September 22, 2005

Menembus Tantangan

Kebiasaan yang hampir jadi keharusan bagiku adalah, tidak berhenti naik motor untuk ngiyup, jika dalam perjalananku ketemu hujan.

Aku udah lupa sejak kapan hal itu dimulai, ... sejak punya motor, mungkin...

Kalo ada yang nanya, kenapa kok begitu, biasane aku menjawab (tapi tidak mengena): aku merasa ditantang oleh hujan, apakah berani terus atau tidak...

Untuk jangka pendek, biasane cuma basah dikit-dikit... tapi kalo udah jarak jauuhh, seperti dulu waktu kerja di Gondanglegi, aku kehujanan sampe basah kuyup, sak CD-ku pisan...

Itu dulu... teman...

Mulai hari ini, ehm, tepatnya tadi jam 3-an sore, aku beli mantel hujan, di swalayan Sardo.

Bukan, bukan karena aku nyerah dengan prinsipku... karena mantel ini bukan untukku... tapi untuk laptopku. Dia udah 2 kali kehujanan... hm, 3 kali ding... satunya gak sengaja.

Jadi kupikir, kalo beli mantel buat laptopku, terus nanti aku pakainya gimana? masak cuma laptopnya aja yang pake mantel?

Target & Bugs

Hari ini ditegur sama bos, karena banyak sekali bugs yang ditemukan dalam script buatan kami :(

Untuk bugs yang bersifat 'beda maksud' dengan pihak editor, mungkin masih bisa dimaklumi, karena memang terjadi perbedaan pandangan.

Yang paling parah, adalah untuk bugs yang terjadi, yang karena script belum dicoba!!!
Kok bisa?
Endak begitu... uwes dicoba, cuma waktu nyoba, gak ditemukan error...

mbuh...

Sementara itu kita terkesan mengejar speed. For what?

What should i do?

September 20, 2005

Penyesalan dan Tanggungjawab

Seseorang mengirimkan link ini padaku:

http://www.aborsi.org/

Setelah menelusuri keseluruhan halaman dalam website itu, aku jadi tau bahwa aborsi adalah tindakan bangsat!!!

Bukan berarti sebelum membaca penjelasan itu, aku setuju dengan aborsi.

Sebelumnya, aku memandang aborsi dari sisi sebab-akibat. Bahwa orang melakukan aborsi adalah bentuk orang yang tidak mau menanggung akibat, yang jelas-jelas telah dilakukannya.
Tidak hanya dalam hal aborsi, tapi dalam hal apapun. Berbuat sesuatu tapi tidak mau menanggung akibatnya.
Dari sudut pandang ini saja, jenis orang yang melakukan aborsi, adalah jenis yang bangsat!

Lalu ditambah dengan kejadian saat aborsi, yang begitu kejammm... masih pantaskah orang seperti ini disebut sebagai khalifah di muka bumi?

Dee, thanks for this link :)

September 19, 2005

Rossi Nabrak Melandri?

Akhir cerita yang memprihatinkan, Melandri dan Rossi jatuh bersamaan, dalam posisi 3 dan 4...

Sebelumnya Rossi berada pada posisi start ke-11, dan hanya dalam 4 putaran lap, mampu melampaui 7 pembalap di depannya, sehingga dia pada posisi 4, tepat di belakang Biagi, Capirosi, dan Melandri (ketiganya salip-salipan dengan acak).

Karena Rossi bisa menjadi juara dunia meski hanya finish pada posisi 4, maka dia gak terlalu bernafsu nyalip mereka. Doi bertahan aja di posisi itu.

Tetapi, pada beberapa lap berikutnya, Melandri melakukan kesalahan, sehingga berada pada posisi 3, tepat di depan Rossi.

Karena kecepatan mereka seimbang, sehingga beberapa tikungan ke depan, mereka sering berhimpit. Dan, pada suatu kesempatan, Melandri mau keluar lintasan (dari sisi kiri mau ke kanan) untuk menyalip yang di depannya. Sedangkan Rossi tetep bertahan di jalurnya (nututi Melandri). Akhirnya mereka serempetan dan nggeblak bareng...

Bagi pemirsa di TV, melihat kalo kecelakaan itu gara-gara Rossi yang mau nyalip dari sisi dalam, dan nabrak Melandri...

Banyak tim lain yang protes pada kelakuan Rossi ini.

Entah mana yang benar, tapi yang jelas, this is race... a fast game... full of risk... kalo gak pengin jatuh ya jangan ngebut, kalo gak pengin ngebut ya pelan aja, kalo pelan ya boleh dong disalip, kalo ternyata jatuh, ya itu resiko...

Ada yang bilang, karena Melandri di depan, itu hak dia untuk cepat atau pelan, Rossi mesti ngikut aja... kok bisa?

Justru teori itu bisa dibalik: karena Rossi ada di belakang, itu hak dia untuk nabrak, Melandri musti terima aja... gimana?

Ketika Pelanggan jadi Raja

Hukum ekonomi berkata: "Raihlah untung sebanyak mungkin dengan modal sesedikit mungkin"

Dan itu memang benar, secara hukum ekonomi, dan berlaku hampir di seluruh daerah.

Tapi ketika suatu saat hal tersebut melanggar moral, manakah yang lebih didahulukan?

Aku merasa exciting ketika berhasil konek internet dengan hp, dengan menggunakan nomor cadangan. Dan setelah berlanjut sekian lama, terpikirlah cara menggunakan modal sesedikit mungkin. Akhirnya sukses, dengan modal satu perdana, dapat internetan sepuasnya.

Puas?

Secara ekonomi, ya...

Secara teknis, iya...

Secara moral?

Hm.... emang gak boleh ya?

Sekarang pun aku posting ini dengan koneksi gratisan, dengan nomer kiriman dari saudara BNL, dengan argumenku adalah, salah sendiri operator gak mbatesi akses internet gratis.

Atau ini hanya taktik mereka?

Don't know... pelanggan adalah raja...

Halaman: « 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 [84] 85 86 87 »

[depan]

Pencarian

Komentar Terbaru

March 2017

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi