« Juri Juga Manusia | Depan | Ciri-ciri "Ibadur Rahman" »

Orang Arab

Suatu ketika saya secara kebetulan satu lift dengan seorang Arab di sebuah hotel di Mekkah, berdua saja, saat kami sedang naik menuju ke kamar masing-masing.

Dia membuka percakapan dengan menanyakan "kenapa orang Indonesia lebih suka makan menggunakan sendok, mestinya ikut sunnah Nabi yang makan dengan tangan"

Aku jawab, "bisa jadi karena jenis makanan kami yang mengharuskan kami pakai sendok"

"Tapi katakan pada bangsamu untuk menggunakan jari tangan saat makan, banyak berkah dan kenikmatan setelahnya" (sambil mempraktikkan menjilati jari-jari tangan kanannya seperti orang yang selesai makan)

"Hmm, ya ya", jawab saya sambil mikir bagimana cara memberitahu bangsaku.

Selang beberapa jam kemudian, saat saya sedang makan di resto hotel kebetulan beliau masuk, melihatku yang sedang makan kemudian mendekati dan berdiri di sebelahku, yang sedang makan rawon pakai sendok.

Terjadi pembahasan lagi tentang sendok, sampai kemudian pegawai resto yang orang Indonesia datang dan berbisik di sebelahku, "sudahlah mas, memang begitu orang Arab"

-------------------------------------------------

Poinku bukan pada Arab atau tidak, melainkan pada pemahaman ittiba' Nabi Muhammad. Bahwa kita mengikuti Nabi bukanlah harus persis-sis-sis. Jika harus persis, maka ketika Nabi tidak Facebook-an, Anda juga jangan Facebook-an. Nabi sarapan kurma, Anda juga mestinya iya.

Namun ittiba' mestinya tidak diartika demikian. Kita diberi akal untuk dapat membedakan mana ittiba dan yang mana bukan. Kita ambil ajarannya, bukan niru ajarannya. Jika kita sekedar meniru saja, Anda telah menghina Tuhan karena menyia-nyiakan akal pikiran yang telah dianugerahkan olehNya.

Makan dengan menggunakan 3 jari adalah Sunnah Rasul. Maknanya kita tidak boleh rakus saat makan, tidak boleh grusa-grusu, dan menghormati makanan sebagaimana Nabi menghormatinya.

Mestinya itu yang kita ambil hikmahnya sebagai ittiba'. Bukan persis bentuknya.

Lalu apa hubungannya dengan cerita orang Arab di atas?

Karena masih banyak di antara kita yang menganggap semua ajaran dari  Mekkah adalah paling benar. Mereka melogikakan karena Islam awalnya turun di Mekkah, maka yang datang dari sana pasti benar.

Jangan lupa bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab juga dari Mekkah.

Inti dari semuanya, gunakan anugerah akalmu untuk dapat memilah mana area otak, mana area iman, dan mana yang bukan keduanya. Area dogma dan mana area bebas. Jangan hanya karena dikatakan oleh orang Arab maka ditelan mentah-mentah.

Wallahu'alam bis showab.


*siap-siap mendapat julukan liberalis :p


Ada 3 komentar

gunawan pada December 1, 2013 1:10 PM menulis:

Buuuueeeener mas bro

Balas Komentar Ini
muryono pada December 27, 2013 7:16 PM menulis:

Alhamdulillah, smg bermanfaat info ini

Balas Komentar Ini
NurRohman pada February 17, 2014 5:34 PM menulis:

Apa orang arab tersebut kemana-mana juga naik onta, dan membawa pedang, bukan HP ?

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi