« Half Truth | Depan | Perumpamaan Adzan Dengan Telepon »

Remote Control

Remote control, sesuai artinya, remote=jarak jauh, control=pengendalian, berarti pengendalian jarak jauh.

Mungkin maknanya kurang pas, karena ketika disebutkan kata "remote control" yang terbayang adalah remote televisi. Sedangkan televisinya ada di depan mata, tidak jauh kok.

Namun coba Anda menonton televisi tanpa remote control, maka Anda akan merasakan betapa jauhnya televisi dari jangkauan Anda, saat akan memindahkan tayangan ke channel-channel yang lain.

Baiklah, cukup membahas tentang arti remote control. Berikutnya tentang penemuan remote control. 
Remote control ditemukan oleh anak saya, kemarin di kasur. Mungkin ikut terbawa ke kamar sewaktu berangkat tidur. 

Oke, cukup bercandanya, karena saya khawatir dianggap sedang meremote emosi Anda.

Ya, kadang tanpa sadar kita menyerahkan remote control emosi kita kepada orang lain, padahal kenal saja tidak.

Misalnya saat malam minggu, sudah dandan cantik dan ganteng, bersama keluarga berencana makan malam di restoran terkenal. Berangkat dengan riang dan penuh canda tawa. Namun semua berubah saat negara api, dengan melalui pelayan restoran tersebut, meremote keluarga kita.

Karena pelayan yang judes dengan bibir monyongnya, berhasil memindahkan channel emosi istri ke tayangan BadMoodTV, sehingga menyulut status sang suami ke level reaktif. Anak-anak ikut berpindah channel ke BeteTV karena acara yang ditayangkan kemudian adalah Berpacu Dalam Emosi.

Hanya gara-gara remote control diserahkan ke bibir pelayan itu tadi.

Baiklah, kita tinggalkan keluarga yang sedang menikmati tayangan tadi, yang seharusnya mengabaikan saja sinyal bibir monyong pelayannya. 

Ke ranah yang lebih luas dan lebih sensitif, terkait dengan remote control terhadap suatu negara, terutama negara kita tercinta.

Seringkali kita sebagai rakyat sangat predictable, seakan tinggal ditekan tombol remote nomor tertentu kita akan bereaksi sesuai keinginan yang pegang remote. 

Diajak menonton acara cicak vs buaya ayo, diajak menayangkan seleb on sale oke saja, diajak melihat tayangan preman melawan pendekar sipit iya juga. 

Sepertinya atmosfer kita sudah connected dengan program pengendali milik pihak tertentu, sehingga kita tidak memiliki opsi lain selain yang sudah diinstall di masyarakat kita. 

Tidak ada masalah dengan tayangan-tayangan sejenis di atas, harus malah, untuk kita saksikan dan awasi. 

Sayangnya, begitu mendekati akhir acara maka ada saja yang menekan tombol remote supaya pindah ke tayangan lain, menyembunyikan hasil akhir yang bisa jadi tidak sama dengan apa yang sebelumnya kita perkirakan. 

Bagaimana nasib cicak sekarang? Kenapa di akhir skenario cicak dipaksa kalah padahal cicak sudah mempersiapkan serangan balik? 

Bagaimana kabar calon Kapolri yang batal dan masuk lewat pintu Wakapolri dan tinggal nunggu selangkah lagi? 

Itu semua karena keburu tayangan dipindah, dan kita ikut melupakannya demi mengikuti tayangan yang baru. 

Sebenarnya kita bisa ikut berpindah tayangan tanpa melupakan tayangan sebelumnya, asal tidak terlalu lebay pada tayangan yang baru. Proporsional dan jangan mudah termakan isu dari agen-agen milik program remote control. Sehingga sesuai dengan kapasitas masing-masing kita akan mampu melihat lebih banyak tayangan acara di negara kita. 

Dengan begitu kita tidak lagi predictable, meski tombol remote dipencet-pencet oleh yang berkepentingan untuk mengontrol masyarakat kita. 


Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi