Hari pertama yang dijadwalkan untuk jalan-jalan bersama ke ITC dan Mal Mangga
Dua, tidak terlaksana, karena para peserta yang capek, dan mungkin juga butuh
adaptasi dengan udara Jakarta. Isdah tidur dengan nyaman, aku kabur sendirian ke
Harco dan Mal Mangga Dua, beli VCD Rossa dan USB Wi-Fi.
Malamnya, jadwal acara adalah keliling Jakarta. Tapi karena si Isdah sudah
kadung janji dengan Gajah Jakarta, aku dijadikan bumper untuk minta ijin pada
pimpinan rombongan (Pak Tedy), bahwa kita tidak bisa ikut rombongan.
Setelah diberikan ijin, kita dengan dipandu oleh Koh Fahmi lewat SMS dan Lea
lewat telepon, akhirnya mengarungi samudra Jakarta. Pertama kita naik angkot 39
dari Mangga Dua menuju Stasiun Kota, disambung dengan Bus Way menuju Bendungan
Hilir (Benhil).
Tidak ada masalah berarti dalam perjalanan kali ini, selain surprise pada
ramainya trafik, dan bingung cara masuk ke halte Bus Way.
Meski kita tidak ikut rombongan, yang tujuannya adalah untuk mengenalkan
Jakarta, tapi kita malah langsung masuk dan merasakan kehidupan Jakarta. Jadi
tau bahwa Benhil adalah Bendungan Hilir.
Sampai di halte tujuan, kita sudah dijemput oleh Henny. Selanjutnya diantar
menuju Pelangi di Plasa Semanggi lantai 5, ketemu para Gajah Jakarta, semisal
Markum, Made, Holda, Nugi, Lea, Andri, etc.
Acara disambung dengan karaoke, dan pulang ke hotel jam 1.
(kopdar diceritakan pada posting lainnya).
Hari pertama sangat capek, sehingga nekat tidur satu ranjang dengan Isdah.
Esoknya (hari kedua), acara adalah ke Ancol dan Dufan.
Setelah sarapan, peserta rombongan diangkut ke Ancol. Sampai sana jam 11,
dimana Dufan masih belum buka, makanya kita menghabiskan waktu di Ancol sambil
nunggu waktu. Boring, yang ibu-ibu mengurusi anaknya, yang sedang bulan madu
pada mojok, cewek-cewek pada belanja, yang cowok-cowok gak ada kegiatan. Sempat
naik perahu layar sih, jadi agak terobati rindu kampung halaman di Sulawesi
sana.

Nampang di Ancol
(Deny, Venus -lagi-, Aku, Fitra, Isdah, Arie, Arief)

Memfoto tukang foto yang memfoto tukang foto yang memfoto
(Fitra, Venus, Pak Tedy, Deny, Nadlir, Arief -ga keliatan-, Krisna)

Di perahu layar...

Boring, ketiduran di pasir...
Setelah selesai di Ancol, kita menuju Dunia Fantasi. Lokasinya
gak begitu jauh dari situ.
Di dalam Dufan pun, kebosanan tidak juga hilang. Yah, meski ini
adalah dunia yang penuh fantasi, yang mana para peserta lainnya sangat antusias
dengan kesenangannya, tapi nampaknya ini bukan dunia kami (Aku, Isdah, Venus,
Novendra). Mungkinkah dunia kami cuma cyber? Uhh...

Dari awal sampe akhir acara, aku cuma di sekitar warung ini.
Sempat sih naik wahana Bianglala sekali.
Setelah sukses dengan acara di Dufan, kita kembali ke hotel.
Mbak Lina dan suaminya sempat ketinggalan bis, tapi akhirnya dia naik taksi ke
hotel, dengan biaya ditanggung panitia. Huh, asisten pimpinan rombongan sok tau
sih...
Malamnya, acara bebas.
Untuk mengisi acara, aku mendatangkan sobat lama, Makoto atau
Eko Heri atau Kartolo, yang sudah lama berkelana di Jakarta, dan juga si Tosa
Dilaksa Wisnu, yang nampaknya sudah survive di belantara Jakarta.
Kita (Aku, Venus, Isdah, Arie dan Bayu) diajak muter-muter
Jakarta di waktu malam. Mulai dari warung pinggir jalan, makan nasi goreng
kambing, sampai ke kawasan SCBD (masih ga tau kepanjangannya), main bilyard
sampai lewat tengah malam.

Kau masih tetap seperti yang dulu, Lo!
(Makoto, Tosa, Aku, Isdah, Bayu, Arie)
Hari itu berakhir dengan capek banget.
Masuk ke hari ketiga, acara adalah ke Sea World, melihat siapa
tau dapat merasakan ikan laut di situ. Bagus sih, banyak ikannya, baik yang
lokal maupun dari negara lain. Tapi ternyata tidak sebesar yang kubayangkan,
meskipun Sea World ini katanya adalah terbesar di Asia Tenggara. Huff, siapa
yang mau membuktikan?

Ikan gabus (menurutku) dengan skala tangan Isdah yang memegang
uang kertas seribu rupiah.

Perhatiaann... Venus si aplen sadiss...
Hari itu harus segera pulang, karena malamnya dijadwalkan
dinner dengan Mr Big Boss di restoran Bandar Djakarta, Ancol.
Makan malam memang jadi dilaksanakan, tapi Big Boss tidak bisa
datang ke Jakarta karena suatu halangan.

Makan, makan...
(Isdah, Aku, Yuli, Elok)

Mungkin dulu ibunya ngidam kamera...
Selepas makan malam, kita diajak (dipaksa?) muter-muter Jakarta,
sampe capek. Ada baiknya juga sih, jadi dapat lihat langsung apa yang sebelumnya
cuma dilihat lewat tipi. Misalnya Monas, Istana Negara, Istiqlal, Mal Ciputra,
Mal Semanggi, HardRock Cafe, Bunderan HI, etc...
Hari ketiga juga berakhir dengan capek.
Komentar Terbaru