« Indonesia Beda | Depan | Mau Jadi Bangsa Apa »

LGBT

Cukup lama saya meredam pendapat tentang fenomena LGBT ini. Bukan karena apa-apa, hanya kepingin saja. 
Bayangkan, kecenderungan "menyimpang" ini sudah ada jauh sebelum kamu ada. Kamu bahkan buyutnya buyut kamu pun mengalami peradaban dengan kelakuan ini.

Lalu apakah sekelumit pendapat ini akan mengubah keadaan itu? Tentu saja tidak. Tapi kita tidak akan pernah tau kan, bahkan setetes embun pun dapat menyelamatkan middle earth saat embun itu jatuh di mulut Aragorn yang sedang pingsan.

Pendapat saya tentang LGBT: menyukai sesama jenis bukanlah perbuatan menyimpang. Memang benar apa kata para pakar psikologi.

Jangankan ke sesama manusia, bahkan seseorang bisa saja jatuh cinta ke karakter anime. Ada juga yang terangsang dengan motor Yamaha YZR-M1, atau yang tidak dapat tidur karena memikirkan keseksian ROM MIUI 6. Sah saja.

Jadi jika secara ilmu psikologi dikatakan bahwa cowok suka sama cowok itu normal, ya memang.
Masalahnya bukan rasa cinta sesama jenisnya, tapi seks sesama jenisnya. Titik.

Meskipun dilakukan oleh mereka yang normal, yang karena merasa dipaksa oleh keadaan, seks sesama jenis tetap saja tidak boleh. 

Karena pada kenyataannya seks sesama jenis memang bukan monopoli kaum LGBT. Dan perbuatan itulah yang layak untuk ditentang. Jangankan oleh ilmu pengetahuan paling modern saat ini, meskipun Einstein sebagai simbol pengetahuan bangkit dari kuburnya lalu mengatakan hubungan seks sesama jenis itu wajar saja, dengan senang hati saya akan membantu menguburnya kembali.

Alan Turing (yang kata Ulil adalah penemu komputer) kurang cerdas apalagi coba, yang juga mengidap penyakit LGBT juga mengakui dirinya sebagai _tidak normal_. (Imitation Game, true story of Alan Turing)

Kelainan orientasi seksual tidak dapat dijadikan pembenar hubungan sesama jenis. Meskipun itu bisa dijadikan alasan, tetapi tidak menjadikan aktivitas itu dianggap benar. Kondisi yang sering dijadikan alasan adalah ketika Penis tidak berdiri saat dihadapkan dengan Vagina, tapi malah berdiri saat dipertemukan dengan sesama Penis. So what? Karena ada juga Penis yang tidak lagi berdiri terhadap Vagina A (padahal sebelumnya berdiri) tapi berdiri tegak terhadap Vagina B. Apakah akan selalu dituruti? 
Baiklah kalau mau dituruti, tapi akui bahwa itu penyimpangan, bukan baik-baik saja. 

Jadi marilah kita objektif dan bersikap adil. Kita hormati hak kemanusiaan kaum LGBT. Mengerti dan memahami pilihan mereka, tapi bukan mendukung dan memberi wadah untuk melanjutkan aktivitas yang salah. Sama saja dengan melegitimasi mereka untuk terjerumus semakin parah.

Ini masih belum masuk ke ranah agama, yang sudah pasti aktivitas seksual sesama jenis kelamin adalah salah. Percuma diajak ke pembahasan tentang agama karena pendukung LGBT pasti tidak berangkat dari situ.

Tapi itulah pilihan, ada yang segala sesuatu selalu dihubungkan dengan apa kata agama, ada pula yang memandang agama sebagai plug-in yang bisa dilepaspakai kapan saja, hanya pakai logika dan perasaan saja.

Permasalahan akan menjadi runyam saat yang memakai agama memaksakan yang tidak peduli dengan agama, dan yang memakai logika merasa heran dengan pola pikir yang memakai agama. Tidak akan dapat disejajarkan. Hanya dapat dipaksakan. 

Sedangkan lingkup aktual dalam penanganan legalitas LGBT ada pada tingkat negara. Tinggal siapa yang menang dalam perebutan keputusan pemerintah, yang pro atau yang anti LGBT. Saya pro LGBT jika itu menjadi wadah pembinaan kelainan orientasi seksual, bukan menjadi ajang pelumrahan seks sesama jenis. 

Kalau saya ditanya soal hubungan sesama jenis kelamin, saya jawabnya dengan agama dan fitrah manusia bahwa itu tidak boleh. Kalau Anda tidak setuju, ya tidak usah mencari pembenaran lewat agama. Akui saja bahwa itu demi nafsu belaka. 

Kongklusi, ada yang hidup dengan menuruti nafsu ada yang menuruti agama. Itu sudah.




Ada 2 komentar

JOKERz pada March 1, 2016 11:59 PM menulis:

wohhh udah lama ga kemari.....
design nya tetap model kurusetra :))
#gagalFokus

Balas Komentar Ini
ki surya pamungkas pada March 3, 2016 8:23 PM menulis:

weleh lha wong binatang saja bisa memlih pasangan...jantan pasti memilih kawin degn betina...tidak akan salah...lha manusia kok kalah dengan hewan

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

July 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi