garis lurus adalah 245 KM. Tapi kalo dirunut rutenya, menjadi sekitar 306 KM.

Berikut ini adalah rute yang seharusnya aku ambil: 

Ok, sebelum matahari Ramadhan terbenam, sebelum operator seluler sibuk dan lelet, dengan ini diucapkan:

SELAMAT IDUL FITRI 1427 Hijriyah

Mohon maaf atas segala kesalahan yang telah terjadi.

(Aryo Sanjaya)

 

October 16, 2006

Pengendara Espass

Gimana rasanya seandainya kamu tanpa sebab yang jelas, gak pernah ketemu orang itu, tiba-tiba dia memaki kamu dengan kalimat "bodoh", "tolol", dan sejenisnya?

Aku tadi sore mengalaminya, hiks.

Kejadiannya sewaktu aku pulang dari kantor, ketika melewati perempatan jalan Kaliurang. Ketika traffic light berwarna hijau, kita semua mulai berjalan. Dan dari sebuah espass yang berjalan di sebelah kananku terdengar makian. Aku yang jalannya lebih duluan, sempat menolah. Aku pikir, yang di sebelahnya cuman aku. Lalu aku perlambat motorku agar bisa lihat sopirnya.

Ternyata cewek dengan tampang kusut, dengan semangat membentak-bentak dan melotot ke aku.
Di sebelahnya ada seorang lagi (gak jelas cewek/cowok), duduknya terlalu mepet dengan kaca pintu yang sudah buram, yang ditutup separo sehingga wajahnya gak begitu jelas.
Di bagian belakang aku gak tau ada orang lagi apa tidak.

Analisaku begini:

Aku memang termasuk pengendara cepat, dalam artian gerakan motor. Tapi aku bisa membedakan mana cepat dan mana ngebut. Itu sudah aku jalani sejak pertama kali belajar naik motor, dan berlaku juga saat aku nyetir mobil.
Dari keluargaku sendiri sudah paham, bahwa meskipun cepat, tapi teratur. Antara nekan gas, ngerem, gerakan belok, aku pastikan semuanya oke, dan penumpang merasa nyaman atas semua itu.

Rambu-rambu lalu lintas aku taati, klakson, lampu sen, aku yakin sesuai dengan yang seharusnya.

Dan selama ini belum pernah ada kejadian yang sampai membuat orang marah karena menganggap aku ugal-ugalan.
*upss, pernah beberapa kali ding, tapi itu kasuistis, karena ngejar someone*

Dan kejadian tadi sore sangat tidak beralasan untuk terjadi.

Pertama, si espass berada di jalur kanan, dan kalau dilihat dari kondisi jalan di depan Mitra II sampai perempatan Kaliurang, tidak mungkin dia pindah jalur. Artinya, sejak awal dia ada di jalur kanan.
Sedangkan aku mulai dari depan Mitra II, selalu berada di jalur kiri. Sepeda motor sama saja bunuh diri kalau ambil jalur kanan di situ, yang isinya cuma mobil saja.

Jadi tidak ada persinggungan lintasan antara aku dan espass.

Kedua, ketika lampu berwarna hijau, aku juga tidak bisa langsung tancap gas. Di depanku ada beberapa sepeda yang masih bergerombol. Bahkan ketika si espass melepaskan makiannya, aku masih dalam masa menaikkan kecepatan. Karena depan dia masih ada mobil, aku bisa melewatinya beberapa meter.

Awalnya aku mengira itu adalah temenku yang menyapa, dengan nada aneh gitu. Setelah aku dekati mobilnya, lha memang dia benar-benar marah, dan aku tidak pernah melihat wajah itu.
Yeah, aku pikir, hebat juga tuh si cewek, kok bisa tau kalau aku bodoh dan tolol dalam pertemuan yang singkat itu. Sedangkan temen-temenku di sini jarang yang tau kalau aku ini bodoh dan tolol.
Jadi yang bodoh dan tolol sebenarnya yang mana? ;))

Kondisi jalan yang ramai di belakangku, membuat aku maju mundur untuk bisa memastikan kemarahan dia. Dan karena berulang kali mendengar kalimat bodoh dan tolol, emosiku keluar juga.

Aku sempat mengacungkan jari tengah ke arah surti sopir, sebagai pertanda aku gak bisa menerima kalimatnya, yang aku gak paham apa alasannya itu.
Note: saat puasa, melepas emosi tidak membatalkan puasa, tapi membatalkan pahala puasa. Fahmi Side-A.

Sampai di jembatan depan Hotel Kartika aku berhenti. Tempat itu cukup luas untuk mobil berhenti, dan juga volume kendaraan yang relatif sedikit.
Aku harap, kalau memang ada masalah, dia mau berhenti dan turun. Maki aku sepuasnya kalau perlu, jika memang ada alasan untuk itu.

Tapi saat melewati aku, dia malah ngebut dengan membunyikan klakson panjang. Huh. Road rage nih kayaknya ya?

Sekilas aku melihat nomor polisinya adalah B 15?0 PP. Tanda ? karena aku tidak begitu jelas. Kalau bukan 3 ya 8.

Saat aku cek ke database Polda Metrojaya, lhah kok malah databasenya offline :(

Yeah, bisa jadi aku memang perlu mendengar orang lain mengatakan kalimat itu ke aku, biar gak lupa daratan.

Makasih mbak. Kalo lain kali kita ketemu lagi, tak traktir es buah deh.

Gabung ke NeoGATS

NeoGATS adalah klub pengendara sepeda motor Honda Tiger yang ada di kota Malang. Anggotanya terdiri dari kumpulan anak muda yang menggunakan motor Tiger (tentu saja), dari berbagai kalangan, baik yang masih pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah bekerja. Atau bukan dari ketiganya.

NeoGATS

Kegiatan rutinnya yaitu berkumpul setiap malam minggu di jalan Ijen. Disambung dengan kegiatan road thunder keliling kota Malang, dan diakhiri dengan cangkrukan di jalan Soekarno-Hatta. Biasanya bubarnya jam 12 sampe jam 1 malam.
Kabar terakhir menyebutkan, NeoGATS sekarang juga mengadakan kumpul bareng setiap hari rabu sore, di Soekarno-Hatta. Hal ini untuk njagani anggota yang tidak bisa pulang malam, misalnya anggota cewek atau yang rumahnya di luar kota.

Untuk bisa gabung dengan klub ini, cukup dengan datang ke acara kopdar (malam minggu atau rabu sore), mendaftar, dan rajin datang ke pertemuan ini.
Tapi untuk mendapatkan stiker keanggotaan, minimal harus ikut satu kali touring dan 3 kali kopdar.
Ah, tapi itu aturan zaman dulu. Gak tau yang sekarang.

Aku dulu sempat bergabung di klub ini, namun karena terhimpit pekerjaan di PLN waktu itu, aku jadi jarang ikut pertemuan rutin setiap malam minggu. Sampai akhirnya aku tidak pernah datang sama sekali, keluar.
Itu satu tahun yang lalu.

Saat aku masih aktif di klub, sempat satu kali ikut touring ke Kediri, bersama rombongan dari Bali, Jember dan Banyuwangi.
Setelah touring itulah aku mendapatkan stiker untuk motorku yang masih aku pasang sampai sekarang.
Dengan adanya stiker, kita bisa saling tau kalo bertemu dengan klub dari kota lain.
Pengalamanku, parkir gratis di Surabaya karena penjaganya mengenali stiker NeoGATS.

Namun ketika sudah tidak aktif lagi di NeoGATS, stiker aku tutupi dengan stiker yang lain. Sengaja tidak aku lepaskan, karena mengingat perjuangan mendapatkannya, harus melewati ospek dulu. Wuih.
Kalo stikernya tidak aku tutupi, tidak enak dengan anggota klub karena aku sudah tidak aktif lagi.

Karena saat ini aku sudah merasa lebih longgar, maka aku berniat untuk bergabung kembali. Itu juga didukung oleh dua pengurus NeoGATS, yang secara kebetulan (dan tiba-tiba) bekerja di kantorku ini.

Tapi sayang malam minggu kemarin, ketika aku datang ke Ijen dan Soekarno-Hatta jam 9 malam, tidak menemukan satupun anggota NeoGATS.
Apakah aku salah tempat, atau salah jam?

Aik, gimana nih?

Situs NeoGATS:
http://neogats.blogspot.com/
http://neogats.multiply.com/

October 12, 2006

Forward Message

Akhir-akhir ini aku semakin sering menerima kiriman forward message, atau chain message atau pesan berantai, dari Y!M (Yahoo! Messenger). Tidak ada masalah dengan hal itu sih, toh aku tidak rugi apa-apa. Paling juga rugi waktu beberapa detik untuk membaca isinya, dan langsung tekan tombol ESC.
Selesai.

Secara keseluruhan isinya tidak ada yang penting. Ada pesan yang positif seperti ucapan Selamat menjalankan puasa, doa-doa, hikmah pagi, dll.
Untuk doa dan hikmah pagi, terima kasih buat Rahma yang rajin ngirimi aku tiap pagi ;;)

Tapi selain pesan positif itu, kebanyakan pesan yang masuk adalah HOAX, berita palsu yang membuat si penciptanya tersenyum senang.

Yang aku sayangkan, di antara pengirim pesan HOAX tersebut adalah orang yang menurutku sudah lama berkecimpung di dunia internet, semisal temenku editor di kapan****.com, lalu desainer web di all*****.net, bahkan admin jaringan di sebuah perusahaan di Sidoarjo sana, dan beberapa webmaster situs terkenal.

Untuk pengirim yang aku kenal dekat, langsung aku 'bantai' saat itu ;))
Sedangkan untuk yang tidak aku kenal, tergantung mood saat itu. Kadang langsung aku tutup window msg-nya, atau kadang juga aku ajak ngobrol soal HOAX itu. Kebanyakan dari mereka cuma asal kirim, dengan alasan 'dapat dari teman', 'cuma meneruskan', 'buat jaga-jaga', 'gak ada ruginya', dll.

Berikut ini adalah beberapa HOAX yang masih sering masuk ke Y!M-ku:

Pesan 1:


seseorang dengan nama ongbak_5608@yahoo.com hendak menambahkan anda di YM..jangan diterima, itu adalah virus yg paling power. beritahu semua orang yang ada dalam list YM Anda, sebab jika mereka menambahkan maka anda juga akan mendapat virus tsb. Beritahu semua orang dalam list YM Anda untuk tidak membuka kiriman apapun dari cikoi_sons, ha5rul dan frenzck2. Nama2 itu merupakan virus yang berfungsi untu membunuh hard drive. Sampaikan surat ini ke setiap orang dalam list YM Anda. Klik kanan pada daftar group name dan klik Send Message to All

Itu jelas HOAX, dilihat dari bahasanya yang menggebu-gebu, dan isinya yang tidak logis. Misalnya benar, dengan menambahkan contact saja tidak bisa sampai mengeksekusi sebuah virus. Kecuali misalnya jika mengklik suatu link URL yang sekarang marak terjadi, karena dengan masuk ke URL itu, browser akan melakukan download sebuah aplikasi yang berisi virus.
Silakan lihat posting berikut ini.

Pesan 2:


Selamat hari persahabatan sedunia! kirim message ini ke sahabat 2x yg kamu sayangi, jika aku salah satunya kirim balik, lihat berapa banyak kau dapat balasan, kalo lebih dari 7 berarti U are lovable

Ini sih bukan HOAX, tapi proses pemborosan bandwidth Indonesia yang pas-pasan, dan pemborosan waktu masyarakat kita yang seharusnya dapat digunakan untuk hal yang lebih positif.

Buat apa sih meminta orang lain menyatakan sayangnya ke kita?
Kalau memang kita sahabat yang baik, tentu mereka akan tetap sayang. Silaturahmi dengan cara yang wajar dan alami justru lebih terhormat.

Lagian, hari persahabatan sedunia kan 6 Agustus, sedangkan pesan itu masuk tanggalnya sembarangan.

Pesan 3:


ati2 buat yg suka nonton di bioskop, liat2 tempat duduk, ada jarum yg ditaruh terinfeksi HIV, (sdh terjadi di medan n jkt) kasi tau yg laen..

Kalau ini aku gak yakin HOAX apa bukan, karena sama sekali gak ada referensi mengenai hal ini.
Tapi dari sifatnya yang 'provokatif', aku malah curiga adanya diskriminasi terhadap OHIDA.

Pesan 4:


Ada berita : Kiriman Emails dengan gambar Osama Bin-Laden digantung dan sesaat setelah anda membuka emails tsb komputer anda akan hancur dan anda tidak akan mampu memperbaiki lagi! Begitupun para Teknisi Sisfotel PKT ,maupun oleh Mcafee , Virus ini lah yang ditemukan oleh Mcafee kemarin, Jika pada baris email anda terdapat " Osama ditangkap Dimuati Peti " atau " Osama Digantung", jangan di buka . "Osama Bin Laden Captured" or "Osama Hanged", don't open the attachment. E-Mail ini sedang disebarluaskan melalui negara-negara di seluruh dunia ,tetapi sebagian besar di AS dan Israel. Beritakanlah hal ini sebagai Forewarning pada siapapun Yang anda kenal. Sekali lagi : TOLONG BERITAKAN HAL INI , PERINGATKAN DIANTARA PARA TEMAN, KELUARGA DAN KENALAN AND

Promosi Sisfotel?
Emangnya yang bisa perbaiki komputer cuman Sisfotel dan McAfee?
*Sigh*

Pesan 5:


katakan ini dengan pelan ,Ya Allah saya mencintai-MU dan membutuhkan-MU, datang dan terangilah hati kami sekarang...!!!" kirim ke 10 orang lihat keajaiban malam ini tolong jgn di hapus ini benar2 terjadi

Niatnya bagus, untuk mengingatkan manusia pada sang Pencipta. Tapi doa dengan tendensi keajaiban jelas kurang ajar. Emangnya Tuhan bisa direquest seenaknya? Ada yang namanya adab untuk berdoa.

Dan seingatku masih ada beberapa lainnya, bertebaran di arsip. Pesan-pesan di atas juga masih sering datang berseliweran. Cape deh.

Ada yang punya chain messages sejenis?

October 11, 2006

Bayar Zakat Fitrah

Diriwayatkan dari Umar bin Nafi’ dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat ‘ied. ( H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa’i)

Satu sha' adalah sekitar 2 setengah liter beras, atau kalau mau pake uang, sesuai harga sekarang yaitu sekitar 12.500 rupiah.

Dulu sewaktu aku masih imut, setiap malam takbir aku diberi beras beberapa liter oleh ibuku, dan disuruh memilih sendiri kemana Zakat Fitrah itu aku berikan. Biasanya aku ke tempat Wak Masinah, saudara jauh ibuku. Sedangkan kakak dan adikku memilih tempat 'favorit' mereka sendiri.

Meski Wak Masinah ini hidup bersama 1 anak perempuan dan 2 laki-laki, tapi kehidupannya di bawah standar orang desaku saat itu. Rumahnya kecil dan hanya ada 1 kamar (sekat kain). Gelap karena tidak tersentuh listrik PLN, hanya ada beberapa nyala api di pojok ruangan. *membayangkan*
Saat itu banyak warga desa yang kehiduapannya seperti itu, dan mungkin juga sampai sekarang. (jarang pulang sih).

Kalau malam takbir, rumah-rumah sejenis Wak Masinah ini dipastikan ramai, karena warga yang mengeluarkan Zakat Fitrah biasane datangnya hampir bersamaan.

Ketika ortuku pindah ke Kendari, Zakat Fitrah dilakukan ibuku dari sana, sedangkan aku di sini hanya tau beresnya saja.

Tapi semenjak aku mampu mencukupi kebutuhanku sendiri (secara materi loh), aku usahakan untuk membayar Zakat Fitrah sendiri, dan itu udah aku lakukan sejak beberapa tahun yang lalu.

Kemaren aku diingatkan oleh temenku, salah seorang aktifis PKS di Malang, untuk membayar Zakat Fitrah. Sama seperti Ramadhan tahun kemarin, aku juga membayarnya melalui dia, yang nantinya akan disampaikan ke Lembaga Manajemen Infaq (LMI).

Pembayaran Zakat Fitrah hendaknya dikeluarkan pada malam takbir saat Ramadhan berakhir, dan sebelum orang-orang pergi sholat Idul Fitri.
Namun tidak menutup kemungkinan untuk dikeluarkan sebelum itu, misalnya jika melewati Badan Pengelola Zakat, sehingga ada waktu untuk melakukan manajemen penyaluran Zakat.

Selain membayar Zakat Fitrah, pada kesempatan itu aku juga membayar Zakat Profesi, sebagaimana telah diwajibkan jika pendapatan sudah mencapai nishabnya.

Perhitungan simplenya, 2.5% dari gaji setelah dikurangi semua kebutuhan dan tanggungan, maka sejumlah itulah zakat yang harus dikeluarkan.

Silakan lihat artikel berikut ini sebagai pertimbangan. Dan jika punya keinginan untuk ikut menyalurkan zakatnya (Zakat Fitrah maupun Zakat Profesi), terutama yang di PBI C1 atau C6, silakan kontak aku, dan akan aku hubungkan dengan pihak Amil-nya.


October 10, 2006

Bukber Lagi

Sebenernya posting ini telat tayang, harusnya kemaren. Tapi gak tak posting karena 3 kali berturut-turut posting tentang buka bersama.

Ditambah lagi kemaren ada sedikit insiden, mengenai foto yang aku upload hasil dari buka bersama itu. Salah seorang celebrity blogger Malang tidak mau fotonya dipublish ;))
Lha repot, soale fotonya dia ada di 70% dari keseluruhan foto, jadi tinggal 5 foto yang boleh aku publish :(

Akhirnya aku nyari foto dari situs/blog member lain yang ikut acara malam itu, salah satunya dari http://www.blogmal.com. Makasih buat Indra untuk fotonya.

Ini hasil fotonya:
http://picasaweb.google.com/aryo.sanjaya/BukbarMalangNetUser

Acaranya:


  1. jam setengah 6 ngumpul (pas maghrib) di KFC Kawi Malang

  2. sholat ke masjid

  3. makan

  4. kenalan keseluruhan

  5. foto-foto

  6. pulang

Hayo, kapan ada lagi kumpul-kumpul kayak gini :D

October 7, 2006

Buka Bareng SCeN

Hari Selasa kemaren dapat undangan buka bersama di kampus yang diadakan oleh SCeN, acaranya sendiri dilaksanakan Jum'at kemaren. Pulang kantor aku langsung meluncur ke kampus.

Sampai di kampus aku langsung masuk Ruang 6, tempat acara diadakan. Sebenernya sudah ramai orang, tapi blas satupun gak ada yang kenal. Loh, ini SCeN tah?
Anak baru semua rupanya. Aku jadi orang asing.

Baru setelah ketemu para senior mereka, aku bisa dikenali. Hihihi.
Yang datang dari angkatan pertama cuman aku, gap-nya terlalu jauh dengan angkatan yang sekarang.
Dari angkatan kedua cuma Upik yang datang, itupun cuma saat pembagian takjil baru nongol dia.
Selanjutnya yang aku kenal adalah Danang, Fariz, Cahyo, Bolot, Viki, Yasin, Dian, Novi dan beberapa lainnya cuma kenal wajah.

Acaranya cukup simple: pembukaan, sambutan dari ketua panitia, sambutan ketua umum SCeN, tausyiah (kultum?) dari perwakilan ISI, berbuka dengan dawet, sholat maghrib, makan nasi bungkus, foto-foto, dan pulang.

Gak ada kesan yang mendalam, selain ketemu sama Menjes yang ternyata masih jomblo, padahal kan... ah, sudahlah.

Berikut ini beberapa kutipan foto:



Bolot/Rollan/Chaesario (jaket biru) bersama anak baru. Bolot ini yang paling lama ngendon di SCeN, entah nyari apa.
Yang jelas sudah banyak baktinya untuk SCeN *ceileh*



Bolot (lagi) bersama pengurus angkatan sekarang.



Antri makan. Nasi bungkus dengan lauk ayam, tempe, mie, kacang, ... sedikit sambal.



Makan bareng emang bikin selera meningkat. Masing-masing bikin lingkaran sendiri.



Yasin dan Faris, sama-sama mantan ketua umum SCeN, dan sudah masuk dalam jajaran Anggota Tua.



Foto-foto para pengurus dan mantan pengurus. Cuma beberapa yang aku kenal dan tau namanya.

October 6, 2006

Pak Sholeh di Malang

Ya, info yang basbang sebenarnya, tapi aku baru tau semalam sih :D

Kemaren diajak buka bersama, eh, buka bareng, eh, hmm, terserahlah, kemana aja, yang penting ke rumah makan. Ketika dikatakan kalo kita mau ke Pak Sholeh, yang terbayang adalah Ayam Bakar Pak Sholeh di Pandaan sana. Waw, jauh banget yo!

Pak Sholeh


Tapi ternyata di Malang juga ada cabangnya (entah cabang atau franchise, who cares?), dan katanya ini sudah ada sejak lama, sejak 2 tahunan yang lalu. Walah, kok aku bisa ketinggalan info satu ini ya.

Menurutku Pak Sholeh termasuk warung yang fenomenal, larisnya. Bahkan saking larisnya, orang ke sana kadang bukan cuma untuk makan, tapi terhitung berwisata (bayangkan dari Malang ke Pandaan cuma untuk makan ini). Ya, dulu waktu masih bujang, aku sering rame-rame ke Pak Sholeh Pandaan sana. Ralat: sekarang juga masih bujang ;;)

Di akhir 2003 dulu sempat ada isu yang menggemparkan, bahwa warung Pak Sholeh bisa laris karena menggunakan 'hal gaib', bahwa ayamnya dicuci dengan ... ah, sudahlah.
Bahkan -katanya- sempat disegel polisi, diberi Police Line. Tapi ternyata itu cuma HOAX semata. Lha setelah kejadian itu, aku sempat ke sana, dan semuanya berjalan wajar kok. Dasar kerjaan orang iseng.

Nah, tadi malam itu kita menuju cabangnya yang di Malang, tepatnya di daerah Karang Ploso, pinggiran Malang sana.
Kita berangkat jam 5 lebih, yang mana untuk mencapai ke daerah situ butuh waktu 20 menit lebih, plus kondisi hampir maghrib yang jalanan pastinya sedang ramai orang pulang atau orang cari makan. Entah siapa Event Organizernya nih, mepet banget jamnya.

Sampai di sana tepat adzan maghrib terdengar, itu masih belum parkirnya yang ramai. Huh.
Lalu sulit dapat tempat untuk 8 orang, semua sudah penuh. Ada yang kosong, tapi ternyata sudah dibooking. Wah, ternyata yang cabang sini juga gak kalah ramenya.
Akhirnya dapet tempat lesehan di samping musholla. Di tikar, bukan di gazebo kayak biasanya.

Sempat bertemu dengan anak NeoGATS, saling sapa, jabat tangan, dan berpencar :-h

Bagi yang sebentar lagi ulang tahun, tempat traktiran sudah ditentukan!

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi