« Sebab dan Akibat | Depan | Qasidah Waqtissahar »

Hitungan Neptu Bukan Klenik

hitungpasaran.pngSekilas mengenai perhitungan Neptu, yang merupakan warisan luhur dari pendahulu kita, sebagai ilmu titen (sama dengan sistem kalender yang lain) memberikan penanda pada setiap hari dan pasaran, berupa angka, sebagai ancar-ancar tentang pengaruh dari hari-hari tersebut terhadap manusia yang lahir di hari itu, aktifitas di hari tersebut, dan banyak hal lain lagi yang dapat diuraikan dengan ilmu Neptu.

Dengan adanya ancar-ancar dari nilai Neptu tersebut, manusia dapat memanfaatkan sebagai informasi tambahan jika akan melakukan sesuatu, menilai sesuatu, pada hari-hari tertentu.

Sama dengan ancar-ancar di kalender Masehi, misalnya bahwa bulan Oktober adalah dimulainya musim hujan, maka informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh para petani untuk mempersiapkan lahan pertaniannya.

Tidak ada yang klenik di kedua hal tersebut.

Contoh lagi, misalnya seseorang lahir di neptu A, maka akan memiliki karakter yang telah dititeni bersifat, misalnya, pemarah. Jika menikah dengan seseorang di neptu B, yang memiliki karakter pemarah pula, maka dikhawatirkan akan sering terjadi cekcok.

Karena hanya bersifat informasi, implementasi di kehidupan nyata tetap diserahkan kepada manusianya, mau diteruskan atau tidak. Mau tetap marahan atau tidak, dan lain sebagainya.

Nah, di sini mulai timbul permasalahan, ketika ada banyak kesalahpahaman dan kepentingan yang terlibat dalam penerapan perhitungan Neptu.

Misalnya adalah ketika memahami hasil dari perhitungan Neptu sebagai "kepastian" yang akan terjadi, maka hal tersebut sudah menyalahi aqidah. Ini yang seharusnya disoroti oleh para "penjaga aqidah", bukannya malah menyalahkan perhitungan Neptu itu sendiri.
Toh tanpa perhitungan Neptu, masih banyak celah untuk terpelesetnya aqidah. Tetapi karena mereka terlalu malas untuk selalu memerangi terpelesetnya aqidah, maka jalan pintasnya adalah mereka melarang menggunakan perhitungan Neptu. Ada benarnya juga karena tidak semua masyarakat cukup dewasa untuk menerima hasil perhitungan tersebut.

Dalam konteks ini, jika diketahui calon A bersifat pemarah, dan calon B juga pemarah, maka dapat diwanti-wanti untuk berhati-hati saat sedang marah. Dan banyak sifat lain yang dapat diuraikan melalui perhitungan Neptu sebagai bahan referensi terhadap perbandingan sifat. Bukan sebagai kepastian pemilihan jodoh!

Permasalahan lain adalah ketika ada kepentingan tersembunyi di balik hasil perhitungan Neptu. Misalnya ketika ada ketidakcocokan perhitungan Neptu, maka diberikan jalan keluar berupa "selamatan" atau ritual tertentu yang memakan biaya.
Tidak bermaksud mengecilkan arti selamatan, karena pada dasarnya ritual itu sendiri juga baik, namun dalam kasus seperti ini sering disalahgunakan oleh "oknum" tertentu untuk mendapatkan keuntungan materi.
Sehingga ketika pasangan calon pengantin bersama pihak keluarga "berkonsultasi" tentang perhitungan Neptu, maka cenderung diarahkan untuk membuat selamatan. Tentu tidak semua ahli konsultasi bertindak seperti itu, namun ada kalanya muncul juga yang begitu.

Yang lebih parah adalah, ketika Neptu dijadikan "pintu keluar" oleh pihak keluarga yang sebenarnya tidak cocok dengan calon menantunya. Daripada terus terang menolak yang akan menyebabkan masalah, maka disiasati dengan ketidakcocokan Neptu ini.
Seringkali dari pengamatan, jika di awal proses sudah terlanjur dipermasalahkan masalah Neptu, seandainya kedua pasangan nekat melawannya, belakangan akan tetap bermasalah (bahkan sampai pisah). Bukan karena Neptu, tapi karena ada pihak ketiga yang masuk, namun beralasan masalahnya ada pada ketidakcocokan Neptu. Dan yang menyaksikan akan mengatakan "nah, apa aku bilang".

Di sini dapat dilihat kompleksitas yang muncul karena salah paham tentang Neptu. Jika sudah dipermasalahkan di awal, maka di benak masing-masing pihak akan tertanam tentang adanya "ancaman" yang diberikan saat perhitungan Neptu. Jika suatu saat timbul masalah, meskipun bukan karena Neptu, tetapi tetap Neptu yang dijadikan kambing hitam. Bahkan seandainya salah satu pasangan selingkuh sekalipun, yang disalahkan adalah Neptunya. Maka bahaya dari salah pemahaman tentang Neptu, jauh lebih berbahaya daripada hasil perhitungan Neptu itu sendiri.

Dari berbagai kasus yang melahirkan masalah tersebut, banyak yang menyarankan untuk tidak usah menggunakan perhitungan Neptu sama sekali. Saran ini sangat bagus, tetapi dengan catatan bahwa yang disalahkan adalah implementasi hasil perhitungan Neptu, bukan Neptu itu sendiri. Lha wong Neptu hanya informasi, bukan kepastian.

Kembali ke fungsi Neptu sebagai ancar-ancar, banyak pula yang memanfaatkannya untuk urusan bisnis dan perjalanan. Sebenarnya tidak ada hal klenik di sini, jika dilihat secara obyektif dan sederhana.

Dalam contoh umum, misalnya ketika ada informasi bahwa ini hari Minggu, jangan jualan di sekitar sekolahan. Ya tentu saja benar, karena hari Minggu tidak ada yang melintas di area situ. Tidak klenik, tidak menyalahi aqidah. Kalaupun tetap mau jualan di situ pada hari Minggu ya silakan saja, siapa tau ternyata ada acara karnaval di sekolahan sehingga tidak merugi.

Sama halnya dengan Neptu yang mengatakan bahwa hari ini lebih baik tidak melakukan perjalanan jauh. Bukan berarti memastikan akan ada hal buruk yang terjadi jika tetap nekat pergi, tetapi itu hanya bersifat informasi saja. Seandai tetap melakukan perjalanan, ya bukan Neptu itu yang menentukan kejadian di perjalanan nanti, tetapi kehendak Yang Maha Kuasa.

Sesederhana itu, seandainya mau memandang permasalahan ini dengan bijak.

Namun karena kurangnya informasi tentang Neptu, banyak kesalahpahaman bahwa Neptu selalu melulu untuk perjodohan, dan yang menguasai bidang itu layak dipanggil "mbah", dan lain sebagainya.

Padahal ilmu tentang perhitungan Neptu sangat menarik untuk dipelajari, karena unik dan merupakan warisan dari leluhur masyarakat kita (Jawa), yang sangat detail dalam perhitungan pranatamangsa. Bukan hanya tahunan seperti Shio, bukan hanya bulanan seperti Zodiak, tetapi Neptu memiliki jangkauan harian, bahkan bagi yang menguasai akan sanggup menata sampai hitungan jam.

Jika bukan masyarakat Jawa yang menjaga warisan ini, lalu siapa lagi?


Ada 7 komentar

syamsudin Mc pada October 14, 2012 7:16 AM menulis:

Siiiip...unt tambahan pengetahuan, luas ilmu menjadikan sabar, sempit ilmu mudah marah... Pemarah itu krn sempitnyabilmu, shg kalau tdk spt pengetahuan dia, maka marah... Astohfirullah.... М̤̣̈̇ӓtůяºѝϋẅϋή ilmu neptu nya ...

Balas Komentar Ini
Jauhari pada October 14, 2012 7:41 AM menulis:

#waini Menarik ini

Balas Komentar Ini
nathan pada November 6, 2012 9:18 AM menulis:

Benar benar memberi pencerahan, info yg bagus ...terus bekarya dan peace

Balas Komentar Ini
allie pada November 8, 2012 1:41 AM menulis:

Perlu jg dijelaskan, cakupan berlakunya neptu. Misal, berlaku utk pulau Jawa (saja) atau utk org yg lahir di pulau Jawa saja, atau hari lahir hrs dikonversi ke 'waktu' Jawa.
Ronald Reagen, Napoleon, Hitler, tentunya jg punya neptu. Tp klo lahirnya di luar Jawa di zona waktu yg berbeda dg pulau Jawa, bgm men-'justifikasi' neptunya? :-D
Aneh aja khan, misal keluarga Jawa tulen di Amerika sana menghitung neptu berdasarkan zona waktu Amerika krn atmosfernya jelas berbeda.
Maksudnya, mestinya setiap budaya memiliki 'atmosfer-nya' sendiri. Ada pernyataan bhw kesaktian seseorg akan hilang jika dia menyeberang laut. Artinya, kesaktiannya itu berlaku di bawah atmosfer budayanya sendiri. Analoginya, hitung2an neptu (jawa) hanya berlaku utk org2 (jawa) di tanah Jawa. Klo peribahasanya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. (komen gak jelas..hehehe)

Balas Komentar Ini
fardik rudiyanto pada December 22, 2012 1:45 PM menulis:

klenik nopo mboten, niku lak pandangane tiyang lintu. Tiyang Jawi nggih negeten niki, nggadah agomo piyambak, adat piyambak, lan kekayaan bathin piyambak. Dados mboten usah rumongso cilik. Nopo malih menawi urip ten tanah Jawi, ngriyane piyambak, mosok kudu sungkan kalih tamu? Nggih mboten sae niku.

Balas Komentar Ini
teknoku pada December 30, 2012 4:13 PM menulis:

nggih pripun malih mas, nminipun tiyang jawi.snadyan kito mboten kedahipun mboten amung ubyak-ubyuk nderek lelampahan jawi

Balas Komentar Ini
allan pada May 20, 2013 1:11 AM menulis:

Kang mMahesa, masih inget saya, allan_guk cah mig 33 bojonegoro temene bonjol n.70? Kwkwkwkkk..

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi