« Jadwal Sholat | Depan | Bot dan Manusia »

Ziarah Kubur

Megengan merupakan waktu sehari sebelum awal Ramadhan dan hari terakhir Ramadhan (CMIIW).
Di daerahku dulu banyak kegiatan dilakukan dalam rangka Megengan ini, di antaranya adalah membuat kue lapis, memasak masakan yang lebih mewah dari biasanya (daging ayam, kerbau, etc) untuk kemudian saling dikirimkan ke kerabat dan tetangga.

Namun saat ini kegiatan tersebut nyaris tidak terlihat lagi, entah apa penyebabnya. Yang tersisa adalah kegiatan nyekar ke makam leluhur (orang tua, kakek, buyut, dst).

Kegiatan nyekar ini bisa dikatakan wajib (dalam artian budaya, bukan secara agama) dalam rangka Megengan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya warga desa yang datang dari jauh untuk mudik pada saat Megengan, demi melakukan ritual nyekar ini. Bahkan yang merantau di luar Jawa sekalipun menyempatkan diri untuk hadir.


Pembahasan mengenai nyekar adalah sensitif, mengundang pro dan kontra antara 2 pendapat besar (dan kuat) yang membolehkan dan melarang ziarah kubur. Aku punya beberapa sahabat yang memegang pendapat berbeda-beda tentang hal ini.

Keluar dari konteks perdebatan, aku tetap melakukan ziarah kubur karena:

1. Penghormatan kepada mendiang
Dulu aku selalu dilatih oleh Bapak agar rajin ziarah ke makam kakek setiap Kamis sore, dengan harapan supaya aku nantinya rajin juga ke makam Bapak.
Mungkin kita tidak pernah tau apakah ziarah kubur bagi mereka sekarang ini merupakan penghormatan atau tidak. Ada yang mau mencoba mati dulu untuk diziarahi? Belum pernah ada yang mati mengemukakan pendapatnya.
Paling tidak, ini salah satu bentuk penghormatanku kepada mereka.

2. Berusaha agar aman dari syirik
Banyak kekhawatiran ziarah kubur dapat menyebabkan syirik, dan memang rentan banget syirik ini terjadi pada saat ziarah kubur. Bentuk syirik antara lain:

- meminta kepada selain Alloh.
Biasanya saat ziarah, entah itu ke makam leluhur atau ke makam orang ternama/tokoh agama, ada terbersit keinginan untuk memohon 'kepada' yang diziarahi tersebut. Ini jelas salah besar.
Saat ziarah, aku hanya memohon perlindungan dan ampunanNya terhadap Bapak. Tidak lebih.

- menganggap kuburan adalah tempat sakral.
Kalo angker sih iya, karena memang dikondisikan seperti itu. Namun kalo sakral harusnya tidak. Kuburan sama seperti tempat yang lainnya (dengan etika yang berbeda tentunya), sehingga mendoakan mendiang tidaklah harus di kuburan. Di mana-mana juga bisa. Tetapi bukan berarti mendoakan di kuburan itu tidak boleh.

3. Refreshing
Saat ke kuburan, terlintas di benak mengenai seberapa lama lagi aku akan berada di bawah tanah. Kapan? 20 tahun lagi? 30 tahun? 5 bulan? atau bahkan lebih cepat dari yang aku sangka. Satu hal yang pasti, aku bakal mati. M a t i.
Eh, kamu juga lho.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati", (Aal-i-Imraan, 185)

Dari sekian alasan dan efek, positif dan negatif, manfaat dan mudharat, bagiku ziarah kubur itu perlu, namun dengan banyak catatan dan wanti-wanti agar tidak tergelincir pada kemusyrikan.

Wallahu 'alam.



Ada 10 komentar

setiawan pada October 7, 2008 9:56 AM menulis:

wis pokoe setuju banget karo pendapate njenengan kang. minal aidzin, atur lepat kawulo sekeluargo kang.

Balas Komentar Ini
Gopril pada October 8, 2008 11:45 AM menulis:

Minal aidzin Walfa idzin, mohon maaf lahir dan batin, selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Saya cuma mau bilang setuju ajaaah !!! :-h

Balas Komentar Ini
bunda jaihan pada November 1, 2008 3:05 PM menulis:

sebenarnya jiarah kubur adalah wisata hati, coba dech buat yang penakut sering-sering jiarah kubur,tak ada yang bakal kita tajuti kecuali Alloh

Balas Komentar Ini
bunda jaihan pada November 1, 2008 3:07 PM menulis:

sebenarnya jiarah kubur adalah wisata hati, coba dech buat yang penakut sering-sering jiarah kubur,tak ada yang bakal kita tajuti kecuali Alloh

Balas Komentar Ini
bunda jaihan pada November 1, 2008 3:09 PM menulis:

sebenarnya jiarah kubur adalah wisata hati, coba dech buat yang penakut sering-sering jiarah kubur,tak ada yang bakal kita takuti kecuali Alloh

Balas Komentar Ini
aku dejavu pada November 9, 2008 7:28 PM menulis:

sekarng udah nggak zaman lagi yang begituan. kita mengirim do'a dari rumah aja bisa ngapain jauhg-jauh datang. yang penting Tuhan menyampaikan do'a kita. jangan kita tergolong orang psydoscience.
bukan maksud aku untuk menyindir tapi lebih baik kita mengetahui dengan cermat

Balas Komentar Ini
hendro pada January 17, 2009 8:48 PM menulis:

yang pasti kalo ada yg belum pernah ziarah coba deh... you akan merasakan nuansa yg lain ,dan pasti hati ini jadi ademmm....karena langsung ingat mati/berpindah alam...terutama pada makamnya wali2 Allah swt. whbsb

Balas Komentar Ini
Daryono pada May 31, 2009 7:43 AM menulis:

Sesungguhnya yg mati itu jasadnya rasanya tetap hidup,memang mendoakan bisa dari mana aja karena tuhan maha mendengar. Tapi berjiarah kemakam leluhur suatu bentuk penghormatan kepada mereka yg telah menurun .Dan merawat kita waktu mereka hidtp

Balas Komentar Ini
Kristanto pada January 20, 2010 8:55 AM menulis:

Apakah ziarah itu sama kaya umroh,apakah diharus kan ke tempat ziarah makam wali2...

Balas Komentar Ini
Aryo Sanjaya pada January 20, 2010 9:36 AM membalas Kristanto:

Orang umroh memang kadang sekalian Ziarah ke makam Nabi. Tapi itu bukan bagian wajib dari Ziarah.

Ziarah tidak harus ke makam wali atau orang tertentu, karena ziarah sendiri adalah untuk mendoakan yang sudah meninggal dan sebagai pengingat kematian bagi yang ziarah.

Balas Komentar Ini

Isi Komentar




  Isi Smiley


Pencarian

Komentar Terbaru

February 2016

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi