" /> Mahesa Jenar: August 2006 Archives

« July 2006 | Depan | September 2006 »

August 30, 2006

Gelar Kesarjanaan

Tidak terasa sudah tiga tahun aku menyandang gelar sarjana. Ya, Sarjana Komputer.

WisudaHaryono, S.Kom, Keren bukan?

*koor: yaaa...!!!*

(narsis kumat)

Tetapi, aku sering lupa kalo telah memiliki gelar sarjana. Sebab jarang sekali hal itu aku gunakan. Yang masih selalu teringat, aku sudah lulus kuliah, itu saja.

Mengenai gelar, aku hanya menggunakannya pada awal-awal lulus kuliah dulu, yaitu untuk bikin surat lamaran kerja. Setelah diterima di SIP3 PLN Malang, yang lalu akhirnya pindah ke kantor sekarang, gelar itu tidak pernah lagi terusik.

Duh, bukannya aku tidak menghargai perjuanganku dalam mendapatkan gelar sarjana, dan tentunya pengorbanan biaya oleh Ortu, namun penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari yang sangat jarang dan hampir tidak ada, menenggelamkan gelar itu dengan sendirinya. Di mana-mana kalo aku tulis nama ya Aryo Sanjaya, itu saja.

Ketika melamar kerja di kantor yang sekarang, saat interview, Big Boss sama sekali tidak tertarik dengan berbagai macam sertifikasi formal yang aku sertakan, termasuk ijazah yang melegalkan aku menggunakan gelar sarjana. Pandangan Boss justru tertuju pada sertifikat yang aku dapatkan dari Brainbench, yang menyatakan aku lulus ujian Javascript, lalu pengalaman programming PHP-ku. Sedangkan ijazah dan sertifikat lain cuma dilirik saja.

Jika memang tidak pernah dipergunakan, berarti dapat dikatakan bahwa gelar itu percuma aku miliki dong?

Kalau menurutku, pendidikan itu penting artinya, namun gelar bukan segalanya. Untuk mendapatkan pendidikan itu, aku harus kuliah, dan gelar adalah efek dari selesainya pendidikan, bukan target yang aku tuju.

Dulu sempat prihatin dengan perjuangan beberapa rekan, yang memprioritaskan pada pencapaian nilai dan target lulus yang cepat.

Memang benar, dengan nilai IPK yang tinggi, akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik dibandingkan dengan yang nilainya lebih rendah. Namun hendaknya nilai itu dijadikan sebagai efek, bukan sebagai target. Tidak semua perusahaan menjadikan nilai IPK sebagai parameter, contohnya ya kantorku ini.
Kalaupun ada perusahaan yang mematok IPK calon karyawan minimal harus sekian koma sekian, itu hanya kemalasan mereka untuk melakukan seleksi dari seluruh pelamar yang masuk, jadi main babat saja, dengan resiko kehilangan pekerja potensial yang kebetulan punya IPK rendah, seperti aku *Uhk*
IPK rendah bukan berarti komposisi otak yang rendah dan kemalasan yang tinggi kan?
(Warning: ini bukan pembenaran untuk aku yang ber-IPK rendah!)

Mengenai cepatnya kelulusan, berimbas pada penghematan biaya kuliah, dan kesempatan yang lebih luas karena mendahului rekannya yang lain.
Namun menurutku itu juga tidak sepenuhnya benar. Dengan semakin cepat lulus, akan melewatkan kesempatan berkreasi dan berbagi pengalaman dengan rekan kuliah yang lain. Ilmu dari perkuliahan sejauh yang aku tau hanya berupa dasar pemikiran dan landasan teori, sedangkan untuk mendapatkan ilmu yang sesungguhnya, tetap harus dicari di luar perkuliahan, dengan bekal yang didapat dari kelas.

Kalaupun harus ada statistik, aku yakin 50% lebih ketrampilan yang aku miliki aku dapatkan dari luar kampus. Bersama rekan satu kelas mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa SCeN (STIKI Computer Networking Club), mengasah kemampuan programming dengan membantu rekan lain yang sedang menerima proyek, mengikuti mailing-list dan forum diskusi, dan kegiatan tidak rutin yang lain.
Kegiatan ekstra inilah yang sempat menyita kegiatan perkuliahan, dan sedikit memolorkan masa kuliah.
(Warning: ini bukan pembenaran untuk aku yang telat lulus!)

Kalau dipikir, bukankah dengan tanpa kuliah, aku tetap dapat melakukan kegiatan itu semua?
Bisa jadi benar, namun hasilnya mungkin beda. Alasannya, karena dengan kuliah aku jadi tau apa yang aku lakukan.
Sebelum kuliah aku sudah bisa bikin program aplikasi, yang beberapa di antaranya sempat beredar di pasaran. Namun dengan kuliah, aku jadi tau apa itu Flowchart, DFD, ERD, StateChart, Interaksi Manusia dan Komputer, etc, yang mendasari pembuatan program, bahkan desain sistem.

Jadi, kuliah itu penting, namun usaha untuk belajar tidak hanya berhenti di kampus, dan gelar sarjana itu hanya efek semata.

August 26, 2006

Pilihan Akses Internet

Kebutuhan akses internet sekarang ini gak cuma untuk browsing dan cek email, tapi juga untuk chatting *halah*

Paling tidak, itulah kebutuhan harianku, baik untuk urusan kantor maupun kepentingan pribadi, semisal mencari referensi programming, blogging dan ngejunk, serta ngecek pesan Yahoo!Messenger yang masuk dari BengkelProgram.com.
Jika aku sedang di kantor memang tidak ada masalah untuk itu, karena koneksi internetnya yang sangat cepat, lebih cepat dari semua warnet di Malang!

Namun jika sedang di rumah atau di tempat yang tanpa koneksi internet, kebutuhan untuk browsing aku usahakan untuk terpenuhi, jika tidak, bisa sakaw ngejunk segala ;)


Beberapa caraku untuk konek internet, selama ini:

  • Telkomnet Instan Bener-bener cara instan untuk konek. Meski masih tergolong mahal, tapi jika kondisinya urgent dan butuh untuk mentransfer data yang banyak, aku gunakan cara ini.

    Program Week-end Net tidak banyak membantu, meskipun secara signifikan memang mengurangi jumlah tagihan.


  • PDN CDMA StarOne
    Favoritku untuk internetan jika ingin chatting. Sampai saat ini dia yang paling murah, Rp. 3 per kilobyte.

    Kelemahannya adalah tidak dapat digunakan di luar kota Malang. Sama seperti TelkomFlexi. Sedangkan Fren bisa pindah-pindah kota, karena dia adalah layanan seluler, bukan Fixed Wireless.

    Selain menggunakan StarOne, dulu aku pernah mencoba pake koneksi Fren dan Flexi. Tarif keduanya sama, yaitu Rp. 5 per kilobye.
    Beda dikit dari StarOne sih, tapi kan dikalikan banyak :)
    Kalo dari pengalaman, setting juga lebih mudah StarOne. Untuk Flexi lebih sering putus (meski gak begitu sering), sedangkan Fren harus dua kali konek (konek ke Fren dulu lalu dilanjutkan konek ke ISP lewat VPN).

    Ingin menggunakan tarif flat StarOne sih, tapi harus punya KTP Malang, yang ngurusnya sampe sekarang aku masih belum bisa punya KTP Malang.
    Padahal jatuhnya lebih murah kalo pake paskabayar, Rp. 200 ribu perbulan untuk datatransfer 1 gygabyte.


  • GPRS IM3
    Ini khusus untuk cek email tanpa gambar, dan untuk chatting yang bersifat urgent. Biasanya kalo sedang dalam perjalanan. Tarifnya lebih mahal, Rp. 11 per kilobyte.

Sebenarnya ada keinginan untuk menggunakan koneksi yang lain, tapi belum juga terimplementasi, di antaranya:

  • Menggunakan akses Wireless LAN. Sebenarnya tidak terlalu mahal untuk berlangganan layanan ini, sekitar beberapa ratus ribu perbulan. Memang kayaknya mahal, tapi lebih longgar, dibandingkan menggunakan GPRS IM3 yang kelihatannya murah, tapi isi pulsa Rp. 100 ribu beberapa kali sebulan jatuhnya mahal juga.

    Pake Wireless LAN mahalnya di setup awal, mesti beli perangkat wireless, total sekitar 2 jutaan. Ada sih dulu ISP Malang yang pake model meminjamkan ke pelanggannya, tapi sekarang ISP-nya udah gak ada.

    Selain itu, karena ini adalah rumah kontrakan, jadi masih nunggu posisi yang lebih 'permanen' untuk tempat tinggal.


  • Pake koneksi Indosat M2.
    Pernah nyoba sekali, dan lumayan murah dan cepat (karena masih baru?). Namun karena kurang sesuai (entah apa itu) cuma pake sekali itu saja. Padahal secara keseluruhan aku rasa cukup baik. Ada banyak pilihan, mulai sistem Paket hingga Voucher.

    Mungkin karena saat itu IM2 harus berlangganan, padahal aku masih belum sesering ini kebutuhannya, makanya gak begitu tertarik.


  • Mau pake TelkomSpeedy, tapi daerahku belum terjangkau layanan ini. Padahal kayaknya menjanjikan nih. Kapan nih nyampe ke area telpon 569xxx?

  • Mau pake Matrix, namun tarif flat Rp. 200 ribu perbulan sudah dihilangkan. Juga karena paskabayar, jadi butuh KTP :(

  • Nunggu StarOne EVDO (evolution data optimized), dengan kecepatan 2.4 megabitperdetik. Waw.
    Harganya juga waw, dan baru saja dibuka di Balikpapan, Kaltim.

Ada yang punya alternatif lain yang murah meriah tapi legal?
(soale dulu sempat pake yang ilegal, xixixixixi)

August 25, 2006

Bersepeda Ria

Setelah melihat nasib Didats yang bersepeda ke kantor, aku jadi teringat kembali anganku dulu.

Ya, memang sudah sejak lama aku ingin bersepeda lagi, dengan tanpa menyingkirkan Tigerku sekarang ini.

Mungkin ini kelanjutan dari hobi masa kecilku dulu. Saat SMP aku bersepeda dari desaku ke SMPN 4 Demak, jarak sekitar 5 KM melewati sawah dan tegalan. Selama SMU aku juga pake sepeda sebagai transportasi, ketika mondok di Bahrul Ulum Jombang. Bahkan lebih banyak waktu buat bersepeda daripada di pondok ;)

Saking hobinya bersepeda, aku menduga kalo perubahan fisik ini aku dapat dari bersepeda (atau renang?). Dulu sewaktu di SD, aku adalah murid terpendek -imut- dari semua cowok satu kelasku, tapi sekarang kalo ketemu mereka, akulah yang paling tinggi. 178 cm cukup tinggi di desaku.

Ketika aku kuliah, aktifitas sepeda terhenti. Selain karena memang gak punya sepeda, juga mobilitas yang berubah ke dunia kelelawar, tidak memungkinkan untuk bersepeda lagi.
Juga karena masa itu aku lebih dituntut naik sepeda motor (touring keliling tempat-tempat wisata Malang).

Sekarang ini karena aku rasa keadaan sudah memungkinkan, aku berharap dapat mewujudkan impian itu.

Alasan lainnya, pola hidup tidak sehat yang sudah aku jalani ratusan minggu, membuat kesehatan jasmani ini tidak optimal. Stamina yang di bawah rata-rata, berat badan gak seimbang, perut buncit pipi tembem, sering migren, de el el.
Bahkan yang terakhir aku kena ISPA :(

Dengan kegiatan bersepeda, diharapkan dapat mengolah kembali raga ke kondisi yang lebih baik.

Namun ada beberapa kendala yang masih menghambat untuk merealisasikannya:

  • Jarak yang cukup jauh dan medan yang naik-turun. Dari rumah ke kantor jaraknya 10.000 meter lebih sedikit (sesuai path dari Google Earth). Silakan lihat rute dari rumah ke kantor.
  • Harga yang cukup membuat berpikir ulang. Sepeda yang aku inginkan adalah ini: Polygon Diablo. Tapi harganya, whew!
  • Aku masih kerja shift malam, yang jelas pengaruh ke kondisi fisik. Gak mungkin jam 1 malam sepedaan sejauh itu kan? Mungkin diusahakan untuk pindah shift ke siang dulu.

Besok cari sepeda, ah!

August 24, 2006

Analisa Blogger

Anda blogger?
Silakan dianalisa, bagaimana Anda dan blog Anda.

Ini hasil analisa diriku, seperti biasa, hasilnya bagus:

Your Blogging Type Is Thoughtful and Considerate
You're a well liked, though underrated, blogger.
You have a heart of gold, and are likely to blog for a cause.
You're a peaceful blogger - no drama for you!
A good listener and friend, you tend to leave thoughtful comments for others.

August 12, 2006

Lagi Marah

August 11, 2006

Devisa Dan Legalitas

Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan kalimat, yang kira-kira seperti ini:

Tahukah Anda puluhan triliun rupiah uang Indonesia akan berpindah ke luar negeri jika kita memutuskan untuk menggunakan software komersial sebagai pengganti software bajakan ?

Seruan itu sebenarnya ditujukan untuk mendukung gerakan Opensource, yaitu penggunaan software dengan lisensi GPL, yang saat ini yang paling kelihatan adalah Linux dan software di bawahnya.

Tapi dalam implementasinya, banyak yang menyalahgunakan seruan itu untuk 'mendukung' penggunaan software bajakan!
Bahkan ada beberapa rekan di Mailinglist yang menjadikan seruan itu sebagai Signaturnya.

Bangsa kita yang sudah terbiasa 'memilih enaknya', masih cukup sulit diajak untuk kembali ke jalan yang benar, meninggalkan software bajakan.
Salah satu hal yang menyuburkan pembajakan adalah kurangnya sosialisasi tentang pembajakan itu sendiri.

Aku sempat beberapa kali berdialog dengan mahasiswa di sini (Malang), yang ternyata ada yang belum tau kalo Windows itu mestinya beli lisensi, bukan cuma beli atau ngopy Windows Installer-nya saja.
Memprihatinkan.

Kembali pada topik, tentang seruan pengiritan devisa.

Mungkin secara jangka dekat, terlihat kalau kita akan mengirit devisa negara, dengan TIDAK membeli software Legal dari Microsoft (misalnya) yang harganya ratusan ribu perorang. Belum lagi software pendukungnya.

Jika budaya ini diteruskan, maka produsen software dalam negeri akan selalu kalah.

Pengalaman dari rekan programmer yang lain, saat ditanya tentang harga software untuk pembukuan. Ketika rekan tersebut menjawab sekian ratus ribu, si penanya malah berkomentar: "Mahal banget mas, sedangkan beli CD Excel di toko saja cuma 20 ribu".

Padahal kalo mau beli Excel dalam paketannya Microsoft Office, harganya mencapai jutaan rupiah.
Toh dengan software bikinan sendiri, bisa dipersonalisasi, disesuaikan dengan kebutuhan si pengguna.

Jadi, adanya keleluasaan pembajakan, menjadi salah satu faktor penyebab kurang berkembangnya programmer di negara ini. Sekian.

Artikel lain:
http://www.egovindonesia.com/content/view/285/26/
http://www.0208-online.net/?pilih=xhemat

Terminal Bungurasih

Terminal Bungurasih, kenangan pahit karena pernah mabuk darat dan teler di situ.

Terminal Purabaya


Aslinya terminal ini bernama Terminal Purabaya, namun karena lokasinya di Desa Bungur Asih kecamatan Waru, jadi lebih terkenal dengan sebutan terminal Mbungur.

Kebanyakan orang juga mengira bahwa terminal ini berada di Surabaya, padahal ternyata bukan. Terminal ini masih masuk wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Begitu juga dengan Bandara Juanda.

Meski berada di wilayah Pemkab Sidoarjo, tapi pengelolaan terminal dipegang oleh Pemkot Surabaya. Keuntungan dibagi dengan share 30% untuk Pemkab Sidoarjo.
Jumlah yang cuma 30% ini menjadikan polemik yang berkepanjangan antar dua wilayah.

Ah, kok jadi membahas ini sih :D

Sebagai penumpang yang hampir pasti melewati terminal ini ketika pulang dan pergi ke kampung halaman, aku merasa berkepentingan tentang kondisi terminal.

  • Tentang kebersihan dan kelengkapan aku rasa sudah cukup baik. Toilet yang terawat, dan harganya yang pasti (Rp. 500), adalah nilai plus dibandingkan dengan beberapa terminal lain yang pernah aku singgahi.
  • Warung makan dengan pilihan tingkat ekonomi, dari yang (relatif) murah sampe yang (cukup) elite tersedia di sana.
  • Toko majalah juga terhitung lengkap. Kemaren aku beli majalah SDA di sana, dan harganya gak terlalu beda dengan di tempat umum lainnya.

Namun yang aku jengkelkan sejak zaman dahulu kala, sampai saat ini adalah KEBERINGASAN para calo bis.

Keberadaan calo penumpang, yang tujuan awalnya adalah untuk membantu calon penumpang dalam mendapatkan bis yang dibutuhkannya, justru menjadi momok pengganggu di terminal ini.

Aku yakin itu bukan pandangan pribadi, karena terlihat sangat nyata hal itu terjadi. Dari komentar penumpang lain, dan dari suasana yang tidak nyaman.
Bahkan dulu sempat ketika aku di terminal bersama Nyonya, saat dicegat calo dia merasa sangat ketakutan sampai ngumpet di belakangku.
Padahal wajahku sangar, gimana kalo cewek semacam Nia ini jalan ke Bungur sendirian? Kasian kan.

Satu hal yang aku sesalkan, peran petugas keamanan yang hampir tidak ada fungsinya. Mereka cuma melihat dan membiarkan penumpang ditarik-tarik, dikerubuti dan dijejali pertanyaan "Mau kemana mas/mbak/bu/pak?"
Saat dikerubuti itulah, muncul satu kemungkinan kejahatan: COPET

Aku biasanya cukup menjawab: "Mau ke sana!"
(awas jangan ditiru kalo gak punya sabuk hitam)

Kalo tahun dulu malah lebih parah, calo bebas berkeliaran di peron. Kalo sekarang sudah ada peraturan, bahwa calo tidak boleh menginjakkan kakinya di peron penumpang.
Syukur deh.

Tapi penumpang kan tidak berhenti di peron, karena butuh untuk mendatangi bis. Saat turun dari peron itulah, calo beraksi mengerubuti.

Aku yakin, tidak semua petugas bersikap cuek. Aku pernah melihat seorang petugas tua, berusaha menghalau calo KEPARAT yang berusaha mengerubuti penumpang. Tapi bapak tua ini diabaikan oleh para calo, dianggap tidak ada di situ. Sedangkan beberapa petugas lainnya, yang masih muda, bertubuh tegap, malah cuma melihat dari kejauhan.

Berikut ini beberapa skrinsut yang dapat aku ambil:

Bungur 1

Mungkin dianggap membantu, padahal justru sangat MENGGANGGU.

Bungur 2

Petugas cuek walaupun banyak penumpang merasa terganggu.

Bungur 3

Ternyata petugasnya punya hubungan khusus dengan bos preman.
Kolusi adalah budaya? lalu bagi hasil? Atau petugasnya CIKEN™?

Aku ambil banyak gambar, tapi cuma itu yang nampak bagus. Posisi pengambilan tidak dapat bebas, karena kalau ketauan, bisa panjang urusannya, hehehe.

August 8, 2006

Tes Kebodohan

Berbeda dengan Tes Narsis yang aku buat, kalo yang ini -mungkin- beneran loh.

Gak kayak tes-tes yang lain, yang berupaya mencari seberapa 'pintar' Testee, tes kebodohan ini bertujuan menghindari kebodohan. Skornya menjadi terbalik, yaitu semakin banyak skor berarti semakin bodoh.

Aku sudah ikut tesnya, dapet skor 37% dengan status Fairly Smart.


The Stupid Quiz said I am "Fairly Smart!" How stupid are you? Click here to find out!

Ok, silakan kalo mau tau seberapa bodoh kamu. Hmm, tapi mesti bisa bahasa inggeris, hihihi.

August 5, 2006

Tes Narsis

Selama ini kita sering mendengar kata Narsis, bahkan tidak jarang kita ikut menggunakannya. Namun tahukan Anda, bahwa tidak semua orang yang menggunakannya sudah tau maksudnya?

Kalo sekedar maksud penggunaan kata itu, mungkin sudah banyak yang tau. Tapi alangkah baiknya kalo Anda tau sampe akar-akarnya.

Kata Narsis berasal dari cerita Yunani, tentang seorang pemuda bernama Narcissus. Dia sangat ganteng dan suka memuji dirinya sendiri, menolak cinta banyak gadis (dan janda?), tidak mudah tunduk pada rayuan beracun para wanita.
Sampai suatu saat dia menolak cinta Echo, yang menyebabkan Echo patah hati, dan Narcissus dikutuk sehingga jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air kolam.

Untuk kelanjutan ceritanya, silakan lihat URL Wikipedia di atas :D

Sekarang ini kata Narsis digunakan untuk menggambarkan orang yang Terlalu suka pada diri sendiri, Egosentris, PD gak ketulungan, dan sudah masuk dalam penyakit kejiwaan (yang sudah parah tentunya).

Setiap orang wajarnya punya sifat ini, namun dalam derajat yang berbeda. Jika Anda memiliki derajat Narsis yang cukup tinggi, siap-siap saja berobat ke psikolog.

Saya tidak ingin membahas ini dalam konteks psikologi, karena saya gak punya ilmu tentang psikologi sama sekali, dan juga, saya sering bermasalah dengan orang psikolog :D

Karena saya adalah programmer, berikut ini saya mencoba membuat skrip kecil untuk mengetes derajat Narsis Anda. Sekali lagi saya ingatkan, bahwa tes ini tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu psikologi, jangan terlalu diambil serius.
Mengenai rumusnya, itu adalah rahasia blog ini :D

Ok, silakan dicoba menggunakan Tes Narsis ini:

Maaf, karena terlalu banyak yang 'tertipu' oleh permainan ini, maka dengan ini fitur Tes Narsis saya hilangkan. Mohon maaf untuk yang sudah jadi korban ^:)^

August 3, 2006

Bicara Sex

Eitss... bukan aku yang mau bicara tentang SEX, tapi ini:

http://dokteriwan.blogspot.com/

Daripada dipendam sendiri, dipikir sendiri, dikira-kira sendiri, mending tanyakan sama ahlinya.

Daripada salah omong, salah curhat, atau lebih parahnya salah tempat curhat (yang 68% menimbulkan masalah baru), lebih baik curhat ke yang ngerti bidangnya.

Hmm, kalo salah tempat curhat, misalnya seorang cewek curhat tentang keperawanannya ke cowok, bisa dimanfaatkan sama cowok tuh.
*no-offense plis*

Blog ini belum begitu lama berdiri, jadi masih semangat-semangatnya tuh dokter.
Salut kalo Beliau bisa konsisten mempertahankan misinya:


"Ingin rasanya memberikan pencerahan kepada masyarakat luas mengenai pendidikan seputar seks dan kesehatan reproduksi seksual secara benar. Apa yang tadinya sulit dilakukan, termasuk didalamnya penyebaran informasi secara luas telah terbantu dengan adanya teknologi internet. Jadi... bicara seks secara virtual, kenapa tidak?"

Semoga sukses Dok, membantu masyarakat luas dalam menjalani kehidupan sexnya.

August 2, 2006

Tambah Memori Tambah Pinter

Saat itu aku prihatin melihat laptopku berpikir keras, untuk menghitung, eh, memproses operasi simple saja, butuh waktu yang lumayan lama. Padahal kejadian itu sudah cukup lama (sejak beli), tapi baru kemaren itu aku merasa prihatin.

Setelah melakukan sedikit diagnosa, aku pastikan masalah ada pada memori (RAM) yang terlalu sedikit, untuk operasi multiple browser seperti yang selama ini aku lakukan. Memori yang cuma 256MB, terpangkas untuk share dengan VGA sebesar 32MB.

Menyiasati hal ini, aku mesti beli memori baru, yang aku tau bertipe SO-DIMM PC2100 DDR-266MHZ.
Aku putuskan untuk beli 1 GB sekalian, karena untuk VGA rencananya aku tingkatkan sampe 128MB.

Pertama aku search di Google, mengenai toko komputer online di Indonesia. Sengaja aku beli memori ini secara online, agar dapat dibayar lewat transfer ATM. Hmm, alasan yang gak memuaskan ya?

Aku menjatuhkan pilihan ke Bhinneka, atas rekomendasi Penyu (no link for you), aku beli merk Kingstone 1 GB.
Tapi setelah nunggu, besok harinya dapat jawaban dari Nurseno Setio Aji, Bhinneka, mengabarkan bahwa stok untuk tipe tersebut sedang habis, dan tidak ada merk penggantinya. Ya udah, makasih pak Seno.

Selanjutnya mengarah ke FastNCheap. Di situ tidak menemukan merk Kingstone, hanya merk yang aku belum pernah tau, di sini.
Sampe sekarang aku masih belum tau arti dari TIER 1, meski setelah tanya para pakar di kantor ini.

Yah, akhirnya aku beli 2 keping untuk memori itu.

Setelah memesan dan membayar, aku konfirmasi ke pihak FastNCheap. Besoknya baru ada jawaban, bahwa stok untuk memori yang aku beli kebetulan juga habis. DEM.
Tapi diberitahukan oleh mbak Risye (pihak FastNCheap) bahwa akan didatangkan (diretur) dari kantor cabang, dan butuh waktu 1 hari kerja.
Karena saat itu jari Jum'at, aku pikir Sabtu dan Minggu libur, yah, berarti Senin baru dapat dikirim. Dari Surabaya ke Malang, aku perkirakan Rabu baru nyampe.

Ternyata dugaanku benar, Rabu memorinya sampai. Tapi dugaanku juga salah, karena barang tersebut distempel hari Minggu, yang artinya hari Sabtu FastNCheap juga bekerja.

Makasih buat FastNCheap




Sekarang laptopku udah jalan lebih kuenceng ;)

Google Web Accelerator

Lagi-lagi tentang teknologi Google *duh, lama-lama aku jadi duta Google nih*

Google Web Accelerator

Bagi yang sering browsing (salah satunya pasti Anda, lha buktinya bisa baca postingan ini), tentu menginginkan browsing yang lancar nyaman cepat terpercaya (kayak iklan bus AKAP aja).
Aku sudah merasakan peningkatan performance berbrowsing ria berkat bantuan Plugin Google Web Accelerator di atas. Yah, mungkin gak begitu signifikan, tapi cukup membantu kok.

Aplikasi ini akan berperan mirip dengan proxy-server, tapi itu terjadi di komputer lokal kita. Misalnya kita akses ke detik.com, browser tidak langsung mengirim rekuesnya ke website detik.com, melainkan ke komputer lokal, yang lalu diproses oleh Accelerator ini.
Jika data yang ingin diakses sudah tersedia di komputer lokal (cache), maka tidak dilakukan akses ke detik.com, cukup diambilkan dari cache. Ini salah satu hal yang menyebabkan proses menjadi lebih cepat.

Data rekues itu juga tidak langsung dikirimkan ke detik.com, tapi dikirimkan dahulu ke jaringan Google, untuk diproses lagi di sana. Dari jaringan Google inilah proses rekues ke website detik.com terjadi.
Respon dari detik.com sebelum dikirim ke komputer kita, datanya dikompres terlebih dahulu sehingga menjadi lebih ringkas, dan lebih cepat ditransferkan.
Untuk alasan keamanan, beberapa data tidak dikompres, semisal file besar macam MP3.

Accelerator juga dibatasi untuk tidak memproses layer aman (HTTPS), mengingat informasi yang sensitif.

Syarat untuk menjalankan aplikasi ini, mesti menggunakan Windows XP atau Windows 2000 SP3+, dengan browser IE 5.5+ atau Firefox 1.0+
Browser lain juga bisa, namun mesti disetting manual agar menggunakan proxy ke alamat lokal, yaitu 127.0.0.1:9100

Ketika sedang browsing menggunakan Accelerator, coba iseng masuk ke command prompt, lalu ketikkan: netstat -a
maka akan muncul daftar koneksi HTTP dari komputer lokal ke komputer lokal. Ya, karena browser merekues ke proxy di komputer lokal.

Karena proses caching dan lain sebagainya terjadi di komputer lokal, maka jangan sampai browsing Anda malah tersendat ketika menggunakan Accelerator ini. Pikirkan prosesor dan RAM komputer Anda.

Ok, semoga bermanfaat.

August 1, 2006

Private Number - A Chicken Technology

Pernah mendapatkan telpon atau miscal dengan penelpon "With Held", "Unknown", "Anonymous" atau "Private Number"... ?
Tanya pada diri Anda sendiri, apakah suka dengan keadaan seperti itu?
Kalau suka, sekip aja postinganku ini.

Fitur CLIR (Call Line ID Restriction) ini masih disediakan oleh IM3, Matrix, XL dan entah siapa lagi, agar penelpon tidak diketahui identitasnya.

Meskipun aku pengguna IM3, tapi tidak pernah menggunakan fitur CLIR ini, karena menurutku ini adalah fitur SUX™!

Aku tidak habis pikir, apa sih manfaat dari fitur ini?

Malah banyak kelemahan yang aku temukan:

- Pelaku teror tingkat iseng, mulai dari yang menggoda cewek tetangga, teman sekelas, rekan satu kantor, etc.
Ini jelas mendukung kecikenan mental si pengganggu. Kalo dia memang berniat baik, dan memiliki mental yang baik pula, kenapa tidak memunculkan nomor hapenya?
Iya kalo yang diganggu memiliki mental 'Fu*ckin Unknown Number' kayak aku, mungkin akan terbiasa menghadapinya. Tapi gimana dengan yang belum terbiasa dengan keadaan seperti itu? Tertekan, itu pasti.
Lalu apa manfaatnya Hidden Number?

- Seiring proses pengamanan penggunaan telpon seluler ditingkatkan oleh pemerintah, misalnya dengan proses registrasi ke 4444, kenapa fitur ini masih tetap ada?
Misalnya jika seseorang mendapatkan ancaman dari penelpon gelap, dan dia harus melaporkannya ke pihak keamanan (Polisi/Satpam), yang mau dilaporkan itu nomor apa, jika nomornya saja tidak kelihatan?
Lalu registrasi itu buat mencocokkan apa?
Pihak provider seluler apa gak menyadari ini sih?

- Proses kejahatan seperti inipun, didukung oleh adanya fitur CLIR ini:
http://www.freelists.org/archives/mahasathi/07-2005/msg00034.html

- Ada pula SMS yang menggunakan ID unik (Alphanumerik), yang dapat dipesan atau dimodifikasi dari pihak SMSC. Tapi ini sifatnya masih jarang, karena pihak provider sendiri nampaknya sudah memperbaiki keamanannya yang sering bolong, atau jikapun si pengirim ingin mengirim SMS semacam itu secara resmi, perlu biaya yang tidak sedikit, atau paling tidak merupakan badan yang resmi.
Aku pernah mendapatkan SMS dengan pengirim 'dirahasiakan'. Langsung saja aku hapus, EGGPL.

Apapun bentuknya, perlindungan konsumen harus ditegakkan!

FOTE: HAPUS FITUR CLIR!

Pencarian

Komentar Terbaru

October 2025

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi