November 24, 2005

Neptu Jawa

Bagi kalangan masyarakat jawa (asli), nama pasaran tidaklah asing lagi. Mereka punya perhitungan sendiri dalam penamaan hari, semisal Senin Pahing, Selasa Pon, Rabu Wage, etc.

Perhitungan hari tersebut sudah ada sejak lama sekali. Untuk lebih jelasnya, baca artikel ini.

Yang akan saya bahas adalah, tentang fanatisme pada perhitungan jawa. Dari nama-nama hari, dapat dihitung nilai-nilai tertentu, yang disebut dengan NEPTU.
Nah, dari nilai NEPTU inilah, dapat ditentukan apa-apa saja yang boleh/tidak, bagaimana berbuat, etc.
Misalnya mau pergi mencari rejeki, mencari obat, termasuk juga adalah tentang perjodohan!

Misalnya anda lahir hari Senin Kliwon, neptunya adalah Senin (4) + Kliwon (8) = 12
Pasangan anda misalnya Rabu Pon, neptunya Rabu (7) + Pon (7) = 14

Untuk menikah, kedua neptu disatukan, dalam hal ini 12 + 14 = 26

Anda dapat menghitung sendiri di situs ini.

Kemudian, dari nilai yang didapatkan tersebut, dapat dilihat, apakah pasangan tersebut diperbolehkan atau tidak untuk melanjutkan niatnya. Kalaupun boleh, apa saja pantangannya, syarat-syarat dan kewajibannya.

Dalam primbon jawa, sudah ada list yang memuat tentang hal tersebut.

Untuk hasil 26, istilahnya adalah Satrio Penantang, atau Beddu, atau ... (banyak istilahnya), yang menyatakan bahwa apapun alasannya, pernikahan dengan jumlah neptu 26 adalah TIDAK BOLEH.

Resiko yang ditanggung akan berat sekali.

Tapi stop, ... itu adalah perhitungan jawa.
Bagaimana dengan pertimbangan secara Islami? apakah hal tersebut memang tidak boleh?

Inilah kontroversialnya.

Ada yang mengatakan, bahwa itu termasuk bid'ah, jangan percaya, tidak ada ajaran seperti itu dalam Islam.

Bagi yang fanatik, tentu saja menolak itu dikatakan bid'ah. Itu semua ada perhitungannya, yang didapatkan secara turun-temurun, dan sudah terbukti kebenarannya.
Mereka selalu berargumen, sesuatu yang tidak pernah didapatkan dari Al-Qur'an dan Hadits, bukan berarti tidak ada di dunia nyata.
Analoginya, ilmu ndaud (memindah tanaman padi) tidak ada dalam Al-Qur'an dan Hadits, tapi tetap dibutuhkan kalo petani ingin menanam padi. Tidak berarti ilmu itu muspro (sia-sia).

Lha kemudian, kalo anda dan pasangan divonis untuk tidak boleh melanjutkan hubungan anda ke jenjang pernikahan, apa yang mesti dilakukan?

November 23, 2005

Nasrudin: Relativitas Keju

Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,

"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.

"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."

Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.

"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin.

"Tidak ada lagi," kata istrinya.

Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."

"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"

"Itu tergantung," sambut Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."


So simple, tapi banyak dari kita sering terjebak pada kesederhanaan itu.
Merasa enggan dengan suatu makanan, hanya karena bosan, dan memilih merasakan lapar sampai mendapat makanan yang diinginkannya. Menyiksa diri...

Pesantren, Jihad, Teror

Ketika disebutkan kata Jihad, yang terbayang adalah gambaran kaum muslimin yang memegang pedang, samurai, senapan, bahkan bom.
Pemberitaan media yang salah dan pengertian Jihad yang keliru adalah salah satu penyebabnya.

Jihad selalu diambil sebagai kata utuh, dianggap sebagai ajaran Islam, yang pada akhirnya dapat merusak citra Islam itu sendiri.
Padahal seharusnya, Jihad adalah di jalan Allah (fi sabilillah), dengan ketentuan yang mendatangkan rahmat, bukan kehancuran.

Berikut ini adalah artikel dari milis fismaba2004 (milis para alumni pesantrenku):

Lanjutkan membaca "Pesantren, Jihad, Teror" »

Budaya Malu

Rendah hati bukan berarti rendah diri
Mau dihargai harus mau menghargai
dan bisa menghargai diri sendiri

Aku sering gemes, kalo liat orang memanfaatkan segala kesempatan, demi kesenangan diri sendiri. Kesel, mangkel...
Kesel kalo liat orang nyerobot antrian di SPBU, bayar telpon, listrik...
Mangkel kalo liat di jalanan, orang maen seruduk sana-sini, langgar lampu merah (kok ini terus yang jadi contoh ya?)...
Muak kalo liat cowok-cewek berpelukan erat di pinggir jalan (bahkan pernah aku liat waktu bulan puasa kemaren)...

Gak banyak yang bisa aku perbuat, karena itu adalah masalah kepribadian.

Gak mungkin aku negur, karena selain tidak punya hak, belum tentu aku lebih baik dari mereka, dalam hal yang lain.
Paling-paling aku berani (dan harus) negur untuk orang terdekat, misalnya pacar ^_^

Mungkin sedikit langkah yang dapat kita lakukan adalah, membuat masyarakat kita berkaca pada kesalahannya sendiri. Salah satunya dengan mempublishkan kesalahan ke khalayak ramai, dengan tetap melindungi identitas orang itu tentunya.

Aku nemu situs ini, Malu Dong. Di sini kita bisa berpartisipasi mengirimkan gambar kejadian/pelanggaran yang menunjukkan rusaknya rasa malu. Dengan disertai keterangan singkat, nantinya gambar tersebut diedit untuk melindungi identitas si pelaku. Hal ini selain untuk mengingatkan si pelaku (yang mungkin tidak akan pernah melihat gambarnya ini) juga untuk mengingatkan kita semua.

maludong.jpg

Aku rasa ini langkah bagus, dan butuh partisipasi banyak pihak, dan tentu saja manajemen koleksi yang handal.
Di situs ini masih didominasi pada ketidaktaumaluan masyarakat kita dalam berkendara, mungkin karena sponsornya bergerak dalam bidang Otomotif?
Semoga ke depannya nanti, banyak yang dapat dikembangkan.

Satu langkah awal pasti dibutuhkan untuk mencapai tujuan sejauh apapun.

Bravo for us!!!

Advanced Technology: Map

Begitu simple: peta

Tapi begitu luas jabarannya, kalo emang mau diperluas.

Selama ini, pengertian peta adalah penampilan suatu area / daerah dalam bentuk gambar 2 dimensi. Dalam pengertian ini saja, peta sudah merupakan kebutuhan vital.
Orang mau memahami suatu daerah, melakukan suatu perjalanan, membangun area, butuh peta.

Kalau diperluas, peta bukan saja bersifat ruang, tapi juga waktu.

Ketika bicara tentang peta waktu, kita bisa memetakannya dalam skala-skala tertentu, memilah dan mengalokasikan untuk kebutuhan tertentu. Hampir mirip dengan peta ruang.
Yang membedakan adalah, peta ruang selalu berjalan, tidak bisa diulang. Selalu akan habis terpakai, baik sudah atau belum dimanfaatkan.

Itu pembahasan sok serius ^_^

Anyway, aku baru saja tertarik dengan teknologi yang ditawarkan oleh raksasa pabrik software dunia: Microsoft dan Google.
Microsoft dengan MapPoint, Google dengan Google Local.

Setelah menyerah dengan teknologi Google Map, aku mencoba Virtual Earth. Sama-sama pusing. Belum nemu intisarinya.
Aku yakin di kedua teknologi itu masih banyak yang dapat digali untuk dimanfaatkan, tapi masih banyak yang mesti dilakukan.

Untuk menghibur hati, aku mencoba menampilkan peta blogger yang disediakan oleh FeedMap.
Sebelumnya, aku pernah mencoba, dan selalu gagal... selalu ditolak.
Aku yakin itu adalah kesalahan script (programmer feeling), karena error statementnya murni dari compiler.
Setelah browsing, keluar masuk forum diskusi, aku mencoba-coba cara untuk submit.
Buat yang masih gagal, jangan pernah menyerah, never give-up!
Kadang errornya karena yang disubmit adalah Atom (kasusku), ada juga yang error kalo yang disubmit adalah RSS.
Jadi coba-coba salah satunya.
Kemudian, coba hilangkan www. di depan nama domain, seperti punyaku, cukup http://mahesajenar.com

Oke, hasilnya dapat dilihat pada sidebar sebelah kanan blog ini ^_^

Thanks...

Halaman: « 66 67 68 69 70 71 72 [73] 74 75 76 77 78 79 80 ... 88 »

[depan]

Pencarian

Komentar Terbaru

December 2017

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi