« Pelatihan Sholat Khusyu | Depan | Jadi Warga Malang »

Arjuna, Ekalaya, dan Mahesa Jenar

Suatu ketika, seorang guru bernama Resi Dorna sedang melatih 100 muridnya dalam ilmu memanah. Kali ini mereka berlatih memanah seekor burung yang sedang bertengger di dahan pohon. (disklaimer: saat itu mungkin belum ada papan pengumuman "dilarang memanah burung")

Saat masing-masing murid sudah meregangkan busurnya, membidik burung yang sedang asyik melamun, Resi Dorna menanyai satu persatu muridnya.

Pertanyaan kepada murid pertama: "Apa yang kamu lihat?"
Murid: "Saya melihat burung di atas pohon yang rindang, dengan pemandangan gunung di belakangnya"
Resi Dorna: "Kamu gagal. Turunkan busurmu dan pergilah dari sini"

Kepada murid kedua: "Apa yang kamu lihat?"
Murid: "Saya melihat burung yang siap menjadi burung panggang yang lezat (hungry) "
Resi Dorna: "Kamu juga gagal. Turunkan busurmu dan pergi"

Begitu seterusnya, para murid berguguran gara-gara pertanyaan sang Resi. Sampai dengan murid terakhir.

Resi Dorna: "Apa yang kamu lihat?"
Murid: "Saya melihat burung yang di lehernya tertancap panah yang saya lepaskan"
Resi Dorna: "Bagus, sekarang kamu panah burung itu"

Si murid melepaskan panahnya, lalu zlapp, burung itu terjatuh dengan panah di lehernya.

Murid tersebut adalah Arjuna, pemanah ulung nomor 1 di dunia (wayang), dan juga lelananging jagad pemanah hati wanita nomor 1 di dunia (wayang juga).

Sejak saat itu, Arjuna menjadi murid kesayangan Resi Dorna, dan berjanji tidak menerima murid panah lainnya. Hanya Arjuna yang akan dihantarkan menjadi pemanah nomor 1 di dunia (ya, wayang).

--------

Moral of the story: fokus pada tujuan, abaikan godaan lain yang akan membiaskan tujuan tersebut.

Ok, dan dongeng berlanjut:

--------

Tersebutlah seorang raja bernama Ekalaya, atau dikenal juga sebagai Palgunadi. Dia sangat mengagumi kehebatan ilmu memanah Resi Dorna. Karenanya dia tinggalkan singgasananya, lalu pergi ke tempat Dorna untuk berguru.

Namun karena Dorna telah berjanji hanya menerima murid Arjuna seorang, Ekalaya ditolaknya.

Tidak putus asa, Ekalaya mengasingkan dirinya ke hutan, tinggal di sebuah gua. Dalam gua itu dia membuat patung menyerupai Resi Dorna. Selanjutnya dia berlatih sendiri di situ, dengan ditunggui oleh patung Dorna.

Meskipun hanya patung, Ekalaya menganggapnya sebagai Dorna itu sendiri. Tiap hari dia sungkem di depannya, dan menjadi penyemangat dirinya untuk giat berlatih.

Suatu saat, di hutan tersebut terdengar anjing mengonggong. Merasa terganggu, Ekalaya tanpa melihat melepaskan panahnya dan membunuh anjing tersebut (ya ya, dongeng ini penuh dengan pembantaian binatang).

Rupanya rombongan Arjuna juga sedang memburu anjing tersebut. Dia menemukan anjing itu mati dalam keadaan tertusuk banyak panah di mulutnya, sepertinya panah itu dilepaskan dalam sekali tembakan. Itu adalah ciri-ciri ilmu panahnya Dorna. Lalu muncullah Ekalaya, mengakui dialah yang membunuh anjing malang itu, dan memperkenalkan diri sebagai muridnya Dorna.

Dari situ Arjuna segera melapor ke Dorna, protes kenapa ada orang lain yang diajarkan ilmu khusus tersebut, sedangkan Dorna sudah berjanji tidak akan menerima murid lain.

Selanjutnya Dorna mendatangi Ekalaya dalam guanya, menanyakan darimana dia mempelajari ilmu panah. Ekalaya menjawab bahwa dia diajari oleh patung Dorna di situ. Namun meskipun hanya belajar dari patung, kemampuan Ekalaya sudah sedemikian hebatnya, malah melampaui kemampuan Arjuna.

Setelah berpikir, Dorna bersedia menerima Ekalaya menjadi muridnya, dengan 1 syarat, Ekalaya harus memotong kedua ibu jarinya.

Syarat diterima, lalu Ekalaya memotong sendiri kedua ibu jarinya. plasss. Berikutnya Ekalaya disuruh pulang ke negaranya karena sudah tidak mungkin bisa memanah lagi.

Meski tidak bisa lagi memanah, namun Ekalaya merasa senang sekali akhirnya bisa menjadi murid Resi Dorna.

--------

Ceritanya masih berlanjut panjang sekali, tapi dari sini sudah dapat ditarik pesan moralnya, mengenai semangat belajar Ekalaya a.k.a Palgunadi yang tidak kenal kata menyerah. Sebuah etos belajar yang selalu mencari jalan lain setiap kali menemukan kebuntuan, meskipun jalan tersebut kadang tidak logis.

Etos belajar Ekalaya ini pernah ditiru juga oleh Mahesa Jenar. Berikut ini dongengnya... (terdengar suara orang ngorok... zzz... )

--------

Saat Mahesa Jenar bersama muridnya, Arya Salaka a.k.a Bagus Handaka, mampir ke Karang Tumaritis untuk sowan pada Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar tersesat dalam terowongan di dalam bukit. Sebenarnya dia sengaja disesatkan oleh Kebo Kanigoro, agar terjebak di dalam sebuah gua.

Dalam gua tersebut, Kebo Kanigoro membuat sebuah patung yang mirip dengan bapaknya, Ki Ageng Pengging Sepuh, yang merupakan guru Mahesa Jenar.

Ketika Mahesa Jenar sudah berada dalam gua, pintu gua diruntuhkan oleh Kebo Kanigoro supaya Mahesa Jenar terjebak di dalamnya.

Dalam keremangan gua (ada sedikit cahaya dari atas), Mahesa Jenar melihat patung tersebut seolah melihat sosok gurunya, termasuk setangkai bunga yang diselipkan di telinga patung. Meskipun akhirnya Mahesa Jenar tahu bahwa itu hanyalah sebuah patung, namun bisa menyemangati Mahesa Jenar untuk mengolah kembali jiwa raganya, yang sudah lama sekali tidak tersentuh ajaran dari guru, sejak gurunya itu meninggal.

Setelah berlatih beberapa hari dalam gua, kemampuan Mahesa Jenar meningkat pesat, lalu dengan ajian Sasra Birawa yang tenaganya berlipat ganda, dia berhasil menjebol reruntuhan pintu gua.

Bahkan saking pesatnya, Kebo Kanigoro mengatakan kemampuan Mahesa Jenar sudah melampaui kemampuan gurunya sendiri.

--------

Moral of the story: halangan dan kesulitan dalam belajar kadang malah menjadi keuntungan tersendiri dalam mencapai tujuan. Ekalaya tidak diterima jadi murid Dorna, Mahesa Jenar terjebak di dalam gua, tapi keduanya membalik keadaan keterpaksaan itu menjadi hal yang menguntungkan.

Seandainya dulu belajar komputer adalah semudah saat ini, mungkin semangat belajarku tidak sebesar saat itu. Banyak sekali yang harus dikorbankan untuk dapat belajar programming, berangkat dari asrama ke kota Jombang. Jalan kaki dari Tambakberas ke Kota adalah hal biasa.

Buku komputer juga belum banyak tersedia. Hanya punya 1 yang aku beli di Jogja, pemrograman BASIC karangan Jogiyanto HM. Sangat tebal namun habis juga karena hanya punya 1 itu yang dibolak-balik. Saat itu cuma ada Windows 3.1 WG dan MS-DOS 6.22, Google belum lahir, internet belum tersambung. Dark age banget deh pokoknya.

Kadang kala kemudahan yang tersedia, malah menurunkan semangat belajar. Nah, hal inilah yang seharusnya diubah. Kalo yang sulit saja bisa, yang mudah haruslah lebih bisa lagi.

Selamat belajar.



Note:Cerita ini adalah dongeng pengantar nyonya tidur, dan sekaligus sebagai penjawab pertanyaan dari Mas Bagas: "ekalaya karo mahesa jenar? adoh men"

Ada 21 komentar

kyai slamet pada February 7, 2009 2:14 AM menulis:

di sebuah pesantren, seorang kyai yang bernama kyai slamet akan mengajar santri-santrinya. di hadapan santri, kyai slamet berkata...
"silahkan anda belajar ..." sembari memasang sebuah fotonya berukuran besar di depan kelas. tanpa banyak kata, kyai slamet meninggalkan santri-santrinya tersebut.
*kyai slamet pun menuju kantin dan merokok disana*

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 7, 2009 5:28 AM membalas kyai slamet:

*urek-urek fotone kyai slamet*

Balas Komentar Ini
edi pada October 8, 2009 11:35 AM membalas kyai slamet:

gitu ya....

Balas Komentar Ini
Bagas pada February 7, 2009 10:54 PM menulis:

Mantab, ternyata ini tho hubungannya kemarin :))


btw, cerita tentang Ekalaya kok campuran antara versi india dan jawa? iki pasti versi mahesa jenar(versi baru)

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 8, 2009 12:55 PM membalas Bagas:

Sudah tertulis di Notes-nya, ini versi pengantar tidur istri ;))

Balas Komentar Ini
Sarimin pada February 9, 2009 7:01 AM menulis:

Saaken'ne Resi Dorna nakoni murid sampe 100 murid! :( ko ga di e-mail ae Om? :D/

Balas Komentar Ini
Sarimin pada February 9, 2009 7:02 AM menulis:

Saaken'ne Resi Dorna nakoni murid'te sampe 100 orang, ko ga di e-mail ae to Om!? :)>-

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 9, 2009 10:46 AM membalas Sarimin:

Sakjane arep di-SMS broadcast, tapi pas iku pulsane Dorna entek >:)

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada February 9, 2009 9:46 PM membalas Jauhari:

Jadi @jauhari pendek nih? >:)

Balas Komentar Ini
Rifki pada February 10, 2009 6:37 PM menulis:

Assalamualaikum wr. wb.

Mohon maaf, kalo tidak keberatan saya bermaksud untuk meng-informasikan kepada seluruh pembaca web bapak.

Perihal Ziarah Walisongo Jawa - Madura

Kini ada kabar gembira, bagi mereka yang belum pernah berziarah ke makam para wali baik secara keseluruhan maupun sebagian, Majlis Ta’lim Baitul Ilmi, NH Tours & Travel dan Media Asosiasi Tbk mengadakan acara ‘ZAWARA’ – Ziarah Walisongo dan Madura. Bukan hanya itu saja, kita pun dapat mengunjungi tokoh-tokoh bersejarah lainnya..

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di www.asosiasi.org

Jika tidak keberatan, mohon informasi ini di posting ulang (tidak berupa komentar) sehingga pembaca dapat melihat secara langsung.

Demikian, terimakasih atas kesediannya.

Wasalam,
Manajemen

Balas Komentar Ini
yurie pada February 11, 2009 12:02 AM menulis:

Oalah, critane koyok ngono tah?
:D :D :D

Balas Komentar Ini
rasid pada February 12, 2009 11:49 PM menulis:

belajar, belajar dan belajar selama kita masih bernyawa...........

Balas Komentar Ini
prouthon pada February 14, 2009 12:01 PM menulis:

ugh.. keren, hemph... ternyata dunia ini benar benar luas,

mas bagi2 dongengnya lagi ya, itung2 ntar klo aku udah pnya istri bisa ngedongengin juga :D

Balas Komentar Ini
nahl pada March 17, 2009 9:07 PM menulis:

ono crito liane maneh gak pakde...?,
tapi bener bocah saiki podho manja, kemethak, sok-sokan, cak cihui dll (sing olo2). Lha wong lagi iso chatting karo camera kodok ae wis ngaku ahli komuter, weh kadang gethem2 aku.., suwun
+sing jelas critane apik bgt, keno gae nuladani marang anak-anakku...

Balas Komentar Ini
syiek puji pada April 7, 2009 2:43 PM menulis:

cerita diatas sama dengan kondisi di indonesia,mengapa koruptor banyak dan sulit dibrantas?jaman orba dulu kalo sekolah dari sd sampe sma pasti di depan kelas ada gambarnya suharto :))

Balas Komentar Ini
Eko Suyanto pada April 11, 2009 10:52 AM menulis:

wah,baru ketemu nih....
critane apik2,mas.
matur nuwun

Balas Komentar Ini
JoSumlang pada June 20, 2009 2:30 PM menulis:

episode bambang ekalaya dalam mahabarata adalah salah satu demenanku.

Balas Komentar Ini
ahmad86 pada March 8, 2010 2:01 PM menulis:

mak nyooossss...tambah semangat aku :D

Balas Komentar Ini
arief fahmi pada July 15, 2010 11:52 AM menulis:

mantap cak, ngantukku dadi ilang...semangat maneh..

Balas Komentar Ini
irham d'hamsyong pada November 14, 2010 11:34 PM menulis:

Pesan moral nah very2 good,,,
q suka pada blog ini pa lagi kalu kang aryo menympaikan psan moral mlalu sbuah dongeng... sipp dah

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi