« Warga Baru | Depan | Ganti Zodiak Nih »

Udan Angin

Note: baca dengan logat presenter JTV

Malang saiki lagi katerak udan angin. Wes pirang-pirang dino iki, saben wayah isuk sore bengi, angin campur gerimis ngguyur kuto Malang. Sak suwene aku ndek Malang sepuluh taun iki, lagi iki ngerasakno udan angin sing bantere koyok mengkene.

Masio dudu udan banyu, nanging udan angin iki termasuk mbayani. Uwit-uwit iso rubuh nibani uwong ndek dalan. Malah ndek daerah Gondanglegi ono uwong matek ketiban uwit, mergo wong kuwi mau ngiyup ndek ngisore. Jare penduduk sekitar, wong kuwi matek lan ndase pecah.

Pemkot lan Pemkab Malang kudu sering ngerazia uwit-uwit sing wes tuwek, sing wes wayahe dirubuhne. Wong teko PLN lan Telkom kudu sering mreteli pang-pang uwit sing wis dowo, supoyo ora nyampluk kabel-kabel ndek cedake.

---

Bagi yang terbiasa nonton JTV, terutama pada segmen Pojok Kampung, tentu tidak asing dengan berita berbahasa Jawa seperti di atas.

JTV mengklaim itu sebagai berita berbahasa Surabaya, dan merupakan ciri khas orang Surabaya. Hal itu memang benar, karena bagi masyarakat di luar Surabaya, terutama Jawa Tengah dan sekitarnya, pemilihan bahasa yang digunakan adalah terlalu kasar.

Salah satu alasannya adalah meluaskan cakupan pemirsanya, agar semakin banyak kalangan yang dapat menerima beritanya.
Tapi kalangan mana lagi?

Sebagai info, semasa aku kecil (20 tahun yang lalu), desaku di ujung peradaban yang terpencil, belum ada listrik, telpon, apalagi access broadband, siaran berita TVRI semuanya berbahasa Indonesia. Dan saat itu menurutku beritanya dapat tersampaikan dengan baik.
Apalagi sekarang, Surabaya lagi.

Saya pribadi salut dengan gebrakan tersebut, kreatif, dan peduli pada budaya bangsa. Memunculkan kata-kata lama yang sudah tidak pernah terdengar lagi, misalnya bronpit (sepeda motor), montor muluk (pesawat terbang), etc.
Namun seharusnya tidak usah memaksakan diri, dengan alasan menunjukkan Surabaya apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Meskipun di kehidupan sehari-hari di Surabaya, penggunaan kata 'mati' tentu lebih biasa dan lumrah daripada kata 'matek'. 'Sirah' lebih bagus daripada 'endas', dsb.

Jadi, ini bahasa khas Surabaya atau khas Terminal Bungurasih?


Ada 19 komentar

GuM pada March 8, 2007 11:45 AM menulis:

bisa dimaklumi. karena ya itu tadi, strategi mencakup pemirsa seluas2nya.

tapi gak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Ratih Sanggarwati prihatin indonesia akan punya museum Bahasa Indonesia. Dan rasanya, kita juga bakal punya museum bahasa jawa.

tragis.

Aryo:
Buset, nyepam link KL ;))

Balas Komentar Ini
riorzky pada March 8, 2007 10:32 PM menulis:

kayaknya itu bahasa surabaya om...kalo bungurasih tuh biasane.."darmo...darmo...TP...TP...perak...!!"

beda lagi klo bambu runcing :D "sedot mas kenek untu duite mbalik...." :D kalo yang itu kata temen :D

Aryo:
Jadi temenmu bilang gitu saat nawarkan jasa sedot ke kamu?
Gimana sih?


Balas Komentar Ini
vnuz pada March 8, 2007 11:10 PM menulis:

Dulu juga sempat gag enak pas nonton sama keluarga. Iseng2 pindah2 chanel nemu JTV, pas film mandarin.. dialognya di dubbing pake bahasa Jowo ngoko,

Ada adegan seorang lelaki marah2 pada seorang perempuan, " Kon gag kelingan biyen tha? Kon iku biyen Lonthe!!!.. sakgurunge tak angkat dadi bojoku kon iku biyen kenthuan..."

JRIT!! langsung channel tak pindah karena keki sendiri dengar dialoge. :(

Aryo:
Kok apal Nuz? ;))


Balas Komentar Ini
jaylangkung pada March 9, 2007 1:09 AM menulis:

iyo kiy malang angin e buannterrrr + udan anginn

mbatu sampe' banjir

Aryo:
Ati-ati Jay, cekelan pager. Biasane sing awake tipis gampang kebur lek keno angin :D


Balas Komentar Ini
GuM pada March 9, 2007 11:05 AM menulis:

@Jay:
mbatu banjir lak malang ilang, jay...

Aryo:
Iyo, HOAX iku.


Balas Komentar Ini
iRene pada March 9, 2007 11:11 AM menulis:

eMmmm kayanya klo aQ nonton pasti ga tau artinya :D, berarti mesti nyari transtool y bahasa jawa nie tp donlotnya dimana yak :P

Aryo:
Bikin script PHP donk Ren:

echo str_replace("jawa", "abg", $bahasa);


Balas Komentar Ini
bebek pada March 9, 2007 11:04 PM menulis:

kapan yo ono udan duit :p

Aryo:
lho, wingi udan duit ndek kene sampean ndek endi kang?
*aseli ngapusi iki*


Balas Komentar Ini
ario dipoyono pada March 10, 2007 10:52 AM menulis:

memang JTV kebangetan kadang bahasane terlalu kasar untuk wong JATIM bag selatan karo JATENG

Aryo:
Bahkan bagi orang Surabaya sendiri. Hmm, bapakku punya rumah di Surabaya, apa termasuk orang Surabaya ya :D


Balas Komentar Ini
ferdhie pada March 10, 2007 2:36 PM menulis:

#aryo
bronpit/bromphit ?

> ...penggunaan kata 'mati'...
itu selling pointnya

#gum
..prihatin indonesia akan punya museum Bahasa Indonesia..
kenapa ndak? bahasa kan evolve juga? kok menghambat perkembangan sih?

> mbatu banjir lak malang ilang...
paling yg ilang daerah dinoyo, joyogrand

#riorzky: kayanya pengalaman pribadi

#vnuz: sepertu yg sy bilang, selling point nya disitu

#iRene .. transtool bhs jawa:
bang aryo kan punya...


Aryo:
Joyogrand banjir?
Berarti Sulfat keno diliwati kapal tanker ;))


Balas Komentar Ini
nDoroKanjeng pada March 10, 2007 3:20 PM menulis:

Yo ngono kuwi boso suroboyoan, kadang malah misuh-misuh barang. Jhancoxxx...

Aryo:
Lebih pada bahasa terminal kalo menurut aku :(


Balas Komentar Ini
siwoer pada March 11, 2007 2:09 PM menulis:

aku sendiri pas pulang kampung pernah nonton jtv, inget banget katak PSK diganti lonte. pertama denger beritanya ...ya, geli saja di kuping.

pernah dengar juga siaran berita radio relay dari solo, beritanya make bhs jawa kromo inggil, yg masih saya inget, menteri dalam negeri diganti dgn menteri lebet negari :D

Aryo:
Menteri Perhutanan dadi opo yo kang?
Menteri Peralasan? yang suka bikin alasan :D


Balas Komentar Ini
Jauhari pada March 12, 2007 9:59 AM menulis:

Bosone JTV boso TUMO KATROK..

Kanggo aku ra TEPAK BLASS :D

Aryo:
Tapi lek digawe rungon-rungon sakjane yo penak. Mung yo iku, membiasakan penggunaan kalimat kasar pada anak-anak kita.

Balas Komentar Ini
oon pada March 12, 2007 7:17 PM menulis:

hahahaha...dibahas juga akhirnya, memang kasar terdengar bahasa penyiar JTV pas pojok kuampung...:))

Aryo:
Sebenernya hal ini udah lama banget sih, dan sudah sering dibahas di sana-sini. Anggap aja ini termasuk sumbangan pada protes anti pemaksaan pada kreatifitas.
Kreatif boleh, tapi normanya dipake donk.

Balas Komentar Ini
niela pada March 21, 2007 1:45 PM menulis:

wahhh... dengan adanya ophiuchus itu, aq malah jadi bingungggg :-S

Balas Komentar Ini
eskotak pada May 14, 2007 7:12 PM menulis:

lepas dari segala kontraversi... tapi itulah realita bahasa suroboyoan sehari-hari, akan susah mencari padanan kata misal maaf penis... mungkin bahasa yang di anggap padanannya dalam bahasa jawa adalah manok tp itu bermakna ganda, dalam bahasa jurnalis hal tersebut tak di perbolehkan maka di pakailah istilah pistol gombyok... tapi banyak kata yang mengalami evolusi seperti maaf lagi jancok dan gatel kata-kata ini pun telah membumi menjadi bahasa pergaulan di surabaya... bukankah kata cuma masalah bagaimana kita menginterpretasikannya...

Aryo:
Dan bagi yang 'gagal' menginterpretasikan, maka akan muncul masalah, minimal pada diri sendiri yang merasa 'kerih' mendengarnya.
Ok deh, misalkan kesehariannya memang begitu (meskipun aku beberapa tahun tinggal di Surabaya, di kampung Sidotopo Lor, tidak mengalami kevulgaran terstruktur seperti itu), tapi bukankah itu pembicaraan antar dewasa. Lalu gimana dengan anak kecil?
Mereka memang pada akhirnya akan mendengarnya, tapi apa mesti dibiasakan?
*ya, pembahasan jadi belok ke anak kecil, karena toh yang dewasa sudah diwajarkan terhadap kalimat-kalimat vulgar*

Balas Komentar Ini
esotak pada May 16, 2007 9:01 PM menulis:

Dari jam tayang yang 21.30 sebenarnya sudah terjawab. kadang kita sudah terlalu lama mengikuti standart betawi lewat tv-tv nasionalnya.... istilah loe, gue menjadi bahasa bergengsi sedangkan bahasa-bahasa ibu daerah masing-masing menjadi bahasa kampungan yang gak mutu... bahasa surabaya n daerah pesisir memang karakteristiknya lugas, relatif kasar, dan jarang mempunyai tingkatan strata seperti kromo, kromo inggil... kalo lebih kita cermati bahasa-bahasa pesisir pantura lebih demokratis... sbenarnya bahasa betawi pun sama karakteristiknya dengan bahasa pesisir pantura coba aja anda tengok di kesenian daerah mereka lenong yang masih virgin belum terpoles balutan brodcast.....

Aryo:
Euh, yakin itu disiarkan di atas 21.30?
Pernah nonton JTV seharian kan?
Kalo mengenai pesisir utara, aku lahir dan besar di kawasan jalur pantura, hanya beberapa KM dari laut.
Aku tidak pernah berpikir mengenai bahasa kampungan, hanya penempatan bahasa.
Kata jancuk matamu asu, sering kita (aku dan teman-teman) gunakan dalam komunitas kita, sesama anak muda. Tapi apa pantas kalo kata itu diucapkan di depan ibu bapak kita? adik kita?
Dan JTV menembus semua strata itu. Lihat komentar nomor #3 di atas.
Jadi aku tidak membahas bahasanya, melainkan penempatannya.

Balas Komentar Ini
eskotak pada May 17, 2007 7:20 PM menulis:

penempatan kata di pjok kampung saya rasa tak ada masalah, tak pernah terdengar kata-kata jancok, matamu, atau asu... entah di acara lainnya, karena saya hanya menanggapi tentang p. kampung. dan memang p. kampung di tayangkan pukul 21.30... mungkin yang anda anggap risih adalah kata-kata yang memang asli surabaya seperti lonte, balon atau apapun juga yang memang sering kita dengar di strata pergaulan kaum marginal... namun semua itu proses... mas kita terlalu kaku dengan aturan bahasa yang saya rasa bukan hal yang penting utk di bahas (hanya ada di negeri kita tercinta ini bahasa di bakukan), bahasa adalah bagian dari budaya yang memang harus terus dinamis dan selalu akan mencari bentuknya sendiri... toh banyak karya sastra yang menggunakan bahasa-bahasa yang saya rasa sakartis namun tetap enak di nikmati....

Aryo:
Berita Udan Angin hanya contoh kasus di Pojok Kampungnya JTV, yang dibahas tetap JTV-nya, termasuk di acaranya yang lain.
Memang tidak penting untuk dibahas, aku cuma menuliskan uneg-uneg di blog yang tidak penting pula.

Balas Komentar Ini
eskotak pada May 19, 2007 11:04 PM menulis:

tenang ae mas, Jtv wes kenek peringatan KPI soale akeh wong seng yo risih podo mbek sampeyan, nek sampeyan pecicili wes akeh seng berubah... terutama nang divisi news (soale kandangku yo nang kono), tapi nek liyane yo embuh, qualiy control'e lemah, uwong kerokan nek mbayar ae di tayangno...

Balas Komentar Ini
Adhitya Ramadian pada December 28, 2007 10:36 AM menulis:

Kalo Al-Qur'an => Qiro'at Saba'ah

Kalo Indonesia => berjuta-juta bahasa :), terlalu banyak ya?? beribu-ribu atau beratus-ratus?

Yang bener yang mana Jo?? :D

Balas Komentar Ini

Pencarian

Komentar Terbaru

June 2014

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          

Kategori

Arsip

Aryo Sanjaya

Tinggalkan Pesan

Kisah Mahesa Jenar

Kisah dari Tanah Jawa, tentang perjalanan diri Mahesa Jenar.
Download:
Naga Sasra & Sabuk Inten
atau di sini:
download dari SaveFile.com
Theme by: Magic Paper
Didukung oleh
Movable Type 5.01


Aryo Sanjaya

Sindikasi