Agak berat aku membuka mata ini, samar-samar berusaha menatap jam digital di sebelah ranjangku. Hm, jam 14:23. Meski sudah tidur lebih dari 6 jam, namun kantuk ini rasanya belum hilang sepenuhnya. Suasana yang sedemikian sepi, ditambah rasa malas, adalah alasan untuk meneruskan tidurku. Saking sepinya, bahkan detak jam dinding di ruang tengah bisa terdengar dari sini. Beginilah suasana rumah kecilku yang terpencil, di sudut perumahan baru yang terpencil pula.
Kemana lagi Lina nih?
Segera kuraih K750 di sebelah bantalku. Weleh, battrenya sudah merah lagi, udah ngedrop rupanya. Padahal baru kemarin aku charge penuh. Hmm, enaknya ganti battre apa ganti HP ya? kan sudah 2 tahun belum pernah ganti HP.
Ada miscall 3 kali dari nomor Lina, jam 10 tadi. Huff, dodol banget, dia kan tau aku gak bakal bangun jam segitu. Teriakan mertua aja aku cuekin, apalagi cuman dering HP.
Kerja dengan giliran masuk malam, telah membalik pola tidurku. Jam 10 pagi bagaikan jam 1 malam bagiku. Entah sampai kapan aku jadi pesaing kelelawar kayak gini.
1 SMS dari Lina: "mas, aq k ibu dl, td bpk telp kl ibu panas lg. dah ada nsi+lauk di dapur"
Lah, kesana lagi dia. Padahal baru saja kemarin seminggu nginep di sana. Bapaknya yang sudah tua, tidak bisa merawat ibu yang sekarang sering sakit.
Kedua kakak perempuan Lina yang ada di kota lain, kemarin juga sempat datang menjenguk. Tapi karena kondisi ibu sudah membaik, mereka kembali ke kota masing-masing.
Mungkin juga karena Lina adalah anak bungsu, yang paling dekat dengan ibunya, jadi selalu lebih dulu dipanggil kalau ada apa-apa. Ditambah anak kami yang relatif baru, jadi paling mendapat perhatian dari kakek-neneknya.
Pasti si Bagas juga diajak kesana. Neneknya bisa langsung sembuh, kalo Bagas sudah ngoceh dengan bahasa planetnya.
Anak mungilku inilah yang biasanya jadi alasanku untuk bangun lebih awal. Wajahnya yang kecil, hampir sama lebarnya dengan telapak tanganku, imut, tapi sok dewasa itu, bikin aku selalu ingin dekat dengan dia. Bahkan kadang sampai rebutan dengan Lina, misalnya saat waktunya Bagas mandi.
Tapi biasanya aku kalah rebutan, ketika Lina mengatakan "ayahnya sudah malas mandi, masak anaknya juga"
Hm, doakan ayahmu ini untuk dapat menyiapkan jalan menuju masa depanmu, nak.
.
Segera aku pasang HP di chargernya, lalu aku pergi ke dapur. Satu jam lagi aku harus sudah pergi ke kantor.
Waktu kayaknya berjalan lebih cepat sekarang, apa karena pemanasan global ya? gak nyambung ah.
Setelah mandi kilat, aku lihat menu makanan yang sudah tersedia. Lina tau aku tidak punya pantangan makanan apapun, jadi dia lebih bebas berkreasi, juga bereksperimen dengan resep masakan baru.
Aku sikat semua makanan yang disediakan Lina, daripada nanti muncul tanya-jawab, "kenapa ini tidak dihabiskan, kenapa itu disisakan, itu kok masih utuh, gak suka ini ya, de el el..."
Dia juga tau kalo 2 porsi adalah 1 porsi bagiku, makanya dia selalu masak buat jatah 3 orang, meski di sini kita cuma berdua. Bagas sementara ikut porsi mamanya.
.
Beberapa saat setelah aku duduk di kursi putar kantorku, suara Christian Bautista melantun dari K750-ku, special tone buat istriku.
"Mas, udah di kantor?" sergahnya sebelum aku bilang halo.
"yup. ono opo?"
"adek nginep di ibu"
"gimana kondisi ibu?"
"masih panas, tapi udah lebih rileks. bapak bilang semalam ibu agak sesak nafasnya. tadi sudah datang dokternya. kayaknya gejala tipes"
"Bagas aja suruh obatin" sahutku asal
"sama dokternya Bagas gak boleh ikut ibu dulu"
"iyalah, mana kuat nahan bagas yang suka loncat-loncat gitu" terbayang di otakku saat Bagas nendang gelas waktu dipangku neneknya.
"Mas, ntar pulang kantor langsung kesini ya?" pintanya
"hmm... iya deh"
"tadi mandi gak?" tuduhnya sembarangan
"lha iyalah" untung saja tadi aku kepikir untuk mandi
"sudah maem juga kan?"
"iya kayaknya" godaku
"ya udah, ntar jangan malam-malam kesininya ya"
"ok mam"
.
(to be continued)
Komentar Terbaru