September 2, 2008

Jadwal Puasa



*** UPDATE: Widget Jadwal Sholat bisa diambil di Widget.


Data jadwal ini diambil tanpa ijin dari PKPU Online.

Penggunaan widget ini tinggal menyebutkan kota yang ingin ditampilkan, serta jenis tampilannya.

Berikut ini contoh perintah dan hasilnya:



Perintah ini:

<script type="text/javascript" src="http://www.mahesajenar.com/scripts/ramadhan.php?kota=malang" /></script>

Hasilnya kira-kira seperti ini:

Kota: Malang
Tgl: 02-09-2008
Imsyak: 04:03
Shubuh: 04:13
Terbit: 05:26
Dhuhur: 11:31
Ashar: 14:49
Maghrb: 17:32
Isyak: 18:41


Perintah ini:

<script type="text/javascript" src="http://www.mahesajenar.com/scripts/ramadhan.php?kota=malang&type=text2" /></script>

Hasilnya kira-kira seperti ini:

Malang: Imsak kurang 8 jam 14 menit 44 detik


Perintah ini:

<img src="http://www.mahesajenar.com/scripts/ramadhan.php?kota=malang&type=image1&bg=0000aa&text=ffff00&border=000000" />

Hasilnya kira-kira seperti ini:




Perintah ini:

<img src="http://www.mahesajenar.com/scripts/ramadhan.php?kota=malang&type=image2&bg=00aa00&text=ffffff&border=000000&lebar=50" />

Hasilnya kira-kira seperti ini:




Yang perlu diketahui, widget di Wordpress.com hanya bisa menggunakan yang type image1 dan image2 saja, tidak dapat text.

Semoga bermanfaat.

*nerusin berbuka*


August 22, 2008

Tanggal Hari Ini

Widget yang lain.

Mungkin efek dari kena vertigo, jadi mesti sering-sering refreshing otak. Salah satunya dengan iseng membuat widget seperti ini: Tanggal Hari Ini.

Sebenarnya widget ini duplikasi dari widget Random Ayat, hanya saja di sini tanpa Autorefresh.

Cara penggunaan:

Versi teks (javascript):

<script type="text/javascript" src="http://www.mahesajenar.com/scripts/hijriah.php">
</script>


Versi image (PNG):
(untuk blog di wordpress.com)

<img src="http://www.mahesajenar.com/scripts/hijriah.php?type=img" />


Lanjutkan membaca "Tanggal Hari Ini" »

August 21, 2008

Kena Vertigo



// var w = window.parent.window;
if( w && w.App )
w.setTimeout( 'App.bootstrapIframe();', 1 );
// ]]>


August 19, 2008

Ande-Ande Lumut

Ini hanya parodi dari sebuah tembang jawa legendaris yang dibawakan oleh Waldjinah, Ande-ande lumut.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang akeh kiaine... partai ijo iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo dereng purun. Adoh Ibu, kulo mboten mudun.
Senajan kiai, mboten rukun kaleh sedulur.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang gede massa-ne... partai abang iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo dereng purun. Adoh Ibu, kulo mboten mudun.
Senajan gede, mboten remen kaleh capres-e.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang ganteng ketum-e ... partai biru iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo dereng purun. Adoh Ibu, kulo mboten mudun.
Senajan ganteng, ketum-e kathah ngiklan-e.


Putraku, si Andai-andai Lumut, tumuruno ono partai kang ngunggah-unggahi.
Partaine ngger, kang tuwo umur-e... partai kuning iku kang dadi asmane.

Doh Ibu, kulo inggih purun. Duh Ibu, kulo badhe mudun.
Senajan tuwo, kuning niku lambang makmur.


Untuk lagu versi aslinya, silakan dengar/download di Multiply.


August 14, 2008

Berkibarlah Benderaku

Mari lupakan dulu idealisme bahwa nasionalisme harusnya ada setiap saat, bukan cuma saat peringatan proklamasi, atau saat kejuaraan antar negara saja.
Mari kita nikmati saja kegembiraan ultah bangsa ini bersama seluruh lapisan masyarakat.
Hmm... itu juga terlalu ideal sih, karena nampaknya banyak yang sedang tidak berbahagia dalam menyambut ultah ini, atau sedang berbahagia namun tidak menyadari adanya ultah kemerdekaan.

Zaman aku kecil dulu, terasa sekali kegembiraan, kebanggaan, antusiasme dalam memperingati 17 Agustus. Gempitanya terasa 2 minggu sebelum sampai sesudahnya. Hati bergetar saat mendengar lagu 17 Agustus 45.

Sebagai gambaran antusiasme, untuk membeli selembar bendera, tetanggaku sampai berhutang ke tetangganya. Lha buat makan saja sudah susah.

Di waktu yang lain, tetangga yang lain, bendera beserta tiangnya dicabut oleh perangkat desa kemudian dilemparkan ke dalam rumah, karena benderanya sudah terlalu lusuh.

Kibaran merah putih memang hanya simbol, namun demi simbol itu mereka berusaha memberikannya sebaik mungkin.

Itu mereka. Bagaimana dengan kita?

Kemarin bersama Phi keliling Dinoyo, mencari tiang bendera. Dapat sih, tapi sulit membawanya karena tidak muat di Taft. Pintu belakang tidak dapat ditutup, sehingga Phi terpaksa duduk di belakang sambil memegangi pintu. Sepanjang perjalanan berusaha agar tiang bendera tidak mengenai pengguna jalan yang lain, atau terkena polisi tidur.

Akhirnya...



Berkibarlah benderaku,
Dirgahayu Indonesiaku.


Halaman: « 8 9 10 11 12 13 14 [15] 16 17 18 19 20 21 22 ... 86 »

[depan]

Pencarian

Komentar Terbaru

July 2014

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi