October 3, 2005

Introducing: New Category

Daripada JPG ngendon di harddisk, yang kalo mau liat musti bongkar sana-sini, atau rasa was-was kalo ada momen yang ilang, maka dibuatlah satu kategori khusus: Gallery

Sesuai namanya, kategori ini akan berisi gambar-gambar aja, dengan sedikit bacot. Karena mengingat tidak semua memiliki koneksi cepat, termasuk aku kalo pas di rumah, maka semua gambar dimasukkan kedalam Extended Entry (perlu ngeklik untuk lihat).

So, keep your history...
bangsa yang besar adalah yang menghormati jasa pahlawannya... (ga nyambung ya?)
pengalaman adalah guru terbaik ... (kalo ini agak nyambung)

October 2, 2005

Inikah Tipe Pemimpin?

"Saya katakan kepada beliau tentang kondisi negara kita. Sekarang ini rakyat telah salah memilih pimpinannya. Kepada rakyat yang sering mengadu kepada saya bahwa kondisinya sekarang jauh lebih buruk dibanding ketika saya pimpin, saya juga katakan kepada mereka salah sendiri dulu tidak memilih saya," kata Megawati sambil tertawa.

Berita dari situs detik.com.

1. Dalam masa sulit seperti ini, satu-satunya modal terbesar kita adalah persatuan.
Sebagai seorang pemimpin, mestinya mampu mendorong suatu persatuan dan ketenangan, bukan perpecahan dan kekalutan.
Semenjak zaman Gus Dur dulu, aku mulai gak setuju ketika setiap kali ada masalah, maka yang terjadi adalah pertentangan, yang akhirnya adalah pemenuhan kebutuhan kelompok, bukan negara.
Kalo memang toh pemerintah yang sedang aktif, melakukan suatu kesalahan, atau permasalahan, semestinya hal tersebut diperbaiki bersama, bukannya malah direset, atau diperkeruh, dengan adanya manuver-manuver menjengkelkan... betul-betul pejabat yang keparat yang seperti itu...

2. Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan golongan.
Kalo dia bisa turut andil dalam menyelesaikan masalah negara, kenapa tidak dia lakukan?
Kenapa mesti nunggu dia jadi presiden?
Bukankah presiden dan memakmurkan kehidupan bernegara adalah satu jalur?
Kalo dia membedakan antara presiden dan memakmurkan negara, lalu dia jadi presiden itu ada perlu apa? hayo

Penelusuran di Coban Talun

Diklat mengadakan SCeN... eh, SCeN mengadakan diklat, di Coban Talun, tempat bersejarah bagi aku, hiks...

Sebenernya undangan dari panitia diklat, menyebutkan kalo kita diundang hari Jum'at, jam 18:00. Tapi karena pas itu jam kerja bagiku, maka gak bisa datang saat itu. Trus janjian sama penyu untuk datang sabtu sore, dia janji mau datang jam 4 -5 sore ke Joyogrand.

Mulai hari sabtu siang sampe sore, HP aku pake internetan yang otomatis ganti nomor sekunder, trus nonton MotoGP sampe jam 7 malam. Penyu masih belum datang. Indon banget yah.
Telp rumah juga ga fungsi, jadi mungkin aja dia telp...

Karena udah ga sabar nunggu, akhire aku cabut karo yuyun, sepedaan.

Singkat cerita (kedawan lek diceritakno kabeh) kita nyampe di Coban Talun, meskipun banyak cerita tentang beli bensin, tentang kesasar mau ke Coban Talun...

Sampe sana, kita memanaskan diri dekat api unggun, karena ademe pol. Trus ketemu beberapa cecunguk angkatan tuwek SCeN, ditawari penghangat luar dalam, fiuh...

Nunggu sampe jam 12, diadakan acara JM (jalan malam) menelusuri lebatnya hutan di Coban Talun.

Setelah semua peserta diklat berangkat, kita nyusul berdelapan: Aku, Yuyun, Endok, Rizal, Pipin, Koreng, Bolot dan Upik.

Mendaki, melintas bukit, berjalan letih menahan berat beban (lagune dewa). Singkat kata (disingkat maneh) kita satu persatu ketemu peserta diklat yang gugur (capek), dan kebetulan itu cewek, hehehe...
Lalu sampe pos 1, kita memecah jadi beberapa bagian, ada yang ikut tim sana, sini, terus ruwet.
Akhirnya rombonganku tinggal beberapa orang, yang acak, gak tau siapa aja. Tapi satu yang pasti, gak ada yang membawa lampu senter.

Aku yang punya HP paling terang, jadi pembuka jalan. Dengan berjalan beurutan (jalan sempit) kita merangkak naik dalam pekat malam.
Akhirnya nyampe pos 2.

Sampe situ, kita makan. Lalu setelah roko'an, balik turun lagi. Panitia pada heran, kok mudun maneh, ga niat.
Lha iyah, kita kan pengunjung, terserah mau balik dari pos mana aja. Sebenernya sih ada 5 pos.

Dalam perjalanan pulang, kita ber-4: Aku, Yuyun, Endok, Bolot.
Sepanjang jalan itu, kita bertemu peserta diklat cewek, yang disuruh bersemedi di pinggir jalan, dengan dibekali lilin dan koran. Fiuh, nekad bener, sendiri dalam kegelapan dan kesepian. Meski aku ga bisa liat mahluk-mahluk di sekitar dia, tapi terasa banget suasana yang ga nyaman, di sekitar alang-alang, pohon-pohon besar, dan ... hiii...

Setelah melewati semua itu, kita sampe di camp SCeN. Huff, lega... trus tidur.

Pagi-pagi bangun, duiiinginn.... aku menggigil.

Setelah menunggu yang ditunggu gak muncul-muncul, aku sama yuyun pulang...

Yah SCeN, semoga diklat kali ini bisa mencetak generasi SCeN yang handal dan qualified...

Bravo SCeN, Bravo SCeN, Bravo SCeN (yel-yel waktu diklat)

October 1, 2005

Hari Pertama BBM Naik

Entah dengan orang lain, tapi inilah pengalaman hari pertamaku:

1. Pom bensin sepi, sekarang udah gak jadi tempat favorit lagi kayak kemaren.
2. Bensin cepet habis. Perasaan baru 3 hari yang lalu aku beli full, dan biasanya untuk 1 minggu.
3. Jalanan macet. Benarkah masyarakat keberatan dengan kenaikan ini?

Bagaimana dengan anda?

BBM Naek

Hampir deh ga percaya, bensin seliter jadi 4.500 rupiah... ck ck ck...

Apapula yang menimpa negara ini...?

Tapi, sebagaimana keadaan masyarakat kita yang indon banget, maka tumpuan pertanyaan, ketidakpercayaan, kesinisian, kemarahan, semua tertuju pada satu titik: Presiden

Indon banget, ketika masalah muncul saat ini, maka yang disalahkan adalah pemerintah saat ini, tanpa mau, dan tanpa tau, kebenaran dan keharusan yang ada di baliknya.

BBM naik ga cuma pengaruh dalam negeri, tapi juga harga minyak mentah dunia yang memang lagi tinggi. Aku ga tau itung-itungan harga, tapi secara logika saja, kalo kita tidak menaikkan harga BBM, maka beban subsidi (selisih jual dan beli minyak internasional) akan berat sekali.

Sekilas hal ini dipandang sebagai langkah mudah pemerintah, untuk mencari solusi pengurangan subsidi. Kalo tentang hal ini, aku ga yakin, bahwa pemerintah telah memaksimalkan langkah lain untuk membantu beban subsidi BBM.
Dari satu sisi saja, banyaknya kasus pencurian kayu (illegal logging) telah merugikan negara triliunan rupiah (dari kuliah Pancasila). Kalo hal semacam ini bisa ditekan, bukankah dapat dialirkan menjadi bantuan subsidi?

Kemudian, hal klasik, korupsi yang berkepanjangan, seandainya semua dana yang bocor kepada para penjahat yang menjadi pejabat itu dapat dicegah, berapa banyak efisiensi dana yang dihemat, untuk kemudian disalurkan menjadi bantuan subsidi?

Bukan, bukan pertentangan tentang kenaikan BBM, tapi melihat masyarakat indon ini, kadang malu aku jadi orang sini.
Mereka yang berteriak berantas korupsi, tapi jadi koruptor saat punya kesempatan.
Mereka yang mencari tumpuan kesalahan, atas kekesalan mereka.
Mereka yang mengecam pemerintahan sekarang, padahal semua kebobrokan ini, adalah sisa dari pemerintahan dia sebelumnya. Wakeup bu.
Mereka yang menyerobot antrian di POM bensin.
Mereka yang menyerobot lampu merah.
Mereka yang menyerobot apa yang bukan haknya.
Mereka...

Lalu, bukankah aku adalah bagian dari mereka... ?

Halaman: « 73 74 75 76 77 78 79 [80] 81 82 83 84 85 86 87 ... 88 »

[depan]

Pencarian

Komentar Terbaru

June 2017

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi