« Orang Arab | Depan | Penyebar Berita »

Ciri-ciri "Ibadur Rahman"

(Tulisan ini merupakan ringkasan dari Kajian Ahad Dhuha, yang diadakan di Masjid Al-Falah (MAN 3 Malang) didukung Yayasan Nurul Hayat cabang Malang, bersama Ustadz Mokhammad Yahya, Dosen UIN Malang)


1557446_10153801188770457_1315360969_n.jpg


Ahad Dhuha, 26/01/2014

----------------------------------------------------------------------------------------------


Ciri-ciri "Ibadur Rahman"


Ibad berarti hamba, yang merupakan pangkat tertinggi bagi siapapun juga selain Allah.

Sedangkan Rahman merupakan sifat Allah yang paling tinggi cintanya (excessive love).


Manusia boleh saja mengaku sebagai hamba Allah, tetapi tidak semuanya mendapat pengakuan stempel "Hambanya Sang Maha Penyayang" ini.


Pada Al-Qur'an Surah Al-Furqan (25) ayat 63 - 74 (http://quran.com/25/63-74), ditunjukkan oleh Allah ciri-ciri hamba yang diakui-Nya sebagai Ibadur Rahman. Bisa jadi Anda termasuk salah satunya.



1. Ayat 63


وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا




"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."


"Orang-orang jahil" di sini bukanlah orang bodoh, melainkan orang yang sedang tidak dapat menguasai akalnya karena sedang emosi. Misalnya pengendara stress, atasan stress, saudara stress, dan sejenisnya. Dan ketika berurusan dengan orang seperti itu, Ibadur Rahman akan memilih ucapan yang damai, atau menciptakan suasana yang aman. Tidak malah menantang dan menunjukkan kehebatan diri.


Intinya adalah tidak selalu "inilah gue", tidak melupakan bahwa orang lain itu juga ciptaan Allah, dan kejadian tersebut adalah skenario dari Allah juga. Jadi jika ada yang sombong dalam kondisi seperti itu, sangat mungkin sedang melupakan peran Allah dalam tiap kejadian. Dan itu bukan ciri Ibadur Rahman.


Banyak hadits Rasulullah sering dihadapkan dengan kejadian seperti ini, dibentak di hadapan para Shahabat, tetapi beliau tidak memilih show-off dengan power yang ada di tangannya meskipun bisa.


Mudah diucapkan, tetapi sulit dipraktekkan oleh orang kebanyakan.



2. Ayat 64


وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا




"Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka."


As simple as that, tetapi berat bagi kebanyakan orang. Anda bisa mencoret ciri ini dari diri Anda jika tidak dapat selalu melalui sepertiga malam terakhir dengan sholat.


Seperti kita ketahui, meskipun seluruh dosanya sudah mendapat jaminan diampuni, Nabi Muhammad tidak pernah melewatkan malam tanpa sholat.


Jangankan sholat malam, sholat 5 waktu saja masih belum tertib. Tetapi marilah jangan putus asa, kita berusaha dan berdoa agar diberi kesempatan menjadi ciri kedua ini.



3. Ayat 65 & 66


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا




"Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal"."
"Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman."


Nampaknya ini yang paling mudah, karena seakan hanya berdoa. Tetapi konsekuensi dari doa yang sungguh-sungguh adalah ketakutan yang sebenar-benarnya terhadap neraka.


Saat ini kita mengaku takut neraka hanya di bibir saja. Sedangkan di dalam hati kita lebih sering meremehkan. Entah karena yakin suatu saat masih sempat bertobat sebelum sekarat, atau karena yakin dengan dosa-dosa yang pernah dilakukan sehingga sudah pasti bakal masuk neraka sementara, kemudian dimasukkan surga. Ini adalah pemikiran yang keliru.


Jika benar-benar takut neraka, pastilah menjauhi segala hal yang dapat menyebabkan diri masuk ke neraka, meskipun hanya 1 detik. Sebab pada ayat keduanya di atas (ayat 66) disebutkan neraka itu sengsara sekali meskipun hanya sementara. Banyak ayat lain menjelaskan dahsyatnya neraka ini. Sayangnya kita sering merasa biasa saja.


Dan jika masih belum bisa meninggalkan maksiat, artinya belum masuk kategori yang ketiga ini karena masih tidak takut dengan neraka.



4. Ayat 67


وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا




"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."


Konsep ekonomi dasar, tetapi banyak yang gagal dalam menjalaninya. Seseorang bisa saja hidup irit saat pas-pasan, tetapi boros saat keuangan longgar.


Dalam arti lain adalah keseimbangan antara spend untuk dunia dan akhirat. Banyak dari kita yang ringan melepas banyak harta jika untuk kepentingan pribadi, tetapi sangat berat saat untuk urusan akhirat.


Melepas uang 100 ribu selama 1 jam nongkrong di E*celso, sangat ringan dan segera hilang dari ingatan, dibandingkan dengan melepas 100 ribu saat Jum'atan yang ternyata sangat berat, dan meskipun berhasil juga akan selalu terkenang bagi mereka yang belum bisa melihat kemanfaatan tabungan akhirat.


Jika belum dapat menyeimbangkan pengeluaran, maka belum termasuk ciri Ibadur Rahman pada ayat 67 ini.



5. Ayat 68 - 71


وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا




"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),"
"(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,"
"kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
"Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya."


Bagi sebagian orang, untuk tidak menyembah selain Allah, untuk tidak membunuh orang (langsung ataupun tidak), untuk tidak berzina, mungkin kedengaran mudah. Tetapi untuk sebagian yang lain sangatlah sulit.


Tidak menyembah tuhan lain artinya tidak mengharapkan bantuan yang finalnya tertuju kepada Allah. Misalnya kepada makam, kepada dukun, kepada tasbih, dan kepada-kepada yang lain.

Untuk tidak berzina (termasuk zina mata, dst) juga lebih sulit untuk area tertentu, misalnya area perkotaan.


Dan bagi orang yang beriman (ayat 69) melakukan salah satu dari ketiga hal di atas hukumannya akan dilipatgandakan oleh Allah.


Dan bagi yang sudah pernah melakukan salah satu di antaranya, akan digantikan dengan kebajikan asal mau bertobat DAN melakukan amalan saleh.


Sayangnya kita kadang merasa sudah cukup dengan tobat saja, sehingga syarat "Amilan Amalan Sholihan" di atas tidak terlaksana.


Jika tidak dapat beramal saleh, ciri ini tidak termasuk dalam diri kita.



6. Ayat 72


وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا




"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya."


Dalam sebuah komunitas, berbohong bisa menjadi hal yang lumrah. Baik itu dalam dunia politik, marketing, niaga, dan lainnya.

Dan saat ini juga hal lumrah untuk secara berkelompok melakukan hal-hal yang tidak berguna. Misalnya apa? Nongkrong mungkin (bisa jadi berfaedah untuk sebagian orang,wasting time bagi sebagian yang lain).

Saat itu terjadi Anda dapat menilai apakah perbuatan tersebut berfaedah atau tidak.

Sayangnya kita juga sering kehilangan pegangan saat diajak untuk hal yang tidak berfaedah ini.


Anda dapat menilai sendiri apakah termasuk dalam kategori ayat 72 ini.



7. Ayat 73


وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا




"Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta."


Mungkin tidak mudah dirasakan bahwa kita sering melakukannya. Saat khutbah Jum'at misalnya, kita "dimarahi" oleh Allah melalui Khatib tetapi cuek saja sambil update status Facebook atau checkin Foursquare, kemudian lupa apa yang tadi didengarnya.


Atau saat dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an tetapi tidak menghiraukan sama sekali.

Ya gimana mau menghiraukan, artinya saja tidak ngerti.


Inilah tragedi ummat muslim saat ini. Pendidikan Al-Qur'an kurang mendapat perhatian dari orang tua. Asal bisa membaca tulisan Arab ya sudah. Nanti biar cari sendiri.

Padahal tahapnya masih panjang, setelah bisa membaca, harus bisa mengartikan, kemudian bisa mempelajari (tadabbur), dan akhirnya melaksanakan. Barulah Al-Qur'an berfungsi sebenar-benarnya sebagai cahaya Allah.


Jika tidak, kita jelas tidak termasuk kategori ayat 73 ini karena akan berlagak seperti orang tuli saat dibacakan peringatan dengan ayat-ayat Allah.



8. Ayat 74


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا




"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."


Hampir sama dengan kategori nomor tiga di atas, seakan mudah karena hanya berdoa. Padahal di dalamnya kita harus bertanggung jawab untuk menciptakan keluarga yang seperti kata Rasulullah "baiti jannati".


Setelah bergulat dengan kehidupan luar yang panas, saat pulang kita ingin istri dan anak-anak kita menjadi "pendingin pandangan" dan membahagiakan. Bukan malah sebaliknya, di luar rumah berbahagia tetapi ketika masuk rumah galau melanda.


Selain itu kita juga harus berusaha menjadikan diri sebagai panutan bagi orang-orang setelah kita. Bagaimana bisa menjadi seperti itu jika tidak ada usaha meraihnya.



Itulah 8 ciri orang-orang yang mendapat status Ibadur Rahman berdasarkan surah Al-Furqon, semoga kita termasuk salah satu atau keseluruhan ciri tersebut, sehingga mendapat balasan berupa 2 ayat kelanjutannya (75 & 76).


Wallahu'alam.


----------------------------------------------------------------------------------------------


Kegiatan Kajian ini rutin diadakan pada Ahad ke-4 setiap bulan, jam 8 pagi di Masjid Al-Falah, MAN 3 Jl. Bandung Malang



Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi